Kata dan Pembentukan Kata

Posted on Updated on

Pendahuluan

pbsiPembentukan kata dengan afiksasi merupakan sebuah pembentukan kata dari bentuk dasar ke bentuk kompleks atau bentuk berimbuhan. Proses ini merupakan proses pembubuhan afiks pada betuk dasar. Akibat dari proses ini terbentuk kata berimbuhan. Afiks dalam bahasa Indonesia dapat ditinjau berdasarkan posisi pelekatnya, afiks dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan atas prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), konfiks ( gabungan awalan dan akhiran secara bersamaan), dan simulfiks (gabungan awalan dan akhiran secara tidak bersamaan).

Sejumlah perubahan terjadi ketika adanya imbuhan dan menggabungkan dasar. Perubahan suara yang terjadi mempengaruhi imbuhan walaupunwalaupun yang kecil dan yang berkaitan dengan diskusi di masing-masing imbuhan.

Pada saat dimana pergantian terjadi dan panjang transisi periode yang berbeda dari kata ke kata. Oleh karena itu, oleh karena itu menaati dan mentaati ’taat’  terus ada pihak-pihak oleh. Sementara setelah bertahun-tahun penggunaan menerjemahkan telah diganti sepenuhnya oleh menerjemahkan dalam periode yang sangat shor pada pertengahan 1980-an.

Dalam beberapa hal. Mempengaruhi kata ,pengaruh,. Dasar dari pengaruh, mungkin hasil interpretasi dari kata memiliki awalan peN-. Namun, mempunyai memiliki dasar ’punya’ harus dianggap sebagai pengecualian dalam bahasa modern. Kaji dengan baik kemungkinan terjadi tapi berbeda dengan arti: mengaji ’yang menceritakan Al-Quran’, pengajian ’,membaca Al-Quran’ dan mengkaji ’untuk penelitian, kami melakukan studi’, pengkajian memiliki arti ’kajian, penelitian’. Dari segi tiu terjadi perbedaan arti karena terjadi pengimbuhan.

Rumusan Tujuan

Setelah materi makalah ini dipelajari secara seksama, mahasiswa diharapkan memiliki sedikit pengetahuan tentang morfologi. Baik berupa pembentukan kata atau berupa kaidah-kaidah yang terdapat dalam morfologi. Makalh ini diharapkan akan menjadi suatu bahan yang akan mendukung materi perkuliahan yang akan melengkapi tugas-tugas berikut mengenai morfologi.

BAB II

2.1 Pembentukan Kata

Pembentukan kata dengan afiksasi merupakan sebuah pembentukan kata dari bentuk dasar ke bentuk komplek atau bentuk berimbuhan. Proses ini merupakan proses pembubuhan afiks pada betuk dasar. Akibat dari proses ini terbentuk kata berimbuhan. Afiks dalam bahasa Indonesia dapat ditinjau berdasarkan posisi pelekatnya, afiks dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan atas prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), konfiks ( gabungan awalan dan akhiran secara bersamaan), dan simulfiks (gabungan awalan dan akhiran secara tidak bersamaan).

2.1.1 prefiks

Prefiks dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan atas prefiks meN-, peN-, ber-, per, ter, di-, ke-, dan se-. pembubuhan awalan tersebut dapa dilihat sebagai berikut:

a. prefiks meN-

prefiks meN-memiliki alomorf me-,mem-, men-, meny-, meng-, dan menge-. Alomorf tersebut merupakan variasi dari prefiks meN-.

1) prefiks meN- berubah menjadi me- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /l/, /r/, /m/, /n/, /ng/, /w/, dan /y/.

contoh:

meN-   + lihat              → melihat

meN-   + rasa               → merasa

2) prefiks meN- berubah menjadi mem- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /b/, /p/, /f/.

Contoh:

meN-   + bantu            → membantu

meN-   + pakai                        → memakai

meN-   + fitnah           → memfitnah

3) prefiks meN- berubah menjadi men- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /d/,/t/, /c/, /j/, /sy/,/z/

contoh:

meN-   + dengar          → mendengar

meN-   + tulis              → menulis

meN-   + cuci              → mencuci

meN-   + jual               → menjual

meN-   + syarat +-kan → mensyaratkan

meN-   + ziarah+-I      → menziarahi

4) prefiks meN- berubah menjadi meny- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /s/.

contoh:

meN-   + sewa             → menyewa

5) prefiks meN- berubah menjadi meng- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /g/, /h/,dan /k/.

contoh:

meN-   + ajar               → mengajar

meN-   + edit               → mengedit

meN-   + ukir               → mengukir

meN-   + ikat               → mengikat

meN-   + ukur              → mengukur

meN-   + olah              → mengolah

meN-   + gali               → menggali

meN-   + klasifikasi     → mengklasifikasi

6) prefiks meN- berubah menjadi menge- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang bersuku satu.

Contoh:

meN-   + pel                → mengepel

meN-   + bor                → mengebor

meN-   + cat                → mengecat

meN-   + tik                 → mengetik

meN-   + lap                → mengelap

b. prefiks peN-

prefiks peN-memiliki alomorf pe-,pem-, pen-, peny-, peng-, dan penge-. Alomorf tersebut merupakan variasi dari prefiks peN-.

1) prefiks peN- berubah menjadi pe- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /l/, /r/, /m/, /n/, /ng/, /w/, dan /y/.

contoh:

peN-    + panjat           → pemanjat

peN-    + rasa               → perasa

2) prefiks peN- berubah menjadi pem- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /b/, /p/, /f/.

Contoh:

peN-    + bantu            → pembantu

peN-    + pakai                        → pemakai

peN-    + pukul            → pemukul

3) prefiks peN- berubah menjadi pen- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /d/,/t/, /c/, /j/, /sy/,/z/

contoh:

peN-    + dengar          → pendengar

peN-    + tulis              → penulis

peN-    + cuci              → pencuci

peN-    + jual               → penjual

peN-    + jajah             → penjajah

4) prefiks peN- berubah menjadi peny- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /s/.

contoh:

peN-    + sewa             → penyewa

5) prefiks peN- berubah menjadi peng- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /g/, /h/,dan /k/.

contoh:

peN-    + ajar               → pengajar

peN-    + edit               → pengedit

peN-    + ukir               → pengukir

peN-    + ikat               → pengikat

peN-    + ukur              → pengukur

peN-    + olah              → pengolah

peN-    + gali               → penggali

peN-    + klasifikasi     → pengklasifikasi

6) prefiks peN- berubah menjadi penge- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang bersuku satu.

Contoh:

peN-    + pel                → pengepel

peN-    + bor                → pengebor

peN-    + cat                → pengecat

peN-    + tik                 → pengetik

peN-    + lap                → pengelap

c. prefiks ber-

Prefiks ber- memiliki alomorf be- dan bel- .

Prefiks ber- berubah menjadi be- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /r/ dan suku pertama ditutup dengan /er/.

Contoh:

ber- + runding → berunding

ber- + rebutan → berebutan

ber- + kerja    → bekerja

ber- + cermin → becermin

Prefiks ber- berubah menjadi bel- hanya terjadi jika d imbuhkah padabentuk dasar ajar.

Contoh:

ber- + ajar → belajar

d. prefiks per-

Prefiks per- memiliki alomorf  pe- dan pel-

Prefiks per- berubah menjadi pe- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /r/

Contoh:

Per- + redam → peredam

Per- + rasa → perasa

Per- + raga → peraga

Prefiks per- berubah menjadi pel- jika diimbuhkan pada bentuk dasar ajar.

Contoh:

Per- + ajar → pelajar

3. prefiks ter- memiliki alomorf te-

Prefiks ter- berubah menjadi te- jiak diimbuhkan pada  bertuk dasar yang berfonem awal /r/  atau suku pertama ditutup dengan /er/

Contoh:

ter- + renggut → terenggut

ter- + rasa → terasa

ter- + pergok →tepergok

e. Prefiks di-, ke-, se-.

Prefiks di-, ke-, se- tidak memiliki kaidah morfofonemik, oleh karena itu prefiks tersebut tidak mempunyai alomorf sebagaimana awalan lainnya. Awalan itu juga ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

Contoh:

di- + jemput    → dijemput

di- + kasih       → dikasih

di- + sayang    → disayang

ke- + tua          → ketua

ke- + kasih       → kekasih

se- + bapak      → sebapak

2.1.2 infiks

infiks merupakan bentuk terikat yang diimbuhkan pada bentuk dasar. Pengimbuhannya ditempatkan ditengah atau diantara bentuk dasar. Infiks dalam bahasa Indonesia antara lain: -el-, -em-, -er-, -in-.

Contoh:

-el- + tunjuk    → telunjuk

-er- + gigi        → gerigi

-em- + guruh   → gemuruh

-in- + kerja       → kinerja

2.1.3 sufiks

sufiks adalah bentuk terikat yang diimbuhkan pada akhir bentuk dasar. Sufiks dalam bahasa Indonesia adalah –an, -kan, -i. Sufiks tersebut tidak mengalami proses morfofonemik, sehingga sufiks itu tidak mengalami perubahan apabila diimbuhkan pada bentuk dasar dimanapun.

Contoh:

-an       + pikir              → pikiran

-an       + marah           → satuan

-kan     + tambah         → tambahkan

-kan     + bersih           → bersihkan

-i          + khianat         → khianati

-i          + sayang          → sayangi

2.1.4 Gabungan awalan-akhiran (konfiks/simulfiks)

Penggabungan awalan-akhiran dalam bahasa indonesia dapat dilakukan dengan dua cara. Penggabungan/pengimbuhan yang dilakukan dengan bersamaan pada bentuk dasar, gabungan awal itu dinamakan konfiks. Artinya bentuk dasar yang diimbuhkan awalan-akhiran secara bersamaan itu tidak mempunyai tataran kata sebelumnya.

Contoh:

Per-an + tani               → pertanian

Ke-an  + rajin              → kerajinan

di-kan  + kerja             → dikerjakan

ber-an  + lanjut            → berkelanjutan

pengimbuhan awalan-akhiran dalam bahasa Indonesia yang mempunyai tataran kata sebelumnya, pengimbuhan ini dinamakan simulfiks. Artinya pengimbuhan awalan-akhiran itu dilakukan secara bertahap, sehingga mempunyai tataran sebelum bentuk kompleks itu terwujud.

Contoh:

ber- + sama      → bersama + -an         → bersamaan

peN- + tani      → petani + -an            → pertanian

di- + marah      → dimarah + -I           → dimarahi

2.2 Perubahan Suara dalam kata kompleks

Sejumlah perubahan terjadi ketika adanya imbuhan dan menggabungkan dasar. Perubahan suara yang terjadi mempengaruhi imbuhan walaupunwalaupun yang kecil dan yang berkaitan dengan diskusi di masing-masing imbuhan. Simbol-simbol yang digunakan untuk suara perubahan antara lain, sebuan tanda tambah (+)menunjukkan urutan imbuhan dan bentuk dasarnya.dan tanda anak panah (→) menunjukkan hasil yang merupakan kombinasi dari pengimbuhan tersebut. Dengan demikian dapat diterangkan ber-+ lari → berlari berarti bila awal ber-dasar lari dan digabungkan hasilnyha kompleks kata berlari.

2.3 Pengecualian untuk aturan-aturan N (nasal)

a. jika prefiks meN- diikuti oleh prefiks per- awal

meN-               + per-               + lebar             → memperlebar

meN-               + per-               + oleh              → memperoleh

b. jika bentuk dasar diawali per-C, yaitu per- diikuti oleh konsonan, awal p tersebut luluh dengan tidak selalu:

meN-               + percaya         + -i                   → mempercayai

meN-               + pergok          + -i                   → memergoki

meN-               + percik           + -i                   → memerciki

c. huruf P yang dari awalan per- dan dasar awal per-C, terluluh prefiks peN- berikut:

peN-                + per-               + satu              → pemersatu

peN-                + per-               + oleh + -an     → pemerolehan

peN-                + perkosa                                 → pemerkosa

Dengan beberapa hal yang dasar awal /t/, /s/, /k/ dan tidak hilang. Jika /s/ tidak hilang menjadi N (nasal). Awal suara yang kemungkinan besar akan tetap jika masih merasa asing. Oleh karena itu ingatan dari suara umum dalam kata-kata lain dimulai dengan konsonan kelompok, yang tidak terjadi di kata dalam bahasa Indonesia.

meN-               + proklamasi +-kan                 → memproklamasikan

meN-               + traktir                                   → mentraktir

meN-               + swadaya +-kan                     → menswadayakan

meN-               + klasifikasi +-kan                   → mengklasifikasikan

fonem awal /t/, /s/, /k/ kadang-kadang disimpan di mana tidak ada awalan konsonan rangkap. Yang sangat jelas terjadi di sini adalah huruf p yang luluh apabila diimbuhkan pada bentuk meN-. Selama transisi kedua bentuk akan terjadi:

meN-               + protes                                   → memprotes, memrotes

meN-               + taat               +-i                    → mentaati, menaati

meN-               + sukses           +-kan               → mensukseskan, menyukseskan

meN-               + kritik                                                → mengkritik, mengritik

Pada saat dimana pergantian terjadi dan panjang transisi periode yang berbeda dari kata ke kata. Oleh karena itu, oleh karena itu menaati dan mentaati ’taat’  terus ada pihak-pihak oleh. Sementara setelah bertahun-tahun penggunaan menerjemahkan telah diganti sepenuhnya oleh menerjemahkan dalam periode yang sangat shor pada pertengahan 1980-an.

Dalam beberapa hal. Mempengaruhi kata ,pengaruh,. Dasar dari pengaruh, mungkin hasil interpretasi dari kata memiliki awalan peN-. Namun, mempunyai memiliki dasar ’punya’ harus dianggap sebagai pengecualian dalam bahasa modern. Kaji dengan baik kemungkinan terjadi tapi berbeda dengan arti: mengaji ’yang menceritakan Al-Quran’, pengajian ’,membaca Al-Quran’ dan mengkaji ’untuk penelitian, kami melakukan studi’, pengkajian memiliki arti ’kajian, penelitian’. Dari segi tiu terjadi perbedaan arti karena terjadi pengimbuhan.

Prefiks peng- terjadi pada kata lihat, rajin, dan lepas: seperti pada kata penglihatan ’mata’, pengrajin ’tukang’, penglepasan ’ rilis’. Selama awal tahun 1990-an ada kecenderungan untuk meningkatkan pengrajin yang akan disetarakan dengan kata perajin. Awal suku kata yang luluh dari dasar kata syair menjadi penyair. Begitulah yang merupakan pembentukan kata dai perfiks peng-.

2.4 Reduplikasi dasar meN- dan peN-

Ketika kata dasar diawali dengan meN- adalah reduplikasi N tetap pada menggandakan dasar dimana konsonan awal telah luluh.  Simbol R mewakili penuh dasar reduplikasi tersebut.

Contoh:

meN-               + bagi-R                      → membagi-bagi

meN-               + amat-R+-i                 → mengamat-amati

meN-               + minta-R                    → meminta-minta

meN-               + pijit-R                       → memijit-mijit

meN-               + tulis-R                      → menulis-nulis

meN-               + kayuh-R                   → mengayuh-ngayuh

ketika meN- adalah realisasi sebelum menge- satu suku kata dasar. Urutan menge- terjadi pada reduplikasi dasar.

Dalam reduplikasi terjadi proses pengulangan bentuk dasar baik secar utuh keseluruhan ataupun sebagian. Reduplikasi adalah proses morfemis dan proses morfologis yang mengulang bentuk dasar. Pengulangan bentuk ini membentuk kata ulang.

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Morfologi tidak pernah lepas dari kata dan kalimat. Pemebentukan kata selalu memerlukan kaidah morfofonemik. Kaidah morfofonemik yang terdapat dalam bahasa Indonesia terdiri dari meN-, peN, ber-, per-, ter-.

Huruf kapital N mewakili suara perubahan yang tergantung pada suara dasar. N dapat muncul sebagai salah satu nasal m, n, ny, ng, atau nol. Kadang-kadang sengau sebelum datang pertama suara dasar dan kadang-kadang ia menggantikan suara pertama. Atruan-aturan yang digambarkan meN- tetapi berlaku untuk peN- dan peN…-an.

meN- memiliki alomorf me-, men-, mem-, meny-, menge-, meng-.

Prefiks ber- memiliki alomorf be- dan bel- .

Prefiks ber- berubah menjadi be- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /r/ dan suku pertama ditutup dengan /er/.Prefiks per- memiliki alomorf  pe- dan pel-

Prefiks per- berubah menjadi pe- jika diimbuhkan pada bentuk dasar yang berfonem awal /r/.prefiks ter- memiliki alomorf te-.Prefiks ter- berubah menjadi te- jika diimbuhkan pada  bertuk dasar yang berfonem awal /r/  atau suku pertama ditutup dengan /er/

DAFTAR PUSTAKA

James Neil Sneddon, (1996) Indonesia Reference Grammar, Australia: First Publishing.

Tulisan ini merupakan makalah tugas kelompok, oleh:

Azrul Rizki, Arifin, Birawan Saputra, Mawardi Nunis, Citra Herlinon, Hendri, Liza Nasrah, Rahma Wati, Dastina (mahasiswa PBIS FKIP Unsyiah).

About these ads

6 pemikiran pada “Kata dan Pembentukan Kata

    idham khan berkata:
    Juni 15, 2009 pukul 4:29 am

    mungkin kalau cuma satu buku bukan daftar pustaka namanya..

    YANTI berkata:
    Juli 16, 2009 pukul 12:41 pm

    ada yang tau ga bedanya konfiks ma simulfiks?

    dela berkata:
    Agustus 5, 2012 pukul 2:24 pm

    konfis sama simulfik sama aja, kan simulfik nama lain dari konfiks

    jasmine berkata:
    Januari 28, 2013 pukul 4:13 am

    nanti boleh x buat kata dasar di…i??

    tuxlin berkata:
    Oktober 29, 2013 pukul 1:08 pm

    Nice post :)
    Salam kenal :)

    sumi berkata:
    Oktober 31, 2013 pukul 8:49 am

    Mohon penjelasan ttg kata pelajar dan belajar, bila dipisahkan suku katanya menjadi seperti apa?
    terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s