PENGAJARAN SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH

Posted on Updated on

musikalisasi-puisi.jpgANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN

Oleh Mukhlis A. Hamid, M.S.

Disampaikan pada Dialog Sastra 1996, Jangka, Bireuen, 21 Desember 1996

 

I. Pengantar

Pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di berbagai jenjang pendidikan selama ini sering diaggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi pada guru yang pengetahuan dan apresiasi sastra (dan budayanya) rendah. Hal ini menyebabkan mata pelajaran yang idealnya menarik dan besar sekali manfaatnya bagi para siswa ini disajikan hanya sekedar memenuhi tuntutan kurikulum, kering, kurang hidup, dan cenderung kurang mendapat tempat di hati siswa. Padahal, bila kita kaji secara mendalam, tujuan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah dimaksudkan untuk menumbuhkan keterampilan, rasa cinta, dan penghargaan para siswa terhadap bahasa dan sastra Indonesia sebagai bagian dari budaya warisan leluhur. Dengan demikian, tugas guru bahasa dan sastra Indonesia tidak hanya memberi pengetahuan (aspek kognitif), tetapi juga keterampilan (aspek psikomotorik) dan menanamkan rasa cinta (aspek afektif), baik melalui kegiatan di dalam kelas ataupun di luar kelas. Makalah ini mencoba mengulas beberapa hal yang berkait dengan realitas sastra Indonesia saat ini, dampaknya terhadap pengajaran, serta alternatif jalan keluarnya. Ulasan ini diharapkan dapat menggugah kembali kesadaran kita untuk menempatkan pengajaran sastra Indonesia pada tempat yang layak dan sejajar dengan mata ajar lainnya.

II. Realitas Sastra Indonesia dalam Masyarakat Indonesia Kini

Sastra dianggap kurang penting dan kurang berperan dalam masyarakat Indonesia hari ini. Hal ini terjadi karena masyarakat kita saat ini sedang mengarah ke masyarakat industri sehingga konsep-konsep yang berkaitan dengan sains, teknologi, dan kebutuhan fisik dianggap lebih penting dan mendesak untuk digapai. Sedikitnya perhatian anggota masyarakat terhadap kegiatan kesastraan (dan kebudayaan pada umumnya) merupakan salah satu indikasi adanya kecenderungan tersebut. Kegiatan kesastraan (dan kebudayaan) dianggap hanya memberi manfaat nonmaterial, batiniah, sehingga dianggap kurang mendesak dan masih dapat ditunda.

Kondisi di atas juga terjadi dalam dunia pendidikan. Perhatian para murid dan pengelola sekolah terhadap mata pelajaran yang berkaitan dengan sains, teknologi, dan kebutuhan fisik jauh lebih besar bila dibandingkan dengan mata pelajaran kemanusiaan (humaniora). Ketiadaan laboratorium bahasa, sanggar seni, buku bacaan kesastraan, dan berbagai fasilitas lain yang diperlukan dalam pengajaran merupakan bukti konkret adanya kepincangan tersebut.

Bila kita jujur dan masih tetap menganggap pendidikan merupakan upaya lain untuk memanusiakan manusia, perhatian terhadap semua materi ajar di sekolah haruslah seimbang dan saling sumbang. Tawaran untuk menggunakan pendekatan integral dalam pengajaran berbagai materi ajar di sekolah merupakan jalan keluar awal untuk mengakhiri kepincangan selama ini. Sekarang tinggal lagi bagaimana guru menafsirkan konsep integralistik tersebut dan bagaimana pula mewujudkannya dalam kegiatan pembelajaran, khususnya pembelajaran sastra di sekolah sehingga mata pelajaran ini menjadi menarik dan mendapat tempat di hati siswa. Hal-hal yang dapat dilakukan, antara lain sebagai berikut.

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah meyakinkan siswa bahwa pengajaran sastra tidak hanya menawarkan hiburan sesaat, tetapi juga akan memberi berbagai manfaat lain bagi siswa. Pengajaran sastra secara langsung ataupun tidak akan membantu siswa dalam mengembangkan wawasan terhadap tradisi dalam kehidupan manusia, menambah kepekaan terhadap berbagai problema personal dan masyarakat manusia, dan bahkan sastra pun akan menambah pengetahuan siswa terhadap berbagai konsep teknologi dan sains. Penikmatan yang apresiatif terhadap puisi, prosa fiksi, drama dalam berbagai genre akan membuktikan kemanfaatan tersebut pada siswa.

Selanjutnya, guru pun harus berusaha mengubah teknik pembelajaran sastra di sekolah. Selama ini pengajaran sastra (dan juga bahasa) Indonesia lebih diarahkan pada aspek sejarah dan pengetahuan sehingga siswa dipacu untuk menghafal, bukan untuk memproduksi atau mengahayati karya yang diajarkan. Tampaknya guru harus kembali melihat dan memahami tujuan pengajaran sastra di sekolah sehingga konsep pengajaran yang apresiatif benar-benar dapat diwujudkan pada masa yang akan datang. Kita memang menayadari adanya kesukaran dalam mengajarkan apresiasi sastra pada siswa yang tingkat keakraban mereka dengan karya sastra relatif kurang. Kita juga menyadari bahwa tidak semua guru memiliki kemampuan apresiasi sastra yang relatif memadai. Namun demikian, guru harus berusaha secara bertahap untuk melatih kemampuan apresiasinya dan berusaha pula mengajarkan apresiasi kesastraan kepada siswa.

Kegiatan apresiasi sastra tidak hanya diajarkan dalam bentuk pembacaan karya sastra oleh siswa. Kegiatan ini dapat juga diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan dengan berbagai teknik pembelajaran. Kegiatan deklamasi, lomba penulisan puisi, musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, mendongeng, pembuatan sinopsis, bermain peran, penulisan kritik dan esei, dan berbagai kegiatan lain dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan apresiasi sastra pada siswa. Berbagai kegiatan tersebut dijamin akan menumbuhkan penghayatan, pencintaan, dan penghargaan yang relatif baik pada para siswa terhadap mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Hal lain yang juga perlu dipikirkan saat ini adalah pemanfaatan dan pengadaan buku/ bacaan kesastraan di sekolah. Pemerintah, di satu sisi, telah berusaha melengkapi buku bacaan untuk para siswa melalui Proyek Pengadaan Buku Bacaan. Meskipun bahan yang dikirimkan ke sekolah belum memadai, guru seharusnya dapat memanfaatkan sarana yang ada itu untuk memancing kreativitas membaca dan mencipta pada siswa. Di samping itu, guru dan pihak sekolah harus juga berusaha membeli bacaan lain, seperti surat kabar, kumpulan puisi, dan berbagai media lain yang harganya relatif murah. Untuk kepentingan pengajaran sastra di Aceh, misalnya, guru cukup membeli harian Serambi Indonesia edisi Minggu, atau harian-harian lain yang edisi khususnya memuat/membahas masalah kesastraan/kebudayaan. Alternatif ini diharapkan dapat membantu mengisi ketiadaan sumber belajar yang selama ini menjadi kendala dalam pengajaran sastra.

Kendala lain yang tampaknya juga perlu dicarikan pemecahannya adalah sistem evaluasi pengajaran sastra (dan bahasa) yang cenderung ke aspek kognitif/pengetahuan. Selama ini, ulangan caturwulan dan ebtanas memang lebih terfokus pada evalusi pengetahuan para siswa. Guru tidak perlu berkecil hati dengan kondisi ini. Kalau mau, evaluasi yang mengarah ke penumbuhan keterampilan dan apresiasi masih dapat dilaksanakan di berbagai kesempatan lain di luar dua bentuk evaluasi di atas. Evaluasi keterampilan dan apresiasi siswa ini dapat saja dilakukan melalui penugasan di rumah, kegiatan ekstrakurikuler, dan berbagai kegiatan lain. Sekarang tinggal lagi mau atau tidakkah guru bahasa/guru kelas memanfaatkan kesempatan itu untuk evaluasi yang tidak hanya mengagungkan aspek hafalan pada siswa.

Terakhir, guru bahasa dan pihak sekolah tampaknya juga perlu mengaktifkan kembali sanggar-sanggar siswa di sekolah. Kegiatan sanggar di luar jam belajar secara langsung pasti akan berpengaruh terhadap penumbuhan keterampilan, kecintaan, penghayatan, dan penghargaan yang positif terhadap sastra (dan bahasa) Indonesia pada siswa. Bagaimanapun kita tetap bersepakat bahwa penumbuhan kreativitas, penyaluran bakat/minat, dan pembinaan moral siswa tidak hanya dilaksanakan pada saat-saat belajar secara formal di dalam kelas, tetapi juga melalui kegiatan ekstrakurikuler di luar jam belajar.

III. Penutup

Itulah gambaran sepintas terhadap kondisi sastra dan pengajaran sastra Indonesia hingga hari ini. Bila guru sastra (dan bahasa) Indonesia masih tetap berdiam diri dan hanya duduk mengurut dada, kondisi tersebut akan terus berlanjut pada hari-hari yang akan datang. Karenanya, kesempatan dialog kali ini diharapkan dapat memberi sugesti kepada kita untuk kembali memperbaharui niat, menumbuhkan tekad, dan bersiap untuk kembali membenahi pengajaran sastra (dan bahasa) Indonesia di sekolah. Memang ada di antara kita yang terlanjur menjadi guru dan terlanjur pula memilih menjadi guru bahasa Indonesia (yang kita anggap sangat mudah itu). Namun, keterlanjuran itu harus kita nikmati sampai hari-hari yang akan datang. Karenanya, saat ini kita harus memilih: tetap menjadi guru sastra atau beralih ke bidang lain yang mungkin jauh lebih mudah dan menjanjikan masa depan yang jauh lebih cemerlang. Bila kita tetap memilih menjadi guru sastra Indonesia, mulai sekarang kita harus bertekad membuka diri, menambah wawasan, dan berusaha menjadi guru yang ditunggu-tunggu oleh para siswa. Semoga ….

Biodata Penulis

Mukhlis A. Hamid, lahir di Peukan Bada, Aceh Besar, 2 Desember 1962. Pendidikan dasar diselesaikan di Peukan Bada dan Lhoknga, Aceh Besar, pendidikan keguruan diselesaikan di SPG Banda Aceh, 1981, S-1 pada FKIP Univ. Syiah Kuala diselesaikan tahun 1986, S-2 Ilmu Sastra (Humaniora) pada Program Pascasarjana Univ. Padjadjaran, Bandung terselesaikan pada 1993. Saat ini penulis bekerja sebagai dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, FKIP, Univ. Syiah Kuala, Banda Aceh, pekerja sosial pada Yayasan Janur Kuning Perwakilan Aceh, dan relawan pada Lembaga GN-OTA Prop. DI Aceh.

About these ads

10 pemikiran pada “PENGAJARAN SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH

    asri_kembuai berkata:
    Juni 26, 2007 pukul 3:21 am

    minta materi semanti

    Sukarni berkata:
    Agustus 26, 2008 pukul 2:35 am

    Hari ini (26 Agustus 2008) di Jogja saya mengikuti Seminar Sastra Indonesia di Yogyakarta Fakta dan Pengajarannya.

    Ketika search internet, saya temukan artikel njenengan. Hehe,
    Makasih ya!

    Gemasastrin PBSID responded:
    Agustus 26, 2008 pukul 10:49 am

    terima kasih kembali

    diana berkata:
    Januari 4, 2009 pukul 8:43 am

    terimakasih artikel ini memberi saya inspirasi dalam mengerjakan tugas UAS..mudah2n dosen saya juga terkesan

    stephani fransiska berkata:
    Februari 4, 2010 pukul 1:00 pm

    minta tolong materinya diperpanjang dan luas

    Darsiti,M.Pd berkata:
    Mei 20, 2010 pukul 5:20 pm

    saya mau ikut lomba esai pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Saya cari sumber…. atau referensi atau apa sajalah yang terkait dengan pengajaran bahasa Indonesia. alhamdulillah..saya temukan artikel njenengan… thank.

    Darsiti,M.Pd berkata:
    Mei 20, 2010 pukul 5:22 pm

    saya mau ikut lomba esai pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Saya cari sumber…. atau referensi atau apa sajalah yang terkait dengan pengajaran bahasa Indonesia. Saya buka internet…ada artikel Anda…semoga dapat membantu saya mengungkapkan gagasan tentang pengajaran bahasa Indonesia saat ini. terima kasih.

    mukhlis hamid berkata:
    Oktober 29, 2010 pukul 2:08 am

    Trims tuk semuanya. Semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi bagi kita semua.

    Salam,

    MH

    [...] pada Yayasan Janur Kuning Perwakilan Aceh, dan relawan pada Lembaga GN-OTA Prop. DI Aceh. Sumber: http://gemasastrin.wordpress.com/ Share/Bookmark Artikel TerkaitSajak-Sajak dari Kendari (3)Pandangan Bangsa Luar Terhadap Sastra [...]

    juliadi berkata:
    Desember 26, 2012 pukul 8:17 am

    Terimakasi atas uggahan ttg sastra ini,,,, ini sangat bermanfaat bagi anak didik saya,,, terimakasi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s