sajak Akmal MR
–kepada Decky
inilah malam kita, dik
bulan penuh
menyentuh tanah yang lusuh
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 23, 2009
sajak Akmal MR
–kepada Decky
inilah malam kita, dik
bulan penuh
menyentuh tanah yang lusuh
Ditulis dalam Puisi | 1 Komentar »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 23, 2009
Sajak: Budi Arianto
Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Membawa harum badan, tapi mengapa aroma tanah basah begitu menggoda. Apakah kau ingin mencium aroma tanah itu walau sekejap. Ah, begitu lebih sempurna sembari menunggu malam yang masih sepotong. Izinkan aku menatapmu sekali lagi. Jangan kau buat aku meragu. sebab ada yang terus melambaikan tangan. Tapi apa berarti kau ragu membalas lambaiannya.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Puisi | 2 Komentar »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 19, 2009
Oleh Safriandi, S.Pd.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang sangat sering mengungkapkan ungkapan emosionalnya, baik dalam bentuk kata, kelompok kata, maupun kalimat. Ungkapan emosional ini diucapkan di mana saja, misalnya di warung, di kedai, di sekolah, dan diucapkan oleh siapa saja, misalnya orang tua, guru, pejabat, buruh bangunan. Tampaknya dapat dikatakan bahwa ungkapan emosional ini merupakan salah bentuk kebiasaan masyarakat.
Ditulis dalam Bahasa Daerah, Opini | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 8, 2009
oleh Akmal M. Roem
Dimuat di Harian Aceh.
(Menanggapi Thayeb Loh Angen)
Tulisan ini lahir setelah membaca artikel “Sastra di Aceh Sedang Sakit” yang ditulis Thayeb Loh Angen di Harian Aceh, Minggu,25 Oktober 2009. Tulisan ini saya persembahkan bagi kaum muda yang sejatinya sakit hati karena telah gagal menulis dengan baik di media massa di Aceh. Apalagi saya yang sudah semenjak SD melumat buku-buku sastra tapi tak juga menghasilkan tulisan yang hebat seperti Marcos ataupun seromantis puisi-puisi Pablo Neruda.
Ditulis dalam Essay | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 7, 2009
Oleh; Edi Miswar Mustafa
Sejujurnya, cerita ini sebenarnya telah terjadi 30 tahun yang lalu. Saat itu aku dan kau masih muda; kehidupan yang harus terus dijalani, meskipun suka dan duka dan aku benar-benar memahami hidup ini. Kala itu aku baru-baru berkarir sebagai wartawan. Dan aku melihatmu, selalu tak pernah lepas, pada minggu-minggu pertama. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan ketika seseorang itulah yang kemudian menjadi bahagian dari kehidupanmu yang bahagia selama 29 tahun lebih.
Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »
Ditulis oleh Gemasastrin PBSID di/pada November 1, 2009
sajak-sajak Budi Art
debu-debu melekat di setiap ruang dan waktu
sedang waktu selalu saja menapaki jalannya sendiri
sementara ruang memenuhi kehampaan
haruskah debu, ruang, dan waktu menyatu dalam diri
sebentar, ada jam yang berdetak
leleh di atas ranting yang mengering
aku mesti menjenguknya
barangkali itu waktuku
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »