KREATIVITAS TAK TERBATAS DENGAN PUISI (1)

Posted on Updated on

Oleh Mukhlis A. Hamid

1. Membaca Puisi

Selama ini terdengar berbagai keluhan perihal adanya kesulitan dalam menumbuhkan keterampilan membaca puisi pada siswa. Padahal, pembelajaran membaca puisi akan membantu menumbuhkan dua bentuk kegiatan apresiasi pada siswa, yaitu apresiasi reseptif dan apresiasi produktif. Membaca puisi disebut sebagai kegiatan apresiasi reseptif bila pembaca bermaksud memahami makna dan menikmati keindahan sebuah puisi untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, kegiatan membaca puisi disebut sebagai kegiatan apresiasi produktif bila pembaca mencoba untuk mengkomunikasikan isi puisi (yang dibaca) kepada sejumlah penikmat yang sebagian besar tidak atau belum akrab dengan puisi tersebut. Dengan demikian, kegiatan pembacaan puisi dimaksudkan untuk menumbuhkan pemahaman, penikmatan, dan penyentuhan kepekaan estetis pendengar atau penonton. Bila hal tersebut tidak tercapai, kegiatan pembacaan puisi tersebut dapat dianggap tidak mencapai sasaran, gagal (Baca juga Tjahjono, 2002).

Persiapan Pembacaan

Membaca puisi di depan sejumlah penikmat membutuhkan beberapa persiapan khusus, antara lain ketepatan pemilihan genre puisi yang akan dibacakan, ketepatan interpretasi isi puisi yang akan dibacakan, dan ketepatan presentasi/penghadi ran/ penyajian puisi di depan publik. Hal ini terjadi karena beberapa faktor.

Pertama, puisi tidak ditulis (oleh penyair) tanpa maksud tertentu. Artinya, dalam sebuah puisi ada gagasan tertentu, perasaan tertentu, pandangan tertentu, peristiwa tertentu yang ingin disampaikan (oleh penyair). Hal itu dinyatakan secara tersirat/tidak langsung (umumnya) ataupun tersurat melalui kata-kata (bermajas atau tak bermajas), bunyi (rima), tipografi, dan sebagainya.

Kedua, puisi diciptakan dalam berbagai genre dengan karakteristik dan sasaran yang khas. Karenanya, tidak semua puisi dapat dan layak dibacakan di depan sejumlah audiens. Ada puisi, yang karena pertimbangan tertentu, hanya layak dibaca sendiri di kamar. Misalnya, puisi-puisi yang termasuk ke dalam genre puisi kamar. Sebaliknya, ada banyak puisi yang layak dibacakan di depan publik, yaitu puisi-puisi yang termasuk ke dalam genre puisi auditorium. Ketepatan pemilihan puisi yang akan dibacakan dapat juga dilihat dari sudut siapa yang bercerita (aku lirik/tokoh tertentu) dan hal yang diceritakan.

Ketiga, pendengar tidak semuanya akrab dengan teks yang dibacakan. Bahkan, rata-rata mereka tidak pernah membaca dan tidak memiliki teks puisi yang dibacakan.

Keempat, pembaca tidak menghafal teks yang dibacakan (berbeda dengan konsep deklamasi yang teksnya secara konvensional dihafal). Ia terikat dengan teks sehingga tidak leluasa memanfaatkan seluruh anggota tubuh untuk mendukung kejelasan informasi yang disampaikan.

Kelima, keluasan ruangan, ketersebaran posisi duduk penikmat, dan berbagai faktor lain kadang-kadang menuntut energi ekstrabesar untuk menjaga kelangsungan komunikasi dengan penikmat.

Berdasarkan uraian di atas,  dalam kegiatan pembacaan sebuah puisi di depan publik, ada beberapa hal yang harus benar-benar diperhitungkan, yaitu:

1) kejelasan ucapan;

2) ketepatan jeda dan intonasi bacaan;

3) kesesuaian penghayatan dengan gerak/mimic;

4) dan kelangsungan komunikasi antara pembaca dan pendengarnya.

Pemahaman yang benar terhadap tema (pokok persoalan dalam puisi), rasa (sikap penyair terhadap tema), nada (sikap penyair terhadap pembaca), suasana/mood/ efek puisi yang dipilih sebelum dibacakan tentu saja sangat membantu dalam pembacaan/ pemvokalisasian sebuah puisi di hadapan penikmat.

Kejelasan ucapan (vokalisasi) merupakan salah satu indikator utama untuk mendukung keberhasilan pembacaan puisi. Pembaca dalam hal ini harus berusaha agar tiap bunyi, tiap kata, tiap kelompok kata, dan tiap kalimat diucapkan dengan jelas, tidak samar-samar, tidak terloncati, dan tidak berulang. Ia harus membaca apa yang tertulis tanpa perlu menambah atau menguranginya, meskipun hal yang diucapkan itu mungkin kurang lazim, kurang sopan, tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa. Dalam hal ini pembaca harus memperhitungkan kekhasan bahasanya dan unchangable.

Ketepatan jeda merupakan indikator lain yang perlu diperhatikan untuk menjaga kelangsungan komunikasi antara pembaca dengan penikmat. Dalam hal ini pembaca harus berusaha menempatkan jeda (dan tentu saja intonasi) bacaan sesuai dengan situasi komunikasi sehari- hari. Ia harus berhenti saat informasi yang ingin disampaikan sudah lengkap ataupun hampir lengkap (ingat konsep kalimat, klausa, frase). Kesalahan penempatan jeda (dan intonasi) akan sangat berpengaruh terhadap penafsiran pembaca.

Kesesuaian penghayatan dengan gerak/mimik juga merupakan faktor yang harus bebar-benar diperhatikan saat pembacaan sebuah puisi. Tingkat pemahaman isi puisi yang dibaca secara langsung akan perpengaruh terhadap penghayatan dan terekspresikan melalui gerak atau mimik. Ingat, gerak atau mimik merupakan salah satu unsur yang sangat berperan dalam situasi komunikasi lisan. Karena itu, gerak atau mimik yang overdosis, tidak sesuai dengan tuntutan teks, mesti dihindari. Gerak atau mimik harus wajar, tidak diatur, tidak berlebihan. Ia muncul dari dalam diri pembaca.

Terakhir, kelangsungan komunikasi antara pembaca dengan pendengar juga merupakan satu hal lain yang mesti diperhitungkan saat pembacaan puisi. Seorang pembaca puisi yang baik akan mampu menghipnotis pembaca untuk larut dalam puisi yang dibacakan. Karena itu, usahakan agar pendengar tidak sibuk sendiri saat puisi dibacakan. Pandangan mata dan gerakan-gerakan tertentu dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan komunikasi antara pembaca dan pendengar atau penikmat. Bandingkan model penjedaan puisi “Penerimaan” Karya Chairil Anwar di bawah ini.

Chairil Anwar

PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Model Penjedaan 1)

Chairil Anwar

PENERIMAAN

//Kalau kau mau kuterima kau kembali/

Dengan sepenuh hati/

/Aku/ masih tetap/ sendiri/

/Kutahu/ kau bukan/ yang dulu lagi/

Bak kembang sari/ sudah terbagi/

/Jangan tunduk! /Tentang aku/ dengan berani/

/Kalau kau mau kuterima/ kau kembali/

Untukku sendiri/ tapi/

/Sedang dengan cermin/ aku enggan berbagi//


Model Penjedaan 2)

Chairil Anwar

PENERIMAAN

//Kalau kau mau/ kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati/

/Aku masih tetap sendiri/

/Kutahu kau bukan yang dulu lagi/

Bak kembang/ sari sudah terbagi/

/Jangan tunduk! / Tentang aku dengan berani/

/Kalau kau mau/ kuterima kau kembali

Untukku sendiri tapi/

/Sedang dengan cermin/ aku enggan berbagi//

Bila kedua model penjedaan di atas dipraktikkan beberapa kali akan terlihat bahwa model penjedaan kedua jauh lebih komunikatif dibandingkan dengan model penjedaan pertama. Hal ini akan lebih kuat terasa bila pembaca memiliki vokal yang sudah terlatih, intonasi baca yang tak monoton, ekspresi dan gerak yang tak berlebihan, dan kontak dengan pendengar secara intens melalui pandangan mata yang tak mengarah ke satu titik tertentu.

Model-Model Alternatif Baca Puisi

Sampai saat ini, kegiatan pembacaan puisi di depan publik dilakukan dengan berbagai cara atau model, yaitu pembacaan secara personal, pembacaan bersama (dengan melibatkan beberapa atau banyak orang), ilustrasi puisi, musikalisasi puisi, dan dramatisasi puisi. Pemilihan model pembacaan ini tentu saja sangat bergantung pada karakteristik teks puisi yang akan dibaca. Berikut ini akan diuraikan secara sepintas model-model pembacaan tersebut untuk memperkaya khasanah pengetahuan kita tentang model-model pembacaan puisi di depan publik.

Pembacaan Puisi Secara Personal dan Kelompok

Pembacaan puisi secara personal atau individual dimaksudkan sebagai pembacaan sebuah puisi, dari awal hingga akhir, oleh seorang pembaca, tanpa melibatkan orang lain. Larik demi larik dalam puisi tersebut dibaca oleh seorang pembaca dengan menggunakan lafal, jeda, intonasi, dan mimik/gerak personal yang bersangkutan. Sebaliknya, pembacaan kelompok dimaksudkan sebagai pembacaan puisi yang tidak berpusat  pada seorang pembaca. Pembaca model kedua ini melibatkan orang lain dalam kegiatan pembacaan, baik pada bagian awal, bagian tengah, bagian akhir, ataupun sejak awal hingga akhir kegiatan pembacaan. Karena itu, dalam model pembacaan yang melibatkan orang lain ini perlu ditentukan bagian (larik atau bait) mana yang dibaca oleh pembaca utama dan bagian (larik atau bait) mana pula yang dibaca oleh pembaca lain sehingga kegiatan pembacaan menjadi lebih hidup, tidak tumpang tindih, dan tidak mengacaukan Bandingkan pembacaan puisi-puisi berikut dengan menggunakan dua model di atas.

TELAH LARUT GARAM DALAM CAIRANNYA

Suripan Sadi Hutomo

Telah larut garam dalam cairannya

Telah larut laut dalam gelombangnya

Telah larut manusia dalam kemanusiannya

Pohon bakau dan ikan cumi-cumi

Getir terakhir dari penyair limbah industri

Getir terakhir dari pulau tak berpenghuni

Telah larut angin dalam hembusannya

Telah larut darah dalam alirannya

Telah larut dunia dalam rotasinya

Akulah yang bernama Kuasa

Rumput laut dan ikan-ikan

Tangan lunglai di atas rumputan

Rumput laut dan ikan-ikan

Tangan lunglai di atas rumputan

Rumput laut dan ikan-ikan

Tangan lunglai di atas jembatan

Puisi di atas ini dapat saja dibaca secara personal. Namun, puisi ini akan lebih hidup bila larik atau bait tertentu, misalnya tiga bait terakhir, dibaca bersama dengan orang lain. Variasi pembacaan tiga bait terakhir ini tentu saja dapat dipilih sesuai dengan pertimbangan guru atau siswa.

Rambu-Rambu dalam Penentuan Model Baca

Penentuan jumlah personel yang terlibat, komposisi siswa, distribusi larik atau bait yang dibaca, dan lain-lain dalam pembacaan bareng sangat ditentukan oleh hasil interpretasi atau penafsiran terhadap isi atau pesan yang disampaikan dalam puisi yang akan dibacakan. Baca dan interpretasikanlah puisi  “Merdeka! Merdeka!” karya Maskirbi di bawah ini. Setelah itu, tentukanlah model pembacaan bareng yang cocok dengan hasil tafsiran tersebut.

MERDEKA! MERDEKA!

Maskirbi

Segerombol anak-anak main perang-perangan

dengan bedil pelepah rumbia, riuh letusan dari mulut mereka

lalu berderap melangkah keliling desa sambil teriakkan:

“merdeka! merdeka! merdeka!”

Segerombol anak-anak mendatangi kota

menadah tangan di jalan raya

ketika derap pawai melintasi mereka

sejenak mereka terpana dan tak bersuara

lalu serentak melonjak dan teriakkan: “merdeka! merdeka!”

riuh teriakan itu, riuh pula hatinya ingin ikut pawai bersama,

setelah barisan itu berakhir, kembali ke persimpangan

untuk menyambung hidup sehari itu saja.

Segerombol anak-anak menuju malam

lalu menengadah ke langit menatap kibaran bendera

dengan berkomat-kamit mereka bisikkan:

“kami anak bangsa yang juga punya cita-cita”

10 Agustus 2003

Salah satu interpretasi yang mungkin lahir dari proses pembacaan awal puisi di atas mungkin sebagai berikut. Bait pertama menimbulkan imaji pada kita tentang adanya sejumlah anak-anak bermain perang-perangan dengan menggunakan bedil mainan dari pelepah rumbia. Riuh-rendah tiruan bunyi letusan keluar dari mulut mereka. Mereka (anak-anak itu) lalu berkeliling ke seluruh pelosok desa sambil berteriak “merdeka! merdeka! merdeka!”  dengan gaya kocak mereka. Selanjutnya, dalam bait kedua digambarklan ada sejumlah anak-anak lain yang (mungkin terpaksa) hijrah ke kota dan menjadi pengemis di jalan raya. Suatu ketika, saat ada pawai, mereka terpana sejenak melihat riuh rendahnya peserta pawai melintasi jalanan tempat mereka mengemis. Mereka berbahagia menyaksikan itu semua dan melonjak kegirangan sambil berteriak “merdeka! merdeka!”. Dalam hati kecil mereka terbersit juga keinginan untuk ikut serta dalam pawai itu. Tapi, kemiskinan dan berbagai penyebab lain membuat harapan itu tak pernah berwujud. Karenanya, setelah barisan pawai itu berakhir, mereka kembali ke persimpangan, mengemis lagi, mengharap recehan untuk menyambung hidup mereka hari itu. Dalam bait ketiga digambarkan ada segerombol anak-anak (anak-anak yang jadi pengemis, atau anak-anak lain) terharu menatap kibaran bendera. Mulut mereka komat-kamit mengucapkan “kami anak bangsa yang juga punya cita-cita” dengan suara yang lirih, takut suaranya terdengar orang lain, barangkali.

Hasil interpretasi tersebut akan sangat membantu guru dalam menentukan berapa banyak sisswa yang terlibat dalam pembacaan puisi tersebut; siapa yang akan menjadi pembaca utama dan siapa pula yang akan menjadi pembaca pendukung; bait atau larik mana yang akan dibaca oleh pembaca utama dan bait atau larik mana yang akan dibaca oleh pembaca pendukung; dan sebagainya. Cobalah buat skenario alternatif dan praktikkan pembacaan bareng puisi di atas berdasarkan alternatif interpretasi di atas.

Model lain pembacaan bareng ialah pembacaan puisi secara kolosal, pembacaan puisi yang melibatkan sebagian besar atau seluruh siswa dalam proses pembacaan. Puisi yang dipilih untuk pembacaan kolosal ini mestilah puisi yang memungkinkan seluruh siswa terlibat, baik sebagai pembaca utama, pembaca pembantu, dan pembaca latar. Perhatikan, baca, dan interpretasikanlah  puisi “Hom Pim Pa” karya Tengsoe Tjahjono berikut ini.

HOM PIM PA

Tengsoe Tjahjono

apa  katamu bila hidup ini hom-pim-pa

siang orang sufi malam berkostum pencuri

topeng-topeng tergantung pada setiap biliknya

maka berubahlah setiap saat

biar perut terganjal, panjang usia dipersempit limitnya

mencuri, mereka bilang terpaksa

nodong, mereka bilang terpaksa

nipu, mereka bilang terpaksa

sajak inipun mereka bilang terpaksa:

hom-pim-pa

hom-pim-pa

kalah menang teka-teki

yang pasti

sumbang

apa katamu bila hidup ini hom-pim-pa

gaungnya membikin rimba

sekolah jadi rimba, kantor jadi rimba, pergaulan

jadi rimba, perempuan jadi rimba, jiwa jadi rimba

ide jadi rimba, aku jadi rimba, putih jadi rimba, hukum jadi rimba

ada harimau dengan kuku dan taringnya

ada pelanduk dengan akal liciknya

ada kijang cantik hidup dalam kewas-wasannya

jangan jambret, toh bukan kau

jangan mabok, toh bukan kau

maka setiap manusia ciptakan rel masing-masing

berserabutan di jagat:

hom-pim-pa

hom-pim-pa

tangan tengadah belum tentu menang

tangan telungkup belum tentu kalah

apa katamu bila hidup itu hom-pim-pa

paling aman gelengkan kepala sambil berucap

hom-pim-pa bersahutan

hom-pim-pa

hom-

pim

-pa!

Pembacaan dan interpretasi menyeluruh terhadap puisi di atas mungkin melahirkan simpulan bahwa puisi tersebut dapat dipilih sebagai salah satu puisi yang dibaca secara kolosal dengan perubahan seperlunya. Hal ini mungkin didasarkan pada pertimbangan bahwa ada larik atau bait tertentu dalam puisi ini yang akan dibaca (dengan intonasi naik turun) oleh sebagian besar siswa sebagai latar pembacaan. Larik/bait yang dipilih untuk dibaca oleh seluruh siswa, misalnya, adalah /hom-pim-pa/ . Di samping itu, ada beberapa larik dalam teks yang dapat diminta untuk dibacakan oleh siswa lain secara bergantian sehingga melahirkan pembaca 1, pembaca 2, pembaca 3, dan pembaca 4, sebagai pembantu pembaca utama. Penentuan larik/bait yang akan didistribusikan kepada pembaca utama dan pembaca-pembaca pembantu dapat dimusyawarahkan dengan siswa. Dengan demikian, salah satu kemungkinan model pembacaan kolosal puisi di atas dapat diskenariokan sebagai berikut.

[HOM PIM PA

Tengsoe Tjahjono]

(pembaca latar-sebagian besar siswa-mengucapkan “hom-pim-pa” berulang-ulang dari suara rendah, naik, semakin naik, rendah lagi, sesuai dengan kode dari pembaca utama)

[apa  katamu bila hidup ini hom-pim-pa

siang orang sufi malam berkostum pencuri

topeng-topeng tergantung pada setiap biliknya

maka berubahlah setiap saat

biar perut terganjal, panjang usia dipersempit limitnya]

(mencuri)*,  [mereka bilang terpaksa]

(nodong)**,  [mereka bilang terpaksa]

(nipu)*** ,  [mereka bilang terpaksa

sajak inipun mereka bilang terpaksa:]

(pembaca latar  mengucapkan “hom-pim-pa” berulang-ulang dari suara rendah, naik, semakin naik, rendah lagi, sesuai dengan kode dari pembaca utama)

(kalah menang teka-teki

yang pasti

sumbang)****

[kalah menang teka-teki

yang pasti

sumbang

apa katamu bila hidup ini hom-pim-pa

gaungnya membikin rimba]

(sekolah jadi rimba)*, (kantor jadi rimba)**, (pergaulan

jadi rimba)***, (perempuan jadi rimba)***, (jiwa jadi rimba)*

(ide jadi rimba)**, (aku jadi rimba)***, (putih jadi rimba)***, (hukum jadi rimba)*

[ada harimau dengan kuku dan taringnya

ada pelanduk dengan akal liciknya

ada kijang cantik hidup dalam kewas-wasannya]

(jangan jambret)*, [toh bukan kau]

(jangan mabok)**, [toh bukan kau]

(maka setiap manusia ciptakan rel masing-masing

berserabutan di jagat:)***

(pembaca latar  mengucapkan “hom-pim-pa” secara perlahan naik, semakin naik, hingga mencapai puncak, rendah lagi, sesuai dengan kode dari pembaca utama)

(tangan tengadah belum tentu menang) * dan **

(tangan telungkup belum tentu kalah) *** dan ****

[apa katamu bila hidup itu hom-pim-pa

paling aman gelengkan kepala sambil berucap

hom-pim-pa bersahutan]

(pembaca latar  mengucapkan “hom-pim-pa” berulang-ulang dari suara rendah, naik, semakin naik, dan berhenti dengan sentakan keras)

Keterangan:

[........... ..]                      dibaca oleh pembaca utama

(……….. ..)*                     dibaca oleh pembaca 1

(……….. ..)**                   dibaca oleh pembaca 2

(……….. ..)***                 dibaca oleh pembaca 3

(……….. ..)****               dibaca oleh pembaca 4

(……….. ..)* dan **         dibaca oleh pembaca 1 dan 2

(……….. ..)*** dan ****  dibaca oleh pembaca 3 dan 4

Model-model membaca puisi di atas juga dapat digunakan dalam kegiatan membaca cerita, mendongeng, dan membaca naskah drama. Cuma saja, unsur yang dilatih disesuaikan dengan unsur dasar teks masing-masing.  Model dan perangkat pelengkap yang digunakan pun disesuaikan dengan kebutuhan pembacaan. Karena, untuk kegiatan mendongeng, misalnya, guru dapat saja menggunakan aneka teknik mendongeng dengan perangkat pelengkap yang berbeda. Mendongeng dapat saja dilakukan dengan teknik mendongeng tanpa alat peraga, mendongeng dengan menggunakan gambar, mendongeng dengan boneka, mendongeng dengan alat peraga di papan panel, mendongeng model teater, mendongeng melalui lagu, atau mendongeng melalui permainan dan tarian tradisional. Yang harus diingat bahwa kegiatan membaca teks sastra dimaksudkan untuk mengkomunikasikan isi teks kepada pendengar. Karenanya, penggunaan unsur-unsur lain, khususnya unsur suprasegmental, seperti gerak, intonasi, mimik, atribut pelengkap, dapat saja dilakukan asal tidak overdosis.

2. Ilustrasi dan Musikalisasi Puisi

Membaca puisi dengan menggunakan iringan musik merupakan model alternatif lain dalam pembelajaran pembacaan puisi. Sebenarnya, pemaduan unsur musik dan puisi itu sudah berlangsung lama. Dalam tradisi lisan di daerah tertentu, Aceh misalnya, sejak dahulu  sudah dikenal adanya nyanyian doda idi saat menidurkan anak-anak. Demikian juga halnya dengan tradisi nalam, penyanyian syair-syair keagamaan untuk fungsi pembelajaran di dayah-dayah atau meunasah di kampung-kampung. Ternyata, penyampaian pesan syair-syair tersebut dalam bentuk nyanyian memberi bekas dan ingatan yang jauh lebih lama dibandingkan dengan pola penyampaian dengan teknik lain.

Dalam perkembangan selanjutnya kita juga melihat ada sejumlah puisi modern yang kemudian dinyanyikan oleh kelompok musik tertentu tanpa pernah kita sadari bahwa sebenarnya yang dinyanyikan itu pada awalnya adalah puisi yang ditulis oleh penyair tertentu. Perhatikan teks puisi berikut.

CINTA RASUL

Taufik Ismail

Rindu kami padamu ya Rasul

Rindu tiada terperi

Berabad jarak darimu ya Rasul

Terasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia

Bagai cahaya Suwarga

Dapatkah kami  membalas cintamu

Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya Rasul

Rindu tiada terperi

Berabad jarak darimu ya Rasul

Terasa dikau di sini

Di tangan  personil grup musik Bimbo puisi tersebut diaransemen menjadi sebuah lagu yang ternyata masih tetap enak didengar dan dinyanyikan hingga hari ini. Kalau tak yakin cobalah nyanyikan lagu di bawah ini dengan irama yang dinyanyikan Sam Bimbo dan kawan-kawan.

CINTA RASUL

Cipt. Taufik Ismail

Arr. Bimbo

Rindu kami padamu ya Rasul

Rindu tiada terperi

Berabad jarak darimu ya Rasul

Terasa dikau di sini

Reff:

Cinta ikhlasmu

Pada manusia

Bagai cahaya Suwarga

Dapatkah kami

Membalas cintamu

Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya Rasul

Rindu tiada terperi

Berabad jarak darimu ya Rasul                   A

Terasa dikau di sini

(Musik)

Kembali ke Reff   +   A

Akhir-akhir ini muncul dua model alternatif lain dalam hal pemaduan puisi dengan musik. Kedua model tersebut ialah ilustrasi puisi dan musikalisasi puisi. Model pertama, ilustrasi puisi, dimaksudkan sebagai pembacaan puisi (bukan penyanyian) yang menggunakan unsur musik, dalam hal ini instrumen lagu tertentu yang telah direkam ataupun langsung (live) sebagai unsur latar atau pendukung pembacaan. Hal ini, misalnya, dapat dilihat dalam rekaman pembacaan puisi W.S. Rendra.

Mungkin kita bertanya, “Apakah model pembacaan ilustrasi puisi ini mungkin dilaksanakan di sekolah?”  Jawabannya “Mengapa tidak!” Bukankah dari dulu dan dulunya lagi kita tak henti-henti mengeluh tentang kurangnya minat siswa dalam pembelajaran puisi di sekolah. Sebenarnya, kalau kita mau sedikit membuka diri, mengubah tradisi pembelajaran di sekolah, dan tentu saja mau berpayah-payah sedikit, saya yakin siswa akan minta kita semua untuk mengajar puisi saban hari kita masuk kelas.

Penentuan jenis musik, nada, atau instrumen yang akan mengiringi pembacaan sebuah puisi dalam praktik pembacaan puisi dengan model ilustrasi puisi ini tentu saja ditempuh setelah tahapan berikut.

1) Membaca puisi yang akan dipraktikkan berkali-kali sehingga ditemukan makna tertentu dalam puisi tersebut;

2) Mengungkapkan kembali isi atau makna  puisi tersebut dalam bentuk parafrase;

3) Mendiskusikan imaji/bayangan dan efek yang muncul pada siswa ketika membaca puisi tersebut;

4) Mendiskusikan jenis alat musik dan irama yang mungkin cocok digunakan sesuai dengan ketersediaan fasilitas di sekolah;

5) Merancang skenario penampilan;

6) Mencoba skenario penampilan beberapa kali sehingga ditemukan bentuk yang pas, baku.

Cobalah Anda pahami puisi “Jangan Tegur Aku dengan Senjata” karya Nurdin F. Joes di bawah ini dengan saksama. Setelah itu cobalah praktikkan pembacaan (personal ataupun kelompok) dengan menggunakan ilustrasi irama musik tertentu sesuai dengan kesepakatan bersama teman-teman Anda.

Jangan Tegur Aku dengan Senjata

Nurdin F. Joes

Indonesia

jangan tegur aku dengan senjata

karena itu bukan kasih

bukan pula cinta

tapi api yang membara

jangan panggil aku dengan senjata

ucapkan kalam sempurna

agar aku lebih mengerti

menyahuti engkau dengan rendah hati

jangan ketuk pintuku dengan senjata

karena aku bisa bedakan suara

mana bernama ketukan tangan

mana yang bernama ketukan dendam

jangan paksa  aku bercermin pada senjata

karena mungkin tampak parasku tak agung

dengan itu akan lahir wajah yang kusut

dan akan hilang identitas yang lembut

jangan sapa namaku dengan senjata

karena aku tak akan gembira

akan putus jutaan talikasih

akan sirna selaksa terima kasih

jangan lupakan namaku

apalagi dengan senjata

karena aku pernah jadi ibumu

menyusui engkau dengan madu

jangan cepat kaulupakan diriku

karena aku bekas ibumu

kulatih dengan payah kau berjalan

tertatih langkah satu-satu

jangan lupakan aku

karena engkau telah dewasa

ingatkah kau waktu kecil?

betapa dirimu sangat dekil

jangan taburkan bibit luka itu

pada dada ibumu dengan senjata

karena kalau itu terjadi

air mata pun tak pernah berhenti

jangan biarkan tamanku

terbakar dengan senjata

akan luruh putik cinta

akan gugur bunga-bunga Model kedua, musikalisasi puisi, dalam tulisan ini dimaksudkan sebagai pembacaan puisi yang memadukan model pembacaan (vokalisasi) dengan  model penyanyian dan diiringi dengan unsur musik. Sejak 1992 sampai dengan saat ini beberapa kelompok musikalisasi puisi telah melakukan eksperimen terhadap model pembacaan yang satu ini. Kelompok Bengkel Musik Batas (BMB) Banda Aceh, Komunitas Musik Merdeka (KOMM) Banda Aceh, Deavis Sanggar Matahari, Jakarta, merupakan contoh komunitas seniman yang mencoba menggunakan model kedua ini dalam pembacaan puisi.

Pemikiran untuk mengikutsertakan musik dalam pembacaan puisi ini mungkin saja didasarkan pada pertimbangan berikut. Puisi secara utuh memiliki banyak unsur di dalamnya, mulai dari pola persajakan, unsur peristiwa, irama, permainan kata, bunyi kata, dan sebagainya. Sementara sebuah alunan musik mempunyai unsur-unsur puitikal di dalam nadanya yang dapat menggugah pikir dan rasa secara perlahan-lahan. Secara singkat dapat disebutkan bahwa di dalam puisi ada musik dan begitu juga sebaliknya di dalam musik ada puisinya. Karena itu, jika ditelaah lebih jauh, ternyata musik yang selama ini kita anggap sebagai latar/pengiring tersebut diambil dari beberapa unsur bunyi dalam puisi: nada, irama, dan speed. Jadi musik tersebut tidak dihadirkan dari luar puisi. Musik sebagai penghangat suasana dalam musikalisasi puisi harus juga merujuk ke beberapa aliran musik yang telah ada, seperti rock, pop, jazz, dangdut, dan lain-lain sehingga lebih mengena di saat audiens menikmatinya. Malah, tidak tertutup kemungkinan untuk mengunakan alat dan irama musik tradisi sebagai pendukung musikalisasi puisi, asalkan paduan musik dan puisi tersebut diformat sedemikian rupa dalam kondisi seimbang (balance) dan harmonis.

Tahapan Mengaransemen Musik dalam Musikalisasi Puisi

Proses mengaransemen musik dalam musikalisasi puisi dilakukan melalui tahapan berikut:

1) Interpretasi (penelaahan puisi)

2) Penentuan irama

3) Penyeimbangan bunyi

4) Pemolesan

5) Pemberian bobot pada irama

6) Pengujicobaan

7) Pembakuan

1)  Interpretasi (penelaahan puisi)

Puisi yang akan dimusikalisasikan harus ditelaah terlebih dahulu sebab puisi pada hakikatnya mengandung  suatu maksud/tujuan yang terselubung di dalamnya. Hal pertama yang harus dilakukan dalam menelaah puisi adalah membaca puisi tersebut secara berulang-ulang, menemukan isi dan makna puisi yang dibaca,  menentukan penjedaan, menentukan intonasi pembacaan, dan sebagainya untuk mengangkat roh puisi tersebut sehingga dapat disampaikan kepada audiens.

2) Penentuan irama

Rancangan irama dalam sebuah aransemen musikalisasi puisi didasarkan pada hasil penelaahan atau penafsiran awal. Irama yang dipilih hendaknya yang baru, bukan mengambil irama yang sudah ada sebelumnya sebelumnya secara utuh. Dalam hal ini pemilihan irama dapat saja  mengacu pada jenis-jenis musik yang berkembang ataupun musik yang sama sekali belum pernah diketahui orang. Kesalahan dalam memilih irama dapat berakibat fatal dalam penyampaian makna dan roh puisi kepada audiens.

3) Penyeimbangan bunyi

Penyeimbangan bunyi dimaksudkan sebagai usaha untuk memberi keharmonisan antara nada musik dengan teks puisi sehingga kedua unsur ini menjadi menyatu, tidak pincang, tidak ada yang terlalu dominan.

4) Pemolesan

Pemolesan dimaksudkan sebagai usaha memperhalus dan menyempurnakan rancangan awal musikalisasi puisi setelah diujicobakan. Hal-hal yang kurang pas menurut anggota kelompok diperbaiki, dicari alternatif lain, dicoba lagi hingga ditemukan model irama tentatif.

5) Pemberian bobot pada irama

Setelah ditemukan nada atau irama tentatif, irama tersebut dipraktikkan, direkam, dan selanjutnya dievaluasi lagi. Bila diperlukan, buat variasi atau lekukan-lekukan struktur nada dengan cara mengubah nada yang datar menjadi mengalun dan seterusnya. Dalam hal ini diperlukan improvisasi sehingga ditemukan pemanis ungkapan puitikal pada musik agar audiens yang mendengarnya tidak mengalami kejenuhan meskipun irama-irama yang dibuat hanya memiliki accord satu atau dua.

6) Pengujicobaan

Pada bagian ini Anda diminta untuk mencoba komposisi musikalisasi puisi yang telah dibuat. Jika dirasakan ada kekurangan atau ketidakcocokan, tentukan bagian mana saja yang perlu diubah, ditambah, atau dihilangkan sampai aransemen tersebut memuaskan dan tentunya jika ditampilkan di depan audiens akan menjadi sebuah pementasan yang bermutu.

7) Pembakuan

Pembakuan dimaksudkan sebagai penentuan model tampilan yang baku terhadap puisi yang akan dimusikalisasikan. Hasil pembakuan kemudian direkam dan kalau memungkinkan diedarkan kepada publik.

Alternatif Aransemen

Penentuan jenis musik dan alat-alat musik yang akan digunakan dalam kegiatan musikalisasi puisi sangat bergantung pada ketersediaan fasilitas di sekolah dan kreativitas para siswa. Karena itu, kemungkinan menggunakan alat dan irama tradisional, modern, dan kreasi dalam rancangan musikalisasi sangat dimungkinkan. Penggunaan ketiga jenis alat dan warna musik tersebut dalam sebuah aransemen akan mencegah terjadinya kemonotonan dan kejenuhan pada pendengar. Model pemaduan ketiga warna musik tersebut mungkin sebagai berikut.

1) Modern + Tradisi + Kreasi

Model ini bermakna penempatan nada modern dengan memakai instrumen gitar, piano, dan lain-lain di awal aransemen (intro). Musik tradisi akan menyertainya kemudian, yang juga terus diikuti oleh musik kreasi. Persentase yang ingin dicapai pada model ini adalah 60:30:10. Artinya, musik modern lebih dominan dan menjadi dasar pengiring musikalisasi puisi. Musik tradisi bertindak sebagai pelengkap ketukan-ketukan yang terasa kosong, sedangkan instrumen kreasi bertindak sebagai penempel kelemahan aransemen musik yang dibuat sehingga komposisi aransmen musikalisasi puisi tersebut penuh dan atraktif.

2) Tradisi + Modern + Kreasi

Dalam model ini instrumen tradisilah yang menjadi intro, misalnya dengan memakai peralatan rapa-i, genderang, dan seterusnya, dan menjadi dasar pengiring. Instrumen modern akan bertindak sebagai pelengkap ketukan-ketukan yang terasa kosong, sedangkan instrumen kreasi bertindak sebagai penempel kelemahan aransemen. Komposisi yang ingin dicapai dalam hal ini 60:30:10. Artinya, musik tradisi akan lebih dominan jika dibandingkan dengan musik modern dan kreasi.

3) Kreasi + Tradisi + Modern

Dalam model ini instrumen kreasi digunakan sebagai intro dan menjadi dasar pengiring. Instrumen tradisi akan bertindak sebagai pelengkap ketukan-ketukan yang terasa kosong, sedangkan instrumen modern bertindak sebagai penempel kelemahan aransemen.

Pembacaan Puisi dalam Musikalisasi Puisi

Hasil pengamatan selama ini menunjukkan bahwa kekhasan musikalisasi puisi juga terletak pada pemaduan teknik baca puisi dengan penyanyian. Pembacaan puisi dalam musikalisasi puisi terbagi ke dalam 4 cara, yaitu sebagai berikut.

1)   Pembacaan puisi pada saat intro musik

Pembacaan ini dimaksud untuk memaparkan gambaran suasana puisi agar lebih magis dan lebih mengena pada titik sasaran bagi audiens lewat pengungkapan kata-kata atau kalimat secara lebih awal kita mengajak para audiens masuk dalam imajinasi kita.

2)   Pembacaan puisi di saat melodi

Pembacaan puisi di saat melodi (suling, recorder, gitar, dan lain-lain) bertujuan mengisi kekosongan dan mempertegas maksud dari puisi yang sedang kita bawakan.

3)   Pembacaan puisi tanpa intro dan pembacaan setelah usai musik

Pada bagian ini kita mengajak audiens untuk masuk pada suasana yang akan dibangun.

4)   Pembacaan puisi tumpang tindih

Dalam model ini teknik penyanyian dan pembacaan puisi saling berebut tempat, namun di sini terjadi harmonisasi yang cukup baik antara keduanya.

Melatih Musikalisasi Puisi pada Pemula

Dalam mengajarkan musikalisasi puisi bagi pemula perlu diingat bahwa latihan-latihan dasar adalah suatu perangkat keperluan keberangkatan pemula yang paling utama, yaitu dengan mengajarkan teknik-teknik pernapasan perut, latihan vokal/membuka laring dengan suara bergumam (mmm … dan sst ….) dengan nada yang panjang. Di samping itu berikan apresiasi tentang musikalisasi puisi, kegunaannya, fungsinya dan seterusnya, sehingga pemula tersebut merasa tertarik dan menikmati seni yang satu ini. Kemudian yang paling pokok yang mesti diajarkan kepada pemula adalah latihan menginterprestasika n puisi, teknik membaca puisi yang baik, teknik mengaransemen dan membuat konsep musik dengan merujuk pada nada baca. Latihan ini secara berulang-ulang sampai vokal mereka terbentuk, kemampuan mereka dalam menginterpretasikan puisi terlatih, dan kemampuan mereka mengaransemen musik dan memadukan unsur musik dengan puisi menjadi baik.

Satu hal yang perlu disadari bahwa pada hakikatnya penyuguhan musikalisasi puisi adalah sajian kerja sama anggota kelompok. Namun, jika dirasa mampu, musikalisasi puisi tersebut dapat juga dilakukan oleh satu orang. Jika dalam kelompok tersebut ada satu anggota yang boleh dikatakan tidak atau belum mampu dalam beberapa hal, misalnya menyanyi, baca puisi, dan bermain musik,  kelemahan ini harus ditutupi oleh rekan-rekan dalam timnya secara bertahap.

Penggunaan Instrumen

Instrumen yang dipakai dalam musikalisasi puisi sebenarnya bebas. Instrumen tersebut tidak hanya terbatas pada gitar, rebana, harmonika, dan lain-lain. Semua benda yang mengeluarkan bunyi dapat dipakai sebagai alat dalam musikalisasi puisi. Karena itu, benda-benda yang terbuat dari plastik, botol, kotak, kursi, meja, peralatan kaca, dan lain-lain dapat digunakan. Jadi, janganlah ragu-ragu menggunakan peralatan musik, tetapi perlu diingat jika kita mempergunakan peralatan/instrumen yang tidak standar haruslah diikuti dengan penyelarasan bunyi agar di saat koor instrumen tidak kacau.

Contoh alternatif aransemen

AKU SEMAKIN RINDU

Rahmad Sanjaya

Aku semakin merindu akan suara-suara- Mu

yang selalu berdendang di telinga

mendayu dalam hamparan jiwa yang serba tanya

di mana harus kutempatkan diri

dalam pelayaran ini

Aku semakin merindu

rindu yang syahdu dalam kesenduan seorang pendosa

tanpa pegangan

yang selalu nestapa di setiap nafas yang terhembus

Jauh sudah jarak di antara kita

hingga aku harus merindu seperti badai-badai

gelombang-gelombang yang datang ke tepi lalu pergi

Bolehkah aku merindu dalam kotornya hati

atau doaku yang semakin panjang menyebut Engkau

hanya dalam mimpi dan keinginan yang tak pasti

padahal dalam hasrat aku juga ingin seperti rerumputan

atau padi-padi yang selalu bersujud menyebut nama-Mu

Aku semakin rindu pada Engkau ya Allah

Dalam bahtera pencarian

Di tangan Edi Miswar, Fuadi, dan kawan-kawan mahasiswa Gemasastrin, FKIP, Unsyiah, angkatan 2006, puisi di atas dimusikalisasikan dengan notasi sebagai berikut.


AKU SEMAKIN RINDU

Rahmad Sanjaya

Intro: Am   G   F (2x)

[Aku semakin merindu ……….. akan suara-suara- Mu

Am     G           F                      Am       G          F

yang selalu …..            berdendang di telinga

Am                   G                      F

mendayu dalam hamparan jiwa……….. yang serba tanya] ****

Am                   G                F                Am       G          F

[di mana harus kutempatkan diri

Am                   G                  F

dalam pelayaran ini]*

Am     G           F

[hahahahahahaha] (3 ketukan)

Am     G           F

[Aku semakin merindu

rindu yang syahdu dalam kesenduan seorang pendosa

tanpa pegangan

yang selalu nestapa di setiap nafas yang terhembus] (Baca, tunggal)

Reff:

[Jauh sudah jarak di antara kita …..

F          C            G           F

hingga aku harus merindu…..  seperti badai-badai

F                                  C

gelombang-gelombang ….. yang datang ke tepi ….     lalu pergi] ****

G                                          F                   Am  G     F

[Ulang Reff: P2 dan P3]

[Bolehkah aku merindu dalam kotornya hati

atau doaku yang semakin panjang menyebut Engkau

hanya dalam mimpi dan keinginan yang tak pasti

padahal dalam hasrat aku juga ingin seperti rerumputan

atau padi-padi yang selalu bersujud menyebut nama-Mu]

(Baca, P4 dan P5 diiringi backing vokal pelan dari gitaris)

[Aku semakin rindu pada Engkau ya Allah

Dalam bahtera pencarían] (Baca, P3)

Back ke Reff: Solo, P3

Am     G           F

Lalu pergi (semua, koor, 3 kali)

Model musikalisasi puisi “Aku Semakin Rindu” di atas memang berbeda dengan model awal yang dirancang oleh Rahmad Sanjaya dkk di KMM tahun 2002. Hal itu tentu saja sah. Itulah puisi dengan berbagai kemungkinan tafsiran dan kreasi alternatifnya. Untuk menerapkan uraian di atas, baca dan interpretasikanlah puisi-puisi di bawah ini terlebih dahulu. Setelah itu, rancanglah pembacaan alternatif dalam bentuk musikalisasi sesuai dengan kesepakatan kelompok Anda.

1) Pahlawan  Tak  Dikenal

Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tetapi bukan tidur, sayang

Sebuah lubang peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang

Kedua lengannya memeluk senapan

Dia tidak tahu untuk siapa dia datang

Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah

Menagkap sepi pada senja

Dunia tambah beku ditengah derap dan suara menderu

Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun

Orang-orang ingin kembali memandangnya

Sambil merangkai karangan bunga

Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

Tetapi bukan tidur, sayang

Sebuah lubang peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda


2) MAGHRIB PUN USAI

Slamet Sukirnanto

Maghrib pun usai

di luar jendela

senja terbata-bata

sebelum ayat-ayat terakhir

sebelum sujud usai

Tuhan, atau sendiri

menggugurkan gelisah

hari ini

terimalah tutur fasih kami

(di luar gugur daun trembesi)

Tuhan sudah sempurna

angka-angka pada jari

telah sempurna ayat-ayat suci

tinggal aku sendiri

di luar jendela

semakin sunyi

Demikian beberapa hal tentang mengajarkan puisi dari segi membaca, untuk cara pengajaran menulis puisi, dibahas dalam tulisan yang lain. Terima kasih.


Mukhlis A. Hamid, Dosen Mata Kuliah Sastra di FKIP PBSID Unsyiah

About these ads

Satu pemikiran pada “KREATIVITAS TAK TERBATAS DENGAN PUISI (1)

    Aliffany Rizkiannisah berkata:
    Mei 16, 2013 pukul 6:40 am

    terima kasih :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s