Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 28, 2009
[Serambi, 28 November 2009]
oleh Herman RN
PASTI kita masih ingat kisah heroik Kaisar Jepang yang mengukir pertanyaan sejarah tatkala Hiroshima dan Nagasaki dilantak dengan bom atom. Ucapan perdana kaisar saat pascaledakan tersebut dapat diakui sangat menggugah dunia, yakni “Berapa jumlah guru yang masih hidup?” Agaknya di Aceh, pertanyaan serupa itu mesti dibalik menjadi, “Sudah habiskah guru dibantai?” Hal ini sudah berlangsung di Aceh sejak masa konflik hingga pasca-MoU Helsinky. Ada kesan seolah generasi di Aceh ke depan dilarang pandai, dilarang pintar, dilarang memiliki ilmu dan wawasan luas. Karenanya, pembantaian atau lebih ringan sebut saja penembakan terhadap guru masih saja berlaku hingga sekarang. Kalau tak dapat menembaki jasad si guru, rumahnya pun boleh, yang penting guru-guru harus takut berada di Aceh.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Opini | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 27, 2009
Oleh Azrul Rizki
Seorang gadis memandangi hujan dari balik jendela kamar rumahnya yang terletak di ujung gang lorong Seuke. Rumah berlantai satu tempat anak kost berteduh. Sudah dari pukul 16.00 hujan ini tak kunjung reda, membuat jalan masuk ke gang itu tambah becek. Ritme suaranya merdu dan teratur. Pekerja bangunan di sudut gang itu sibuk membereskan peralatan mereka. Mendung di Darussalam menularkan mendung diraut wajah mereka. Maklum saja, mungkin Karena malam ini malam minggu, planing mereka melepaskan penat dalam sepekan harus kandas karena hujan yang tak mau bersahabat.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 23, 2009
Ditulis dalam Puisi | 1 Komentar »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 23, 2009
Sajak: Budi Arianto
Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Membawa harum badan, tapi mengapa aroma tanah basah begitu menggoda. Apakah kau ingin mencium aroma tanah itu walau sekejap. Ah, begitu lebih sempurna sembari menunggu malam yang masih sepotong. Izinkan aku menatapmu sekali lagi. Jangan kau buat aku meragu. sebab ada yang terus melambaikan tangan. Tapi apa berarti kau ragu membalas lambaiannya.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Puisi | 2 Komentar »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 19, 2009
Oleh Safriandi, S.Pd.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang sangat sering mengungkapkan ungkapan emosionalnya, baik dalam bentuk kata, kelompok kata, maupun kalimat. Ungkapan emosional ini diucapkan di mana saja, misalnya di warung, di kedai, di sekolah, dan diucapkan oleh siapa saja, misalnya orang tua, guru, pejabat, buruh bangunan. Tampaknya dapat dikatakan bahwa ungkapan emosional ini merupakan salah bentuk kebiasaan masyarakat.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Bahasa Daerah, Opini | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 8, 2009
oleh Akmal M. Roem
Dimuat di Harian Aceh.
(Menanggapi Thayeb Loh Angen)
Tulisan ini lahir setelah membaca artikel “Sastra di Aceh Sedang Sakit” yang ditulis Thayeb Loh Angen di Harian Aceh, Minggu,25 Oktober 2009. Tulisan ini saya persembahkan bagi kaum muda yang sejatinya sakit hati karena telah gagal menulis dengan baik di media massa di Aceh. Apalagi saya yang sudah semenjak SD melumat buku-buku sastra tapi tak juga menghasilkan tulisan yang hebat seperti Marcos ataupun seromantis puisi-puisi Pablo Neruda.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Essay | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 7, 2009
Oleh; Edi Miswar Mustafa
Sejujurnya, cerita ini sebenarnya telah terjadi 30 tahun yang lalu. Saat itu aku dan kau masih muda; kehidupan yang harus terus dijalani, meskipun suka dan duka dan aku benar-benar memahami hidup ini. Kala itu aku baru-baru berkarir sebagai wartawan. Dan aku melihatmu, selalu tak pernah lepas, pada minggu-minggu pertama. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan ketika seseorang itulah yang kemudian menjadi bahagian dari kehidupanmu yang bahagia selama 29 tahun lebih.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 1, 2009
sajak-sajak Budi Art
debu-debu melekat di setiap ruang dan waktu
sedang waktu selalu saja menapaki jalannya sendiri
sementara ruang memenuhi kehampaan
haruskah debu, ruang, dan waktu menyatu dalam diri
sebentar, ada jam yang berdetak
leleh di atas ranting yang mengering
aku mesti menjenguknya
barangkali itu waktuku
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Oktober 28, 2009
(Refleksi Bulan Bahasa)
oleh Herman RN

HAL yang jarang disentuh oleh ahli bahasa dalam membahas polemik kebahasaan adalah tentang jenis kelamin atau sebut saja dengan istilah “gender” dalam berbahasa. Sebagai refleksi bulan bahasa (setiap 28 Okotober) ini, kita lihat sekilas kaitan bahasa dengan relasi gender. Bahasa dalam gender yang saya maksudkan adalah pengungkapan, gaya, dan kemungkinan soal ketabuan bahasa yang diucapkan oleh si penutur, baik lelaki maupun perempuan. Hal ini memang perkara sederhana, tetapi ini pulalah yang “jauh” dari kajian para pakar. Padahal, jika benar-benar ditilik, ternyata kosa kata tertentu yang hidup dan diucapkan dalam masyarakat kita, cenderung mengalami ketidakseimbangan gender. Artinya, soal gender dalam bahasa seyogianya juga bisa jadi telaah para “aktivis gender” sehingga tidak memaknai relasi gender hanya pada pekerjaan dan pakaian semata.
Ditulis dalam Opini | 1 Komentar »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Oktober 22, 2009
Cerpen Hendra Kasmi
Dimuat di Serambi Indonesia, 11 Oktober 2009
Akhirnya aku kembali terdampar di sudut kampung sunyi usai bergelut riuhnya angin kota. Kulihat Balee Manyang masih seperti lima tahun lalu, beratap rumbia dan berdinding lapuk. Sederhana berdiri dalam kepungan hamparan sawah yang bulir padinya masih leluasa mereguh embun di pagi mendung ini. Di rangkang kecil, Zuk tampak damai dalam kusyuk simpuhnya. Tasbih bergerak perlahan dalam genggam jemarinya padu dengan komat-kamit mulut sepanjang subuh tadi hingga terang tanah. Muasal dari balee-balee itu, alunan zikirnya mengalun sayup-sayup merdu ke seantero dayah. Rupa Zul sekarang juga kian menawan dibalut pakaian putih. Mungkin itu hadiah dari Abu Cut sepulangnya dari tanah suci.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »