Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada September 29, 2007
oleh Irham
Sejuk udara pagi membuat seluruh badanku merinding, dingin dan sangat dingin. Akau bangun bergegas memasak air untuk membuat secangkir kopi. Karena rumah dekat dengan pantai, hembusan angina lautlah yang membuat suasana ngopi jadi terasa nikmat. Tak terasa kopi yang terisi dicangkirku sudah habis tanpa tersisi sedikitpun. Tiba-tiba di depan rumah terlihat sebuah perahu mungil dan terdapat satu dayungan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Feature | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada September 25, 2007
Oleh Fitriana
SUDAH seharian Indah kayak orang linglung. Gampang marah, tanpa sebab gitu dech. Gadis sebagai sobatnya nggak tau pasti apa penyebab Indah berubah begitu. Ia mulai seperti itu sejak kepulangan Duta, pacarnya yang juga kekasih Gadis. Duta dan Indah sudah lama menjalin kasih. Memang kalo diperhatiin memang ada yang aneh pada diri Duta. Duta udah seminggu balik dari Batam. Duta bersikap seperti orang yang kayak sulit ditebak. Dia mulai jadi cowok pendiam dan suka melamun. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada September 18, 2007
(Secuil Catatan Pementasan W.S. Rendra)
oleh Herman RN

Membaca judul tulisan ini, saya yakin ada yang kegelian, ada yang bertanya-tanya (kok sadis sekali?), dan tentunya ada yang kebakaran janggut. Sekilas memang lucu dan sadis, tetapi inilah yang diungkapkan W.S. Rendra dalam sajak “Pantun Korupsi” yang dibacakannya dalam dies natalis Universitas Syiah Kuala, 3 September lalu. Dan tulisan saya kali ini merupakan daya tangkap naluri saya terhadap kegelisahan si Burung Merak Rendra yang saya sarikan melalui sebuah tajuk “Jangan Mau Menjadi Pejabat, Sanak Kerabat Diajak Korupsi”. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Essay | 1 Komentar »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada September 15, 2007
oleh : Hendra Kasmi
Angin sore bertiup lembut membelai ilalang-ilalang yang mulai menguning. Daun-daun kering tak berdaya berguguran dari tangkainya. Beberapa bocah terlihat mengejar truk-truk pengangkut pasir di jalanan kerikil hingga debu-debu berterbangan. Entah kesenangan apa yang melekat pada diri mereka, yang pasti riang tawa itu hanya dimiliki anak-anak pedalaman Beutong Ateuh. Sebuah daerah yang mengingatkan kita pada tragedi berdarah beberapa tahun silam. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | 1 Komentar »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada September 8, 2007
Herman RN
Sisa-sisa gerimis masih melekat di atap gedung pertunjukan Taman Budaya Aceh. Bangku-bangku panjang dari semen dalam gedung open stage taman itu masih basah. Malam terus saja merangkak. Rembulan dan gemintang sembunyi di balik mega. Gedung itu hanya diterangi remang-remang lampu listrik. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Feature | 11 Komentar »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada September 3, 2007
Cerita Herman Pelangi
Dia tersudut. Didekapnya tangan ke dadanya. Matanya menatapku sesaat, lalu menunduk. Aku masih berdiri di mulut pintu sambil terus menatapnya. Hatimu keras seperti batu, tapi itulah yang membuat aku tambah sayang padamu. Bathinku. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »