Lagu Aceh VS Lagu Bahasa Aceh
Adat Peuayôn Aneuk
[sumber : Harian Aceh, 22 April 2012]
oleh Mawardi
Adat peuayôn aneuk adalah salah satu kebiasan orang Aceh dalam kegiatan menidurkan anaknya ke dalam ayunan, ayunan hanya diikat pada tiang rumah (rumah Aceh dulu) dengan tali serabut kelapa (taloe tapéh) dan dikaitkan kain sarung. Seiring perkembangan zaman banyak ayunan yang dibuat dari besi, dalam bahasa aceh disebut ‘caw’iek’ dan dikaikat dengan kain sarung. Dalam kegiatan peuayôn aneuk ini, sang ibu mendendangkan syair puji-pujian kepada Allah swt. dan salawat salam kepada Nabi Muhammad saw. Dalam syair-syair yang didendangkan banyak berisikan larangan dan himbauan kepada sang anak, dan percaya tidak percaya kurun waktu lima belas menit sang anak langsung tertidur pulas.
Meubalah Pantôn
oleh Herman RN
[Serambi Indonesia, 4 Maret 2012]
“Nyoe pat lon, Tuan Bisan!”
“Ka abéh, Tuan Bisan?”
“Seulapéh, Tuan Bisan!”
Menjadi Wartawan
Oleh Ampuh Devayan
Refleksi Peringatan HPN dan MILAD
Serambi Indonesia (9 Februari 2012).
Selama 23 tahun aku berhidmat jadi wartawan.
Seorang teman memberikan perumpamaan menarik terhadap tugas Pers. Katanya, kalau Aceh ini diumpamakan satu mobil/bus, maka pemerintah adalah Sopir sedang rakyat adalah penumpangnya. Ketika sopir memacu bus dengan kecepatan tinggi apalagi ugal-ugalan, maka penumpang harus berteriak mengingatkan Pak Sopir.
IBU
oleh Ani Afrah S.
Berbicara tentang ibu, langsung terbayang pada seseorang yang tidak pernah tergantikan jasa dan pengorbanannya. Pengorbanan ibu sungguh luar biasa, tidak ada yang sanggup membalasnya walaupun kita memberi harta benda dan materi yang berlimpah sekalipun. Mulai dari mengandung, selama sembilan bulan ibu terus membawa kita ke manapun ia pergi. Kemudian saat ia melahirkan, pernahkah kita membayangkan bagaimana rasa sakit yang ia rasakan kala itu, seluruh tenaga dicurahkan agar kita terlahir ke dunia dengan selamat meskipun nyawa menjadi taruhannya.
Melestarikan Bahasa dengan Sastra Lokal
Oleh Hendra Kasmi
“Bertahan atau tidaknya suatu bahasa sangat tergantung pada pemakai bahasa itu sendiri, “ ungkap Teguh Santoso, Kepala Pusat Balai Bahasa Banda Aceh dalam Pelatihan Pemberdayaan Guru di Gedung BPKP di Lubuk, Aceh Besar, Sabtu (19/11). Dalam presentasinya tentang konsep bahasa, beliau mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib Bahasa Aceh ke depan, salah satu bahasa suku yang dominan dipakai di provinsi paling barat ini. Selain bahasa Aceh, masih ada tujuh bahasa lainnya yang telah berakar lama di Tanah Rencong, yakni bahasa Gayo, Aneuk Jamee, Kluet, Haloban, Devayan, Tamiang, dan Alas. Semua bahasa itu yang jika dilihat dari jumlah penuturnya, diprediksi tak akan bertahan lama.
HADIH MAJA DALAM KEHIDUPAN ORANG ACEH
Oleh Iqbal Gubey
[sumber: Harian Aceh, 20 November 2011]
Membahas sisi budaya Aceh, tentunya tak pernah lekang dengan nilai islami. Tanah yang dikenal dengan serambi mekah memiliki beberapa kekayaan. Baik itu dalam bentuk tulisan, lisan, dan benda. Salah satunya puisi lisan—hadih maja—telah membangun tataruang untuk menggambarkan keacehan masyarakat Aceh. Diungkapkan dalam kalimat yang pendek, hadih maja itu disarikan dari pengalaman yang panjang; disajikan dalam bahasa yang indah; bersajak agar mudah diingat dan senang diucapkan. Perkembangannya pun telah melahirkan asas acuan sumber nilai bagi masyarakat Aceh yaitu aqidah, ibadah, dan amaliah.
Mahar Adat Aceh
[Serambi Indonesia, 30 Oktober 2011]
Oleh Herman RN
KENAIKAN harga emas di pasaran benar-benar telah menjadi hantu yang sangat menakutkan, terutama di Aceh, khusus lagi bagi para bujang. Emas yang dijadikan sebagai ketentuan mahar dalam adat Aceh kerap menjadi pembicaraan hangat di daerah yang belakangan terkenal dengan batu emasnya ini.
Rukok Uroe Raya
Ingatlah Tuan!
[Serambi Indonesia, 18 Agustus 2011]

Sembilan Komentar Terakhir