Suara Azan dalam Lonceng Gereja
Dua sejoli sedang mabuk asmara. Rasa rindu antara Amiruddin dengan Ramayati seperti prangko. Selalu menempel dan tidak bisa dipisahkan.Usianya masih 15 tahun. Kita menyebutnya cinta monyet. Lalu berpuluh tahun kemudian mereka berpisah. Dan tanpa sengaja, dua remaja itu bersua lagi dalam usia pemuda. Amiruddin yang Islam sangat mencintai Ramayati yang Katolik. Toleransi yang dibangun menghapus sekat-sekat.
Hasan Tiro, Kisah (Tak) Usang
Memahami Orang Aceh Melalui Peribahasa
Merekam Cinta Kelamin, Nasi Kotak, dan Peradaban Kita
Oleh Edi Miswar Mustafa
Judul buku : Lelaki di Gerbang Kampung
Kurator : Budi Arianto dan Mukhlis A. Hamid (ed.)
Hal : 188 halaman
Penerbit : Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia, Unsyiah
Cetakan Pertama : April 2010
Karya sastra hadir ke tengah-tengah kita melalui proses merekam. Pengarang dalam sadar dan ketidaksadarannya telah mencampuradukkan pelbagai kenyataan yang pernah dialaminya, diamatinya, didengarnya, ataupun yang pernah diimpikannya pada suatu malam yang tenang ke dalam karya-karya mereka. Oleh karenanya, kita menemukan ‘wacana gado-gado’ yang riang, kisruh, memesona, gempita, melebur menjadi satu, yang terkadang dapat kita ikuti secara segar. Namun, di lain waktu, kita seakan-akan digiring gelisah ke dalam dunia teks yang antah berantah itu.
Mereka Sedang Bercerita
Catatan Mukhlis A. Hamid dan Sulaiman Tripa
………
MUNGKIN, sudahlah, tak perlu diperdebatkan. Buku yang berisi enam belas cerita pendek ini boleh dibaca oleh siapa saja. Sebagai bahan bacaan, maka sebenarnya, adalah warna lain dari usaha penulis untuk bercerita. Ya, bercerita, selain dengan tutur, juga dikenal dengan tulisan. Maka ketika para penulisnya sedang menuliskan cerita pendek, dapat dipastikan kalau mereka sedang bercerita.
Aceh di Balik Kacamata Rayben Urang Sunda
Edi Miswar
Sebulan, setelah tenda darurat 800-an pengungsi musibah tsunami berdiri, tiba-tiba seorang nenek, dua orang cucu, dan seorang perempuan yang diaku sebagai menantu si nenek datang ke titik pengungsian di Mesjid Kopelma Darussalam, Banda Aceh. Mereka mengaku korban tsunami. Tapi, empat tahun usai ‘air raya kh’op’ itu mereka masih tinggal di pengungsian di bantaran krueng Aceh. Mereka menanti janji bantuan rumah di kawasan Ladong, Aceh Besar.
Aceh Jauh Sekali
Kompas, Minggu, 26 April 2009 | 03:33 WIB
oleh Azhari
Sebelum pemberontakan Aceh Merdeka meletus pada 1976, di Medan sudah masyhur dua lelucon tentang seorang Aceh yang pergi tamasya untuk pertama sekali ke kota itu. Kata yang punya cerita, si tokoh Aceh tak lupa membawa dua rencong untuk melindungi diri. Medan asing sekali dan jangan lupa Medan adalah kota keras. Tetapi, malang benar, dua rencong di pinggangnya itu tak kuasa melindungi dompetnya dari pencopet. (lagi…)
Membela Hutan Lewat Puisi
Judul Buku : Antara Ketambe dan Suak Belimbing
Antologi Puisi
Penulis : Basri Emka dan Darwin Baharuddin
Rancang Cover : Myblue Design
Penerbit : Aliansi Sastrawan Aceh
Tebal Buku : 86 + xii dan cover
Cetakan : Pertama 2008
Perih, duka, dan amarah saat melihat hutan “digerayangi” secara membabi buta oleh tangan-tangan kokoh tak bertanggung jawab. Segala macam bentuk umpatan dan makian kepada penebang hutan ilegal sudah menjadi rahasia umum. Pasalnya, jika dulu kita hanya mengenal banjir bandang kiriman setiap akhir tahun, kenyataannya sekarang, penebangan hutan menimbulkan petaka baru bagi masyarakat yang hidup di pinggir hutan. Satwa-satwa yang hidup bebas dan liar dalam hutan mulai memasuki pemukiman manusia. Tak ayal, korban serangan buaya, harimau, dan gajah, menjadi cerita baru dari sebuah akibat penebangan liar. Akhirnya, terbentuklah sejumlah LSM yang bergerak di bidang lingkungan demi menjaga kelestarian hutan. Di Aceh sendiri tercatat belasan LSM lingkugan hidup, seperti BPKEL, Silfa Aceh, Rimueng Lam Kaluet, dan lain-lain. Aktivis-aktivis lingkungan pun semakinn banyak. Mereka seolah memekik “Hentikan penebangan hutan!” (lagi…)


Sembilan Komentar Terakhir