gemasastrin

Berbuat, bukan Berkata – BERONTAK dari yang sudah ADA

Arsip untuk Desember, 2008

Anak “GAUL”

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Desember 24, 2008

Adgan I

Kakek

Aduh… Sangat tidak enak menjadi orang tua. Susah sekali rasanya. Apa-apa terasa berat. Ini tidak, itu dilarang, apalagi yang itu… sudah tidak sanggup lagi, katanya. Susah benar rasanya jadi orang tua.

Rasanya, keterbatasan ini semakin menjadi-jadi saat umurku sudah serenta ini.

Duduk di sore seperti ini membuat aku terbayang masa lampau. Dulu, ketika muda, aktivitasku sore dan malam sangatlah menyenangkan, duduk dengan anak-anak gaul, ngeband, balap-balapan, dan pacaran… hahaha. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Naskah Lakon | Leave a Comment »

Cinta Merah Jambu

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Desember 23, 2008

Oleh Yudi Pratama

Malam ini tiba-tiba aku teringat Rere. Mungkin karena aku kesepian. Tak ada ia membuat hari-hariku sepi. Tak terasa telah tiga tahun berlalu. Aku masih ingat saat-saat sekarang ini aku sedang menghabiskan waktuku bersamanya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »

Sahudin Cempanir

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Desember 21, 2008

Seorang pemuda bernama Sahudin. Jika dilihat tampangnya, terlihat agak ganteng, tapi dia sedikit kurang cerdas. Sahudin seorang bujang yang ingin menikah. Ia pun menyampaikan niat itu pada bibinya, kemudian bibinya ini yang akan menjadi perpanjangan lidah Sahudin pada orangtuanya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Dogeng | Leave a Comment »

PERISTIWA DI SUATU PAGI

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Desember 21, 2008

Sajak-Sajak: Budi Art

Baru saja kusapa. Subuh yang basah. Mengerang terpanggang. Matahari.
Matahari. selalu saja ia menguapkan mimpi. Padahal semusim sudah
menanti. Dan jemari bergetar di antara liang-liang. Yang kau pancang
pada tiang. Meleleh dalam hatiku. Meleleh dalam dagingku. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »

Membaca Tabir Kalbu Mahasiswa Kontemporer

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Desember 17, 2008

(Catatan Kecil untuk Puisi Parade Tiga Kampus)

Oleh Herman RN

gantengPuisi sebagai sebuah karya sastra yang “merdeka”, yang lahir dari proses kontemplasi mendalam bukanlah milik penyair sudah jadi semata. Akan tetapi, orang yang sudah berhasil menulis puisi dan produktif di wilayah kerjanya (menulis puisi) akan disebut sebagai penyair adalah sebuah keniscayaan. Pertanyaannya, bagaimanakah bila yang melakoni itu mahasiswa? Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Essay | Leave a Comment »

Parade Puisi Mahasiswa di Tiga Kampus

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Desember 17, 2008

GULITA YANG BERGANTI

Muhammad Haekal

Dan semua tanpa warna…

Semu malam gulita…

Bersemilir angin tak berkala…

Aku mewajah gerah…

Tanpa usang semua terbang…

Dengan debu melekat hampa…

Kutawar berada pagi…

Yang biasa bermatahari tanpa bintang abadi… Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Puisi | 1 Komentar »

Hikayat Racun Peranggi

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Desember 14, 2008

av-azOleh Azhari

DAHULU kala, entah ada entah tiada, waktu segala binatang belum mempunyai kulit, bulu dan cangkang, waktu kisah tentang nabi belum diawali dan diakhiri, hiduplah seekor kura-kura jantan yang sangat cendekia, sehingga ia dijadikan tempat bertanya sekalian makhluk di dunia. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »

KUPUNGUTI DAUN-DAUN

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Desember 9, 2008

puisi Budi Art

Kupunguti daun-daun. Entah untuk apa. Entah untuk siapa. Angin saja yang selalu menyapa. Belum pula menguning warnanya. Belum genap senja pula usianya. Berserak entah dimana. Kala gerimis menepis. Kala kabut seketika kalut. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »

Sepucuk Surat Buat Emak

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada Desember 5, 2008

Cerita Pendek Akmal

akmalDARI sudut jendela rumah, ku saksikan awan-awan mulai beranjak pergi diusir senja. Burung-burung bergegas pulang sembari menyajikan nyanyian penidur matahari punah. Aku masih duduk di kursi tua ini. Di depanku masih suasana yang biasa. Kertas putih penuh coretan. Inginku memulai menulis sepucuk surat untuk emak yang telah lama tak kunjung pulang Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | 1 Komentar »