Kesalahan yang Tak Termaafkan
0leh: Lailul Anshari
Hari ini cuaca sangat mendung sepertinya gerimis akan turun mengguyuri tanah kelahiranku kota Banda Aceh. Awan terus mengarak pergi bersama sinar mentari yang temaram membuat langit semakin hitam, pekat dan gelap. Begitupun aku, hatiku juga terasa mendung sama seperti cuaca hari ini. Perasaanku gundah tak menentu mengingat nasib kakak kandungku satu-satunya terbaring lemah takberdaya karena penyakit yang dideritanya. Kondisinya semakin kritis semenjak penyakit kanker menghampirinya. Dokter memvonis jika penyakit yang di derita kakak tidak akan tersembuhkan lagi. Ia mengalami gejala kanker 2 tahun yang lalu, akibat ekonomi keluarganya yang kurang memadai membuat suaminya tak sanggup untuk membiayai biaya pengobatan operasi. Sebenarnya ia telah menjalani perawatan tradisional yang harga pengobatannya lebih murah, namun hal itu tak membuatnya semakin membaik.
Sudah dua minggu lebih kakak di rawat di RSU ZA kota Banda Aceh, namun ibu belum pernah sekalipun mau membesuknya. Ia seolah ogah dengan kondisi kakak sekarang. Sungguh ironis memang nasibnya sekarang. Mungkin ini semua takdir Tuhan yang telah ditulis Nya di Lauhul Mahfud.
Halte sangat ramai dengan mahasiswa yang menunggu Damri menuju Darussalam. Gerimis perlahan juga mulai berjatuhan jadinya Halte menjadi objek untuk berteduh. Sudah hampir 20 menit aku menunggu Damri, entah kenapa Damri belum juga tiba. Setelah beberapa saat menunggu kedatangan Damri, akhirnya mobil angkutan umum itupun berhenti pas di depan Halte Peurada. Kamipun berhamburan berlari menaiki Damri walaupun harus berdesakan, namun hal itu tak masalah bagi kami yang setiap pagi rela menunggu Damri.
Seperti biasanya, aku harus berdiri di dalam Damri karena kursi-kursi telah dipadati penumpang. Jam sudah menunjukkan angka 07.50 pagi, kuliah juga akan segera dimulai, namun Damri terus melaju pelan.
Teet..teet…teet..,HP ku bergetar pertanda ada yang menelpon.
Kuambil handpone segera dan kulihat di layar HP ku tertera nama Bang Ari calling. langsung kuangkat Hpku sebelum nadanya mati.
” Hallo, Assalamualaikum, ada apa Bang?”
”Ria, kamu bisa segera ke rumah sakit nggak sekarang?, kak Ina penyakitnya kambuh lagi tadi, sekarang kakak lagi diperiksa sama dokter.”
”Iya Bang bisa, Ria segera ke sana sekarang”. Klik. Aku langsung menutup telepon.
Damri telah melaju pas di simpang Mesra. Aku langsung turun dan meyodorkan uang seribuan ke kernet Damri bergegas menuju rumah sakit. Di sepanjang perjalanan air mataku terus meleleh. Labi-labi terus melaju ke arah kota. Terlintas dibenakku pesan yang di sampaikan kakak jika dia ingin sekali bertemu dengan ibu. Ia ingin mendapatkan kata maaf dari ibuku. Memang itu semua adalah kesalahan yang dilakukannya bersama abang iparku beberapa waktu dulu. Pada saat itu ia hamil diluar nikah dan dan pergi dari rumah. Semenjak saat itu rumahku semakin sepi. Kakakku satu-satunya diusir ibu, karena ibu tak sanggup menanggung malu. Keluargaku berketurunan keluarga alim di kampung kami. Apalagi ayah termasuk seorang imam mesjid dan pegawai di Kantor Syariah NAD. Ibu bersikeras tidak mau memaafkan kesalahannya. Padahal sebelumnya Kak Ina terlalu sering ke rumah untuk minta maaf, namun semua itu sia-sia belaka. Kata maaf tak kunjung didapatkannya, yang ada malah cacian dan makian dari ibu yang terus menghujaninya.
Sesaat kemudian, labi-labi yang ku tumpangi tiba di depan RZU ZA. Langsung ku pencet bel dan bergegas turun, kupercepat langkahku berjalan menuju gang tempat kak Ina di rawat. Bau rumah sakit sangat menyengat hidungku. Rumah sakit sangat ramai hari itu, entah mereka mau berobat atau hanya sekadar menjenguk teman, maupun keluarganya. Lalu lalang perawat dan dokter juga tak kalah ramainya.
Ketika aku sampai di depan kamar kakak di rawat, aku melihat abang iparku yang sedang berdiri dengan menggendong si imut anak semata wayang mereka. Ia berkulit putih dan tampan seperti ayahnya. Tampak wajah tegang diantara keduanya.
” Bang, gimana keadaan kakak sekarang?. Apa dokter sudah periksa kakak, apa kata dokter Bang?.” aku langsung memborbardir abang iparku dengan sejumlah pertanyaan karena terlalu cemas.
”Ria, tadi Ina pingsan tak sadarkan diri, Abang panik dan langsung hubungi kamu. Sekarang kakakmu masih diperiksa dokter, abang belum tahu gimana kondisinya”.
”Ria sangat khawatir dengan kondisi kakak, Bang!”.
”Semoga kakakmu baik-baik saja, kita serahkan semuanya sama Yang Maha Kuasa”.
Terlihat gurat cemas di wajah bang Arif meskipun dari nada perkataannya, ia tampak begitu tenang.
Beberapa menit kemudian, dokter pun keluar dari kamar kakak dirawat.
”Pak. Gimana kondisi Istri saya?, apa yang terjadi dengannya Dok?”
”Bapak yang sabar ya! Kondisi ibu sekarang baik-baik saja, ia Belum sadarkan diri. Ibu hanya pingsan diakibatkan fisiknya yang terlalu lemah dan banyak pikiran. Sebentar lagi juga akan siuman. Kita serahkan saja sama sang Pencipta agar diberi jalan kesembuhan”. Dokter menjelaskan dengan panjang lebar.
“Maaf, Pak permisi, saya harus periksa pasien lain”.
Dokter pun berlalu dari hadapan kami.
Air mataku menetes begitu saja mendengar penjelasan dokter tadi.
Kami pun masuk ke kamar tempat kakak di rawat. Kepalaku agak pening mencium bau obat. Seakan bau itu menusuk ke ulu hati.
Sorenya, aku langsung pamit pulang sama bang Ari. Hatiku resah tak tenang membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pikiranku terus terlintas wajah kakak yang putih pucat terbaring lemah tak berdaya, ditambah lagi kata maaf dari ibu tak pernah didapatkannya.
Malam harinya di ruang keluarga. Film Action berjudul Tuxedo yang dimainkan oleh Jacki Chan terus berlaga di layar kaca.
”Ibu kapan kira-kira ke rumah sakit untuk besuk Kak Ina?”. Aku membuka sebuah percakapan.
”Ibu tidak akan pernah ke rumah sakit, buang-buang waktu saja kalau ibu ke sana”. Nada marah terdengar dari ucapan ibu.
Aku bingung gak tau harus membujuknya seperti apa.
”Ibu, tolong maafin kakak Bu, itu semua sudah berlalu, kita tidak boleh berlarut-larut dalam bayang masa lalu”.
”Ibu, tidak tahukan gimana keadaan kakak sekarang?,. Kak Ina lagi Kritis Bu, tolong maafkan kesalahannya. Tolong pahami keadaanya Bu, please!”.
”Ria, anakku kamu tidak akan pernah ngerti gimana sakit hatinya ibu sama kakak kamu nak. Ayah kamu meninggal karena serangan jantung!, Ayah tak sanggup menanggung malu sebab kelurga kita keluarga terhormat nak, sekarang martabat kelurga kita jadi hina di mata masyarakat.”
”Asal kamu tahu, Ibu sebenarnya sayang sama kakakmu, namun apa yang dia perbuat Nak, dia mempermalukan kami. Ayahmu meninggalkan kita karena ulah kakakmu, itu terlalu pahit buat ibu.”Nada bicara ibu semakin meninggi.
”Ria, ngerti Bu, Ria tahu kesalahan yang kakak perbuat terlalu besar, tapi itu semua telah berlalu. Ibu harus tahu sekarang yang kakak perlukan hanyalah maaf dari ibu. Tolong bu, sekali saja ibu mau kerumah sakit untuk besuk kakak, kasihan kak Ina bu, Ria harap ibu bisa ngerti.”
Akupun berlalu dari hadapan ibu karena kesal. Perseteruan sengit terjadi malam itu. Aku tidak tahu harus gimana lagi meyakinkan dan mencairkan kebekuan hati seorang ibu untuk bisa memaafkan kesalahan anaknya.
Paginya. Tet,teet.teet..Hpku bunyi seseorang menelponku. Tertera di layar Handphoneku Bang Ari calling.
” Ria kakakmu telah tiada, kakak telah kembali padaNya. Kamu segera ke rumah sakit ya Dik! ”
”Innalillahi rajiun….”
Otakku langsung beku dengar telepon dari abang iparku. Wajahku pucat. Lidahku sekaan bisu tak bisa berkata-kata. Tubuhku menggigil. Aku pening seakan-akan banyak kunang-kunang di mataku, aku akan roboh seketika. Air mataku terus meleleh membasahi jilbab Jinggaku. Dadaku sesak.
”Ya Allah, kenapa ini harus terjadi padanya, ampunkan dosanya Ya Rab.”
Sesaat kemudian aku menuju rumah sakit. Beberapa teman kampus mengantarku ke RSU ZA karena aku sempat pingsan di depan RKU 3. Di kamar kakak terdengar isak tangis, disana sudah ramai sanak saudara. Di kamar itu pula mayat kakak terbujur kaku, dan ibu telah berdiri di sampingnya.
” Ria, ibu nyesal tidak mau dengar perkataanmu semalam nak. Ibu belum sempat bicara dengannya, ibu tidak menyangka dia akan pergi secepat itu.”
”Iya bu, kita harus sabar ini semua kehendak Yang Maha Kuasa.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku menangis sesenggukan, mataku sembab, air mata terus meleleh tiada henti. Kubuka tas ransel Exsport dan kuambil secarik amplop surat yang terselip di dalam tasku.
” Ini ada surat dari kakak untuk ibu, semalam Ria lupa kasih”.
Kepada Ibundaku tersayang
Dari ananda Ina
Assalamualaikum
Ibu apa kabar? Ananda harap ibu selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Ananda kangen sekali sama ibu, kangen akan canda tawa ibu. Ananda kangen dengan kecupan dan pelukan hangat ibu. Sangat lama Ina tak dengar petuah ibu yang biasanya setiap kali kita berkumpul ibu selalu mengingatkan kami.
Sekarang ananda redup kehilangan cahaya penerang. Titik terang itu redup semenjak ananda tidak pernah bertemu ibu lagi. Ananda minta maaf yang sedalam-dalamnya karena pernah menggores luka di hati ibu. Ananda tahu, Ina anak yang tidak penurut. Ina sangat menyesal dan bersalah pada ibu. Tolong beri sedikit cahaya itu bu, ananda khilaf. Maaf yang sebesar-besarnya ingin Ina sampaikan sama ibu. Lewat baris dan kata ini ananda hanya bisa ungkapkan isi hati ananda. Tak tahu rasa bersalah itu harus gimana ananda hapus.
Ibu, Ina sekarang memiliki seorang anak dari buah cinta ananda dengan mas Ari. Kami beri namanya seperti nama ayah, Putra Yusul Al Hafiz. Dia baru berumur 2 tahun. Harap ibu bisa menerima kehadirannya sebagai cucu ibu. Putra bukan anak haram bu. Setelah beberapa tahun silam Ina pergi dengan mas Ari, Allah berkendak lain, janin Ina keguguran. Harap ibu ngerti dengan keadaan sekarang.
Ina sayang sama ibu. Kini Ina lemah tak berdaya dengan penyakit yang Ina derita. Mungkin ini karma yang harus Ina terima karena pernah menggores luka yang dalam di hati ibu. Sekali lagi Ina ucapkan maaf yang sedalam-dalamnya. Ananda harap ibu mengerti.
Salam sayang
Ina
mantep banget….
jjr ku jd terharu bacanya, sampe gk sadar mengalir air mata ini..