Refleksi Perjalanan Mengenal Teater dalam Dunia Pendidikan Kita (Genre sastra yang terabaikan?)

Posted on Updated on

Oleh: Budi Arianto

Kilas Balik

Sekitar 15 tahun yang lalu, Saya baru menginjakkan kaki dan menabalkan diri sebagai mahasiswa Program studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, jurusan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Tepatnya di tahun 1992 saya mulai mengenal kumpulan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok teater (dama) bernama ”Sanggar Cempala Karya”. Tentu saja dalam sanggar inilah saya mulai mengenal ”dunia baru” teater, di sini pula saya berlatih mengolah tubuh, mengolah vokal dan mengolah karya.

Tak terasa dua tahun sudah menggeluti dunia teater, yang pada akhirnya ”sanggar Cempala Karya” mati, karna lesu darah ditinggalkan para penghuninya yang telah menyelesaikan kuliah. Dengan modal kemampuan yang ada dan kecintaan terhadap teater, akhirnya saya bersama beberapa teman, membangun kembali satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) di tingkat Universitas. UKM ini kami berinama Teater NOL, meski pasang surut eksistensinya, hingga hari ini setelah nyaris sepuluh tahun Saya tinggalkan masih eksis dan telah mengalami berbagai generasi.

Kenapa Saya menggemari Teater? Pertanyaan ini mengingatkan saya dalam pengajaran Teater (drama) di sekolah. Dalam pendidikan sekolah tingkat dasar sampai menengah atas, pasti diajarkan adanya pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam mata pelajaran tersebut tentunya diajarkan tentang sastra dan berbagai hal yang berhubungan dengan cakupannya. Jenis sastra yang kita kenal ada beberapa macam yaitu: puisi, prosa, dan drama. Akan tetapi, sangat disayangkan jika kebanyakan guru-guru masih menganak emaskan prosa dan puisi. Pengajaran prosa dan puisi cenderung lebih mendapat prioritas utama, sikap seperti itu sudah tidak asing lagi dalam dunia pendidikan kita.

Pengajaran sastra yang timpang, memang bukan salah guru semata. Akan tetapi, kurikulum yang menuntut demikian. Tidak mengherankan jika drama (teater) dianggap sebagai anak tiri pengajaran sastra. Memang demikian kenyataannya, pikiran masyarakat jika menyebut kata ’teater/drama’ pasti tidak lepas dari bayangan sebuah pertunjukan atau pentas. Jarang sekali jika mendengar kata ’drama’, langsung terpikir pada teks/naskah drama. Hal tersebut menunjukkan bahwa kita mengenal teater hanya sebagai sebuah pertunjukkan saja, bukan hal lain yang berhubungan dengannya.

Para guru yang cenderung mengajarkan tentang prosa dan puisi, dugaan sementara disebabkan beberapa faktor, yaitu (1) prosa dan puisi itu dianggap sebagai dasar dari karya sastra, sedangkan drama dianggap sebagai penjabaran dari prosa dan puisi. (2) keterbatasan waktu yang menyebabkan prosa dan puisi lebih sering diajarkan karena hanya memerlukan teori dan membaca saja, sedangkan drama memerlukan waktu yang cukup banyak karena diperlukan pemahaman membaca, cukup teori, dan bila perlu dicoba untuk dipentaskan. (3) kurikulum pendidikan yang cenderung memasukan prosa dan puisi sebagai tujuan utama pengajaran, sedangkan drama dianggap sebagai genre sastra yang sekunder.

Banyak kasus anak yang mengaku pernah belajar tentang pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, ia mengaku lebih tahu tentang prosa dan puisi, sedangkan teater/drama tidak tahu menahu. Teater yang diajarkan disekolahnya hanya berkutat pada teori saja, sedangkan mempraktikannya jarang sekali. Hal yang lebih memprihatinkan lagi, beberapa anak mengaku tidak pernah melihat naskah/teks teater itu seperti apa. Dari kasus tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa, pengajaran teater sangat kurang dibandingkan dengan pengajaran tentang prosa dan puisi. Banyak guru memberikan teori tentang drama, namun hal itu dianggap masih kurang. Para siswa kebanyakan telah tahu sebuah drama itu seperti apa, tetapi hal-hal yang bersangkut paut dengan teater, seperti naskah/teks teater kebanyakan siswa belum mengetahui bentuknya. Kemungkinan para siswa masih menganggap bahwa naskah/teks teater itu sama dengan petikan-petikan percakapan dalam prosa. Jika prosa dan puisi yang diajarkan di dalam buku-buku teks baku di sekolah-sekolah dikategorikan sebagai kesusastraan yang diresmikan. Drama yang ada dalam buku-buku sekolah, bisa dikategorikan sebagai kesusastraan yang diresmikan tapi diremehkan. Diresmikan karena mendapat rekomendasi dari negara, diremehkan karena diajarkan secara kurang dan setengah-setengah.

Seharusnya kurikulum tentang pengajaran sastra dibuat secara proporsional sehingga tidak menimbulkan ketimpangan dalam pengajaran sastra. Antara prosa, puisi, dan drama hendaknya tingkat pengajarannya tidak terpaut terlalu jauh. Jika terpaut terlampau jauh, maka akan terjadi pendiskriminasian salah satu jenis sastra tersebut. Apabila salah satu jenis sastra sudah mendapat pandangan yang kurang, maka jenis sastra itu kurang berkembang. Perkembangan jenis sastra yang terhenti akan tidak menguntungkan bagi para peminatnya dan kelangsungan hidupnya.

Bila pengajaran drama disekolah menengah pertama dan menengah atas kurang memadai, maka tingkat pengajaran teater diperguruan tinggi pada saat saya memasuki kuliah hingga menyelesaikan studi di jurusan Bahasa dan Seni Program studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah masih belum maksimal. Karena Drama masih dijadikan bagian dari Mata kuliah Prosa fiksi dan Drama.Sehingga pengajaran Drama sering hanya teori dan tempelan belaka, sebagai pelengkap.

Atas dasar gambaran tersebutlah pelajaran dan pemahaman tentang Drama atau teater lebih banyak saya dapatkan ”di luar” kampus, otodikdak. Dengan alasan itu pula kenapa saya menggemari teater. Tidak sekedar menggemari, tetapi merasa bertanggung jawab untuk mengembangkan dan memasyarakatka teater yang hingga kini terkesan sebagai seni ”kaum elit”,–terutama teater modern. Apalagi saat ini saya diberi tanggung jawab oleh Universitas untuk memegang mata kuliah drama, tentu ini menjadi tantangan bagi saya untuk lebih memahami dan mendalami teater baik secara teori maupun praktek.

Setetes Harapan

Dalam iklim pengajaran teater yang sedang terpuruk, ternyata masih ada setetes harapan yang menyejukkan, yaitu pengajaran drama pada saat ini lebih serius karena ada mata kuliah kusus yang berkutat tentangdrama, yaitu mata kuliah Teater. Akan tetapi, porsi untuk kuliah drama juga dirasa masih sedikit dan kurang ideal untuk ukuran mahasiswa, yang kelak akan mengajarkan pelajaran drama. Mungkin porsi tersebut disesuaikan dengan perguruan dan kurikulum universitas, misalnya porsi drama di Institut-Institut Seni tentu lebih banyak dibandingkan dengan universitas apalagi di fakultas Pendidikan. Memang memasyarakatkan teater cukup sulit dan banyak tantangan, namun dengan usaha seluruh lapisan masyarakat, kemungkinan untuk terus mengembangkan teater sangat terbuka.

Teater sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat akan sesuatu dan sekaligus memberikan hiburan bagi masyarakat. Pesan moral tertentu dapat disampaikan dalam sebuah teater secara langsung maupun tidak langsung. Budaya lisan yang masih kuat pada bangsa kita, hendaknya dijadikan peluang untuk semakin memasyarakatkan teater. Dunia pendidikan kita seharusnya memanfaatkan peluang tersebut sehingga teater tidak hanya sebatas teori. Prospek yang bagus dari keberadaan teater, sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk tujuan komersil dan pariwisata.

Untuk mewujudkan pendidikan sastra yang baik, hendaknya drama juga harus mendapat tempat dalam pengajarannya, tidak hanya prosa dan puisi. Guru juga harus mampu mengajarkan drama secara menyeluruh, dari teorinya sampai hal-hal yang bersangkutan seperti naskah/teks teater dan hal lainnya, karena masih banyak siswa yang belum mengerti teater/drama sepenuhnya.

Pengajaran tentang teater hendaknya perlu ditingkatkan agar siswa memperoleh ilmunya tidak terpatah-patah. Dalam menyampaikan teori hendaknya disertai bukti atau gambaran-gambaranny ata tentang apa yang diajarkan, sehingga siswa lebih kritis dalam menerima pelajaran. Jika siswa sudah mampu berpikir kritis, maka perkembangan sastra akan terdorong untuk maju sebab generasi yang kritis biasanya akan membawa suatu hal baru yang dapat meningkatkan perkembangan sastra. Hal yang perlu kita benahi yaitu, drama harus sejajar dengan genre sastra yang lain. Kurikulum yang hanya berkutat pada prosa dan puisi hendaknya perlu di tata kembali sehingga tidak ada lagi istilah anak emas dan anak tiri dalam kehidupan sastra Indonesia.

Tentu saja ini menjadi tantangan dan harapan pribadi sebagai salah satu dosen yang diberi tanggung jawab mengasuh mata kuliah drama di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Universitas Syiah Kuala. Atas dasar itu pula saya memutuskan untuk memperdalam pengetahuan Pengkajian seni pertunjukan dan berkonsentrasi pada program studi Teater. Dengan harapan akan mampu melakukan transformasi pengetahuan baik teori maupun praktek bagi para calon guru dalam mengajarkan teater kelak.

Sekali lagi saya sampaikan bahwa memasyarakatkan teater menjadi tanggung jawab bersama. Karnanya, sudah tentu pengkajian dan apresiasi teater tidak sebatas di kampus atau ruang kuliah, tetapi secara akademis juga penting menularkan pengetahuan, membangun kesadaran besama ditengah-tengah masyarakat. Hal ini dilandasi akan pentingnya memberikan apresiasi dan bagaimana memahami teater sebagai media pembelajaran dan pendidikan, baik moral, mental maupun spiritual.

Apalagi dalam perkembangannya teater tidak lagi semata-mata hanya dijadikan sebagai seni pertunjukan, namun teater juga dapat dijadikan sebagai media peningkatan managemen perusahaan. Teater dapat memberi inspirasi dan melahirkan imajinasi dalam segala lini kehidupan.Bahkan teknik teater mampu mengubah dan menginspirasi kehidupan profesional. Atas dorongan tersebut tentu saja teater di masa depan layak mendapat apresiasi yang tinggi. Semoga.

Banda Aceh, 2008

Budi Arianto adalah dosen di FKIP PBSID Unsyiah.

Saat ini tercatat sebagai mahasiswa S2 Seni Pertunjukan UGM

About these ads

2 thoughts on “Refleksi Perjalanan Mengenal Teater dalam Dunia Pendidikan Kita (Genre sastra yang terabaikan?)

    izzah said:
    Januari 17, 2010 pukul 1:42 pm

    terima kasih utk info dalam site ini..
    saya menjadikan sebahagian kandungan tulisan anda sebagai bahan rujukan bagi kajian ilmiah saya..

    pelajar minor seni persembahan Universiti Putra Malaysia..
    subjek drama melayu – topik “drama dalam pendidikan”

    budi @rt said:
    Januari 18, 2010 pukul 6:19 am

    Terima kasih atas informasinya, semoga bermanfaat.

    salam,

    budi art

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s