Beberapa Model Interpretasi dan Pengkajian Teks Puisi

Posted on Updated on

1) Penggunaan Pendekatan Struktural dalam Pengkajian Puisi

Mukhlis A. Hamid

Puisi merupakan sebuah struktur yang kompleks. Struktur yang dimaksud adalah susunan unsur-unsur yang memiliki sistem yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan timbal balik. Hawkes dalam (Pradopo, 1995:108) menegaskan bahwa sebuah struktur sebagai kesatuan yang utuh dapat dipahami makna keseluruhannya bila diketahui unsur-unsur pembentuknya dan saling berhubungan di antaranya dengan keseluruhannya. Pendekatan yang dianggap sesuai digunakan untuk menelaah hubungan antarunsur tersebut adalah  pendekatan structural, sebuah pendekatan yang memandang teks sastra, khususnya puisi, sebagai suatu objek yang dibangun oleh berbagai unsur yang saling ber hubungan. Konsep dasar pendekatan struktural adalah sebagai berikut.

Pertama, para pengamal pendekatan ini meletakkan karya sastra sebagai sebuah dunia yang mempunyai rangka dan bentuk tersendiri. Kedua, pendekatan struktural lebih menekankan aspek keberhasilan sebuah karya dari segi isi dan bentuk sebagai panduan. Kerja sama isi dengan bentuk merupakan kejayaan sebuah karya sastra. Ketiga, pendekatan ini melihat sebuah karya sastra berdasarkan komponen yang membina karya sastra sehingga interpretasi teks melalui pendekatan ini diharapkan dapat lebih objektif dan adil. Keempat, pendekatan struktural menilai sastra dari sudut karya dan aspek literasinya, bukan dari aspek lain di luar karya sastra. Kelima, pendekatan ini coba melihat perpaduan dan persesuaian antara isi dengan bentuk.

Semi (1993:68) menjelaskan bahwa penggunaan pendekatan struktural dalam interpretasi sebuah teks hendaknya didahului dengan pembicaraan mengenai tema, baru kemudian dilanjutkan dengan komponen-komponen lain. Hal ini disebabkan tema merupakan komponen yang berada di tengah-tengah komponen yang lain. Mendahulukan pembicaraan tentang tema dapat memudahkan seorang interpreter dalam membicarakan komponen berikutnya. Berikut ini diberikan sebuah contoh sederhana telaah struktur puisi dengan menggunakan pendekatan structural, khususnya untuk telaah mikrotek, penelaahan puisi secara structural dengan focus pada satu unsur tertentu, dalam hal ini gaya bahasa.

Perahu Kertas

Sapardi Djoko Damono

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau

layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu

bergoyang menuju lautan.

“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki

tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar

warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-

kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-

mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar

dan kini terdampar di sebuah bukit.”

Parafrase

Berikut ini adalah parafrase bebas puisi “Perahu Kertas”.

Sewaktu masih kecil kau lirik membuat perahu dari kertas. Perahu itu dilayarkan di tepi kali yang airnya sangat tenang. Angin menggoyangkan perahu itu, lalu membawanya hingga ke laut lepas. Seorang lelaki tua yang melihat perahu itu mengatakan bahwa perahu itu akan singgah di pelabuhan-pelabuhan besar dan ramai. Kau lirik sangat gembira mendengar berita itu. Dengan perasaan bahagia dan senang kau lirik pulang ke rumahnya. Sejak saat itu kau lirik selalu menunggu kabar tentang perahu yang selalu ada dalam ingatanya. Akhirnya kau lirik mendengar juga kabar dari seseorang yang sangat tua, Nuh, namanya. Kata lelaki tua itu, perahu itu sudah dipergunakan untuk menyelamatkan manusia dan makhluk hidup lainnya dalam sebuah banjir besar. Sekarang perahu itu terdampar di sebuah pulau.

Pembahasan

Masa kecil merupakan masa paling indah untuk dikenang. Di waktu kecil manusia melakukan sesuatu sesuai dengan hati nurani tanpa dipengaruhi oleh unsur lain. Semua dilakukan dengan penuh keikhlasan, kepolosan, dan kesucian . Ketika dewasa, setiap manusia pasti mengalami kerinduan akan masa kecil itu yang penuh dengan kegembiraan. Kerinduan akan masa kecil itu terlihat pada ungkapan /waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau/ layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu/ bergoyang menuju lautan/.

Perahu kertas merupakan lambang dari pengabdian manusia kepada Tuhannya. Manusia melakukan sesuatu yang diperintahkan Tuhan, tetapi belum tentu semua yang dilakukan itu akan diterima Tuhan karena semua itu juga sangat tergantung pada niat. Ibarat sebuah perahu yang berlayar di lautan lepas,  angin dan gelombang sangat menentukan sampai tidaknya perahu itu ke tujuan.

Melalui tema ketuhanan ini Sapardi ingin menyampaikan bahwa pengabdian manusia kepada Tuhan atau sesama manusia haruslah seperti sikap seorang anak dalam puisi di atas, polos, iklas dan, suci. Pengabdian yang dilakukan haruslah dilandasi oleh niat yang suci, tulus dan iklas. Agar pengabdiannya sempurna, manusia juga harus membersihkan dirinya dari nafsu duniawi.

Satu ciri khas Sapardi dalam menulis puisi ialah memasukkan kisah-kisah masa lampau atau cerita-cerita rakyat ke dalam puisi. Dalam Perahu Kertas kekhasan itu terlihat dari usaha Sapardi memasukkan kisah Nabi Nuh  ketika menggunakan perahu untuk menyelamatkan umat manusia dari banjir besar sebagai latar puisi.

Untuk membangun puisi ini, Sapardi menggunakan gaya bahasa hiperbola. Gaya bahasa ini terlihat pada ungkapan /…kau membuat perahu kertas dan kau/ layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu/ bergoyang menuju lautan/. Ungkapan itu sangat berlebihan karena tidak mungkin perahu yang terbuat kertas akan bisa sampai ke lautan. Perahu itu akan hancur sebelum sampai ke lautan. Ungkapan yang sangat berlebihan semakin terasa pada ungkapan berikutnya /”Ia akan singgah di bandar-bandar besar,”…/ dan /”Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar/ dan kini terdampar di sebuah bukit.” Ungkapan ini juga menunjukkan penggunaan gaya bahasa metafora. Melalui ungkapan itu Sapardi ingin membandingkan perahu kertas itu dengan perahu Nabi Nuh yang besar. Secara logika sangat tidak mungkin sebuah perahu kertas akan singgah di bandar-bandar besar dan bisa digunakan oleh Nabi Nuh untuk menyelamatkan umat manusia dalam banjir besar itu. Untuk membawa sebiji batu kecil saja perahu itu akan tenggelam, konon lagi mengangkut manusia.

Dalam puisi di atas juga digunakan gaya bahasa alusi. Gaya bahasa alusi merupakan gaya bahasa yang berusaha mensugesti kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa. Dalam puisi di atas yang disugesti adalah kesamaan benda, perahu. Kisah tentang perahu Nabi Nuh ini sudah menjadi legenda bagi umat manusia. Ketika kisah perahu kertas dihubungkan dengan kisah Nabi nuh, maka orang pasti akan membayangkan peristiwa banjir besar yang dihadapi Nabi nuh dan umatnya.

Gaya bahasa lain yang terdapat dalam puisi “Perahu Kertas” adalah metonomia.  Metonomia ini terlihat pada ungkapan /…kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala/. Gambar gambar warna-warni di kepala itu untuk mempertegas kegembiraan si aku lirik.

Hubungan Antarunsur

Penggunaan gaya bahasa hiperbola dan alusi dalam puisi di atas oleh Sapardi terlihat hanya sebagai upaya untuk menghubungkan kisah perahu kertas itu dengan kisah Nabi Nuh. Sementara penggunaan metafora untuk menggambarkan bahwa pengabdian manusia kepada Tuhannya harus seperti seorang anak kecil ketika melepaskan perahu kertasnya. Pengabdian itu harus dilakukan secara tulus dan ikhlas, tanpa pretensi apa-apa. Ketulusan dan keihlasan itu kemudian dibandingkan pula dengan pengabdian yang dilakukan oleh Nabi Nuh saat menyelamatkan umat manusia dari bencana banjir besar. Hal ini juga didukung oleh penggunaan diksi dan simbol-simbol lain dalam puisi ini.

Puisi “Perahu Kertas” mengambil tema tentang ketuhanan. Melalui puisi itu Sapardi ingin menyampaikan bahwa pengabdian manusia kepada Sang Pencipta harus dilakukan secara tulus dan ikhlas. Sapardi mengibarat ketulusan  dan keikhlasan itu dengan sikap seorang anak kecil dan Nabi Nuh ketika menyelamatkan umat manusia dari banjir besar. Untuk mendukung tema itu, gaya bahasa yang digunakan adalah hiperbola, metafora, dan alusi.

2) Pengkajian Intertekstual Puisi

Kajian intertekstual dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks (lengkapnya: teks kesastraan), yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu. Misalnya, untuk menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsik seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, dan gaya bahasa di antara teks-teks yang dikaji. Secara lebih khusus dapat dikatakan bahwa kajian interteks berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya dan pada karya yang muncul kemudian.

Tujuan kajian interteks itu sendiri adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap  karya sastra. Penulisan dan pemunculan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga memberi makna secara lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan (Teeuw dalam Nurgiyantoro, 1995:50).

Masalah ada tidaknya hubungan antarteks ada kaitannya dengan niatan pengarang dan tafsiran pembaca. Dalam kaitan ini, Luxemburg (dalam Nurgiyantoro, 1995:50), mengartikan intertekstualitas sebagai : “kita menulis dan membaca dalam suatu ‘interteks’ suatu tradisi budaya, sosial dan sastra yang tertuang dalam teks-teks. Setiap teks bertumpu pada konvensi sastra dan bahasa dan dipengaruhi oleh teks-teks sebelumnya”.

Kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya tak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Unsur budaya, termasuk semua konvensi dan tradisi di masyarakat, dalam wujudnya yang khusus berupa teks-teks kesastraan yang ditulis sebelumnya. Dalam hal ini dapat diambil contoh, misalnya sebelum para penyair Pujangga Baru menulis puisi-puisi modernnya, di masyarakat telah ada berbagai bentuk puisi lama, seperti pantun dan syair, mereka juga berkenalan dengan puisi-puisi angkatan 80-an di negeri Belanda yang juga telah mentradisi.

Adanya karya-karya yang ditranformasikan dalam penulisan karya sesudahnya ini menjadi perhatian utama kajian intertekstual, misalnya lewat pengontrasan antara sebuah karya dengan karya-karya lain yang diduga menjadi hipogramnya. Adanya unsur hipogram dalam suatu karya, hal ini mungkin disadari atau tidak disadari oleh pengarang. Kesadaran pengarang terhadap karya yang menjadi hipogramnya mungkin berwujud dalam sikapnya yang meneruskan, atau sebaliknya, menolak konvensi yang berlaku sebelumnya.

Prinsip intertektualitas yang utama adalah prinsip memahami dan memberikan makna karya yang bersangkutan. Karya itu diprediksikan sebagai reaksi, penyerapan, atau tranformasi dari karya-karya yang lain. Masalah intertekstual lebih dari sekadar pengaruh, ambilan, atau jiplakan, melainkan bagaimana kita memperoleh makna sebuah karya secara penuh dalam kontrasnya dengan karya yang lain yang menjadi hipogramnya, baik berupa teks fiksi maupun puisi. Misalnya, sebagaimana dilakukan oleh Teeuw (1983:66-69) dengan membandingkan antara sajak Berdiri Aku karya Amir Hamzah dengan Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar. Pradopo  membandingkan beberapa sajak yang lain dengan sajak-sajak Chairil, sajak Chairil dengan sajak Toto Sudarto Bakhtiar dan Ajip Rosyidi. Nurgiyantoro  juga mencoba meneliti hubungan interteks antara puisi-puisi Pujangga Baru dengan Pujangga Lama.

Adanya hubungan intertekstual dapat dikaitkan dengan teori resepsi. Pada dasarnya pembacalah yang menentukan ada atau tidaknya kaitan antara teks yang satu dengan teks yang lain itu. Unsur-unsur hipogram itu berdasarkan persepsi, pemahaman, pengetahuan, dan pengalamannya membaca teks-teks lain sebelumnya. Penunjukan terhadap unsur hipogram pada suatu karya dari karya-karya lain, pada hakikatnya merupakan penerimaan atau reaksi pembaca.

Memahami puisi ialah usaha menangkap maknanya ataupun usaha memberi makna puisi. Untuk itu perlulah konteks kesejarahan puisi itu diperhatikan. Dalam kaitannya dengan konteks kesejarahan ini, perlu diperhatikan prinsip intertektualitas, yaitu hubungan antara satu teks dengan teks lain. Berdasarkan prinsip intertekstualitas seperti yang dikemukakan oleh Riffaterre (dalam Pradopo, 2002:  227), puisi biasanya baru bermakna penuh dalam hubungannya dengan puisi lain, baik dalam hal persamaannya atau pertentangannya.

Puisi baru dapat dipahami maknanya secara sepenuhnya setelah diketahui hubungannya dengan puisi lain yang menjadi latar penciptaannya. Misalnya, puisi itu diciptakan untuk menentang atau menyimpangi konvensi puisi sebelumnya, baik dalam struktur formal maupun pikiran yang dikemukakan. Dengan menjajarkan kedua puisi itu akan diketahui untuk apa karya sastra itu ditulis, yaitu untuk menentang, menyimpangi, ataupun meneruskan konvensinya.  Di samping itu, suasana puisi akan menjadi lebih terang dan kiasan-kiasannya menjadi  lebih dapat dipahami. Jadi, puisi yang dicipta kemudian itu dapat menjadi lebih terang arti dan maknanya jika dianalisis dengan cara membandingkan dengan puisi sebelumnya.

Prinsip intertekstualitas merupakan salah satu sarana pemberian makna kepada sebuah teks sastra (puisi). Hal ini mengingat bahwa sastrawan itu selalu menanggapi teks-teks sebelumnya. Dalam menanggapi teks-teks itu penyair mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, dan konsep estetik sendiri yang ditentukan oleh horison harapannya, yaitu pikiran-pikiran, konsep estetik dan pengetahuan sastra yang dimilikinya (Pradopo, 2002: 228-229).

Hubungan intertekstualitas antara satu karya sastra dengan karya sastra yang lain dalam sastra Indonesia, baik antara karya sezaman maupun zaman sebelumnya banyak terjadi. Misalnya, dapat dilihat hubungan intertekstual antara karya-karya Pujangga Baru dengan Angkatan ’45 ataupun dengan karya lain. Untuk memahami dan mendapatkan makna penuh sebuah puisi perlu dilihat hubungan intertekstual ini. Misalnya, beberapa puisi Chairil Anwar mempunyai hubungan intertekstual dengan sajak-sajak Amir Hamzah. Hubungan intertekstual ini menunjukkan adanya persamaan dan pertentangan dalam hal konsep estetik dan pandangan hidup yang berlawanan. Contoh puisi “Berdiri Aku” (Amir Hamzah) dengan “Senja di Pelabuhan Kecil” (Chairil Anwar), ”Kusangka” (Amir Hamzah) dengan ” Penerimaan” (Chairil Anwar), ”Dalam Matamu” (Amir Hamzah) dengan ”Sajak Putih” (Chairil Anwar), memiliki hubungan intertekstual.

Dengan mengutip pendapat Riffaterre, Teeuw (1983: 65-66) mengemukakan bahwa untuk memahami makna sebuah puisi secara penuh, maka orang perlu melihat intertekstualitas antara puisi yang diteliti dengan puisi yang mendahuluinya. Dengan landasan prinsip di atas,Teeuw membandingkan puisi Chairil Anwar ”Senja di Pelabuhan Kecil” dengan puisi Amir Hamzah”Berdiri Aku” yang merupakan hipogramnya. Dalam hal ini puisi”Berdiri Aku” ditanggapi atau ditransformasikan Chairil Anwar dengan sikapnya yang berbeda dalam menanggapi senja di pantai. Amir Hamzah menggunakan pandangan  yang romantis, berdiri terpesona di tengah alam yang maha indah dan tenteram. Sebaliknya, Chairil Anwar menanggapi senja di pantai dengan pandangan yang realistis, dengan gambaran keadaan yang  muram, penuh kegelisahan, dan tidak sempurna (Teeuw,1983; 68).

Berikut ini disajikan contoh hubungan intertekstualitas puisi ”Kusangka” Karya Amir Hamzah dengan puisi”Penerimaan’ ‘ Karya Chairil Anwar.

Amir Hamzah:

KUSANGKA

Kusangka cempaka kembang setangkai

Rupanya melur  telah diseri…..

Hatiku remuk mengenangkan ini

Wasangka dan was-was silih berganti.

Kuharap cempaka baharu kembang

Belum tahu sinar matahari…..

Rupanya teratai patah kelopak

Dihinggapi kumbang berpuluh kali.

Kupohonkan cempaka

Harum mula terserak…..

Melati yang ada

Pandai tergelak…..

Mimpiku seroja terapung di paya

Teratai putih awan angkasa…..

Rupanya mawar mengandung lumpur

Kaca piring bunga renungan…..

Igauanku subuh, impianku malam

Kuntum cempaka putih bersih…..

Kulihat kumbang keliling berlagu

Kelopakmu terbuka menerima cembu.

Kusangkau hauri bertudung lingkup

Bulumata menyangga panas Asmara

Rupanya melati jangan dipetik

Kalau dipetik menguku segera.

(Pradopo, 2002:232-233)

Chairil Anwar:

PENERIMAAN

Kalau mau kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati

Aku masih sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau mau kuterima kau kembali

Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

(Pradopo, 2002: 233)

Puisi/sajak Chairil Anwar itu merupakan penyimpangan atau penolakan terhadap konsep estetik Amir Hamzah yang masih meneruskan konsep estetik sastra lama. Demikian halnya dengan pandangan romantik Amir Hamzah ditentang dengan pandangan realistis Chairil Anwar.

Keenam bait sajak “Kusangka” menunjukkan kesejajaran gagasan. Sesuai dengan zamannya, Amir Hamzah mempergunakan ekpresi romantik dengan cara metaforis-alegoris, membandingkan gadis dengan bunga. Pada bait terakhir dimetaforakan sebagai bidadari (hauri) dan merpati.

Berdasarkan keenam bait itu dapat disimpulkan bahwa penyair (si aku) mencintai gadis yang disangka murni, tetapi ternyata sudah tidak suci lagi karena sudah dijamah oleh pemuda-pemuda lain. Hal ini tampak pada bait /rupanya teratai patah kelopak / dihinggapi kumbang berpuluh kali / kulihat kumbang keliling berlagu / kelopakmu terbuka menerima cembu /.

Chairil Anwar dalam menanggapi gadis (wanita) yang sudah tidak murni lagi, sangat berlawanan dengan sikap Amir Hamzah. Ia tidak berpandangan realistis. Si ‘aku’ mau menerima kembali wanitanya (kekasihnya, isterinya) yang barangkali telah menyeleweng, meninggalkan si aku’ atau telah berpacaran dengan laki-laki lain, asal si wanita kembali kepada si aku hanya untuk si ‘aku’ secara mutlak.

Chairil Anwar mengekpresikan gagasannya secara padat. Untuk memberikan tekanan pentingnya inti persoalan, bait pertama diulang dengan bait kelima, tetapi dengan variasi yang menyatakan kemutlakan individualitas si ‘aku’. Dengan cara seperti itu, secara keseluruhan ekspresi menjadi padat dan tidak berlebih-lebihan.

Dalam penggunaan bahasa Chairil Anwar juga masih sedikit romantik. Hal ini mengingatkan gaya sajak yang menjadi hipogramnya. Ia membandingkan wanita dengan bunga (kembang). Wanita yang sudah tidak murni itu diumpamakan oleh Chairil Anwar sebagai bunga yang sarinya sudah terbagi / bak kembang sari sudah terbagi / yang dekat persamaannya dengan Amir Hamzah: / rupanya teratai patah kelopak / dihinggapi kumbang berpuluh kali /.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa secara keseluruhan Chairil Anwar mempergunakan bahasa sehari-hari dengan gaya ekspresi yang padat. Hal ini sesuai dengan sikapnya yang realistis (Pradopo, 2002: 232-235).

Contoh análisis dan interpretasi puisi di atas hanyalah berupa contoh awal bagaimana sebuah puisi ditafsirkan. Tentu masih banyak model análisis puisi yang ditawarkan para ahli. Namun, satu hal yang harus diingat, pemilihan model análisis harus disesuaikan dengan tujuan akhir yang ingin dicapai oleh interpreter. Pemahaman awal tentang konsep dasar model análisis yang akan digunakan akan sangat membantu interpreter dalam menganalisis dan menginterpretasikan puisi tersebut.

Mukhlis A. Hamid, Dosen Mata Kuliah Sastra di FKIP PBSID Unsyiah

About these ads

23 pemikiran pada “Beberapa Model Interpretasi dan Pengkajian Teks Puisi

    hanna berkata:
    Desember 18, 2008 pukul 4:44 pm

    saya mau minta ijin ambil data-data tertentu dalam postingan anda untuk melengkapi data-data tugas kuliah saya. terima kasih banyak pak. salam hangat….

    Gemasastrin PBSID responded:
    Desember 21, 2008 pukul 11:44 am

    Kami persilakan ambil segala yang bermanfaat di sini. Jangan lupa daftar rujukannya dilampirkan ya. terima kasih.

    Aqua berkata:
    Januari 11, 2009 pukul 12:27 pm

    sya minta izin ambil sdkt informasi u/ tgs skolah… Terima ksh

    diyah retno p berkata:
    Oktober 27, 2009 pukul 6:48 pm

    Assalau alaikum wr.wb.
    Bapak, saya mohon ijin mendonload tulisan bapak untuk referensi tugas kuliah saya.
    Saya mengucapkan banyak terima kasih. semoga Allah membalasa kebaikan bapak. Amin.

    joko berkata:
    Oktober 31, 2009 pukul 4:37 am

    assalamualaikum,
    bapak, saya sebelumnya mohon maaf, ijinkan saya mengambil beberapa pemikiran ide dari artikel bapak dan akan saya jadikan referensi tulisan saya. atas prahara ini saya ucapkan terima kasih kepada bapak. semoga amal bapak dibalas oleh Allah SWT. Amin.

    Deddy Firtana Iman berkata:
    November 30, 2009 pukul 4:52 am

    Minta ijin copy juga, sebagai rujukan pelengkap bahan pembelajaran pribadi. Hehheee…

    Delima ( de5niz) berkata:
    Desember 1, 2009 pukul 8:15 am

    Sangatlah senang ada teman yang telah memberi situs ini
    sehingga aku akan lebih mematangkan sebuah puisi
    yang bergaya romantik seperti Hamsyah ,dan kepadatan yang seperti Chairil Anwar
    dan rupanya masih banyak yang aku pelajari
    ternyata sebuah puisi tidaklah mudah untuk di pelajari
    dan menulis puis yang padat dan romantis
    telah aku simpan situs ini
    agar aku bisa membaca verulang kali untuk di pelajari

    terimakasih aku ucapkan
    salam DE5NIZ

    dedek mulyani berkata:
    Juni 30, 2010 pukul 1:12 am

    ternyata sulit juga menginterpretasikan sebuah puisi.apalagi yang awam sastra seperti saya.tapi senang sekali membaca artikel sehingga wawasan bisa bertambah.

    mukhlis hamid berkata:
    Juli 4, 2010 pukul 1:54 pm

    Trims untuk semua yang sudah membaca dan menggunakan tulisan ini sebagai salah satu rujukan. Tak ada yang melarang kok. hehehe… Malah kalau bisa, ulisan bandingan itu dikirim ulang ke kami via mail atau langsung ke web ini sehingga jadi bahan bandingan utk buka cakrawala baru bagi pembaca selnajutnya. Tak ada yang tak bsa sebenarnya dalam hidup ini. Yang penting, LEARN (listen, evaluate, acknowldge, remember, dan never blame). Itu yang harus kita punya kalau ingin jadi penulis, pembaca, pendengar, bahkan kritikus sastra. Sukses buat kalian semua.

    Salam,

    PApi MH

    Agnes berkata:
    Agustus 18, 2010 pukul 2:37 pm

    Wah terima kasih sekali ya ini sangat berguna buat saya yang masih duduk di bangku smp..

    d^^b

    fhabibie berkata:
    September 1, 2010 pukul 12:26 pm

    Terima kasih infonya,,
    sekarang saya jadi lebih mengerti ttg puisi!

    Alissa M.W,P berkata:
    September 14, 2010 pukul 9:38 am

    pak. saya minta izin dlo sblum mengcopy tulisan bpk nie.
    nie buat tgs skolah pak…
    mhon di izinkan ya :)

    dan terima kasih,
    blog nie sngat amat brguna buat saya mngkin jga dengan yg lainnya…

    mukhlis hamid berkata:
    Oktober 29, 2010 pukul 2:11 am

    Dear Allisa dkk.

    Silakan saja didlo atau dikutip asal jangan lupa sebut sumbernya.

    Salam,

    MH

    Bulaenk berkata:
    Mei 24, 2011 pukul 1:44 pm

    Aslkm,,, pa’ pinjam yaaa’Tulisannya”!!!!!!!!!!!

    Achmad Syamsuddin berkata:
    September 15, 2011 pukul 1:11 pm

    saya suka dengan analisis puisi.

    Achmad Syamsuddin berkata:
    September 15, 2011 pukul 1:15 pm

    saya suka dengan analisis puisi. Saya minta analisis puisi amir hamzah yang lain yang dimuat dalam buah rindu.

    Achmad Syamsuddin (@Ach_Syamsuddin) berkata:
    September 15, 2011 pukul 1:20 pm

    saya suka dengan analisis puisi. Saya minta analisis puisi amir hamzah yang lain yang dimuat dalam buah rindu.

    Achmad Syamsuddin (@Ach_Syamsuddin) berkata:
    September 15, 2011 pukul 1:24 pm

    bagaimana cara mudah memahami makna puisi

    ecelycious berkata:
    November 9, 2011 pukul 12:41 pm

    Malam, pak.
    Saya ijin mau ambil infonya yang saya perlukan untuk mata kuliah saya.
    Terimkasih, pak.

    Yunia berkata:
    Desember 6, 2011 pukul 2:55 am

    Pagi Pak.
    Minta izin mau ambil datanya nih buat tugas kuliah.
    Terima kasih infonya, sangat bermanfaat.

    Surasa berkata:
    Januari 7, 2012 pukul 1:22 am

    Maaf Pak, saya minta izin mendownload untuk tugas. Terima Kasih.

    satriadi berkata:
    Januari 30, 2012 pukul 9:17 am

    analisisnya kren juga,,, tapi analisis yang saya maksud adalah puisinya Amir Hamzah yang berjudul Dalam Matamu. Makasih sebelumnya.

    Yani berkata:
    November 22, 2012 pukul 10:27 am

    Assalamualaikum…
    bapak saya minta izin, ada beberapa bahan n pemikiran ttg analisi bpk untuk memperkuat tugas kul saya. semoga Allah membalas semua kebaikan bapak. amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s