Menjadi Wartawan

Posted on

Oleh Ampuh Devayan

Refleksi Peringatan HPN  dan MILAD
Serambi Indonesia
(9 Februari  2012).

Selama 23 tahun aku berhidmat jadi wartawan.

Seorang teman memberikan perumpamaan menarik terhadap tugas Pers. Katanya, kalau Aceh ini diumpamakan satu mobil/bus, maka pemerintah adalah Sopir sedang rakyat adalah penumpangnya. Ketika sopir memacu bus dengan kecepatan tinggi apalagi ugal-ugalan, maka penumpang harus berteriak mengingatkan Pak Sopir.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang berteriak ini adalah Pers. la harus mengingatkan pemerintah, sekiranya kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah sudah menyimpang. Kalau penumpang tak berteriak, bisa-bisa kit celaka semuanya. Dan kita memang butuh orang-orang yang mau berteriak.

Sayangnya “teriakan” pers sering dianggap keterlaluan.Bahkan, tak sedikit yang antipati dan berupaya memusnakan Pers. Kasus kekerasan bahkan pembunuhan terhadap kaum wartawan, dan terakhir di Aceh Timur (Selasa, 7/02/2012) wartwan dipukul adalah cermin atas realitas masyarakat yang belum memahaminya tugas-tugas Pers.

Sisi lain, banyak yang masih memandang Pers dengan kacamata “minus”, boleh-jadi karena wartawan yang mengemban tugas sebagai “tukang teriak” tidak mampu menempatkan posis, funngsi dan perannya sebagai “penumpang” mobil.

Pers memang harus berteriak jika sopir melenceng. Itu yang diakui  mantan Presiden AS Thomas Jeferson. Ia berterus terang, bahwa kalau ia disuruh memilih antara Pemerintah tanpa Pers atau Pers tanpa Pemerintah, maka akan memilih Pers. Tapi pers yang bagaimana? Di sinilah pentingnya kearifan insan pers sehingga teriakannya jangan sampai aparatur pemerintah menjadi putus asa.

Pers akan beruntung apabila mampu menjalankan fungsinya sebagai peneriak dalam menganjurkan kebaikan dan pencegah dari kemungkaran. Sesuai firman Allah swt; “Hendaknya ada di antara segolongan kamu yang mengajak untuk berbuat baik, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Mereka termasuk orang yang beruntung”.

Ayat tersebut saya sebut anggap khusus untuk kaum profesi wartawan—sebagai landasan moral untuk menjalan profesi wartawan bagi perbaikan keadaan, mengajak manusia kepada jalan benar dengan hikmah dan bijaksana.

Ada tugas paling esensi seorang wartawan, yaitu mengemban tugas kerasulan. Meminjam perkataan Prof DR Tgk Muslim Ibrahim, Ketua MPU Aceh, bahwa wartawan itu sesungguhnya mengemban tugas-tugas “kerasulan”, apabila dalam melakukan tugasnya mempedomani empat sifat kerasulan. Pertama, Siddiq (berkata atau menulis yang benar), kedua Tabliq (menyampaikan apa adanya), ketiga Amanah (jujur), dan keempat Fatanah (cerdas dan bijaksana). “Apabila wartawan memiliki keempat sifat tersebut dalam menjalankan pekerjaan jusnalistiknya, maka sempumalah ‘kerasulan jumalistiknya” Jika menggunakan sifat-sifat Rasulullah tadi, pers benar-benar akan menjadi kekuatan keempat di suatu negara.

Menurut guru besar IAIN Ar-Raniry itu, wartawan harus menulis suatu fakta dengan dilandasi idealisme dan kejujuran. Fakta tersebut disajikan apa adanya. Namun adakalanya kebenaran tersebut tidak semua dapat dikatakan. Karenanya seorang wartawan harus mencerdasi dengan bijak terhadap obyek yang dilihatnya dengan sifat Fatanah. “Jangan sampai dengan sengaja menyakitkan hati orang,” imbuhnya

Menyampaikan suatu informasi dengan hikmah merupakan cara agar  masyarakat pembaca mendapatkan informasi sesuai dengan harapannya. Semuanya dengan mudah bisa dicerna. Keadaan ini juga untuk menghindari salah tafsir dari suatu informasi.Maka perlu dirumuskan suatu kode etik jumalistik baru yang mengadopsi sifat-sifat nabi itu. Khusus kita di Aceh, kode etik jumalistiknya kita ganti dengan nama “akhlak wartawan”.

Pers adalah katalisator yang mampu mencairkan kebekuan, menguatkan kelemahan, mencerahkan kegelapan, menciptakan agar satu sama lain tidak terputus. Akhlak wartawan itulah yang mampu menjadi filter atas semangat tersebut. Semangat yang mendorong publiknya mau membaca dan memperbaiki diri dan memahami hidup mereka supaya bermakna.

Wartawan harus bijak dan berakhla. Jika tidak, profesi kewartanan sebagai penyampai khabar, akan berubah menjadi “lalat merah” yang suka menebar firnah.

Kaum wartawan, seperti kata Rosohan Anwar (almarhum) salah seorang panisepuh pers, mengingatkan bahwa wartawan tidak banyak jumlahnya di tanah air ini. Sekelompok kecil yang penghidupannya tidak pula dapat dikatakan sudah baik. Namun wartawan adalah pewaris tradisi sejarah perjuangan dari generasi wartawan mulai zaman penjajahan dulu yang membaktikan diri mereka kepada rakyat.  Untuk cita-cita kemerdekaan mereka dulu sanggup berkorban, untuk cita-cita adil dan makmur yang diridhai Allah swt tentu harus lebih berkorban.

Itu pula yang mengingatkan saya pada satu novel “Hujan Pagi” yang ditulis A. Samad Said. Satu kalimatnya,  “Wartawan sejati bukan makan gaji tetapi banyak makan hati.”

Hujan Pagi, gambaran atas pekerjaan wartawan bukanlah suatu yang jatuh dari langit. Proses pembentukan menjadi wartawan tidaklah tunggal dan monolitik, tapi harus melalui jalan panjang berliku, penuh tantangan. Kadang tak semua bisa melewatinya dengan selamat.

Sebagai wartawan adalah pemanggul amanah-amanah rakyat. Maka hati, otak, tangan dan kakinya, harus terus bergerak melayani secara seimbang. Di sini dibutuhkan keberanian, kesungguhan, dedikasi dan loyalitas tinggi untuk mempertahankan dan memperjuangkan cita-cita yang diembannya.

Resiko dan bahaya mengiringi setiap tindakan, kecermatan berhitung dengan resiko adalah seni untuk tetap survive. Inilah yang harus dilewati para wartawan.

Menjadi wartawan harus terus menerus mengaktualisasi diri, memperkaya ide dan gagasan melalui artikulasi nalar kritis. Lalu merefleksikannya dalam bentuk tindakan, berupa tulisan atau laporan-laporan. Itu merupakan bagian pertanggungjawaban pribadi yang harus ia penuhi secara kontan, apakah itu untuk tempatnya bekerja maupun publik. Dengan sikap ini, sesungguhnya ia menjaga keberlangsungan eksistensinya.

Menjadi wartawan sejati harus memainkan sekian banyak kepentingan. Terkadang kepentingan itu berbeda dan berbenturan, namun kepentingan wartawan adalah rakyat dan kecerdasan, kebenaran dan keadilan. Itu harus menjadi tujuan utama yang tak bisa dikalahkan siapa pun, termasuk kepentingan dirinya. Ini yang tak semua siap atas profesi wartawan.

Betapa banyak wartawan yang mashur, beken dan kaya secara material, tapi mereka gagal mengawal dirinya dan rakyat ini. Untuk itu wartawan yang sejati harus dimulai dari proses “mendidik diri”. Sebab wartawan sama dengan pendidik. Mereka menghasilkan karya intelektual, menyuarakan kebenaran, mencegah kemungkaran dan menggiring kepada kebajikan.

Wartawan menulis untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat. “Wartawan bertugas mengingatkan si kaya, menghibur si papa,” ujar Sjamsul Kahar, wartawan senior di Aceh. Inilah standar kompetensi moral seorang wartawan. Dalam kacamata Atok, konteks sekarang, wartawan juga harus bisa ikut membangun daerah. Melalui penanya, kaum pers harus mampu memberikan warna terhadap pembangunan masyarakat.

Lalu, kita wartawan bagaimana menyikapinya. Adakah moral itu masih melekat, ketika pers begitu bebas, ruang-ruang “menggoda” begitu terbuka? Atau ketika menyimak “kelakuan” banyak wartawan yang tak lagi mencerminkan moral? Ketika wartawan menjadi bagian dari kekuasaan, “melacurkan” profesi demi kepentingan sesaat. Kalau sudah begitu, apa yang dibanggakan wartawan?

Kita tentu tidak dapat menerima prinsip kemerdekaan pers seperti itu. Di banyak negara Barat pun, tidak menganut kemerdekaan pers seperti itu. Meski mereka menganut sekularisme, agama masih dianggap sebagai wilayah yang harus dihormati sehingga tidak boleh dihina atau dilecehkan, termasuk nilai-nilai yang terkandung dalam setiap agama.

Di era tanpa surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP), siapa pun bebas menerbitkan apa saja, termasuk yang nyrempet-nyrempet, di sini masih perlu suatu pertanggungjawaban moral. Sebab sebebas apa pun, harus ada batasan karya pers. Tidak soal apa itu diatur dalam KEWI (kode etik wartawan Indonesia) atau tidak, wartawan memiliki standar moral dan budaya yaitu hati-nuraninya.

Seperti diingatkan Rosihan Anwar, bahwa wartawan bukanlah bekerja dalam ruang hampa, melain dalam sebuah sistem yang luas dan kompleks (politik, ekonomi, sosial-budaya). Juga di tengah hamparan berbagai keyakinan dan konvensi yang berlaku. Sebagai wartawan, haruslah menjadi bagian semua yang berlaku itu, bukan cuma bagian dari kekuasan atau penguasa. Ini penting digugat-ulang pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) setiap tanggal 9 Februari. Musim boleh bertukar, generasi silih berganti tapi ruh wartawan tak boleh mati.

Selamat Hari Pers

* Ampuh Devayan adalah wartawan Harian Serambi Indonesia, alumni Gemasastrin FKIP Unsyiah

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s