Syair Terindah dari Ceh Didong

Posted on

oleh RismawatiSaman

Udara dingin menyentuh kulitku. Pikiranku gamang di bawah rembulan redup. Pandanganku kosong diselimuti oleh kabut dan embun malam. Dingin sekali, tidak sanggup aku menahannya. Pukul sepuluh malam ini membuat suasana di Blangkejeren semakin sunyi.

Aku buang saja pikiran picikku ini. Sedari tadi hanya ingin berjalan membelah malam, sekedar menyenangkan hatiku. Ternyata udara dingin malam ini membunuh semangatku. Sebenarnya bukan aku berniat buruk pada langkahku. Aku hanya ingin sekedar berjalan saja malam ini. Layaknya di kota besar, bisa refresing barangkali.

Begitu imajinasiku bermain di atas bantal lusuh, selimut tua dan tikar pandan yang tiada bertepi. Ah, ingin sekali aku menikmati malam yang indah. Sudah sekian banyak malam yang aku lewati dengan terbelenggu dalam kerusuhan dan peperangan. Tapi, entahlah, jangankan perang cuaca dingin ini juga mampu melumpuhkan semangatku.

Aku balut rapat badanku dengan selimut tua ini. Aku berharap selimut ini mampu menghangatkan walau sedikit saja. Aku tarik selimut dengan kuat, tiba-tiba ada bunyi”kreeek” selimutku robek. “Inilah buah peperangan” Pikirku. Kenapa tidak? Peperangan yang telah menelanjangi jiwaku sehingga selalu bertelanjang, dan terbelenggu dalam ketakutan.

Malam semakin larut. Di cela-cela papan dinding rumah, udara masih menyusup dingin. Cahaya bulan sedikit bersinar, pikirku masih gamang. Keinginanku untuk berjalan mencari angin malam terbelenggu begitu saja. Mataku mulai terasa berat. Aku ingin tidur saja.

Di saat mata ini mulai meredup, dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara keramaian. Semakin aku dengarkan suara itu semakin merdu, sorak riang gembira. Semakin lama semakin terdengar jelas, ternyata itu adalah suara ceh berdidong. Menghentakkan kaki di bilahan papan hingga terdengar rentakan irama. Muda-mudi serentak berbalas pantun di cela-cela suara ceh didong, pantun sindiran, pantun nasehat, pantun muda mudi dan pantun-pantun perdamaian.

Aku melirik jam dinding, hampir jam dua belas malam. Ah, benarkah ini sudah damai? lama sekali didong menghilang di telan peperangan, karena didong kesenian malam. Jangankan suara didong, kalau malam hari suara pengajian dari mesjid saja sudah jarang terdengar. Semua terbelenggu.

Mataku yang sedari tadi mulai mengantuk, kini terjaga dan terbelalak mendengar tembang perdamaian dari syair-syair didong. Aku bergegas mencari arah suara dan menuju ke tempat ceh berdidong.

Saat di perjalanan banyak sekali yang aku pikirkan. Pikiranku seolah membuka kembali memori yang pernah aku tutup beberapa tahun yang lalu. Semua kenangan teringat kembali. Rumah tua dengan cat biru muda, itulah rumahku. Rumah yang tidak terlalu besar hanya 5x5m persegi. Dinding papan rumah tidak terlihat menua sejak aku tinggalkan beberapa tahun yang lalu. Satu keadaan yang memaksa aku pergi mencari kedamaian ke negeri orang lain.

Saat aku kembali, Lubang-lubang angin di atas pintu dan jendela masih tertutup rapat seperti aku tinggalkan dahulu. Ketakutanku terhadap perang membuat aku ingin menutup semua lubang angin yang ada di rumah ini. Aku tidak ingin satu kejahatanpun masuk ke dalam rumahku. Namun, tetap saja kejahatan itu bisa masuk menjemput. Ayah dan Emak pergi untuk selamanya. Bahkan, aku tidak sempat melihat mereka untuk terakhir kalinya. Lama aku meninggalkan negeri ini mencari sedikit kedamaian.

Pikiranku menemani langkahku. Setelah bertanya beberapa kali pada orang yang aku temui di jalanan, akhirnya aku sampai di rumah Aman Hendri. Aman Hendri yang sedang menyelenggarakan pesta sunatan anaknya. Tamu yang di undang dari setiap desa duduk berjejer di dalam bangsalan.

Dua ceh didong sedang berteka-teki, berlomba menyampaikan nasehat terbaik dalam syairnya, hingga menjelang pagi acara didong baru akan berakhir. Akan ada kalah menang antara kedua belah pihak. Khasnya ceh didong, teleng kerawang, kain panjang yang di kembangkan sepanjang rentangan tangan, membuat semakin semarak acara didong malam ini.

Ah, aku tersenyum puas menyaksikan kedamaian ini. Terkagum-kagum mendengar kepintaran ceh didong merangkai kata-kata hingga menjadi syair yang sangat indah. Aku akui, aku tidak bisa sepintar itu meracik kata.

Menjelang pagi, acara didong berakhir, seiring dengan berkumandangnya azan subuh. Aku pulang membawa kebahagiaanku. Aku sangat yakin negeri ini sudah damai.

Ah, pikirku semakin picik berkecamuk dalam jiwa yang semakin lemah. Aku akui negeri ini semakin damai, tapi aku sulit untuk meyakini apakah negeriku ini sudah benar-benar merdeka? Walaupun setiap tahun selama 62 tahun ini pesta kemerdekaan di gelar. Kemerdekaan seperti apa ini ?

Negeri ini damai tapi alam berteriak memaki anak negeri ini. Berteriak minta tolong terhadap kejahilan tangan-tangan sang pemimpin. Penduduk negeriku merasakan kedamaian tapi alamku menangis meronta. Kedamaiannya kini di perkosa untuk kepuasan sebagian anak negeri ini. Bahkan, aku merasakan kekeringan dan tandus yang mendera karena aku hanyalah orang kecil yang tiada berkuasa.

Ceh didong bukan penguasa, tapi hanya pelaku seni yang selalu siap menghibur jiwa-jiwa yang terluka. Ceh didong dengan syair terindah untuk kedamaian dan kemerdekaan negeriku tapi alamku tidak merasakan kedamaian. Langkahku semakin gamang. Namun, sejuta kebahagiaan ada tersisa dalam diriku dapat menyaksikan ceh berdidong dalam damai.

Aman: sebutan untuk orang laki-laki yang sudah menikah
Bangsalan: tenda ketika pesta
Teleng: ikat kepala
Kerrawang: kain adat khas gayo
didong: acara kesenian daerah gayo

About these ads

One thought on “Syair Terindah dari Ceh Didong

    Andrew Limavady said:
    Oktober 23, 2008 pukul 11:56 am

    Saya murid. Jadi wa mau guru yang berpengalaman. Next, wa minta request untuk add wa sebagai friend u guys. Ok! Sip men.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s