Kreativitas dalam Dramatisasi Puisi

Posted on Updated on

Oleh Mukhlis A. Hamid

Konsep dramatisasi puisi secara umum bermakna mementaskan puisi secara teateral dengan menggunakan konvensi-konvensi teater. Puisi dalam hal ini harus diubah terlebih dahulu dalam bentuk naskah teater yang berisi dialog dengan berbagai keterangan pementasan. Karena itu, puisi yang dipilih untuk dramatisasi umumnya merupakan puisi naratif atau ballada yang di dalamnya ada unsur tokoh, konflik, alur, latar, dan dialog. Berikut ini diberikan contoh naskah dramatisasi puisi “Aminah” karya WS Rendra.

Aminah

Adalah perempuan jalan di pematang

Ketika jatuh senjakala

Sawah muda, angin muda

Tapi langkahnya sangat gontainya

Sebentar nanti bila kakinya

yang beralaskan sandal

menginjak pelataran rumahnya

tentu hari belum gelap terlalu

Ibunya yang sangat tua akan menatapnya

dan dua batang kali kecil

akan mengalir dari matanya

ia akan berkata antara sedannya:

“Ibu, aku pulang”

dan keduanya akan berpelukan

Maka untuk sementara langit sibuk berdandan

untuk pesta malamnya

dan udara terdengar sedan kegirangan

yang memancar dari rumah tua,

akan terdengar para tetangga

berbisik antara sesamanya

dan mata mereka bagai kucing

mengintip dari tempat gelap:

“Kampung kita yang tentram

mulai lagi bermusang.

Ah, ya, betapa malunya!

Telah datang ular berbisa!

Jangan dekati ia!”

Adalah perempuan jalan di pematang

Ketika jatuh senjakala

Sambil memandang tanah kelabu

ia bayangkan dengan terang

yan bakal menimpa dirinya

Juga sudah terbayangkan olehnya

Salah satu bunda cerita pada putranya:

“Jauhi Aminah!

Kalau bunga, ia bunga bangkai

Kalau buah, ia buah maja.

Ia adalah ular beludak

Ia adalah burung malam.

Begini ceritanya:

Dulu ia adalah bunga desa

ia harum bagai mawar

tapi sombong bagai bunga mentari.

Bila mandi di kali

ia adalah ikan yang indah

tubuhnya menyinarkan cahaya tembaga.

Dan di daratan ia bagai merak

berjalan angkuh dan mengangkat mukanya

Para pemuda menggadaikan hati untuknya.

Tapi ia kejam dan tak kenal cinta

Ia banyak dengar dongeng tentang putri bangsawan

lalu ia bayangkan ia putri

lalu ia ingin kekayaan.

Mimpi meracuninya.

Maka pada suatu ketika

seorang lelaki datang dari kota

Ia kenakan jas woleta

dan arloji emas di tangannya

tapi para orang tua sudah tahu

matanya tak bisa dipercaya.

Mulutnya bagai serigala

dengan gigi caya perak dan mutiara

Kata-katanya manis bagai lagu air

membawa mimpi tak berakhir.

Ketika dikenalnya Aminah

dibujuknya ia ke kota bersamanya.

ia bayangkan kekuasaan

ia bayangkan kekayaan

ia bayangkan kehidupan putri bangsawan

dan pergilah Aminah bersamanya

Jadi terbanglah merak ke dunia mimpinya

Ia makan mega dan kabut menyapu matanya.

Dan semua orang tua yang cendekia sudah tahu

Sejak sebermula sudah salah jalannya

Maka seolah sudah ditenungkan

ketika sepupunya menengok ke kota

ia jumpai Aminah jauh dari mimpinya.

Hidup di gang gelap dan lembab

tiada lagi ia bunga tapi cendawan.

Biru pelupuk matanya

mendukung khayal yang lumutan.

Wajahnya bagai topeng yang kaku

kerna perawannya telah dikalahkan.

Maka sepupunya meratap pada ibunya

Laknat telah tumpah

di atas kepala pamili kita.

Bunga bangkai telah tumbuh di halaman.

Belukar telah tumbuh antara padi-padian

Kalau kita minum adalah tuba di air

Kalau kita makan adalah duri di nasi

Kerna ada antara kita

telah jadi perempuan jalan!

Kini ularnya sudah pulang

Dan bisanya sudah terasa di daging kita.

Jangan dekati ia!

Jangan dekati ia!

Ia cantik, tapi ia api

Di kali ia tetap ikan jelita

tapi telah busuk rahimnya.

Jangan dekati ia!

Jangan dekati ia!

Adalah perempuan jalan di pematang

ketika jatuh senjakala

sambil merasa angin di mukanya

ia bayangkan yang bakal menimpa dirinya.

Ia tahu apa yang bakal dikatakan tetangga

ia tahu apa yang bisa terduga

ia tahu tak seorangpun akan berkata:

“Berilah jalan padanya

orang yang naik dari pelimbahan.

Sekali salah ia langkahkan kakinya

dan ia tertangkap bagai ikan dalam bubu.

Berilah jalan pada kambing hitam

kerna ia telah dahaga padang hijau

Berilah jalan pada semangat hilang

kerna ia telah dahaga sinar terang.”

Dengan mudah ia bisa putar haluan

tapi air kali hanya kenal satu jalan

dan ia telah mengutuki kejatuhannya

dan ia telah berniat akan bangkit

Maka ia adalah bunga mentari

Maka ia adalah merak yang kukuh hati

Adakah perempuan jalan di pematang

ketika jatuh senjakala

sambil mengenang yang bakal datang

ia tetap pada jalannya

Rahmad Giryadi (dalam Tjahjono, 2005) membuat naskah dramatisasi puisi puisi di atas sebagai berikut.

AMINAH

Puisi Rendra

Naskah Dramatisasi: Rahmat Giryadi

Seorang ibu duduk di sudut ruangan dengan tenang menjahit (menyulam) kain sementara dari arah penonton Aminah berjalan perlahan dengan amat ragu-ragu menghampiri ibunya. Seperti mendapat petunjuk ibunya menggumam.

Ibu:

Aminah!!!

Penduduk menyambut kedatangan Aminah dengan was-was. Terjadi pergunjingan. Di mana-mana nama Aminah disebut-sebut.

Penduduk:

Aminah! Aminah! Aminah! Aminah!

Mereka memandang dengan kebencian, curiga, marah, sinis, dan sebagainya. Sementara Aminah terus berjalan menuju rumahnya. Ibunya menanti dengan harap-harap cemas.

Narator:

Adalah perempuan jalan di pematang

Ketika jatuh senjakala

Sawah muda, angin muda

Tapi langkahnya sangat gontainya

Sebentar nanti bila kakinya

Yang beralas sandal itu

Menginjak pelataran rumahnya

Tentu hari belum gelap terlalu.

Ibunya yang tua akan menatapnya

Dan dua batang kali kecil

Akan menjalar dari matanya

Ia akan berkata dengan sedannya:

Aminah:

Ibu, aku pulang

Narator:

Dan keduanya akan berpelukan

Suasana rumah Aminah tampak gembira, tetapi penduduk melihat dengan penuh prasangka dan kebencian. Matanya keluar, mulutnya panjang, dahinya berkeriput, dan suara bisikannya geram seperti macan.

Narator:

Maka sementara langit sibuk berdandan

Untuk pesta malamnya

Dan udara terdengar sedan kegirangan

Yang memancar dari rumah tua,

Akan terdengar para tetangga

Berbisik antara sesamanya

Dan mata mereka bagai kucing

Mengintip dari tempat gelap:

Penduduk bersama-sama:

“Kampung kita yang tentram

Mulai lagi bermusang

Ah, ya, betapa malunya!

Telah datang ular yang berbisa!

Jangan dekati ia!”

Jangan dekati Aminah merupakan kesepakatan bersama penduduk. Rumah yang memancarkan kegembiraan menjadi seperti beku karena terasing dari lingkungannya.

Penduduk (berulang-ulang) :

Jangan dekati ia

Narator:

Adalah perempuan jalan di pematang

Ketika jatuh senjakala

Sambil memandang tanah kelabu

Ia bayangkan dengan terang

Yang bakal menimpa dirinya

Juga sudah terbayangkan olehnya

Salah satu bunda cerita pada putranya:

Penduduk (bersama-sama) :

“jauhi Aminah!”

Seseorang:

Kalau bunga, ia bunga bangkai,

Seseorang:

Kalau buah, ia buah maja.

Seseorang:

Ia adalah ular beludak

Seseorang:

Ia adalah burung malam.

Narator:

Begini ceritanya:

Dulu ia adalah bunga desa

Ia harum bagai bunga mawar

Tapi sombong bagai bunga mentari

Bila mandi di kali

Ia adalah ikan yang indah

Tubuhnya menyinarkan cahaya tembaga.

Dan di daratan ia bagai merak

Berjalan angkuh dengan mengangkat mukanya.

Para pemuda menggadaikan hati untuknya.

Tapi ia kejam dan tak kenal cinta.

Ia banyak dengar dongeng tentang putri bangsawan

Lalu ia bayangkan ia putri.

Lalu ia ingin kekayaan.

Mimpi meracuninya.

Maka pada suatu ketika

Seorang lelaki datang dari kota.

Ia kenakan jas woleta

Dan arloji emas di tangannya

Tapi para orang tua sudah tahu

Aminah:

Berjalan lenggak-lenggok dihadapan penduduk. Wajahnya angkuh dan sombong.

Penduduk:

Bergerak seperti menghindari kedatangan Aminah

Aminah terus berlenggang- lenggok (seperti menari) dan dari sudut lain datang seorang laki-laki dengan pakaian parlente. Penduduk melotot. Mereka tercengang. Mulutnya komat-kamit mengatakan sesuatu.

Penduduk:

………………..

Naskah dramatisasi di atas masih berupa penggalan dan belum selesai. Anda diminta menyelesaikan naskah tersebut sesuai dengan pemahaman Anda terhadap puisi di atas dan ditambah dengan imajinasi dan improvisasi dari sudut pandang Anda atau kelompok masing-masing. Kreativitas Anda atau kelompok akan membuat dramatisasi puisi ini di atas pentas menjadi lebih hidup dan lebih komunikatif dengan penonton. Selamat berkreativitas.

Mukhlis A. Hamid, Dosen Mata Kuliah Sastra di FKIP PBSID Unsyiah

Bacaan Rujukan

Aminuddin, 1991. Pengantar Apresiasi Karya Sastra.Bandung : Sinar Baru.

——-. 2003. Apresiasi Puisi. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Atmazaki. 1993 Analisis Sajak, Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Bandung : Angkasa

Endraswara, Suwardi. 2003. Membaca, Menulis, Mengajarakan Sastra: Sastra Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: Penerbit Kota Kembang.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Pradopo, Rakhmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Sanjaya, Rahmad. 2000. “Musikalisasi Puisi”. Makalah pada Bengkel Sastra 2000. Banda Aceh: Balai Bahasa Banda Aceh.

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1997. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Tjahjono, Liberatus Tengsoe. 2002. Menembus Kabut Puisi: Menuju Kegiatan Apresiasi. Malang: Diorama

Teeuw, A. 1983. Sastra dan Teori Sastra. Jakarta: PT Gramedia Giri Pustaka.

Kreativitas dalam Dramatisasi Puisi

Oleh Mukhlis A. Hamid

Konsep dramatisasi puisi secara umum bermakna mementaskan puisi secara teateral dengan menggunakan konvensi-konvensi teater. Puisi dalam hal ini harus diubah terlebih dahulu dalam bentuk naskah teater yang berisi dialog dengan berbagai keterangan pementasan. Karena itu, puisi yang dipilih untuk dramatisasi umumnya merupakan puisi naratif atau ballada yang di dalamnya ada unsur tokoh, konflik, alur, latar, dan dialog. Berikut ini diberikan contoh naskah dramatisasi puisi “Aminah” karya WS Rendra.

Aminah

Adalah perempuan jalan di pematang

Ketika jatuh senjakala

Sawah muda, angin muda

Tapi langkahnya sangat gontainya

Sebentar nanti bila kakinya

yang beralaskan sandal

menginjak pelataran rumahnya

tentu hari belum gelap terlalu

Ibunya yang sangat tua akan menatapnya

dan dua batang kali kecil

akan mengalir dari matanya

ia akan berkata antara sedannya:

“Ibu, aku pulang”

dan keduanya akan berpelukan

Maka untuk sementara langit sibuk berdandan

untuk pesta malamnya

dan udara terdengar sedan kegirangan

yang memancar dari rumah tua,

akan terdengar para tetangga

berbisik antara sesamanya

dan mata mereka bagai kucing

mengintip dari tempat gelap:

“Kampung kita yang tentram

mulai lagi bermusang.

Ah, ya, betapa malunya!

Telah datang ular berbisa!

Jangan dekati ia!”

Adalah perempuan jalan di pematang

Ketika jatuh senjakala

Sambil memandang tanah kelabu

ia bayangkan dengan terang

yan bakal menimpa dirinya

Juga sudah terbayangkan olehnya

Salah satu bunda cerita pada putranya:

“Jauhi Aminah!

Kalau bunga, ia bunga bangkai

Kalau buah, ia buah maja.

Ia adalah ular beludak

Ia adalah burung malam.

Begini ceritanya:

Dulu ia adalah bunga desa

ia harum bagai mawar

tapi sombong bagai bunga mentari.

Bila mandi di kali

ia adalah ikan yang indah

tubuhnya menyinarkan cahaya tembaga.

Dan di daratan ia bagai merak

berjalan angkuh dan mengangkat mukanya

Para pemuda menggadaikan hati untuknya.

Tapi ia kejam dan tak kenal cinta

Ia banyak dengar dongeng tentang putri bangsawan

lalu ia bayangkan ia putri

lalu ia ingin kekayaan.

Mimpi meracuninya.

Maka pada suatu ketika

seorang lelaki datang dari kota

Ia kenakan jas woleta

dan arloji emas di tangannya

tapi para orang tua sudah tahu

matanya tak bisa dipercaya.

Mulutnya bagai serigala

dengan gigi caya perak dan mutiara

Kata-katanya manis bagai lagu air

membawa mimpi tak berakhir.

Ketika dikenalnya Aminah

dibujuknya ia ke kota bersamanya.

ia bayangkan kekuasaan

ia bayangkan kekayaan

ia bayangkan kehidupan putri bangsawan

dan pergilah Aminah bersamanya

Jadi terbanglah merak ke dunia mimpinya

Ia makan mega dan kabut menyapu matanya.

Dan semua orang tua yang cendekia sudah tahu

Sejak sebermula sudah salah jalannya

Maka seolah sudah ditenungkan

ketika sepupunya menengok ke kota

ia jumpai Aminah jauh dari mimpinya.

Hidup di gang gelap dan lembab

tiada lagi ia bunga tapi cendawan.

Biru pelupuk matanya

mendukung khayal yang lumutan.

Wajahnya bagai topeng yang kaku

kerna perawannya telah dikalahkan.

Maka sepupunya meratap pada ibunya

Laknat telah tumpah

di atas kepala pamili kita.

Bunga bangkai telah tumbuh di halaman.

Belukar telah tumbuh antara padi-padian

Kalau kita minum adalah tuba di air

Kalau kita makan adalah duri di nasi

Kerna ada antara kita

telah jadi perempuan jalan!

Kini ularnya sudah pulang

Dan bisanya sudah terasa di daging kita.

Jangan dekati ia!

Jangan dekati ia!

Ia cantik, tapi ia api

Di kali ia tetap ikan jelita

tapi telah busuk rahimnya.

Jangan dekati ia!

Jangan dekati ia!

Adalah perempuan jalan di pematang

ketika jatuh senjakala

sambil merasa angin di mukanya

ia bayangkan yang bakal menimpa dirinya.

Ia tahu apa yang bakal dikatakan tetangga

ia tahu apa yang bisa terduga

ia tahu tak seorangpun akan berkata:

“Berilah jalan padanya

orang yang naik dari pelimbahan.

Sekali salah ia langkahkan kakinya

dan ia tertangkap bagai ikan dalam bubu.

Berilah jalan pada kambing hitam

kerna ia telah dahaga padang hijau

Berilah jalan pada semangat hilang

kerna ia telah dahaga sinar terang.”

Dengan mudah ia bisa putar haluan

tapi air kali hanya kenal satu jalan

dan ia telah mengutuki kejatuhannya

dan ia telah berniat akan bangkit

Maka ia adalah bunga mentari

Maka ia adalah merak yang kukuh hati

Adakah perempuan jalan di pematang

ketika jatuh senjakala

sambil mengenang yang bakal datang

ia tetap pada jalannya

Rahmad Giryadi (dalam Tjahjono, 2005) membuat naskah dramatisasi puisi puisi di atas sebagai berikut.

AMINAH

Puisi Rendra

Naskah Dramatisasi: Rahmat Giryadi

Seorang ibu duduk di sudut ruangan dengan tenang menjahit (menyulam) kain sementara dari arah penonton Aminah berjalan perlahan dengan amat ragu-ragu menghampiri ibunya. Seperti mendapat petunjuk ibunya menggumam.

Ibu:

Aminah!!!

Penduduk menyambut kedatangan Aminah dengan was-was. Terjadi pergunjingan. Di mana-mana nama Aminah disebut-sebut.

Penduduk:

Aminah! Aminah! Aminah! Aminah!

Mereka memandang dengan kebencian, curiga, marah, sinis, dan sebagainya. Sementara Aminah terus berjalan menuju rumahnya. Ibunya menanti dengan harap-harap cemas.

Narator:

Adalah perempuan jalan di pematang

Ketika jatuh senjakala

Sawah muda, angin muda

Tapi langkahnya sangat gontainya

Sebentar nanti bila kakinya

Yang beralas sandal itu

Menginjak pelataran rumahnya

Tentu hari belum gelap terlalu.

Ibunya yang tua akan menatapnya

Dan dua batang kali kecil

Akan menjalar dari matanya

Ia akan berkata dengan sedannya:

Aminah:

Ibu, aku pulang

Narator:

Dan keduanya akan berpelukan

Suasana rumah Aminah tampak gembira, tetapi penduduk melihat dengan penuh prasangka dan kebencian. Matanya keluar, mulutnya panjang, dahinya berkeriput, dan suara bisikannya geram seperti macan.

Narator:

Maka sementara langit sibuk berdandan

Untuk pesta malamnya

Dan udara terdengar sedan kegirangan

Yang memancar dari rumah tua,

Akan terdengar para tetangga

Berbisik antara sesamanya

Dan mata mereka bagai kucing

Mengintip dari tempat gelap:

Penduduk bersama-sama:

“Kampung kita yang tentram

Mulai lagi bermusang

Ah, ya, betapa malunya!

Telah datang ular yang berbisa!

Jangan dekati ia!”

Jangan dekati Aminah merupakan kesepakatan bersama penduduk. Rumah yang memancarkan kegembiraan menjadi seperti beku karena terasing dari lingkungannya.

Penduduk (berulang-ulang) :

Jangan dekati ia

Narator:

Adalah perempuan jalan di pematang

Ketika jatuh senjakala

Sambil memandang tanah kelabu

Ia bayangkan dengan terang

Yang bakal menimpa dirinya

Juga sudah terbayangkan olehnya

Salah satu bunda cerita pada putranya:

Penduduk (bersama-sama) :

“jauhi Aminah!”

Seseorang:

Kalau bunga, ia bunga bangkai,

Seseorang:

Kalau buah, ia buah maja.

Seseorang:

Ia adalah ular beludak

Seseorang:

Ia adalah burung malam.

Narator:

Begini ceritanya:

Dulu ia adalah bunga desa

Ia harum bagai bunga mawar

Tapi sombong bagai bunga mentari

Bila mandi di kali

Ia adalah ikan yang indah

Tubuhnya menyinarkan cahaya tembaga.

Dan di daratan ia bagai merak

Berjalan angkuh dengan mengangkat mukanya.

Para pemuda menggadaikan hati untuknya.

Tapi ia kejam dan tak kenal cinta.

Ia banyak dengar dongeng tentang putri bangsawan

Lalu ia bayangkan ia putri.

Lalu ia ingin kekayaan.

Mimpi meracuninya.

Maka pada suatu ketika

Seorang lelaki datang dari kota.

Ia kenakan jas woleta

Dan arloji emas di tangannya

Tapi para orang tua sudah tahu

Aminah:

Berjalan lenggak-lenggok dihadapan penduduk. Wajahnya angkuh dan sombong.

Penduduk:

Bergerak seperti menghindari kedatangan Aminah

Aminah terus berlenggang- lenggok (seperti menari) dan dari sudut lain datang seorang laki-laki dengan pakaian parlente. Penduduk melotot. Mereka tercengang. Mulutnya komat-kamit mengatakan sesuatu.

Penduduk:

………………..

Naskah dramatisasi di atas masih berupa penggalan dan belum selesai. Anda diminta menyelesaikan naskah tersebut sesuai dengan pemahaman Anda terhadap puisi di atas dan ditambah dengan imajinasi dan improvisasi dari sudut pandang Anda atau kelompok masing-masing. Kreativitas Anda atau kelompok akan membuat dramatisasi puisi ini di atas pentas menjadi lebih hidup dan lebih komunikatif dengan penonton. Selamat berkreativitas.

Mukhlis A. Hamid, Dosen Mata Kuliah Sastra di FKIP PBSID Unsyiah

Bacaan Rujukan

Aminuddin, 1991. Pengantar Apresiasi Karya Sastra.Bandung : Sinar Baru.

——-. 2003. Apresiasi Puisi. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Atmazaki. 1993 Analisis Sajak, Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Bandung : Angkasa

Endraswara, Suwardi. 2003. Membaca, Menulis, Mengajarakan Sastra: Sastra Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: Penerbit Kota Kembang.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Pradopo, Rakhmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Sanjaya, Rahmad. 2000. “Musikalisasi Puisi”. Makalah pada Bengkel Sastra 2000. Banda Aceh: Balai Bahasa Banda Aceh.

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1997. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Tjahjono, Liberatus Tengsoe. 2002. Menembus Kabut Puisi: Menuju Kegiatan Apresiasi. Malang: Diorama

Teeuw, A. 1983. Sastra dan Teori Sastra. Jakarta: PT Gramedia Giri Pustaka.

About these ads

3 thoughts on “Kreativitas dalam Dramatisasi Puisi

    novcka said:
    November 22, 2011 pukul 3:28 am

    ini ko panjang sekali ya tapi setelah saya membacanya ternyata CIHUY……

    -AMINAH IS THE BEST

    CIKICIW

    novcka said:
    November 22, 2011 pukul 3:29 am

    saya setuju dengan komentar di atas kayanya AMINAH itu sesuatu banget ya ………..

      Harry heriana rohiman said:
      Januari 29, 2012 pukul 11:04 pm

      Aminah ooh aminah
      Its cool ha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s