Oleh Rismawati,
Mahasiswa Sastra Indonesia dan Daerah Unsyiah
Sastra mempunyai pemaknaan dan pemahaman yang luas. Karena itu, penafsiran terhadap sebah karya sastra dapat timbul ambigu. Multitafsir atau keambiguitasan pula sering menjadikan sastra sebagai jalur penyampaian informasi, kritik, dan sindiran yang sifatnya membangun. Namun, tak tertutup kemungkinan, multitafsir menimbulkan makna bertolak belakang dengan maksud pengarang.
Tulisan ini pun lahir dari kemultitafsiran tersebut. Ketika desas-desus di luar—dari kantin kampus FKIP sampai ke sejumlah warung kopi—mengatakan Herman RN dengan “Rumah Aib”-nya yang dimuat Harian Serambi Indonesia, (Minggu, 16 Maret) sedang mencemooh seorang sahabatnya–AA Manggeng (begitu cerita yang kudengar dari beberapa orang teman) lewat cerpennya–, maka saya mencoba menelisip pemahaman “Rumah Aib” tersebut sehingga lahirlah tulisan ini. Baca entri selengkapnya »