Kearifan Lokal yang Patut dalam Hikayat Burung Barau-Barau

Posted on

Oleh Medri Osno

Hikayat Burung Barau-Barau (HBBB) merupakan salah satu karya sastra Melayu yang muncul pada akhir abad ke-16 atau pada awal abad ke-17. Karya ini bersifat anonim dan tidak begitu jelas manakah yang lebih dahulu munculnya HBBB ini dari karya-karya Hamzah Fansuri. Namun yang jelas HBBB maupun syair-syair Hamzah terutama Sidang Talib, Sidang Fakir, Sidang ‘asyiq, Burung Pinggai, Burung Nuri, Andai-andai Si Burung Pinggai dan Ikan Tunggal diilhami oleh Mantiq al-Tayr (Sidang Burung-burung) karya Farid al-Din Attar (± 1229).

Werndly dalam karyanya Maleische Boekzaal (1736) telah membuat daftar tentang Hikayat Raja Sulaiman dan Cerita Daripada Sulaiman. Kalau kita lihat dari genre cerita dan gaya bahasanya maka HBBB dapat kita tempatkan pada jaman ini. HBBB merupakan legenda Nabi Sulaiman dimana semua makhluk dapat berkata-kata, termasuk bangsa burung. Kalau kita lihat isi dan temanya maka dapat kita ambil sebuah kesimpulan yaitu tentang kearifan lokal yang patut—saya rasa sangat sesuai dengan kondisi Bangsa Indonesia bahkan dunia saat ini. Cerita ini bermula ketika Nabi Sulaiman berjalan di tengah padang Husyayum diiringi para burung sebagai payungnya. Setelah Nabi Sulaiman sampai di istana dan tertidur maka terjadilah pembicaraan antara burung-burung. Terutama pembicaraan burung barau-barau dengan burung pucung. Mereka memperdebatkan mana yang lebih baik bicara atau diam. Dari awal hikayat ini sudah mengajarkan kita untuk mencermati suatu kearifan. Barau-barau mengajak: mari kita berkata-kata. Kemudian dijawab oleh Pucung: Tiada baik berkata-kata, kata tiada terasa tatkala masuk ke dalam mulutpun tiada terasa. Kata Nabi: yang berkata itu bercerai, diam bertemu dengan empunya kata. Lalu dijawab lagi oleh barau-barau: Jikalau tahu baik berkata-kata, jikalau tidak tahu baiklah diam, karena kata itu manfaatnya pun ada, mudaratnya pun ada. Jawaban barau-barau ini dijawab lagi oleh sekalian burung-burung: jikalau i’tikad benar berkata benar, jikalau i’tikad salah berkata salah. Sekurang-kurangnya dari percakapan ini dapat kita ambil pembelajaran bahwa sebaiknya sebelum mengeluarkan kata-kata (pendapat) dipikirkan dulu nilai manfaat dan mudaratnya. Selain itu niat yang baik akan mengeluarkan kata yang baik pula dan begitu juga sebaliknya. Kalau seandainya kita tidak tahu maksud dan tujuan apa yang akan kita bicarakan lebih baik diam—dalam konteks kekinian banyak penguasa yang tidak memikirkan apa manfaat dan mudarat dari kata-kata yang dikeluarkannya.

Selanjutnya HBBB ini diteruskan dengan persidangan Nabi Sulaiman tentang kebaikan berkata-kata dan diam kerena kedua burung tersebut tidak dapat menyelesaikannya. Disini dapat lagi kita ambil satu pembelajaran bahwa pendapat yang kita yakini benar belum tentu benar menurut orang lain. Untuk mengetahui kebenarannya bertanyalah pada orang yang lebih paham. Dengan kata lain jangan bersikap egois dengan memaksakan kehendak pada orang lain. Karena orang yang kita anggap lemah dan bodoh pada sisi lain punya kelebihan yang belum tentu dimiliki orang lain. Lalu Nabi Sulaiman persoalannya; hai burung barau-barau, manakah kebajikan berkata-kata daripada diam, katakanlah kepadaku. Maka barau-barau pun menyembah dan menceritakan kebajikan berkata-kata; ada seorang anak Adam yang sedang sakit antara maut. Ketika Malaikat Maut hendak mencabut nyawanya, berkatalah anak Adam tersebut; ya tuanku, sekarang hamba baru bertemu dengan tuanku. Sudah lama hamba rindu dengan tuan. Kini senang rasa hati hamba, nyamanlah rasa mataku. Mendengar perkataan tersebut Malaikat Maut menjadi malu; sudah lama aku mengambil nyawa anak Adam tiada yang kasih akan daku. Inilah anak Adam yang kasih kepada aku. Akupun malu mengambil nyawanya. Baiklah aku ke hadharat Allah ta’aala. Setelah ia dalam kubur datanglah Munkar wa Nakir bertanya; Marabbuka…. Anak Adam pun menjawab; hai, Munkar wa Nakir itulah salammu dalam kubur. Aku tahu artinya; siapa Tuhan dan nabimu, apa agamamu, kemana kiblatmu, siapa imammu, serta siapa saudaramu. Mendengar jawaban tersebut Munkar wa Nakir menjadi malu karena selama ini tidak ada orang yang menyahuti pertanyaannya. Sekarang dijawab oleh seorang anak Adam. Seandainya anak Adam ini diam sudah pasti ia akan dipalu. Tidak lama kemudian datanglah Jibril membangkitkan dan membawanya ke tengah padang yang mempunyai simpang ke kanan dan ke kiri. Jibril menjelaskan ke kanan arah surga dan ke kiri arah neraka. Anak Adam pun berkata bahwa sebenarnya ia adalah isi neraka, tapi ia hanya ingin melihat kemuliaan Allah dalam surga. Sudah hamba melihat itu, kembalikanlah ke dalam neraka, agar hamba dapat menceritakan pada isi neraka supaya mereka menyesal. Maka ia pun diantar masuk ke dalam surga oleh Malaikat Ridwan. Setelah beberapa lama dalam surga, ia pun dikeluarkan. Kata anak Adam; belum pernah isi surga masuk ke dalam neraka, melainkan isi neraka masuk ke dalam surga. Hamba kemari bukan kehendakku melainkan kehendak Allah. Mendengar jawaban anak Adam tersebut kedua malaikat menjadi bingung, dan pergilah Jibril menemui Allah. Firman Allah, hai Jibril jangan dikembalikan lagi, dosanya sudah kuampuni. Sekali lagi ini kebijakan yang patut kita teladani. Karena berkata-kata ada kebajikannya, kalau kita mengetahui kebenarannya. Dari cerita di atas, seandainya anak Adam tersebut diam niscaya dia akan dimasukkan ke dalam neraka. Kata Raja Sulaiman; hai barau-barau katamu benar. Sekarang aku anugerahkan h.w.y.t. dan belalang. Makanlah olehmu sampai keanak cucumu.

Selanjutnya Nabi Sulaiman memanggil burung pucung, mendengar penjelasannya tentang kebaikan diam daripada berkata-kata. Lalu pucung pun menceritakan kisah seorang Darwis yang berjalan dari negeri Daksina ke Paksina. Di tengah padang yang luas ia bertemu dengan tengkorak kepala manusia. Ujar tengkorak; hai Darwis peliharalah lidahmu daripada berkata-kata, supaya jangan lehermu terpenggal. Di sini kita diajarkan lagi kebijakan yang patut dan dapat kita sandingkan dengan pepatah mulutmu adalah harimaumu yang siap menerkammu. Mendengar tengkorak bisa berkata-kata, Darwis pun menjadi heran. Lalu timbul keserakahan di hatinya; jikalau aku persembahkan pada raja apa yang akan dianugerahkan raja padaku? Tidak berapa lama sampailah ia ke hadapan raja; hai Darwis bawa apa itu? Dijawab oleh Darwis; adalah benda yang ajaib, pakain yang mahamulia hamba bawa. Jikalau hamba persembahkan kepada tuan, apa yang akan tuan anugerahkan kepada hamba? Raja pun akan memberikan kebesaran dan hidangan yang besar. Dengan rasa suka Darwis mengeluarkan tengkorak tersebut; ya, tuanku inilah tengkorak manusia yang dapat berkata-kata. Raja pun menghimpun segala rakyat dan pembesar istana. Lalu raja menyuruh pembesar istana untuk bertanya pada tengkorak. Hai, tengkorak kepala manusia yang kering, berkatalah engkau akan daku. Tapi tengkorak hanya diam. Akhirnya raja menyuruh Darwis bertanya, tengkorak pun diam. Lalu raja pun menangkap dan membunuh Darwis. Maka sembah burung pucung; itulah maka baik diam daripada berkata-kata. Burung pucung pun dianugerahi udang dan ikan kecil-kecil sampai anak cucunya oleh Nabi Sulaiman.

(dimuat Harian Serambi Indonesia, 2 Desember 07)

About these ads

Satu pemikiran pada “Kearifan Lokal yang Patut dalam Hikayat Burung Barau-Barau

    adh2214 berkata:
    Desember 4, 2008 pukul 8:25 am

    JEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEPPPHHHHHHHHHHHH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s