gemasastrin

Berbuat, bukan Berkata – BERONTAK dari yang sudah ADA

Arsip untuk April, 2009

Taman Fansuri

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada April 30, 2009

Oleh: Medri

Taman ini terlalu luas
tak berujung tergantung tak berbatas
demi hati telanjang beringas tak pernah puas
kan ku layari jua walau perahuku pecah kandas Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Puisi | 3 Komentar »

Aceh Jauh Sekali

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada April 27, 2009

Kompas, Minggu, 26 April 2009 | 03:33 WIB

oleh Azhari

azhariSebelum pemberontakan Aceh Merdeka meletus pada 1976, di Medan sudah masyhur dua lelucon tentang seorang Aceh yang pergi tamasya untuk pertama sekali ke kota itu. Kata yang punya cerita, si tokoh Aceh tak lupa membawa dua rencong untuk melindungi diri. Medan asing sekali dan jangan lupa Medan adalah kota keras. Tetapi, malang benar, dua rencong di pinggangnya itu tak kuasa melindungi dompetnya dari pencopet. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Buku, Essay | 3 Komentar »

Cahaya Hidupku

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada April 21, 2009

Puisi R. Setiawan
Kaulah cahaya penerang perjalananku
Ibarat matahari di kala siang,
engkau berganti wajah menjadi bulan saat malam
begitu butuhnya aku padamu,
begitu baik pula kamu mengiringi langkahku Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Puisi | 3 Komentar »

Vokal lam Basa Aceh

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada April 17, 2009

Lé Herman RN

hermanMeunyo minggu baroe kaleuh taulang kaji teumpat-teumpat jitubiet bunyi lam basa Aceh, uroe nyoe lon keuneuk peugah bacut meungeunai “bunyi vokal” lam basa geutanyoe. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Bahasa Daerah | Leave a Comment »

Psikopat

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada April 16, 2009

cerpen Edi Miswar Mustafa

Tak ada cela padanya dalam setiap pandangan orang lain. Bahasa yang terbit dari mulutnya penuh dengan keteraturan yang menunjukkan bahwa ia satu pribadi yang terbentuk dari keluarga dan lingkungan orang-orang berpendidikan. Ia laki-laki Pendiam. Peramah. Dan, suka menyendiri; tiga hal inilah yang selalu diingat oleh orang-orang yang mengenalnya setelah mass media memberitakan kesadisannya. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »

KONSONAN

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada April 14, 2009

Lé Herman RN

Meunyo huruh vokai lam basa Aceh geubagi dua macam, konsonan meunan cit, nyakni konsonan tunggai ngon konsonan rangkap. Konsonan tunggai na 23 boh. Konsonan rangkap na 23 boh. Teuma di sinoe, teulubèh dilè takaji konsonan tunggai. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Bahasa Daerah | 3 Komentar »

Liburan ke Pantai

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada April 10, 2009

Oleh: Edi Miswar Mustafa

Angin laut menampar wajahku. Di jauhan sana sebentuk tanah kebiruan dilingkari kebiruan laut luas tampak mengabut tenang. Tidak seperti hatiku yang sedang resah. Membayangkan dirimu pada hari-hari di bulan Januari ini. Pulau itu mungkin seperti impianku padamu. Demikian jauh. Sementara aku, aku hanya punya dua tangan dan dua kaki. Betapa tak mungkinnya aku berenang ke sana; menemuimu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »

Hikayat Pemilu

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada April 7, 2009

Geukarang le; Fuadi Syukri

meukru seumangat nanggroe Aceh lôn

nyang meubee harom ngön bungöng jeumpa

lôn karang ca’e bak keureutah sion

saleum nibak lôn mandum syeedara

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Hikayay | Leave a Comment »

Doa Seorang Mahasiswa kepada Dosennya

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada April 6, 2009

cerpen; Edi Miswar Mustafa

edi-miswarInnalillahi wa inna illahi raji’un. Dari Dialah semua segala sesuatunya ada dan dari Dialah kembalinya segala sesuatu. Semoga Engkau melapangkan kuburnya ya Allah. Semoga Engkau izinkan pencahayaan yang cukup di alam singgahan yang ketiga baginya. Semoga amal kebaikannya lebih baik dari kesia-siaan yang telah diperbuatnya selama di dunia. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | 1 Komentar »

Chum Bucket

Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada April 5, 2009

Cerpen Rauza Hindun

Dilara… itulah namaku. Kakekku yang berkebangsaan Turki memberi nama itu. Artinya tak kalah bagus… Pecinta! Dan sesuai dengan artinya, aku memang ditakdirkan untuk mencinta bukan untuk dicinta. Satu kesalahan terbesar dalam hidupku, aku memang pecinta tapi aku tidak mencintai dengan tulus, selalu berharap balik dicintai. Dan itu selalu tak pernah tercapai. Memangnya salah aku berharap begitu? Aku bukan manusia suci yang mencintai tanpa berbagi. Aku adalah manusia biasa yang nyata perlu cinta dari hati ke hati. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | 2 Komentar »