Kayu Lempang Berkeris Lafaz Allah Pembawa Berkah
Mei 18, 2008
Mentari menyapa pagi. Seperti biasanya, Nur Aisyah, 43, warga Desa Punti, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, pergi bekerja membersihkan kebun sawit milik orang lain. Bekerja sebagai pembersih kebun sawit sudah empat tahun terahir ia geluti. Kebun-kebun itu terletak di Desa Pucuk Alue, Batu II, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara.
Kak Aisyah, demikian perempuan paruh baya itu disapa. Ia rela menempuh ratusan kilometer berjalan kaki demi mencari sesuap nasi untuk menghidupi anak semata wayang, Safnidar, yang masih 6 tahun. Setelah bercerai dengan suaminya, Muhammad Yusuf, 55, warga Desa Ule Blang Mane, Kecamatan Blang Mangat, Lhoksemawe, empat tahun lalu, Aisyah, harus bekerja keras menjadi ibu sekaligus ayah bagi anaknya.
Kondisi keuangan Kak Aisyah saat itu memang sangat memperihatinkan. Akhirnya, berkah datang menghampiri keluarganya. Pada Ahad awal Februari 2008, seperti biasa setelah selesai membersihkan kebun sawit, siangnya Aisyah beristrirahat makan siang di tepi sungai kecil. Saat itu, tiba-tiba mata Aisyah tertuju pada seonggok kayu berbentuk aneh. Awalnya, ia tidak peduli dan menganggap kayu itu hanya perasaan yang melintas di matanya saja karena pengaruh kelelehan. Sorenya, ia pulang ke rumah untuk berkumpul kembali dengan keluarganya.
Empat hari kemudian, pada Kamis malam, Aisyah bermimpi didatangi seorang kakek dengan jengot panjang dan memakai sorban serta jubah putih. Kakek itu datang dengan mengendarai sebuah mobil mewah dan menyuruh Aisyah naik ke dalam mobil itu.
“Kakek itu mengigatkan saya bahwa benda yang saya lihat di kebun itu adalah jalan rezeki saya dan berkah yang dititipkan Allah untuk saya,” ujar Aisyah dengan terharu kepada Harian Aceh, kemarin.
Pagi harinya, Aisyah mendatangi tempat di mana ia melihat kayu itu. Ternyata kayu itu masih terletak di sana. Lalu, ia memungutnya beberapa kali sampai ia harus menggunakan parang yang ada ditangannya karena ukuran kayu yang panjang. Setelah itu, kayu bertuah itu dipotong, karena dianggap terlalu panjang oleh Aisyah. Lalu dibawa pulang, sedang alung kayu penumbuk yang bersatu dengan kayu itu dibuang ke sungai, karena dianggap tidak berguna.
Sesampai di rumah, ia memperhatikan bentuk kayu yang diambil itu. Ternyata menyerupai tapak gajah dan berlubang ditengahnya. Setelah diperhatikan secara seksama, di tengah lubang itu ada keris kecil yang bertulis lafaz Allah dengan huruf Arab. Kemudian, kayu itu dibalut dengan menggunakan kain putih bersih dengan maksud sebagai penawa penyakit.
Sejak saat itu, hidupnya berubah. Dulu, keuangannya morat marit. Namun, lamban laun sedikit membaik. Khasiat kayu itu dapat mengobati penyakit reumatik, sesak napas, asam urat, darah tinggi, dan penyakit laianya. Sudah lebih 400 orang berobat ke kepada Aisyah. Mereka datang dari luar Aceh Utara seperti, Kuala Simpang, Langsa, Sigli, dan Banda Aceh, malah ada yang sudah berobat ke Malaysia tidak sembuh, mendatangi Aisyah.
“Insyah Allah sudah banyak orang yang sembuh. Saya tidak menyangka berkah datang dari kayu lempang ini. Saya menggangap ini jalan rezeki yang diberikan Allah kepada keluarga saya,” ujar Aisyah penuh haru.Zulkifli/Harian Aceh
Entry Filed under: Kabar. .
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Rabetsa Kariono | Mei 26, 2008 at 5:29 pm
Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah wallahu akbar.
semoga kita selalu di bawah lindunganNya, amin.