Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Juli 31, 2007
oleh: Netty Wary
Di Aceh baru saja diresmikan darurat militer. Para aparat berdatangan ke setiap pelosok daerah yang ada di kampung-kampung. Tak juga ketinggalan dengan daerah kami, daerah yang dikatakan cukup rawan. Kampung kami berada di Kenawat Dataran Tinggi Gayo. Mayoritas penduduknya adalah bertani. Pada saat musim panen tiba, laki-laki tidak berani pergi ke sawah ataupun ke kebun. Bahkan dilarang oleh para istri-istri yang masih memiliki suami. Begitu juga dengan para anak mudanya. Para wanitalah yang menggantikan posisi laki-laki pada saat itu. Sehingga jika di lihat ke setiap kebun-kebun semua yang bekerja hanya kaum wanitanya. Sedangakan kaum laki-lakinya tinggal menjaga rumah. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Juli 24, 2007
Oleh: Risma
Hidup di dunia yang semakin panas, semakin bebas dan semakin kaya dengan teknologi. Itulah kehidupan. Aku juga ingin hidup bebas. Tapi, janganlah tuan dan puan berfikir kalau aku akan sebebas dan sevulgar cerita Romeo dan Juliet, bukan pula bebas berpegangan dan berciuman di jalanan, apalagi bebas melakukan sex di luar nikah. Bukan itu maksudku wahai syedara. Aku akan hidup bebas tapi bebas dalam tanda kutipku sendiri. Tanda kutip itu aku sendiri yang membuatnya tidak ada terlibat orang lain, kalau kebetulan kita mempunyai tanda kutip yang sama yakinlah itu hanya kebetulan saja. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | 1 Komentar »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Juli 20, 2007
Yudi Pratama
Senja telah pergi dan malam segera datang. Aku masih saja duduk di kamar seorang diri. Aku tengah teringat akan sosok yang aku jumpai tadi. Entah kenapa aku masih kepikiran tentang sosok itu. Aku sama sekali tidak kenal dia. Bahkan aku baru kali itu ketemu dengannya. Tapi, kenapa ya, ia telah bisa masuk kedalam pikiranku? Ah, buat apa aku mikir orang yang tidak sama sekali aku kenal. Aku langsung bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap mengerjakan shalat. Malam ini aku ingin cepat-cepat beristirahat. Karena aku merasa letih sekali. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Juli 15, 2007
Herman, Banda Aceh
Gelanggang Mahasisawa Sastra Indonesia (Gemasastrin) FKIP Universitas Syiah Kuala akan mengadakan pelatihan menulis sastra untuk anggotanya. Pelatihan itu menurut Eka Fitriana, ketua warga Gemasastrin, untuk memicu kemauan menulis pada anggotanya, sebab gemasastrin memang merupakan salah satu wadah sastra di FKIP Unsyiah, tepatnya sebuah himpunan jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Kabar | 4 Komentar »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Juli 13, 2007
Yudi Pratama

Kring…. Tiba-tiba Hpku berdering. Kulihat di layar Hp, nama Rina. Aku mengangkat telponnya. Ya, ada apa Rin? Begitu tanyaku. Sesaat wajahku berubah. Aku mendapat kabar bahwa Deni kecelakaan. Aku diam tanpa bisa berkata apa-apa. Aku tak percaya dengan semua ini. Aku sangat sedih. Hati ini begitu hancur melihat tubuh yang dulu begitu erat di pelukanku sekarang tidak berdaya dan sedang berjuang melawan maut. Tuhan, sembuhkanlah ia. Aku terus berdoa di dalam hati. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Juli 11, 2007
Oleh : Erni Ningsih
Yulia tidak menduga kalau ternyata pemuda yang dikenalnya adalah cowok matre yang baik. Semuanya bermula dari nonton konser Ungu. Itu tu, grup band yang lagi ”digilai” sama anak-anak muda. Siapa sich yang nggak kenal? Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Juli 1, 2007
Hendra Kasmi
Di bawah sinar rembulan, tampak bayangan seorang lelaki dengan seraut wajah rupawan, roman wajah yang terlalu sempurna untuk seorang perjaka. Tapi, raut wajah itu terlihat murung. Tak seperti biasanya raut wajah lelaki yang bernama Sanusi itu muram seperti ini. Ada sesuatu yang mengganjal kepalanya. Pikirannya terus menerawang menembus angkasa. Dia seperti menyesali nasibnya. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »