KAMUS ACEH-INDONESIA-INGGRIS dan KERESAHAN SAYA

Posted on Updated on

oleh Azwardi, S.Pd., M.Hum.

azwardani@yahoo.com

(Dosen PBSID FKIP Unsyiah)

Sebelum sampai pada substansi yang hendak saya paparkan, terlebih dahulu perlu saya ketengahkan starting point yang memotivasi saya menyampaikan hal yang “meresahkan” ini. Beberapa waktu yang lalu, bertempat di kantor Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID), FKIP Unsyiah, terjadi pembicaraan ‘nyeleneh’ seputar sebuah buku terbaru yang baru bergabung dengan koleksi lainnya di perpustakaan PBSID.

Buku tersebut adalah Kamus Aceh-Indonesia-Inggris (selanjutnya disebut KAII) yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2007. Terlibat dalam pembicaraan itu sekitar 30% dosen PBSID, yang semuanya sepakat bahwa KAII tersebut telah “meresahkan” mereka (mungkin juga sebagian masyarakat Aceh lainnya yang sudah membaca sekilas kamus tersebut). Betapa tidak, setelah di-scanning tak ada lembar yang bebas dari koreksi, baik teknis maupun substantif. Sepertinya, penyusunan kamus tersebut tidak sesuai dengan atau mengesampingkan kaidah leksikografi (ilmu tentang perkamusan).

Secara umum dapat dikatakan bahwa kamus tersebut, ke-terbitannya, terkesan sangat dipaksakan. Entah karena motivasi apa, entahlah. Yang jelas, menurut hemat saya, masyarakat Aceh, yang menggunakan bahasa Aceh dialek mana pun, tidak merasa gembira dengan hadirnya kamus baru tersebut. Kamus-kamus yang sudah terbit sebelumnya dipandang lebih baik dan lebih layak dirujuk. Saya mengkritisi hal tersebut, bukan berarti saya tidak apresiatif terhadap karya tersebut. Justru itulah salah satu bentuk apresiasi saya karena saya peduli dengan pelestarian dan perkembangan bahasa Aceh.

Dalam bidang perkayuan, ada beberapa jenis kayu berdasarkan tinjauan kualitas, misalnya seumantôk, dama, meuranté, dan sembarang. Dalam bidang perkamusan, berdasarkan tinjauan leksikografi, ada beberapa macam bentuk kamus, antara lain, kamus besar, kamus umum, kamus ungkapan, kamus idiom, kamus istilah, kamus situasional, dan kamus thesaurus. Setelah mencermati secara keseluruhan isinya, saya tidak dapat memasukkan ke dalam kategori bentuk yang mana KAII itu. Barangkali perlu diciptakan satu lagi kategori bentuk yang lain, misalnya kamus sembarang.

Secara substansial hal-hal yang sangat patut dikritik, antara lain, adalah sebagai berikut:

A. Entri KAII bukan cuma kata dasar (morfem leksikal), melainkan juga kata berimbuhan, kata ulang, kata majemuk, idiom, frasa, bahkan klausa. Perhatikan cuplikan berikut!

(1) Kata Berimbuhan

Aceh

Indonesia

Inggris

keuamanan

keamanan

security

keubeunaran

kebenaran

truth

keudutaan

kedutaan

embassy

keumeubah

menyimpan

store

keumeukoh

panen

harvest

keumeunangan

kemenangan

victory

(2) Kata Ulang

Aceh

Indonesia

Inggris

keubiet-biet

sungguh-sungguh

serious

bacut-bacut

sedikit demi sedikit

little by little

Ragu-ragu

ragu-ragu

halfhearted

ramah-tamah

ramah-tamah

friendly

Rata-rata

rata-rata

average

(3) Kata Majemuk

Aceh

Indonesia

Inggris

bak pisang

pohon pisang

banana

bak ureueng

pohon kelapa

coconut

tihang bendera

tiang bendera

flagpole

Tikoh blang

tikus sawah

rat

tueng balah

pembalasan dendam

vengeance

Tong broh

tong sampah

dustbin

minyeuk bensen

bensin

benzene

(4) Idiom

Aceh

Indonesia

Inggris

theuen talo

mengalah

succumb

top-top rabong

spekulasi

speculation

patah seumangat

putus asa

discouragement

saboh kawan

sekelompok

batch

(5) Frasa

Aceh

Indonesia

Inggris

ureueng jaga keudee

penjaga toko

storekeeper

ureueng jaga lampoh

tukang kebun

gardener

bangai that

sangat bodoh

crass

saboh kawan

sekelompok

batch

bangku yang hana bak meusadeue

bangku tanpa sandaran

stool

barang lam moto

muatan mobil

carload

di ateueh

di atas

above

di geunireng

di samping

beside

eleumee bhah kalimat

sintaksis

syntax

guda agam

kuda jantan

stallion

hana tuwo

tidak terlupakan

unforgettable

hana masak

belum matang

unripe

jeuet bantah

dapat dibantah

arguaable

jeuet jibagi

dapat dibagi

divisible

jeuet teubaca

terbaca

legible

le that haba

rewel

gabby

le that pihak

banyak pihak

multiilateral

(6) Klausa

Aceh

Indonesia

Inggris

peugot ateung

membuat tanggul

embank

peugleh kumeuen

membasmi kuman

disinfect

peugot gamba

mengukir

etch

peugot undang-undang

membuat undang-undang

legislate

B. Entri KAII bukan cuma kata bahasa Aceh, melainkan juga kata bahasa Indonesia.

(7) Kata Indonesia

Aceh

Indonesia

Inggris

aba-aba

perintah

command

abad

abad

century

abadi

kekal

eternity

peugot undang-undang

membuat undang-undang

legislate

administrasi

administrasi

administration

agak

agak

rather

agen

wakil

agent

agenda

agenda

agenda

akomodasi

akomodasi

accommodation

C. Entri KAII banyak yang bukan khazanah bahasa atau budaya Aceh.

(8) Bukan Khazanah Bahasa atau Budaya Aceh

Aceh

Indonesia

Inggris

Bola

bola

ball

Bola bulee manok

bola bulu tangkis

shuttlecock

Bola bumoe

bola dunia

globe

Bola donya

bola dunia

globe

Bola jaroe

bola tangan

handball

Bola listrek

bohlam

bulb

Bola raga

bola basket

basketball

Bola sudok

biliar

billiard

Bukankah dengan pola-pola seperti di atas, masing-masing dapat menghasilkan satu kamus kecil lainnya dengan entri seperti (1) keunyamanan, keusalahan, kekonsulan, keuneubah, teumeutöt, dan keukalahan; (2) meujai-jai, keusalahan, tamah-tamah, sirông-sirông, dan teupat-teupat; (3) bak leubue, bak liki, tiang tifi, tikôh glé, tueng darabarô, tông padé, dan minyeuk u; (4) böh talô, gatai asoe, putôh tutue, balék aleue, dan tuha bijèh; (5) ureung jaga manok, ureng jaga balè, caröng that, panteue nyang hana aleue, barang lam kapai, di leuen, èleumèe bhah ’ibadat, leumo inöng, hana woe, ka masak, jeuet kritik, jeuet tatampa, jeuet teupeugah, lé that peue peugah, dan lé that salah; (6) peugöt lueng, peugöt kuéh, peugöt langai, dan berbagai peugöt lainnya; (7) sosialisasi, realisasi, universitas, korupsi, dan manipulasi; (8) bola voli, bola kasti, bola kaki, dan bola api.

Selain itu, pemakaian tanda diakritik (aksen grave [è], aigu [é], trema [ö], dan makron [ô]) juga tidak konsisten; sebagian kata dipakai dan sebagian yang lain tidak. Sebagian yang dipakai pun tanda diakritik ini kadang-kadang salah, misalnya daya pikè, dhôt, dan éleumèe bhah sihè.

Saya menduga bahwa proses penyusunan kamus tersebut adalah sebagai berikut. Mula-mula didaftar kosakata yang terdapat dalam bahasa Inggris, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Aceh, lantas diurutkan terbalik; Aceh-Indonesia-Inggris. Dengan demikian, terciptalah kamus yang membingungkan, baik secara teknis maupun substantif. Buktinya, kosakata bahasa Inggrisnya yang diacu semuanya bersifat leksikal. Jika prosesnya memang seperti itu, siapa pun dengan sangat mudah dapat menyusun kamus. Seharusnya, didaftar terlebih dahulu kosakata dasar (morfem leksikal) yang terdapat dalam bahasa Aceh, lalu dicari padanannya yang terdapat dalam bahasa Indonesia, kemudian disesuaikan dengan terminologi yang relevan yang berlaku dalam bahasa Inggris. Hal tersebut dilakukan atas pertimbangan bahwa dalam teori linguistik disebutkan, untuk memperoleh makna yang sesuai dari data bahasa yang satu ke data bahasa lainnya tidak boleh diterjemahkan (secara truktur), tetapi dipadankan (secara semantis). Misalnya, dalam bahasa Indonesia ada kata majemuk laut biru. Laut biru tidak dapat diterjemahkan menjadi ‘laot biru’ atau ‘laot blau’ karena dalam bahasa Aceh tidak tidak ada konsep tersebut. Yang ada dalam bahasa Aceh adalah laôt ijô. Dalam bahasa Aceh ada idiom cang panah, cèt langèt. Cang panah atau cèt langèt tidak dapat diterjemahkan menjadi ‘mencincang nangka’ atau ‘mengecat langit’ karena dalam bahasa Indonesia tidak ada konsep tersebut. Begitu juga dalam bahasa Aceh ada konstruksi, Ijô mata-ih bak jikalön pèng atau Bak pèng gadöh janggôt tidak dapat diterjemahkan menjadi ‘Hijau matanya melihat uang’ ‘Demi uang hilang jenggot’ karena makna konsep tersebut tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, apalagi dalam bahasa Inggris.

Akibat penggunaan pola menerjemahkan, bukan memadankan, terciptalah tindak berbahasa (spech action) yang tidak alami seperti terlihat pada entri KAII, dan begitulah yang cenderung terjadi akhir-akhir ini pada pemakaian bahasa Aceh. Cermati, misalnya, penggunaan bahasa Aceh dalam Haba Aceh Uroe Nyo di Aceh TV, dalam syair lagu-lagu Aceh yang termuat dalam CD, dan media-media luar luang! Bukankah fenomena tersebut dapat dikatakan merusak bahasa?

Semestinya, jika Dinas Kebudayaan NAD memiliki anggaran yang memadai, dapat memprakarsai penyusunan kamus yang lebih bermanfaat dengan melibatkan secara intensif para pakar yang benar-benar ahli, khususnya di bidang leksikografi. Bentuk kamus yang disusun pun harus jelas, misalnya, Kamus Umum Bahasa Aceh: Edisi Revisi, Kamus Ungkapan Bahasa Aceh, Kamus Idiom Bahasa Aceh, atau Glosarium Budaya Aceh. Dengan demikian, nilai kemanfaatannya bagi masyarakat luas sangat besar.

About these ads

31 thoughts on “KAMUS ACEH-INDONESIA-INGGRIS dan KERESAHAN SAYA

    Muhammad Zulkarnain said:
    April 2, 2009 pukul 6:55 am

    assalamualikum wr.wb

    saya mencari kamus bahasa aceh di website anda. tolong di bantu

    sekian & terima kasih

      RAHMAT said:
      Oktober 30, 2009 pukul 10:01 am

      I drouh neuh ureung panee.=anda orang mana..??

    A.Y.Srinivasan said:
    April 13, 2009 pukul 6:19 pm

    Assalamualaikum wr.wb.

    Meunyo lagee nyan syedara neupeugah; basa ATJEH ka meupaloo. Lon lawet2 nyou na cit lon tre peuget qamus basa ATJEH-INGGREH , cuma goh lom keumah. I used Atjeh-Dutch Dictionary untuk peuget qamus atjeh-inggreh.

    Nyan dosen2 bak FKIP sang kon niet peujaga basa Atjeh, tapi niet mita peng through the project sponsored by the gov.:))

    Lon na saran bacut; cuba neumita atawa neuingat-ingat pue-pue mantong kata-kata lam basa Atjeh yang ka rap matee, atawa kata2 yang hana lee ureung tupeu.

    Uronyoe kasep dilee beuh, jan laen tasambong teuma.

    Syukria,
    Wassalam

    AY Srinivasan

      aneuk nanggroe seujati.. said:
      Oktober 4, 2011 pukul 12:41 pm

      beutoi nyan cut bang…
      loen rasa kata nyang ka geujeulaskan dalam basa aceh di ateuh mantoeng le nyang salah, jadi mohon di teliti loem..thx

    M. Nabil Berri said:
    Oktober 27, 2009 pukul 9:38 am

    @ AY Srinivasan,

    Droën nyo ureuëng Acèh? Bak lôn’eu nan kön. Nyo meunan?

    M. Nabil Berri said:
    Oktober 27, 2009 pukul 9:41 am

    Kamus Bahasa Aceh – Indonesia bisa diunduh di sini: http://acehbooks.org/search/detail/1647?language=ind

    mukhlis saja said:
    Oktober 28, 2009 pukul 3:31 am

    Dear all,

    Ulasan pak Azwardi tentang kamus bahasa Aceh-Inggris terbitan Disbud di atas cukup menarik. Saya tahu sedikit tentang proses pembuatan kamus tersebut. Ide pertama pembuatan kamus itu adalah menjadi pemandu awal bagi penutur asing yang ingin berkunjung atau belajar bahasa Aceh. Ini bukan kamus deskriptif atau sejenisnya. Ia hanya diniatkan sebagai sebuah kamus praktis sebagaimana kamus2 lain dalam bbgai bahasa daerah atau nasional. Akan tetapi, proses pembuatan kamus tersebut memang sangat tergesa-gesa. Di satu sisi ada keinginan agar kamus itu dibaca oleh banyak orang sebelum dicetak, di sisi yang lain sistem penganggaran pemerintah mewajibkan semua kegiatan harus selesai dipertanggungjawabkan bulan Oktober. Dua hal yang sangat kontradiktif. Akhirnya, dengan berbagai keterbatasan, kamus tsb dicetak sebagai draf awal untuk diperbaiki/direvisi ulang tahun depannya. Tapi, sampai sekarang, dana revisi itu tak turun2…. entahlah, sistem penganggaran di negeri kita memang sudah begitu diri, ka lagee nyan droe. Karenanya, dengan tidak bermaksud macam-macam, saya ingin mengajak kita semua menerima dulu hasil kerja teman2 di disbud itu. Soal lebih kurang itu adalah sebuah kewajaran. Sila buat kamus lain, yang jauh lebih baik, lebih sempurna, dan jauh lebih di atas kamus2 yang sudah ada. Ruang untuk itu selalu terbuka. Apalagi akhir2 ini banyak sekali rekan2 muda yang sudah menyelesaikan magister atau doktor dalam bidang linguistik bahasa2 di Aceh. Saya pikir, saya kira, begitu…

    Salam damai,

    emha

    RAHMAT said:
    Oktober 30, 2009 pukul 10:03 am

    nyan beu betoi bahsa aceh, beek aceh-acehan

    Gemasastrin PBSID responded:
    November 1, 2009 pukul 2:02 pm

    Tidak ada hubungan pasti antara nama seseorang dan suku yang melekat padanya. Dalam teori linguistik hal itu disebut semacam “arbitrer”. Jadi, Azwardi itu suku Aceh tulen. Mengenai nama yang barangkali tidak berbau Aceh silakan tanya orangtua saya, apa motif dan filosofinya.

    Menurut saya, kamus berbeda dengan kebanyakan karya-karya tulis lainnya yang dipandang lebih baik ada meskipun kurang daripada tiada (nibak putoh got geuenteng, nibah buta got juleng). Kamus bukan opini. Kamus harus terkodefikasi secara baku. Abdul Djunaidi (almarhum), terkait dengan prinsip pemilihan kata mengatakan bahwa prinsip pertama penggunaan kata adalah kata-kata yang digunakan harus kata-kata yang baku. Kata yang baku adalah kata yang sudah terkodefikasi di dalam kamus suatu bahasa.

    Jadi, jika kamus suatu bahasa banyak versi; berdasarkan opini, berarti bertentangan dengan ilmu leksikografi. Jangan sarankan orang-orang membuat kamus suatu bahasa yang berbeda-beda menurut versinya masing-masing dengan pertimbangan pokoknya ada dulu karena hal itu akan merusak bahasa tersebut.

    Terima kasih atas tanggapan para pembaca artikel saya.

    Salam,
    Azwardi

    vendri said:
    Februari 6, 2010 pukul 8:38 am

    luar biasa droen… bulu tangkis d pget bulee manok hahaha… saleum beoh.. keu mandum rakan yg na dsideh

    T. Usman Gamtjut. said:
    Maret 4, 2010 pukul 8:09 am

    Krue Seumangat. Peu nyang tgk tuleih nyan beutoi, nyang ka ji peugot le awak nyan pih beutoi. Ka na daya peutamah khasanah ileumei, pat nyang salah, geutanyou peubeutoi, pat ureung nyang ka sampurna. Lon tuwan pih teungoh peugot qamus aceh – indonesia. Mangat jeut, mandum ta cuba peugot qamus, sabab laen gampong laen bahsa, bahpih asai usui bahsa Aceh nibak Bahsa Aceh Pase, Bahsa Melayu Aceh. Tei ka tadong keudrou teuma, jeut na nyang ato. Lagei ureung tuha peugah: “ie raya ban saboh blang, ie seumbahyang seb saboh tima” Saleum lon. Udep sare, mate syahid.

    imam said:
    April 4, 2010 pukul 5:30 am

    saya orang Jawa, pengin belajar Bhsa Aceh.. adakah Kamus praktisnya di website?? tlong bantu saya..

    syara said:
    Juni 28, 2010 pukul 8:29 am

    halo,link kamusa aceh nya ga bisa dibuka bil..
    masi penasaran nih ma bhs aceh, hehe

    M. Nabil Berri said:
    Juni 30, 2010 pukul 4:57 am

    Cari saja langsung di situs http://acehbooks.org

    Mochammad said:
    Oktober 23, 2010 pukul 5:31 pm

    Aslamu’alaikum Wr. Wb.

    Ketika membaca tulisan Anda sampai pada tabel-tabel, sudah saya duga teknik penyusunan KAII itu berdasarkan kata-kata dalam bahasa Inggris kemudian diterjemahkan. Ternyata semakin membaca sampai ke bawah, dugaan saya benar. Ide penyusunan kamus itu bisa dihargai, tapi proses penyusunannya yang terkesan “semabarangan”.
    Mungkin penyusunnya beranggapan bahwa membuat kamus itu mudah, padahal ada teori dan kaidah yang harus diikuti.
    Pantaslah kalau Anda meresahkan peredaran kamus itu untuk umum.

    Wasalamu’alaikum Wr. Wb.

    Mochammad

    http://mochammad4s.wordpress.com/

    http://notulabahasa.com/

    Tanbee said:
    November 7, 2010 pukul 4:08 am

    kamus aceh-indonesia-inggris…
    apakah pembuatan kamus itu disertai oleh para ahli bahasa?
    saya setuju dengan pak Azwardi, karena beliau berani kritik tentang kamus itu. kritikan beliau sangat beralasan. akan tetapi, alangkah lebih baiknya lagi apabila semua ahli bahasa Aceh dapat merevisinya kembali. kalau memang kamus itu banyak yang harus direvisi, tinggal ditarik jha dari peredaran…gitu ajha kok mumang….dari pada dampak yang diberikan oleh kamus tersebut sangat meresahkan Adat Aceh.
    ingat sob….berapa orang yang sudah tidak menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa sehari-hari? klo mang g mw ngomog kn qt bs membenahi yg salah…
    ……….
    salam sastra Aceh-Indonesia

    said banta fachrizal said:
    November 13, 2010 pukul 11:26 pm

    Alhamdulillah..

    devi eriska said:
    Februari 7, 2011 pukul 2:10 pm

    keren nih!

    Khairul Khatamy said:
    September 10, 2011 pukul 1:51 pm

    nyan kabereh….! cukop mantap bit..! kirem saleum keu syehdara yang na di sinan..! man peu haba droe neuh? lon haba get…

    aneuk nanggroe seujati.. said:
    Oktober 4, 2011 pukul 12:37 pm

    kamus pukoe leumo….
    hana jeulah meusaboh….
    salah mandum pau nyang ka kaprak…

    ka toeh laju peu-peu nyang heut…

    aneuk nanggroe seujati.. said:
    Oktober 4, 2011 pukul 12:40 pm

    Bola dalam basa aceh koen bola hy teungku..
    tapi boeh bhan…

    Hafit Syahwati said:
    November 8, 2011 pukul 5:46 am

    ass,,gimana yah cara ny bisa cepat memahami arti di bahasa aceh ini,,,ada kah cara yg efektif tuk kita2 di luar aceh agar bisa cepat mengerti bahasa aceh,,tq

      Muhammad Nazar said:
      November 14, 2011 pukul 10:58 am

      Kalau mau bisa bahasa Aceh mesti punya teman yang bisa bahasa Aceh biar pengucapannya benar kalau belajar dari kamus atau teks akan sangat sulit..

        yoki kaiko said:
        Juni 7, 2012 pukul 4:15 pm

        btul banget tueeee,,, sob,,,>>>

    hidayati said:
    Februari 7, 2012 pukul 5:29 am

    sy ingin thu ap arti dr kta
    1. blet ( terbuat dari daun klapa yg msih muda)
    2. reungkan
    3. tukok
    4. geulepak
    5.situek
    6. geulungku
    7. bara reumoh
    8. are
    9. mok
    10. toi
    tlong artikan bgi yg tau…trims

    AHMAD YAASIIN said:
    Mei 23, 2012 pukul 7:42 pm

    iya bini saya org aceh sering mondar mandir jakarta aceh tapi sampai sekarang 7 tahun susah banget bisa bahasa aceh, cari bukunya di bookstore gramedia tidak dijual sama sekali, ayo dong terbitin sama percakapan sehari-harinya, mohon konfirmasi ke 0812 8682 3171

    Abu Les Sagoe Teupin Raya said:
    Juli 20, 2012 pukul 10:46 pm

    Asai kana gob peugot kana soe bantah, jih paken han ji peugot nje jih leubeh carong dari peunulis kamuih nyan,, mungken han ji peugot karena jih termasuk biek njang rencana peugadoh bahasa atjeh ji bumoe atjeh.

    maee blang said:
    Januari 3, 2013 pukul 8:18 am

    tet ku mandum…

    kurung said:
    Januari 30, 2013 pukul 11:57 am

    thanks ya ./././..;.;

    bloggers said:
    Juli 5, 2013 pukul 6:06 am

    Wireless USB to VGA Kit is an upcoming article in which you can have choices as to what type of rack you want.
    The withstander Sergio Porrini was sent for an online football manager issue as many as possible over time.
    Different wines serve different purpose and one will slowly pick on those that work well for them over time.

    Zuar Saputra said:
    Januari 16, 2014 pukul 9:13 am

    Masih banyak yang keliru ejaan kata-kata bahasa Aceh nya, bila mngkin tolong diperbaiki.

    Trimks.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s