<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>gemasastrin</title>
	<atom:link href="http://gemasastrin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gemasastrin.wordpress.com</link>
	<description>Berbuat, bukan Berkata - BERONTAK dari yang sudah ADA</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Nov 2009 11:24:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='gemasastrin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e6288cfe2a33b435844b719dabcf32d6?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>gemasastrin</title>
		<link>http://gemasastrin.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>November Rain</title>
		<link>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/23/november-rain/</link>
		<comments>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/23/november-rain/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 11:24:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gemasastrin PBSID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemasastrin.wordpress.com/?p=914</guid>
		<description><![CDATA[sajak Akmal MR
&#8211;kepada Decky
&#160;
inilah malam kita, dik
bulan penuh
menyentuh tanah yang lusuh

tapi, ketika wajah murungmu itu tampak
hujan berhenti di sini
maka aku tak akan bisa melihat lagi bulan penuh
seperti pinta kau saat aku rindu padamu
&#160;
benarkah hujan membawa berkah?
tapi petir di mana-mana
gelisah tiba-tiba memburu
&#160;
dan
sepertinya malam ini
bulan lanyap
&#160;
UK, 05.11.2009
&#160;
&#160;
Ada sesuatu yang baru saja aku ingat, 
Tapi, tiba-tiba hilang begitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=914&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sajak Akmal MR</p>
<p><em>&#8211;kepada Decky</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>inilah malam kita, dik</p>
<p>bulan penuh</p>
<p>menyentuh tanah yang lusuh</p>
<p><span id="more-914"></span></p>
<p>tapi, ketika wajah murungmu itu tampak</p>
<p>hujan berhenti di sini</p>
<p>maka aku tak akan bisa melihat lagi bulan penuh</p>
<p>seperti pinta kau saat aku rindu padamu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>benarkah hujan membawa berkah?</p>
<p>tapi petir di mana-mana</p>
<p>gelisah tiba-tiba memburu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>dan</p>
<p>sepertinya malam ini</p>
<p>bulan lanyap</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>UK, 05.11.2009</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ada sesuatu yang baru saja aku ingat, </strong></p>
<p><strong>Tapi, tiba-tiba hilang begitu saja!</strong></p>
<p>&#8211; <em>kepada Akang</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sungguh muram wajah si perempuan</p>
<p>dan laki-laki di bawah pohon itu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kata mereka; “separuh dahagaku lanyap, jika masih ada kau di sini!”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>aku merasa ada yang tidak utuh</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>si perempuan melihat ke atas pohon</p>
<p>si laki-laki menunduk</p>
<p>kata mereka; “tempat ini, sekarang, seperti tumpukan sampah jalang”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kau tak akan kembali lagi kesini, bukan?</p>
<p>tak lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darussalam, 20 Oktober 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gemasastrin.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gemasastrin.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gemasastrin.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gemasastrin.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gemasastrin.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gemasastrin.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gemasastrin.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gemasastrin.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gemasastrin.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gemasastrin.wordpress.com/914/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=914&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/23/november-rain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30af9f1f3ea62a634d8ddd687a52eed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gemasastrin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LELAKI PENCATAT KEMATIAN</title>
		<link>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/23/lelaki-pencatat-kematian/</link>
		<comments>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/23/lelaki-pencatat-kematian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 04:07:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gemasastrin PBSID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemasastrin.wordpress.com/?p=912</guid>
		<description><![CDATA[Sajak: Budi Arianto
Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Membawa harum badan, tapi mengapa aroma tanah basah begitu menggoda. Apakah kau ingin mencium aroma tanah itu walau sekejap. Ah, begitu lebih sempurna sembari menunggu malam yang masih sepotong. Izinkan aku menatapmu sekali lagi. Jangan kau buat aku meragu. sebab ada yang terus melambaikan tangan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=912&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sajak: Budi Arianto</p>
<p>Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Membawa harum badan, tapi mengapa aroma tanah basah begitu menggoda. Apakah kau ingin mencium aroma tanah itu walau sekejap. Ah, begitu lebih sempurna sembari menunggu malam yang masih sepotong. Izinkan aku menatapmu sekali lagi. Jangan kau buat aku meragu. sebab ada yang terus melambaikan tangan. Tapi apa berarti kau ragu membalas lambaiannya.<br />
<span id="more-912"></span>Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Sebab tak kudengar derit sepatu yang terseret. Selain hembusan angin yang tiba-tiba mengantar kabut. Menyayat-nyayat. Tapi benarkah kau telah menemukan suara sunyi. Seperti yang selalu kau tulis dalam sajak-sajak. Sepertinya aku menangkap isyarat itu. Aku tak kuasa menolaknya.</p>
<p>***</p>
<p>Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Sambil mengenang sebuah sajak yang ia tulis sebelum malam:<br />
Kau membuatku gelisah<br />
Lelaki yang menantang malam<br />
Sendiri dalam sepi<br />
Memuja rindu dalam irama kelu</p>
<p>Ingin benar  memanah mendung<br />
Agar gerimis memburai rintik<br />
Tapi yang tersisa hanya kabut yang memagut<br />
Meronta dalam kelam yang kian mencekam</p>
<p>Ah, barangkali bulan akan lahir dari rahim langit yang menghitam<br />
Padamu akan kukirim perasaan-perasaan yang membelenggu<br />
Tapi kenapa  angin hadir tak berkabar tentangmu<br />
Lelaki yang menantang malam, berkalut larut</p>
<p>***</p>
<p>Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Sajak yang terlipat-lipat ia campakkan pada kedalaman sepi. Kau terlalu lelah menghitung kematian-kematian. Aku tahu kematian-kematian adalah keindahan menuju sebuah perjamuan. Sekristal air menghiasi pelupuk mata. Tidak, aku tidak sedang menangisi kematian-kematian yang selalu kucatat.  Tapi menangisi diriku. Menangisi kematianku kelak. Maukah kau mencatat. Bisu. Diam. Beku. Lolongan anjing dan bunga-bunga bertabur.</p>
<p>Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Sesiapa mengetuk pintu. Nafas tersengal. Wajah memutih kapas. Barangkali kau hadir mengiringiku. Terbata membatu kau bertanya. Hanya degup jantung yang kian memicu. Tidak, bukan menjemput. Tak pula mengiring, sebab yang mengetuk pintu adalah aku. Lalu siapa yang membuka pintu.</p>
<p>Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Menari-nari dalam sebuah taman. Bunga-bunga bertabur. Sungai-sungai ngalir. Wajah-wajah senyum tergores dari orang yang kematiannya ia catat.  Wajah-wajah menyambut penuh kasih. Tak sesiapa menyapa. Selain melambai-lambai. Mengajak terus menari. Menari. Dalam tarian-tarian sunyi.</p>
<p>***</p>
<p>Lelaki itu berjalan, oh bukan barangkali ia terbang. Tiba-tiba ia terkejut. Di sebuah rumah berwarna putih. Beranjang putih. Seluruh tubuhnya  menggigil. Lalu teriak. Tak sesiapa dengar teriakan. Ia edar pandang. Ia saksikan orang-orang yang telah ia catat kematiannya. Mengelilingi tubuhnya. Ia siuman. Ia siuman. Sebut salah seorang diantara kerumunan itu. Kerumunan itupun mengurai senyum.</p>
<p>Lelaki itu berjalan, oh bukan barangkali ia terbang. Ia senyum. Di sudut matanya mengembun air. Lalu ia kembali menutup mata. Perlahan. Sepotong malam telah ia temukan. Harum baunya. Dan malam kian menua. Kian menua. Lalu sunyi.</p>
<p>Yogyakarta,  November 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gemasastrin.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gemasastrin.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gemasastrin.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gemasastrin.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gemasastrin.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gemasastrin.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gemasastrin.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gemasastrin.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gemasastrin.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gemasastrin.wordpress.com/912/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=912&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/23/lelaki-pencatat-kematian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30af9f1f3ea62a634d8ddd687a52eed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gemasastrin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ungkapan-ungkapan Emosional dalam Bahasa Aceh</title>
		<link>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/19/ungkapan-ungkapan-emosional-dalam-bahasa-aceh/</link>
		<comments>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/19/ungkapan-ungkapan-emosional-dalam-bahasa-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 02:01:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gemasastrin PBSID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemasastrin.wordpress.com/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Safriandi, S.Pd.
 
Dalam kehidupan sehari-hari, orang sangat sering mengungkapkan ungkapan emosionalnya, baik dalam bentuk kata, kelompok kata, maupun kalimat. Ungkapan emosional ini diucapkan di mana saja, misalnya di warung, di kedai, di sekolah, dan diucapkan oleh siapa saja, misalnya orang tua, guru, pejabat, buruh bangunan. Tampaknya dapat dikatakan bahwa ungkapan emosional ini merupakan salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=907&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh Safriandi, S.Pd.</p>
<p><em> </em></p>
<p><a href="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/11/andi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-909" title="Andi" src="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/11/andi.jpg?w=158&#038;h=201" alt="" width="158" height="201" /></a>Dalam kehidupan sehari-hari, orang sangat sering mengungkapkan ungkapan emosionalnya, baik dalam bentuk kata, kelompok kata, maupun kalimat. Ungkapan emosional ini diucapkan di mana saja, misalnya di warung, di kedai, di sekolah, dan diucapkan oleh siapa saja, misalnya orang tua, guru, pejabat, buruh bangunan. Tampaknya dapat dikatakan bahwa ungkapan emosional ini merupakan salah bentuk kebiasaan masyarakat.</p>
<p><span id="more-907"></span></p>
<p>Satu hal yang tak dapat dipungkiri adalah setiap bahasa di dunia ini tentu saja memiliki ungkapan-ungkapan emosional . Ungkapan-ungkapan ini dipakai dalam berbagai tempat dan situasi. Sebut saja misalnya bahasa Indonesia. Bahasa ini memiliki ungkapan-ungkapan emosional, seperti <em>sialan, bajingan, pantengong, anak bau kencur.</em> Bukan hanya bahasa Indonesia, bahasa yang lain pun seperti bahasa Inggris juga memiliki ungkapan-ungkapan emosional, seperti <em>fuck you, dam, bullshit.</em> Ungkapan-ungkapan emosional, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris itu dipakai untuk mengungkapkan amarah, kesal, benci, atau juga untuk mengungkapkan rasa senang dan gembira.</p>
<p>Di atas telah disebutkan bahwa ungkapan-ungkapan emosional  terdapat dalam semua bahasa. Salah satu bahasa yang menjadi fokus pembicaraan pada tulisan ini adalah bahasa Aceh. Bahasa ini, sebagaimana bahasa yang lain memiliki kata, kelompok kata, atau kalimat-kalimat yang berisi ungkapan-ungkapan emosional yang dipakai dalam berbagai suasana dan tempat. Perhatikan data-data berikut ini!</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="116">Informan dari Nagan Raya</td>
<td width="136">Informan dari
<p>&nbsp;</p>
<p>Aceh Barat</td>
<td width="122">Informan dari Aceh Selatan</td>
<td width="122">Informan dari Sigli</td>
</tr>
<tr>
<td width="116">bret mak   kah
<p>&nbsp;</p>
<p>kajak   pap leumo</p>
<p>kajak u   bui jak</p>
<p>kajak u   bui lôp keudéh</p>
<p>aneuk   hana diaja</p>
<p>pap ma   kah</p>
<p>waba   kareuh</p>
<p>aneuk   glanteutak</p>
<p>geureuda   sampoh</td>
<td width="136" valign="top">pantèk ma
<p>&nbsp;</p>
<p>bret ma</p>
<p>ék leumo</p>
<p>bui/asai+kata   ganti orang</p>
<p>ék kilang</p>
<p>ék glang</p>
<p>ulai bak teuôt</p>
<p>lagai ulai kamèng teutôt</p>
<p>jampôk</p>
<p>bui sugôt</td>
<td width="122" valign="top">aneuek   umpeun rimung
<p>&nbsp;</p>
<p>aneuk   glanteutak</p>
<p>rimung   sampôh</p>
<p>waba puta</p>
<p>umpeun   ta’eun</td>
<td width="122" valign="top">breut ma
<p>&nbsp;</p>
<p>aneuk   bajeung</p>
<p>aneuk   arakatèe</p>
<p>pukoe   leumo</p>
<p>jak pap   ma</p>
<p>lam boh   ku</p>
<p>pukèe ma</p>
<p>jak lét asèe</p>
<p>jak lét ma   keudéh</p>
<p>lam makeuh</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Ungkapan-ungkapan emosional  yang disebutkan di atas tentu saja hanyalah sebagian. Masih banyak ungkapan emosional lain yang jika didokumentasikan  dapat mencapai puluhan ungkapan, baik dalam bentuk kata, kelompok kata, maupun kalimat.</p>
<p>Ditinjau dari segi makna, nuansa makna yang terkandung dalam ungkapan-ungkapan emosional di atas lebih tinggi. Artinya, jika ungkapan-ungkapan itu diucapkan kepada seseorang, orang yang mendengar itu tentu akan sangat marah. Karena tingginya nuansa makna yang terkandung dalam ungkapan-ungkapan ini, penerjemahan ke dalam bahasa lain tak dapat dilakukan. Meskipun penerjemahan dapat dilakukan, hasil terjemahan tersebut memiliki nuansa makna yang berbeda dengan ungkapan yang berasal dari bahasa yang diterjemahkan. Coba Anda baca kalimat ini! <em>Bit-bit nyo kah <span style="text-decoration:underline;">lag</span></em><em><span style="text-decoration:underline;">è</span></em><em><span style="text-decoration:underline;">e kam</span></em><em><span style="text-decoration:underline;">èng teutet</span></em><em>.</em> Bandingkan nuansa makna kalimat tersebut dengan kalimat hasil terjemahan ini! <em>Kamu benar-benar seperti <span style="text-decoration:underline;">kepala kambing</span> yang dibakar.</em></p>
<p>Ditinjau dari segi pilihan kata, ungkapan-ungkapan emosional dalam bahasa Aceh tampaknya memilih kata-kata yang memiliki derajat kesopanan yang rendah, misalnya <em>‘ok, pap, bret, arakatè/arekatè</em>. Sebagian kata tersebut dirangkaikan dengan kata yang menurut si pengucap dapat membangkitkan amarah yang sangat besar bagi si pendengar, misalnya <em>‘ok</em> (setubuhi) dirangkaikan dengan <em>ma/mi</em> (ibu)<em>, pap </em>(setubuhi) dirangkaikan dengan kata <em>ma/mi</em>(ibu)<em>,bret </em>dirangkaikan dengan <em>ma/mi </em>(ibu). Ada juga ungkapan-ungkapan emosional dalam bahasa Aceh yang di dalamnya terdapat kata-kata yang berkaitan dengan binatang. Binatang yang dipilih pun sebagian adalah binatang-binatang yang diharamkan dalam agama. Tujuannya tentu saja untuk mengundang kemarahan si pendengar, misalnya <em>ka jak u <span style="text-decoration:underline;">bui</span> jak keudéh, kajak lét <span style="text-decoration:underline;">asèe</span> keudéh, kajak pap <span style="text-decoration:underline;">leumo,</span> lagèe ulèe kamèng teutôt.</em> Kata-kata yang digarisbawahi masing-masing bermakna <em>babi, anjing, lembu, kambing.</em></p>
<p>Pada ungkapan-ungkapan emosional yang tertera pada tabel terlihat bahwa ada kesamaan bentuk antara ungkapan yang ada dalam suatu daerah dan daerah lain, misalnya antara daerah Aceh Barat dan Nagan Raya. Daerah ini memiliki ungkapan emosional yang hampir sama yaitu <em>bret ma/mak.</em> Akan tetapi, jika kita melihat data di atas, derajat kehadiran kata ganti orang (pronomina persona) sesudah kata <em>ma/mak</em> pada ungkapan di atas, berbeda antara bahasa Aceh Barat dan Nagan Raya. Di Nagan Raya, kehadiran kata ganti orang sesudah kata <em>ma/mak</em> pada ungkapan <em>bret ma/mak</em> bersifat wajib. Artinya, ungkapan ini tidak akan sempurna tanpa kehadiran kata ganti orang. Jadi, ketika mengucapkan ungkapan emosional, apakah karena marah atau benci, di Nagan Raya ungkapan yang dipakai adalah <em>bret ma/mak<span style="text-decoration:underline;">kah</span></em> atau <em>bret ma/mak<span style="text-decoration:underline;">jih</span> (jih </em>dan <em>kah </em>adalah kata ganti orang dalam bahasa Aceh) bukan <em>bret ma/mak. </em></p>
<p>Ungkapan-ungkapan yang disebutkan di atas semuanya berisi curahan emosional yang berupa marah, kesal, benci. Saat marah, orang akan menggunakan kata, <em>jak u bui jak, jak pap leumo,</em> saat seseorang kesal terhadap lawan bicaranya karena lawan bicaranya itu tidak mengerti terhadap hal yang telah dijelaskan pembicara berungkali, sebagian orang Aceh Barat akan menyebutkan <em>è</em><em>k kilang</em>. Sebagian orang Aceh Barat juga akan menggunakan ungkapan <em>bui sug</em><em>ô</em><em>t </em>saat<em> </em>ia ingin meyakinkan lawan bicaranya bahwa orang yang menjadi bahan pembicaraan mereka itu adalah pembohong, tak bisa dipercaya. Jadi, dapat dikatakan bahwa <em>bui sug</em><em>ô</em><em>t</em> ini bermakna pembohong, tak dapat dipercaya. Menurut informan yang berasal dari daerah ini, ungkapan <em>bui sug</em><em>ô</em><em>t</em> ini hanya ditujukan untuk orang ketiga. Hal ini akan jelas terlihat pada kalimat <em>Hai, bek kadeungo haba sinyan. Jih bui sug</em><em>ô</em><em>t.</em> Saat menasihati anak yang nakal dan berakhlak buruk, sudah berkali-kali dinasihati tetapi anak itu tidak mendengar, sebagian orang Sigli akan mengatakan <em>aneuk arakat</em><em>è</em><em>. </em></p>
<p>Ungkapan-ungkapan emosional yang terdapat dalam tabel di atas ternyata tidak hanya dipakai untuk mengungkapkan emosional yang berupa benci, kesal, atau marah, tetapi juga untuk luapan rasa senang dan gembira. Akan tetapi, pemakainnya hanya terbatas pada orang-orang yang sudah saling akrab. Contoh pemakaiannya dalam kalimat adalah <em>‘Ok ma kah. Ho kajak barok</em><em>ö</em><em>n hana deuh-deuh. </em>Pada kalimat tersebut, pemakaian bentuk <em>‘ok ma kah</em> pada kalimat tersebut bukanlah ungkapan emosional yang mengungkapkan rasa marah atau benci kepada seseorang, melainkan mengungkapkan rasa senang kepada orang yang disapa dengan syarat orang yang disapa itu adalah kawan akrabnya.</p>
<p>Ungkapan emosional <em>‘ok ma kah</em> pada kalimat <em>‘Ok ma kah. Ho kajak barok</em><em>ö</em><em>n hana deuh-deuh</em> tampaknya hampir sama pemakaiannya dengan kata <em>gila, </em>dalam bahasa Indonesia, pada kalimat <em>Gila, Ustadz itu sudah lima kali naik haji. </em>Akan tetapi, perbedaannya adalah kata <em>gila</em> dalam kalimat tersebut ditujukan tidak hanya untuk orang-orang yang sudah dekat dengannya, tetapi juga untuk orang-orang yang menurut si pengucap memiliki kelebihan-kelebihan atau telah melakukan hal-hal yang luar biasa. Secara ilmu kebahasaan, kata <em>gila</em> dalam konteks kalimat di atas disebut interjeksi (kata seru).   <em> </em></p>
<p>Ternyata dalam bahasa Aceh, ungkapan-ungkapan emosional juga ada berbentuk kata-kata yang berkonotasi positif. Biasanya ungkapan emosional ini dipakai untuk memuji seseorang. Salah satu ungkapan emosional yang penulis maksud adalah <em>bak budik k</em><em>è</em><em>e.</em> Ungkapan ini biasanya dipakai untuk mengungkapkan rasa ketakjuban seseorang, baik kepada manusia maupun kepada benda selain manusia. Bentuk <em>bak budik k</em><em>è</em><em>e</em> yang dipakai untuk mengungkapkan ketakjuban ini tidak sama pemakaiannya dengan <em>bak bud</em><em>ô</em><em>k, bak jitak l</em><em>é</em><em> glanteu, bak jitumoh bara singk</em><em>è</em><em>e. </em>Bentuk-bentuk ini dipakai untuk mengukuhkan si pembicara atau pendengar terhadap hal yang sedang dibicarakan, misalnya <em>Bak bud</em><em>ô</em><em>k/bak jitak l</em><em>é</em><em> glanteu/bak jitumoh bara singk</em><em>è</em><em>e kah na kajak sikula baro. </em> Si pendengar akan menjawab <em>bak bud</em><em>ô</em><em>k/bak jitak l</em><em>é</em><em> glanteu/bak jitumoh bara singk</em><em>è</em><em>e l</em><em>ô</em><em>n nyoe.</em></p>
<p>Akhirnya, berdasarkan pembicaraan tentang ungkapan-ungkapan emosional dalam bahasa Aceh di atas, penulis menyimpulkan sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Dalam bahasa Aceh ternyata terdapat ungkapan emosional baik untuk mengungkapkan rasa kesal, marah benci, atau senang.</li>
<li>Nuansa makna yang terdapat dalam ungkapan emosional ini sangat tinggi sehingga ia tak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Meskipun ungkapan emosional tersebut diterjemahkan, hasil terjemahannya memiliki nuansa makna yang berbeda dengan bahasa yang diterjemahkan.</li>
<li>Ungkapan-ungkapan emosional dalam bahasa Aceh terdapat keunikan dalam hal pilihan kata (diksi).</li>
<li>Ada beberapa ungkapan emosional dalam bahasa Aceh yang menuntut kehadiran kata ganti orang.</li>
</ol>
<p>Akhirnya, penulis menyarankan bagi pembaca, khususnya masyarakat Aceh untuk menghindari pemakaian ungkapan-ungkapan emosional yang tertera seperti dalam tabel di atas karena ungkapan tersebut tidak mencerminkan akhlak yang baik. Alangkah baiknya jika seseorang marah kepada lawan bicaranya, orang tersebut tetap berusaha menggunakan kata-kata atau kalimat yang sopan. Hal itu akan lebih baik dan tentu saja dapat menjadi patron akhlak seseorang.</p>
<p style="text-align:right;"><em>Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Unsyiah</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gemasastrin.wordpress.com/907/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gemasastrin.wordpress.com/907/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gemasastrin.wordpress.com/907/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gemasastrin.wordpress.com/907/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gemasastrin.wordpress.com/907/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gemasastrin.wordpress.com/907/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gemasastrin.wordpress.com/907/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gemasastrin.wordpress.com/907/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gemasastrin.wordpress.com/907/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gemasastrin.wordpress.com/907/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=907&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/19/ungkapan-ungkapan-emosional-dalam-bahasa-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30af9f1f3ea62a634d8ddd687a52eed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gemasastrin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/11/andi.jpg?w=236" medium="image">
			<media:title type="html">Andi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku, Muda yang (Berhenti) Menulis di Media!</title>
		<link>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/08/aku-muda-yang-berhenti-menulis-di-media/</link>
		<comments>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/08/aku-muda-yang-berhenti-menulis-di-media/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 14:18:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gemasastrin PBSID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemasastrin.wordpress.com/?p=898</guid>
		<description><![CDATA[oleh Akmal M. Roem
Dimuat di Harian Aceh.
(Menanggapi Thayeb Loh Angen)
Tulisan ini lahir setelah membaca artikel “Sastra di Aceh Sedang Sakit” yang ditulis Thayeb Loh Angen di Harian Aceh, Minggu,25 Oktober 2009. Tulisan ini saya persembahkan bagi kaum muda yang sejatinya sakit hati karena telah gagal menulis dengan baik di media massa di Aceh. Apalagi saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=898&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--post title--><strong>oleh Akmal M. Roem</strong></p>
<p>Dimuat di Harian Aceh.</p>
<p><strong>(Menanggapi Thayeb Loh Angen)</strong></p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-900" title="menulis pemula" src="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/11/menulis-pemula.jpg?w=192&#038;h=130" alt="menulis pemula" width="192" height="130" />Tulisan ini lahir setelah membaca artikel “Sastra di Aceh Sedang Sakit” yang ditulis Thayeb Loh Angen di Harian Aceh, Minggu,25 Oktober 2009. Tulisan ini saya persembahkan bagi kaum muda yang sejatinya sakit hati karena telah gagal menulis dengan baik di media massa di Aceh. Apalagi saya yang sudah semenjak SD melumat buku-buku sastra tapi tak juga menghasilkan tulisan yang hebat seperti Marcos ataupun seromantis puisi-puisi Pablo Neruda.</p>
<p><span id="more-898"></span></p>
<p>Kami kaum muda, hanya tahu menulis, lalu mengirimkannya ke media agar dibaca oleh khalayak. Kami puas ketika melihat apa yang kami tulis itu dibaca oleh orang banyak. Tapi, tulisan Thayeb Loh Angen minggu lalu membuat saya – kaum muda yang sedang sakit oleh pikiran bagaimana menyusun kata-kata yang rapi – menjadi tercengang. Karena selama ini apa yang telah diterbitkan di media dan dibaca beribu pasang mata adalah sebuah kebohongan. Kebohongan yang lahir dari pikiran dan tangan kami. Miris!</p>
<p>Mengutip sedikit tulisan Thayeb. <em>“Sebagian besar karya fiksi, seperti cerpen dan puisi yang bertebaran di halaman media masa di Aceh belum berkualitas, bahkan sebagian belum layak disebut karya sastra, namun apa boleh buat hanya itu yang ada di antara kita, maka kini perkuatkanlah mutu karya anda wahai teman, jangan hanya menulis kisah cinta muram yang pesimis, mengapa tak menulis yang bikin orang lain bersemangat. Untuk apa berkarya kalau hanya menumpahkan airmata”.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Seperti apa cara berpikir Thayeb sehingga melahirkan hipotesa seperti itu? Thayeb yang  seorang penggemar Kahlil Gibran, tapi ia sendiri tidak paham kegalauan yang dirasakan Gibran tentang cinta, kemiskinan, kesedihan, dan kematian. Mungkin dia menulis sambil menangis seperti seorang muda menulis cerita yang mengisahkan tentang kepedihan cintanya. Seperti apapun tulisan itu, tak penting bentuknya. Setiap orang pasti menulis untuk mencari perubahan. Dan tak ada tulisan yang tidak berpengaruh. Meskipun dampaknya kecil sekalipun.</p>
<p>Dalam filsafat kepenulisan, kita akan berhadapan dengan berjuta pertanyaan tentang apa yang kita tulis, untuk apa kita menulis, siapa yang membaca tulisan kita, apa yang akan terjadi setelah membacanya tulisan kita, dan ribuan pertanyaan lainnya akan hadir setelahnya. Semua tulisan sangat berpengaruh dalam kehidupan ini. Sungguh, sastra itu imajinasi, bukan hanya sebatas pengetahuan umum.</p>
<p>Wajar, mungkin Thayeb risau karena belum ada orang Aceh yang mendapatkan penghargaan sastra tertinggi di dunia. Singkatnya adalah nobel sastra! Tapi apakah itu tujuan utama menulis? Tentu saja tidak. Beragam alasan yang bisa kita temukan ketika kita bertanya kepada seorang penulis tentang untuk apa dia menghasilkan sebuah karya.</p>
<p>Pernah dulu saya utarakan di media ini, tentang beberapa faktor orang berupaya menulis sastra dengan bagus. Salah satunya ekonomi dan politik. Saya ambil contoh, seorang mahasiswa yang tingkat ekonomi keluarganya lemah, pasti akan berpikir untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Nah, ada yang memilih jalur menulis, seperti kawan saya misalnya, dia menulis untuk mendapatkan honor. Uang itu kemudian dia gunakan untuk membeli buku baru. Masalah tidak berbobot atau tidaknya sebuah tulisan itu ada pada si pembaca. Dan itu sangat relatif. Bagaimana mengukur itu? Tolong Thayeb jelaskan pada saya yang masih awam untuk mengenal karya sastra.</p>
<p>FKIP Unsyiah, tepatnya Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia berhak untuk mengklaim bahwa mereka mencetak calon guru. Bukan sastrawan. Sekali lagi, bukan sastrawan! Dari nama saja sudah jelas-jelas itu sebuah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Bukan Fakultas Kesusastraan dan Ilmu Pendidikan. Jadi jelas sekali apa yang hendak dicapai dari kurikulum yang sudah dirancang sedemikian rupa.</p>
<p><strong>Fakultas Sastra di Aceh</strong></p>
<p>Apakah kehadiran fakultas sastra di Aceh akan melahirkan sastrawan yang memiliki karya yang bagus? Nama besar? Tingkat ekonomi yang mencukupi? Belum tentu, kawan! Menurut saya, tak perlu adanya fakultas sastra di Aceh, jika hanya ingin menciptakan sastrawan-sastrawan besar. Banyak sekali penulis di dunia ini yang tidak kuliah di fakultas sastra. Bahkan banyak diantaranya yang berpikir tentang filsafat. Tapi mereka menulis dan dianggap berpengaruh terhadap perekembangan sastra di dunia. Itu semua, mungkin, bermula dari kegundahan, hobi, mau belajar, mau berpikir, dan mau membaca. Kemudian lahir proses terakhir yaitu menulis untuk merubah suatu generasi.</p>
<p>Selanjutnya Thayeb menulis, <em>“Sebagian besar karya fiksi, seperti cerpen dan puisi yang bertebaran di halaman media masa di Aceh belum berkualitas, bahkan sebagian belum layak disebut karya sastra…”</em></p>
<p>Kualitas seperti apa yang ingin dijelaskan Thayeb di sini? Atau apa definisi karya sastra itu sendiri menurut Thayeb? Sangat disayangkan, jika Thayeb yang pernah menjabat redaktur budaya di <em>Harian Aceh</em> beranggapan bahwa dia sangat paham terhadap sasrta, tapi masih memuat tulisan yang tidak layak disebut karya sastra dalam kolom sastra. Maka kami pun akan ikut bodoh karena kami tidak tahu sedang menulis apa saat ini.</p>
<p>Jika Thayeb ingin memiliki tanggung jawab lebih dengan meminta pada pihak yang berwenang untuk mengelola studi sastra di Aceh. Mintalah secara baik-baik. Utarakan alasan yang mampu menggugah. Jika hanya ingin mencetak para penulis cerpen, novel, ataupun puisi. Saya pikir Fakultas Sastra yang Anda impikan hanya akan menjadi bangunan tua yang tidak bermoral. Sehebat apapun fakultas sastra di Indonesia ini, tidak akan pernah bisa melahirkan sastrawan yang wujudnya seperti Hamzah Fansuri, endatu kita. Mungkin, aku bukan cucu yang tidak baik!</p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align:right;"><em>Oleh <strong>Akmal MR</strong>, mahasiswa semester akhir Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala. Tinggal di Lam U, Aceh Besar.</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gemasastrin.wordpress.com/898/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gemasastrin.wordpress.com/898/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gemasastrin.wordpress.com/898/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gemasastrin.wordpress.com/898/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gemasastrin.wordpress.com/898/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gemasastrin.wordpress.com/898/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gemasastrin.wordpress.com/898/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gemasastrin.wordpress.com/898/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gemasastrin.wordpress.com/898/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gemasastrin.wordpress.com/898/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=898&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/08/aku-muda-yang-berhenti-menulis-di-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30af9f1f3ea62a634d8ddd687a52eed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gemasastrin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/11/menulis-pemula.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">menulis pemula</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senja di Lantai Tiga</title>
		<link>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/07/senja-di-lantai-tiga/</link>
		<comments>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/07/senja-di-lantai-tiga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 08:06:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gemasastrin PBSID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemasastrin.wordpress.com/?p=896</guid>
		<description><![CDATA[Oleh; Edi Miswar Mustafa
Sejujurnya, cerita ini sebenarnya telah terjadi 30 tahun yang lalu. Saat itu aku dan kau masih muda; kehidupan yang harus terus dijalani, meskipun suka dan duka dan aku benar-benar memahami hidup ini. Kala itu aku baru-baru berkarir sebagai wartawan. Dan aku melihatmu, selalu tak pernah lepas, pada minggu-minggu pertama. Aku tidak tahu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=896&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--post title--><strong>Oleh; Edi Miswar Mustafa</strong></p>
<p>Sejujurnya, cerita ini sebenarnya telah terjadi 30 tahun yang lalu. Saat itu aku dan kau masih muda; kehidupan yang harus terus dijalani, meskipun suka dan duka dan aku benar-benar memahami hidup ini. Kala itu aku baru-baru berkarir sebagai wartawan. Dan aku melihatmu, selalu tak pernah lepas, pada minggu-minggu pertama. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan ketika seseorang itulah yang kemudian menjadi bahagian dari kehidupanmu yang bahagia selama 29 tahun lebih.</p>
<p><span id="more-896"></span></p>
<p>Aku ingat, kamu duduk di mejamu saat itu. Dari pandangku yang menambah-nambah kesungkanan pada orang-orang yang sudah lama di koran itu rasanya seperti memasuki satu dunia yang terlalu rimbun oleh hutan-hutan yang diciptakan manusia yang mencintai ala mini dengan sepenuh jiwa raga. Aku ingat, di mejamu kau seakan-akan menerbitkan satu damai yang tak pernah kukecap selama itu. Sungguh, dari matamu seakan-akan lentera kecil berpendar, seperti kerlip satu sinar di pucuk bukit. Perbukitan yang segar, tumpah ruah kicau burung.</p>
<p>Lalu hal-hal kecil padamu membuat hidup menjadi laksana deru kendara di pusat kota di siang yang sibuk. Alangkah gelora aku menulis. Meskipun hanya satu berita kecil. Hatiku, pada sudut-sudut yang tertutup, ingin  benar mengetahui bagaimana kesadaranmu membacanya. Bahasa dalam tulisan itu hanya kepadamu aku menulis. Menulis dengan segenap jiwa. Kuperhatikan betul-betul setiap deskripsi agar kau pun tertarik.</p>
<p>Ternyata, ya, kamu membacanya. Dan rasa bahagiaku justru mengalahkan seluruh protes teman-teman kepada salah seorang yang besar kepala di koran kita. Menimbun segenap kekurangan pemimpin koran kita yang kerap dihasut oleh wartawan dan redaktur di sebuah warung kopi langganan kita yang terkenal di kota ini.</p>
<p>Tapi kita belum juga bicara. Aku datang selalu tepat jam sembilan. Saat janji pemufakatan koran kita kepada anggota-anggotanya untuk ikut rapat redaksi. Senyummu senantiasa menambahkanku akan rasa syukur pada Tuhan. Dan, aku kembali menjadi orang yang dianjurkan agama Islam. Aku merasa memiliki hati putih seputih hati para nabi. Hingga kemudian aku dianggap oleh teman-teman sebagai wartawan yang saleh. Wartawan yang sungguh-sungguh menyampaikan satu per satu informasi kepada masyarakat supaya masyarakat menyadari bagaimana menolong dirinya dari segala kepincangan birokrasi negara kita yang kekanak-kanakkan.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Aku mencintaimu seperti danau yang</em><em>tenang.<br />
Dalam hening udara</em><em><br />
sesudah embun pagi yang riangtembang </em><em><br />
dibuai pagi yang gemilang</em></p>
<p><em>Aku mencintaimu dalam riak ombak<br />
pada lukisan pantai yang terbingkai<br />
kayu mahoni merah mengkilap<br />
angin laut beku menekuri sepi<br />
serta langit yang polos</em></p>
<p>Tak pernahlah aku merasakan gerah karena panas bumi. Membayangkanmu seorang diri kemudian jadi satu hobi yang sampai kini kunikmati. Menulismu menjadi bait-bait puisi. Kata-kata layaknya butiran cahaya yang menembus lapisan-lapisan langit sampai ke benda-benda langit terjauh.</p>
<p>Seperti biasa, setiap pagi kita hanya saling sapa dalam pandang. Matamu adalah anak panah yang menembus dadaku lantas berubah kenikmatan yang surgawi.</p>
<p>Namun, riuh dalam tubuh tempat kita tak lagi kian meneduh, tapi terus saja berdengung. Timbul kelompok-kelompok yang ingin memperkaya khazanah bahasa koran. Namun kelompok kedua, yang memiliki kebenaran-kebenaran yang lain dari kelompok pertama itu pun tak kunjung bersua penyelesaian. Yang ada diam-diam adalah kedengkian yang tak bisa lagi diurai dengan akal sehat.</p>
<p>Satu pihak selalu mempermasalahkan ketertutupan yang menjurus pada tindakan-tindakan kesewengan. Pihak yang lain bagai menimbun bopeng muka dengan bedak-bedak yang tiada bermutu. Hari-hari yang tak henti menggentingkan persoalan yang seharusnya tidak memalukan diri sendiri. Diam yang tak menggelegar memang. Diam yang menghamburkan begitu banyak pengetahuan canggih yang seharusnya dapat diterapkan demi kebesaran nama media dan namamu dan namaku di koran itu.</p>
<p>Kau ingat bagaimana hari itu bermula. Koran kita terancam ambruk. Mereka yang merasa bahwa adalah sesuatu yang sakral mengumandangkan kebenaran kemudian melakukan pemboikotan. Sehingga koran kita menjadi koran mainan karena manajemen yang kena talak tiga. Pagi yang dingin, kau ingat pasti saat itu, di kantor hanya beberapa orang yang hadir. Telah kupastikan memang. Seandainya mereka tidak mendapati kita saling menukar diam dalam bahasa ucap yang sangat menyenangkan sekali. Mungkin mengalahkan gemulainya kehidupan yang berkuala pada uang sekalipun.</p>
<p>Bulan menjejak pada penanggalan yang menaik. Pemilik modal memenangkan wartawan dan redaktur dari segelintir petinggi korannya. Karena menurut  pemilik modal, materi bukan segalanya. Tapi membangun kebersamaan yang tidak sama seperti di koran-koran nasional bagaimana dapat dilakukan, itulah yang dimaui. Di mana pos yang satu ke pos yang lain masih terbuka bebas.</p>
<p>Sejauh itu, aku belum berani mengatakan cinta padamu. Cinta padamu adalah bayangan seorang pekerja yang ingin kaya namun pada kenyataannya adalah sungguh-sungguh mustahil. Kau terlampau sunyi mendirikan satu rumah sederhana di satu wilayah yang banyak hewan buasnya. Aku hanya merasa-rasai. Menguras otak sungguh-sungguh. Hanya untuk satu hal; apakah kamu mencintaiku seperti aku yang mencintaimu.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>mati. Apakah kau mengerti, dinda<br />
memberi waktu pada sujud hamba<br />
semakna kuasa kata memuai pinta<br />
kita pun selalu menerawang<br />
menumpang mimpi malam. malam<br />
apakah kau mengerti, dinda</em></p>
<p>“Nulis apa, Bang,” tanyamu pada suatu siang.</p>
<p>“Tidak,” jawabku terbata. Mulutku terkatup. “Aku … aku … ,” kataku lagi, tersendat-sendat.</p>
<p>“Katakanlah. Abang harus menjadi orang jujur, seperti tulisan selama ini,” katamu.</p>
<p>Pandangku meluluh padamu. Beningnya matamu. Tarikan bibirmu. Lengkung garis jilbab yang mengelilingi oval wajahmu. Hidung kecil bangir serupa yang dimiliki bidadari dari langit yang pernah kubayangkan di kala pengajian dahulu setelah teungku menceritakan Hikayat Malem Diwa.</p>
<p>“Abang,” panggilmu. Ketemukan rasa jengah menyelimuti kulit pipimu yang halus.</p>
<p>“Ya, ada apa, Dek,” ucapku tanpa sadar apa yang ingin kumaksudkan. Udara dari air conditioner membelai ramah. Lantai tiga kosong. Beberapa komputer terdiam karena tiada siapapun yang mengoperasikannya.</p>
<p>“Dek,” tiba-tiba kujamah jemarimu yang lentik. Desisan nadi menyemarak riang. “Aku sebenarnya … sebenarnya.”</p>
<p>“Katakanlah, Bang,” desakmu tapi masih lirih seperti sediakala.</p>
<p>“Aku ingin dekat denganmu,” kataku.</p>
<p>Saat itu, kulihat kecerahan yang kilau mewujud di wajahmu.</p>
<p>Dalam beku itu aku ke tempatmu. Liputan yang sudah kurencanakan punah. Limpahan nafasmu ke nafasku berpadu menjadi senja yang mengesankan. Tak ada yang memosisikan gerak-gerak berayun kita.</p>
<p>“Mengapa kau menangis,” tanyaku setelah semuanya selesai. Aku seperti baru menyadari bahwa ada secabang ranting yang telah kupatahkan. Dan kau pun dengan begitu segera juga makin mematahkan tulang-tulang di tubuhku.</p>
<p>“Mengapa kau menangis,” ulangku.</p>
<p>“Aku ingin kau menikahiku,” ucapan itu terbit setelah sekian menit berlalu dengan diam yang menumbangkanku seperti sebatang pepohonan raksasa.</p>
<p>“Tentu saja. Itulah yang kuinginkan selama ini,” kataku dan tanpa kuasa kutahan nyeri di pelupuk mataku.</p>
<p>“Kau begitu putih,” tanganku mengelus dada. Lalu kulakukan sesuatu yang membuatmu terkikik. Gairahmu kembali mengombak ke tepi pantai. Kita mengulangnya bagai gerak ombak menghempas tepi pantai. Semua liku-liku sunyimu menjadi senja dengan lembayung di ufuk barat. Permukaan air danau tenang yang tiba-tiba berdenyut karena sekelompok ikan yang lewat meriak-riak bahagia.</p>
<p>“Lagi,” tanyaku. Kau mengangguk.</p>
<p>Setelah ombak kembali ke daratan.</p>
<p>“Mau lagi,” aku kembali bertanya. Kau mengangguk. Tapi dari matamu kutahu pasti tentang kesangsianmu yang seperti meragukan air yang keluar dari pancuran di tengah-tengah rimba.</p>
<p>“Berjanjilah. Apa pun yang terjadi kau adalah milikku,” aku berujar.</p>
<p>“Aku juga ingin mengatakan itu. Kita janji. Kau adalah milikku,” katamu dalam senyummu yang sengaja kau paksakan meskipun kelelahan itu terlihat jelas.</p>
<p>Setelah 30 tiga puluh tahun berlalu, kelelahanku kini adalah tatkala mendapatkanmu berselingkuh dengan orang-orang yang kukenal. Aku ingin mengatakan kejujuran ini padamu. Tapi, sebelumnya aku minta maaf. Menurutku, kita telah bersama selama ini bukanlah karena cinta. Aku bersamamu karena tubuhmu. Dan tubuh-tubuh yang lain telah berpuluh kumiliki setelah dirimu. Sepertinya antara kau dan aku tak perlu harus saling memaafkan, bukan?</p>
<p style="text-align:right;">Tanjong Seulamat, 22 Oktober 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gemasastrin.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gemasastrin.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gemasastrin.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gemasastrin.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gemasastrin.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gemasastrin.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gemasastrin.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gemasastrin.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gemasastrin.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gemasastrin.wordpress.com/896/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=896&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/07/senja-di-lantai-tiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30af9f1f3ea62a634d8ddd687a52eed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gemasastrin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waktu Berdebu</title>
		<link>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/01/waktu-berdebu/</link>
		<comments>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/01/waktu-berdebu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 16:21:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gemasastrin PBSID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemasastrin.wordpress.com/?p=894</guid>
		<description><![CDATA[sajak-sajak Budi Art
&#160;
debu-debu melekat di setiap ruang dan waktu
sedang waktu selalu saja menapaki jalannya sendiri
sementara ruang memenuhi kehampaan
haruskah debu, ruang, dan waktu menyatu dalam diri
sebentar, ada jam yang berdetak
leleh di atas ranting yang mengering
aku mesti menjenguknya
barangkali itu waktuku

Yogyakarta, Agustus 2009
SAJAK PENANTIAN I
I.
dari beranda aku mencoba menatapmu
padahal gerimis dan tangis tak saling sapa
selain malam yang membangkitkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=894&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sajak-sajak <strong>Budi Art</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>debu-debu melekat di setiap ruang dan waktu<br />
sedang waktu selalu saja menapaki jalannya sendiri<br />
sementara ruang memenuhi kehampaan<br />
haruskah debu, ruang, dan waktu menyatu dalam diri</p>
<p>sebentar, ada jam yang berdetak<br />
leleh di atas ranting yang mengering<br />
aku mesti menjenguknya<br />
barangkali itu waktuku<br />
<span id="more-894"></span><br />
Yogyakarta, Agustus 2009</p>
<p><strong>SAJAK PENANTIAN I</strong><br />
I.<br />
dari beranda aku mencoba menatapmu<br />
padahal gerimis dan tangis tak saling sapa<br />
selain malam yang membangkitkan segala resah<br />
II.<br />
disini aku berdiri tegak menatapmu<br />
menatapmu! dengan kesungguhan, dengan ketulusan<br />
dan aku akan tetap disini menatapmu<br />
hingga kau kerlingkan matamu pada mataku<br />
III.<br />
ada yang hanyut dalam lamunan kalut<br />
sebab kenyataan selalu ada<br />
dan aku ingin selalu menyapanya<br />
mesti sekejab saja<br />
IV.<br />
getaran itu membuat terpaku<br />
sejenak saja<br />
mengenang perjalanan waktu<br />
mengemasnya dalam rindu<br />
lalu mendung tiba-tiba menggayut<br />
masih panjangkah perjalanan wahai<br />
V.<br />
semalaman sudah kurajut mendung<br />
sayang gerimis tak kunjung tiba<br />
selain kembang layu tak sudah<br />
VI.<br />
telah engkau tunjukkan dengan segala cintamu<br />
telah engkau buktikan akan keberadaanmu<br />
segalanya memang milikmu<br />
Yogyakarta, September 2009</p>
<p><strong>* Biodata: Budi Arianto, Penyair, menetap di Ceureh, Ulee Kareng, Banda Aceh. Saat ini sedang melanjutkan studi di UGM Yogyakarta </strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gemasastrin.wordpress.com/894/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gemasastrin.wordpress.com/894/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gemasastrin.wordpress.com/894/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gemasastrin.wordpress.com/894/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gemasastrin.wordpress.com/894/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gemasastrin.wordpress.com/894/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gemasastrin.wordpress.com/894/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gemasastrin.wordpress.com/894/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gemasastrin.wordpress.com/894/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gemasastrin.wordpress.com/894/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=894&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/11/01/waktu-berdebu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30af9f1f3ea62a634d8ddd687a52eed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gemasastrin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gender dalam Bahasa</title>
		<link>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/10/28/gender-dalam-bahasa/</link>
		<comments>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/10/28/gender-dalam-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 15:15:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gemasastrin PBSID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemasastrin.wordpress.com/?p=885</guid>
		<description><![CDATA[(Refleksi Bulan Bahasa)
oleh Herman RN
28 October 2009, Serambi Indonesia
HAL yang jarang disentuh oleh ahli bahasa dalam membahas polemik kebahasaan adalah tentang jenis kelamin atau sebut saja dengan istilah “gender” dalam berbahasa. Sebagai refleksi bulan bahasa (setiap 28 Okotober) ini, kita lihat sekilas kaitan bahasa dengan relasi gender. Bahasa dalam gender yang saya maksudkan adalah pengungkapan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=885&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2>(Refleksi Bulan Bahasa)</h2>
<p>oleh Herman RN</p>
<h4><a href="http://www.serambinews.com/news/gender-dalam-bahasa#">28 October 2009, Serambi Indonesia</a><a href="http://www.serambinews.com/account/admin"></a></h4>
<div><img class="alignright size-medium wp-image-888" title="laki-perempuan" src="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/10/laki-perempuan.jpg?w=220&#038;h=148" alt="laki-perempuan" width="220" height="148" />HAL yang jarang disentuh oleh ahli bahasa dalam membahas polemik kebahasaan adalah tentang jenis kelamin atau sebut saja dengan istilah “gender” dalam berbahasa. Sebagai refleksi bulan bahasa (setiap 28 Okotober) ini, kita lihat sekilas kaitan bahasa dengan relasi gender. Bahasa dalam gender yang saya maksudkan adalah pengungkapan, gaya, dan kemungkinan soal ketabuan bahasa yang diucapkan oleh si penutur, baik lelaki maupun perempuan. Hal ini memang perkara sederhana, tetapi ini pulalah yang “jauh” dari kajian para pakar. Padahal, jika benar-benar ditilik, ternyata kosa kata tertentu yang hidup dan diucapkan dalam masyarakat kita, cenderung mengalami ketidakseimbangan gender. Artinya, soal gender dalam bahasa seyogianya juga bisa jadi telaah para “aktivis gender” sehingga tidak memaknai relasi gender hanya pada pekerjaan dan pakaian semata.</div>
<div><span id="more-885"></span><br />
Para ahli psikologi banyak berkesimpulan bahwa bahasa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. Perbedaan itu sederhananya ditekankan pada nada dan intonasi. Selanjutnya, perempuan kerap jadi subordinasi kaum laki dalam bahasa yang diwujudkan pada berbagai unsur kosa kata, ugkapan, istilah, dan tataran gramatikalnya. Hal ini sudah menggejala hampir ke semua ranah. Misalnya saja dalam bidang pekerjaan asusila, pada perempuan melekat istilah PSK, pelacur, lonte, murahan, tante girang, dan sejenisnya. Sedangkan bagi lelaki yang suka melakoni ‘pekerjaan’ yang sama, hanya mendapat istilah “hidungbelang” dan “matakeranjang”. Ini menunjukkan bahwa subordinasi bahasa terhadap perempuan lebih banyak daripada untuk kaum laki.
<p>&nbsp;</p>
<p>Kecuali itu, ada ungkapan yang emosional semisal makian atau kejengkelan pun, kosa kata yang banyak digunakan mengacu pada “barang/alat” dalam milik perempuan. Hal ini berlaku hampir pada semua bahasa di semesta, misalnya bahasa Aceh, kita kenal ungkapan (maaf) pukoima, papleumo, aneuk tét mie, `ok mai, brét ma keuh, dan lain-lain. Semua sebutan itu mengacu pada bagian-bagian tertentu perempuan. Sedangkan pada lelaki, kalaupun ada maksud untuk ungkapan serupa, hanya beberapa kosa kata seperti boh dan krèh. Ungkapan emosional (tidak beretika) seperti itu juga berlaku pada bahasa Indonesia. Kita mengenal istilah “pukimaknya” itu yang merupakan “bagian dalam” kaum perempuan. Sangat jarang ditemukan ungkapan negatif demikian yang diambil dari “punya” kaum lelaki.</p>
<p>Kasus tersebut seakan menegaskan posisi kaum perempuan sebagai ‘warga kelas dua’ di dunia. Hal tersebut semakin kentara pada pemakaian nama belakang yang kerap diambil dari nama “bapak/ayah”. Akibatnya, begitu lahir, bayi perempuan kerap menyandang nama ayahnya walaupun tidak melekat menjadi semacam marga. Misalnya, bayi perempuan yang baru lahir memiliki bapak bernama Abdullah, bayi tersebut akan disebut anak si Abdullah atau nama ayahnya langsung melekat pada nama si bayi/anak, seperti Mutia Ahmat yang maksudnya Mutia binti Ahmat. Kemudian, ketika si perempuan sudah menikah, ia menyandang pula nama suaminya, seperti Marlinda Abdullah Puteh, Nani Yudhoyono.</p>
<p><strong>Kasus bahasa</strong><br />
Hasil penelitian, para ahli menyebutkan sejumlah kasus terkait bahasa pada perempuan dan lelaki. Disebutkan bahwa perempuan dalam berbahasa lebih banyak bergerak atau menggerakkan gesturnya (anggota tubuh). Amati saja jika ada sepasang muda-mudi sedang bicara, siapa yang lebih banyak mencubit atau memukul-mukul halus? Dalam hal intonasi suara pun, kaum perempuan sering memanjangkan intonasinya pada akhir kalimat yang kedengaran “memanja”.</p>
<p>Hasil suatu penelitian yang diutarakan oleh Sumarsono dan Partana dalam Sosiolinguistik (2002:105) menyatakan bahwa di Kepulauan Antillen Kecil, Hindia Barat, ternyata bahasa yang digunakan oleh perempuan mengalami perbedaan dengan bahasa lelakinya. Disebutkan bahwa terdapat sejumlah kosa kata dan frasa yang hanya boleh disebutkan oleh kaum laki, tetapi tidak boleh diucapkan kaum perempuan. Sebaliknya, ada kosa kata tertentu yang hanya menjadi “milik” perempuan, meskipun kaum laki tahu arti dan maknanya.</p>
<p>Konsep tersebut berkenaan dengan “tabu” dalam ilmu bahasa. Artinya, ada sejumlah kata tertentu yang apabila diucapkan akan dipahami maknanya sebagai suatu bagian yang “tabu” atau pantang. Ironis, pantang pengucapan tersebut kebanyakan dititikberatkan pada perempuan yang lagi-lagi mengakibatkan kaum perempuan terdiskriminasi. Sebagai contoh kasus, di Zulu, Afrika, seorang istri tidak boleh menyebut nama mertua laki-laki atau saudara lelaki mertua tersebut. Sangking pantangnya bagi mereka, jika kedapatan seorang menantu menyebut nama mertuanya yang laki-laki, bisa-bisa dibunuh. Ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Zulu, ada kosa kata tertentu yang “haram” disebutkan oleh kaum perempuannya. Bahkan, larangan atau tabu ini merambah pada bunyi-bunyi bahasa. Para perempuan tidak dibolehkan membunyikan huruf “Z” sehingga untuk kata amanzi (air) diucapkan amandabi. Namun, bagi para lelaki, dibolehkan membunyikan “Z”.</p>
<p>Hal semacam itu tentu saja berpengaruh pada relasi gender. Masih untung di daerah kita yang menjunjung tinggi budaya ketimuran, penggunaan bahasa pada lelaki dan perempuan tidak sampai separah itu. Namun demikian, yang mesti kita kurangi adalah pengucapan kosa kata yang mendeskreditkan perempuan semisal untuk ungkapan emosional seperti disebutkan, sehingga antara lelaki dan perempuan tetap memiliki kesetaraan bahasa. Semoga bahasa kita tetap jaya. Selamat memperingati Bulan Bahasa.</p>
<p><strong>* Penulis, mahasiswa Pascasarjana Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah.</strong></p>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gemasastrin.wordpress.com/885/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gemasastrin.wordpress.com/885/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gemasastrin.wordpress.com/885/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gemasastrin.wordpress.com/885/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gemasastrin.wordpress.com/885/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gemasastrin.wordpress.com/885/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gemasastrin.wordpress.com/885/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gemasastrin.wordpress.com/885/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gemasastrin.wordpress.com/885/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gemasastrin.wordpress.com/885/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=885&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/10/28/gender-dalam-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30af9f1f3ea62a634d8ddd687a52eed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gemasastrin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/10/laki-perempuan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">laki-perempuan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaul di Kampung Sunyi</title>
		<link>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/10/22/kaul-di-kampung-sunyi/</link>
		<comments>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/10/22/kaul-di-kampung-sunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 14:14:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gemasastrin PBSID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemasastrin.wordpress.com/?p=880</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Hendra Kasmi
Dimuat di Serambi Indonesia, 11 Oktober 2009
Akhirnya aku kembali terdampar di sudut kampung sunyi usai bergelut riuhnya angin kota. Kulihat Balee Manyang masih seperti lima tahun lalu, beratap rumbia dan berdinding lapuk. Sederhana berdiri dalam kepungan hamparan sawah yang bulir padinya masih leluasa mereguh embun di pagi mendung ini. Di rangkang kecil, Zuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=880&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Cerpen<strong> Hendra Kasmi</strong></p>
<p><em>Dimuat di Serambi Indonesia, 11 Oktober 2009</em></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-883" title="hendra kasem" src="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/10/hendra-kasem.jpg?w=164&#038;h=182" alt="hendra kasem" width="164" height="182" />Akhirnya aku kembali terdampar di sudut kampung sunyi usai bergelut riuhnya angin kota. Kulihat Balee Manyang masih seperti lima tahun lalu, beratap rumbia dan berdinding lapuk. Sederhana berdiri dalam kepungan hamparan sawah yang bulir padinya masih leluasa mereguh embun di pagi mendung ini. Di rangkang kecil, Zuk tampak damai dalam kusyuk simpuhnya. Tasbih bergerak perlahan dalam genggam jemarinya padu dengan komat-kamit mulut sepanjang subuh tadi hingga terang tanah. Muasal dari balee-balee itu, alunan zikirnya mengalun sayup-sayup merdu ke seantero dayah. Rupa Zul sekarang juga kian menawan dibalut pakaian putih. Mungkin itu hadiah dari Abu Cut sepulangnya dari tanah suci.<br />
<span id="more-880"></span><br />
Ah, membayangkan sosok Abu Cut, semangatku kembali runtuh. Terasa kedamaian di kampung ini hanya sesaat. Belum lagi segudang pertanyaan yang akan beliau berondong ke arahku bak peluru yang langsung menusuk tubuh bugil nan mudah, ah perih sekali! Langkahku betul-betul surut jika aku tidak merasa kasihan pada mak. Permohonan terakhirnya tadi, harapan terjal yang beliau tindihkan di pundakku Dugaanku tidak meleset saat aku tiba di Balee Manyang, nada-nada keruh sudah Abu Cut pamerkan dari rona merah wajahnya. Langkahnya mondar-mandir. Dengan mengulum sinis beliau menghujam cela seraya melempar buku itu.</p>
<p>“Apa yang kau harapkan dari semua ini. Kau pikir bualanmu ini akan mensejahterakan masa depanmu dengan anakku. Inikah maksudmu bagian dari dakwah? Baah, Seni tak lebih dari suatu hal yang melenakan manusia!” Abu Cut berhenti sejenak. Fitri naik seraya membawa nampan berisi kue dan minuman. Gadis itu masih bersahaja seperti dulu, kebaya dan kerudung panjang senantiasa menghiasi tubuh ayunya. Sungguh tak bisa dipercaya ketika orang mengatakan bahwa Fitri yang tergolong remaja berayahkan lelaki keriput berjenggot uban. Suatu rentan usia bak jarak dua kutub. Fitri kemudian menyalami diriku. Kurasa cahaya wajahnya dulu begitu menyejukkan, tapi kini berubah menjadi getar kerisauan, kian menyesakkan ketika Abu Cut menyulut kupingku lagi; “aku lebih menyukai Zul, pemuda alim yang sedang berzikir itu!”</p>
<p>Sejak dulu, Abu Cut memang terkesima pada suara indah Zul. Tuhan telah menganugerahkan sedikit titisan Daud pada lelaki itu dibandingkan murid-murid Abu Cut lainnya termasuk aku. “Tapi Buya&#8230;Bu..ya Hamka sang kharismatik juga berdakwah dengan pena”ujarku dengan gugup. Ingin sebongkah harap itu masih tersisa</p>
<p>“Aku tahu Hamka juga seorang ulama. Tapi layakkah beliau mengumbar cinta di tengah khalayak. Beliau juga pernah dihujat karena Kapal Van De Wick”suara Abu Cut menggelegar. Nafasku terengah seiring peluh yang meregangkan bulu-bulu kulitku. “Maaf Mujala, aku tak dapat memenuhi keinginan Mak mu. Sebelum engkau menjadi Teungku sempurna dan membuang kebiasaan burukmu itu”Tambah beliau lagi dengan perlahan. Aku merasa seperti prajurit yang kehabisan amunisi lalu siap-siap dibugilkan musuh untuk diarak keliling kota.</p>
<p>Aku segera beranjak dari Balee dengan putus asa dan menanggung malu. Tiba-tiba Fitri menghampiriku dengan tergesa-gesa”Aku suka cerpenmu yang kau tulis di koran kemarin itu. Kurasakan kisahnya menyentuh relung hatiku”ujarnya dengan senyum merekah. Tersipu aku mendengar basa-basi gadis berwajah mungil itu. Namun kemudian aku kaget ketika mendengar bunyi benda keras di balik dinding. Fitri masuk dengan tergesa-gesa. Ia tahu betul perangai Abunya. Kubayangkan raut beringas Abu Cut dari balik dinding ketika Fitri memuji karyaku. Aku tersenyum geli. Seperti aku percaya bahwa kaul mak menjodohkan aku dengan Fitri sejak lahir tak terlalu berlebihan, maka aku percaya pula ketika Mak pernah bercerita kenapa Abu Cut mengakhiri masa tuanya di usia lanjut karena banyak perempuan tak menyukai satu-satunya lelaki yang tak bisa berpantun itu di kampung sunyi masa itu.</p>
<p>Jeuram, 10 Okktober 2009</p>
<p><strong>Hendra Kasmi; Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unsyiah</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gemasastrin.wordpress.com/880/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gemasastrin.wordpress.com/880/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gemasastrin.wordpress.com/880/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gemasastrin.wordpress.com/880/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gemasastrin.wordpress.com/880/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gemasastrin.wordpress.com/880/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gemasastrin.wordpress.com/880/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gemasastrin.wordpress.com/880/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gemasastrin.wordpress.com/880/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gemasastrin.wordpress.com/880/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=880&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/10/22/kaul-di-kampung-sunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30af9f1f3ea62a634d8ddd687a52eed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gemasastrin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/10/hendra-kasem.jpg?w=270" medium="image">
			<media:title type="html">hendra kasem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sinopsis Negeriku</title>
		<link>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/10/20/sinopsis-negeriku/</link>
		<comments>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/10/20/sinopsis-negeriku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 13:44:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gemasastrin PBSID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemasastrin.wordpress.com/?p=875</guid>
		<description><![CDATA[karya Nazar Shah Alam
dimuat Serambi Indonesia
Kuceritakan sedikit soal negeriku. Ini penting kau tahu kawan! Dulu, dulu sekali ilalang dan rerumputan negeri kami selalu tumbuh merah, karena tanah tempat tumbuhnya menampung darah. Seulanga dipaksa menanggalkan perawan, jeumpa menjadi diam ketakutan melihat malam. Malam dipercepat kelamnya, cepat hitam, cepat mencekam. Jangkrik ikut-ikutan takut bersuara. Pagi, mentari takut-takut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=875&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>karya <strong>Nazar Shah Alam</strong></p>
<h4><a href="http://www.serambinews.com/news/sinopsis-negeriku#">dimuat Serambi Indonesia</a><a href="http://www.serambinews.com/account/admin"></a></h4>
<div><img class="alignleft size-medium wp-image-877" title="sinopsi" src="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/10/sinopsi.jpg?w=171&#038;h=131" alt="sinopsi" width="171" height="131" />Kuceritakan sedikit soal negeriku. Ini penting kau tahu kawan! Dulu, dulu sekali ilalang dan rerumputan negeri kami selalu tumbuh merah, karena tanah tempat tumbuhnya menampung darah. Seulanga dipaksa menanggalkan perawan, jeumpa menjadi diam ketakutan melihat malam. Malam dipercepat kelamnya, cepat hitam, cepat mencekam. Jangkrik ikut-ikutan takut bersuara. Pagi, mentari takut-takut keluar, embun diam-diam saja menyelinap. Saat mereka yang ditakuti seluruh isi negeri datang, embun-embun itu cepat-cepat masuk kembali ke perut bumi. Siang kadang-kadang memancarkan cahaya segan sekali, takut dia akan murka para pemilik senjata. Langit sangat sering menangis, kengerian, trauma melihat semburan anggur merah dari tubuh anak negeri yang lama sekali sudah dipayunginya.</div>
<div><span id="more-875"></span><br />
Dulu, dulu sekali tanah ini hanya dipenuhi oleh tiga nama, serdadu, separatis, dan satu lagi, ini yang paling menakutkan,Ya itu dia OTK. Orang yang disebut tak dikenal inilah yang dulunya banyak mencetak bebijian atau benih-benih yatim, mereka menabur tak terhitung janin janda di sepanjang seuramo negeri ini. Mereka yang juga mencabik-cabik wajah-wajah seulanga dan jeumpa itu. Derita-derita pun makin menyiksa batin semua pendiam negeri. Luka-luka menganga di mana-mana. Semua telah menohok ketentraman dan kebahagiaan kami. Tanpa tahu kesalahan apa rakyat negeri, namun beban-beban yang ditanggung seperti sudah jadi murka.</p>
<p>Api kekerasan menyulut mengusik kami beranak pinak. Sekejap reda,lau kembali bernyala. Padam sesaat dan berkobar lagi.Air mata anak negeri pun menjadi kering dan mengeras. Namun ada keyakinan,api kapan pun bisa padam,dan setitik demi setitik mulai mereda.Api menjadi padam ketiga gelombang laut menjilati sepertiga negeri. Itu pula yang dibayar mahal dengan jiwa yang beribu-ribu hilang termasuk mereka yang bernama dan telah merenggut nyawa. Airlaut itu yang kemudian mencuci darah, bahkan bumi negeriku, menghanyutkan bau amis penindasan bersama hitamnya.</p>
<p>Sesaat tenang, damai. Panjanglah waktu saat damai. Tapi aku tak begitu suka damai. Tentu kau heran kawan! Sekedar kau ingat ketika tanah ini masih berbau darah, ada rasa iman begitu menggelayut setiapjiwa,setiap sisi negeri ini seakan tak putus memuji Allah. Namun ketika damai ini dating, ternyata mereka jsutru menjauh dari Tuhan. Berbilang tahun damai ini diraih,dan selama itu pula syukur atas doa-doa mereka saat sengsara yang terkabul Rabb, menjadi diabaikan. Benarlah, manusia terlalu cepat lupa. Isi negeri ini lupa masa sengsara, bahkan lupa orang-orang yang senasib dulu,bahkan lupadirinya sendiri.***</p>
<p><strong>* Nazar Shah Alam; mahasiswa Gemasastrin FKIP Unsyiah.</strong></p>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gemasastrin.wordpress.com/875/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gemasastrin.wordpress.com/875/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gemasastrin.wordpress.com/875/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gemasastrin.wordpress.com/875/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gemasastrin.wordpress.com/875/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gemasastrin.wordpress.com/875/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gemasastrin.wordpress.com/875/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gemasastrin.wordpress.com/875/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gemasastrin.wordpress.com/875/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gemasastrin.wordpress.com/875/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=875&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/10/20/sinopsis-negeriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30af9f1f3ea62a634d8ddd687a52eed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gemasastrin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/10/sinopsi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sinopsi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kita Menulis?</title>
		<link>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/10/10/mengapa-kita-menulis/</link>
		<comments>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/10/10/mengapa-kita-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 16:39:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gemasastrin PBSID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gemasastrin.wordpress.com/?p=870</guid>
		<description><![CDATA[oleh Herman RN
“Menulis…? Susah kali!”
Setidaknya, pernyataan ini selalu muncul di setiap penulis pemula. Ungkapan serupa dengan redaksi sedikit berbeda sering saya dengar dari teman-teman saya. Kemudian, ungkapan itu berlanjut dalam beberapa pelatihan menulis yang sempat saya ikuti, termasuk pelatihan yang diadakan oleh CCDE beberapa bulan silam—waktu itu saya sempat menjadi salah seorang fasilitatornya. Kebanyakan mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=870&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>oleh Herman RN</strong></p>
<p>“Menulis…? Susah <em>kali</em>!”</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-872" title="RN_Jantan" src="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/10/rn_jantan.jpg?w=212&#038;h=127" alt="RN_Jantan" width="212" height="127" />Setidaknya, pernyataan ini selalu muncul di setiap penulis pemula. Ungkapan serupa dengan redaksi sedikit berbeda sering saya dengar dari teman-teman saya. Kemudian, ungkapan itu berlanjut dalam beberapa pelatihan menulis yang sempat saya ikuti, termasuk pelatihan yang diadakan oleh CCDE beberapa bulan silam—waktu itu saya sempat menjadi salah seorang fasilitatornya. Kebanyakan mereka mengeluhkan ide, mentok ketika sedang menulis, tidak fokus, sulit mengakhiri tulisan (membuat ending), dan sebagainya. Sekilas memang lucu kedengaran, “Susah mengawali, sulit mengakhiri”. Ungkapan hampir sama juga saya dengar pula dari mahasiswa ketika diminta mengarang sebagai sebuah tugas kuliah. “<em>Ga</em> tahu harus mulai dari mana,” kata mereka.</p>
<p><span id="more-870"></span></p>
<p>Begitulah kenyataannya, banyak orang berasumsi bahwa menulis itu susah, terutama bagi mereka yang baru saja memulai dunia tulis-menulis. Mungkin ini pula yang menyebabkan negara kita kemiskinan penulis regenerasi. Terbukti, hingga kini Indonesia belum memiliki “penulis dunia.” Hanya seorang Pramoedia Ananta Toer yang mempunyai nama di Internasional. Itu pun, tidak pernah mendapat nobel. Singkatnya, Indonesia hingga sekarang belum memiliki penulis yang memperoleh nobel. Prmaoedia saja lebih dikenal sebagai novelis sejarah, bukan sastrawan. Lantas, kemana masyarakat Indonesia yang diagung-agungkan kesastrawanannya?</p>
<p>Halnya dengan Aceh, yang sangat dikenal dunia dengan sastrawannya seperti Hamzah Fansyuri, Nuruddin Ar-Raniry, Ali Hasyimi, Chik Pante Kulu, Abdul Karim, dan lain-lain, tetapi generasi penerus sekarang malah lebih suka menghabiskan celoteh di warung kopi. Alhasil, untuk bahan pembelajaran dongeng di TK dan SD pun, kita meminjam dari luar. Sebaliknya, banyak hal yang ada di sisi kita, di Aceh, bakal menjadi dongeng manakala tidak ada upaya pendokumentasian. Salah satu usaha dan upaya pendokumentasian adalah dengan menulis. Menulis tentang bunyi senjata, tentang ibu yang diperkosa, tentang ayah yang pulang ke rumah dengan tanpa kepala setelah dijemput oleh orang bertopeng sebelum magrib kemarin, tentang bagaimana laut naik ke darat, tentang bagaimana ular menyelamatkan seorang kakek tua dari amuk gelombang raya, tentang bumi bergoncang, dan tentang apa saja. Saya yakin semua itu akan menjadi dongeng manakala tak didokumentasikan, yang salah satu cara pendokumentasian adalah melalui tulisan.</p>
<p><strong>Kendala Penulis Pemula</strong></p>
<p>Banyak alasan kita dengar mengapa daerah kita kekurangan penulis. Salah satunya adalah merasa tidak yakin dengan hasil karyanya, meski di antara mereka (baca: penulis pemula) sebenarnya banyak tersimpan memori yang tak kalah menarik dengan penulis yang sudah jadi. Rasa percaya diri yang kurang mapan membuat mereka tidak yakin dengan diri sendiri dan hasil kerjanya. Akhirnya, mereka berhenti sebelum mencoba. Mereka merasa tulisannya masih belum sempurna. “Malu dengan penulis yang telah jadi,” aku sebagian penulis pemula.</p>
<p>Pada prinsipnya, di dunia ini semuanya butuh proses. Tak ada kejadian tanpa melewati proses, entah proses itu kontinyu atau tidak. Hanya kekuasaan Tuhanlah yang tak memerlukan proses. Kun.. fayakun.</p>
<p>Oleh karena itu, rasa kurang percaya pada hasil karya cipta sendiri hanya menjerumuskan calon penulis besar yang ingin lekas memiliki nama besar, menciplak karya orang lain. Akhirnya, predikat plagiator pun tersandang di namanya. Memang, tak salah ketika kita menyukai sebuah tulisan orang, gaya dia bertutur, atau sebagainya. Akan tetapi, itu hanya sebagai pemula buat meneruskan langkah berikutnya, bukan malah menciplak seutuhnya berkelanjutan. Kendati kita sangat menyukai karya orang-orang yang sudah jadi semisal Andrea Hirata, Habiburrahman El Sirazy, Gola Gong, Helvi Tiana Rosa, bukan berarti harus menjadi orang-orang tersebut, yang lantas ketika merasa tak mampu seperti mereka, kemauan menulis pun hilang.</p>
<p>Penyebab lain yang membuat kurangnya penulis di daerah ini karena anggapan terhadap media. Tak dapat dipungkiri, koran dan majalah di zaman ini menjadi standar seseorang memiliki sifat dan sikap untuk menulis. Apalagi di Aceh, karena penerbit buku kurang, koran kemudian dijadikan sebagai tolok ukur seseorang dianggap sebagai penulis atau bukan. Lantas, upaya-upaya menembus tulisan ke koran dianggap menjadi hal yang penting. Bahkan, sejumlah penerbit di negara ini mulai memberikan standardisasi dalam menerbitkan karya-karya orang. Kalau sudah menghiasi halaman koran-koran, barulah orang tersebut dianggap layak dibukukan karyanya.</p>
<p>Anggapan dasar ini kemudian membuat orang berlomba-lomba menulis di koran, terutama koran lokal yang seleksi penulisannya lebih ringan daripada koran nasional yang sudah mapan. Seorang guru dan civitas akademik pun sekarang diminta menulis di koran. Apabila tulisannya dimuat, mereka akan mendapatkan nilai KUM yang berguna untuk menunjang kenaikan pangkat/golongan. Persoalannya adalah tidak mudah untuk ‘menembus’ koran, sekalipun koran lokal. Hal ini kemudian menjadi salah satu ‘tembok’ kepada seseorang berhenti menulis. Misalnya, sudah memberikan tulisan ke koran beberapa kali, tetapi tidak pernah dimuat sekali pun, orang tersebut akhirnya berhenti (tidak mau) menulis.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Selera Redaktur</strong></p>
<p>Agar ketakutan dan keraguan tulisan dimuat tidak menjadi ‘hantu’ menakutkan, perlu mengenal terlebih dahulu koran yang akan dituju. Ada baiknya memulai dari koran lokal. Tatkala beberapa kali sudah karya dimuat di koran lokal, tak ada salahnya mencoba mengirimkan karya kita ke koran nasional.</p>
<p>Baik koran lokal maupun koran nasional, stile koran tersebut harus menjadi perhatian. Misalkan Harian Republika; koran ini mengarah kepada tulisan agamis. Sebagai sebuah koran nasional, Republika tak ubahnya seperti Harian Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Seputar Indonesia, dan sejenisnya, setiap tulisan yang diberikan mestilah isu-isu berstandar nasional. Demikian pula dengan majalah semisal <em>POTRET. </em>Majalah yang diterbitkan di Banda Aceh ini mengangkat tulisan-tulisan dengan isu sekitar perempuan. Maka, menulislah tentang itu jika berharap tulisan dimuat di <em>POTRET.</em></p>
<p>Selera redaktur yang menangani rubrik, dalam konteks ini misalnya penanggung jawab deks opini/essay, juga mesti diperhatikan. Katakan saja redaktur Harian Serambi Indonesia yang suka tulisan-tulisan berbau sufiis dan mitos penolakan, terutama upaya penggalian budaya tradisi, maka tulisan-tulisan yang bertemakan seperti selera redaktur tersebut akan lebih memiliki peluang dimuat daripada tema-tema umum. Demikian halnya di Harian Aceh—salah satu koran lokal terbitan Banda Aceh—opini tentang pendidikan, agama, dan upaya penolakan terhadap sebuah keterkekangan akan lebih mendapat peluang cepat dimuat.</p>
<p>Selain memperhatikan selera koran dan redaktur, perlu diketahui, redaktur juga akan melihat siapa diri pengirim tulisan. Karena itu, semua koran mewajibkan kepada setiap pengirim tulisan agar melampirkan biodata saat mengirimkan tulisan. Di sini, redaktur akan melihat subtansi tulisan yang ditulis dan siapa penulisnya. Misalkan, mahasiswa FKIP menulis tentang kesehatan, ini akan menjadi pertimbangan berat bagi redaktur untuk memuat tulisan tersebut. Demikian sebaliknya, mahasiswa kedokteran saat menulis tentang pertanian atau ekonomi, akan dinilai berat oleh redaktur layak atau tidak tulisan itu dimuat. Bukan berarti seorang guru hanya boleh menulis tentang guru. Akan tetapi, persoalan ini berbicaya mengenai “pemahaman”—siapa yang lebih paham seorang guru menulis tentang pendidikan dengan seorang ahli peternakan menulis tentang hal yang sama. Pasti redaktur akan lebih memilih tulisan si guru.</p>
<p>Hal lain yang mesti diperhatikan adalah di mana kita menulis. Jika di koran, sebagai sebuah halaman media cetak, koran terikat dengan kolom (ruang) yang disediakan. Karena itu, ada koran yang terkadang sengaja memberikan pengumuman “menerima sumbangan tulisan… maksimal 5000-6000 karakter. Dengan demikian, usahakan mematuhi kriteria yang sudah ditetapkan oleh koran kalau memang mau tulisan cepat dimuat.</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Ketahuilah, menulis dapat menjadikan kita kaya. Simpan dulu pikiran untuk menulis buku yang fee-nya memang sangat besar. Menulis di koran saja dapat menghasilkan honor yang lumayan. Saya misalkan, koran lokal di Aceh yang masih sangat baru. Di <em>Harian Aceh</em>, satu opini akan dibayar Rp50.000. Jika dalam seminggu ada tulisan kita satu, selama sebulan kita akan mendapatkan tambahan uang jajan Rp200.000. Sementara itu, di Serambi Indonesia, saat ini satu opini dihargai Rp100.000, Repulika satu tulisan sekitar Rp400-Rp500 ribu, di Kompas akan dibayar lebih dari angka itu. Silakan kalkulasikan sendiri jika ada tulisan kita dimuat 12 kali dalam setahun dengan perkiraan satu tulisan satu bulan. Kemudian, tulisan-tulisan yang sudah dimuat itu diterbitan menjadi sebuah buku. Berapa honor yang diinginkan melalui kerja sambil duduk memencet keyboard komputer?</p>
<p>Ah, persoalan itu jangan dulu dipikirkan. Kalau memang sudah tiba waktunya, hal itu takkan lari ke mana. Sebagai penulis pemula, baiknya mari berpikir bahwa menulis adalah bagian dari ibadah. Saya misalkan, satu tulisan kita dimuat di sebuah koran, ia akan menjadi ibadah bagi si penulis. Jika diandaikan ibadah itu diberikan kepada seorang manusia pahalanya 1%, koran yang dicetak hingga 1000 eksemplar akan memberikan ibadah kepada si penulis 1000%. Jika satu koran dibaca oleh dua orang, 1000 x 2 = 2000, pahala yang diterima berarti 2000%. Yang mesti diketahui adalah sebuah koran pemula saja, mencetak korannya sekitar 4000-5000 eksemplar. Apalagi, koran yang sudah mapan, akan mengedarkan korannya sebanyak puluhan ribu. Silakan kalkulasikan sendiri berapa pahala yang didapat jika pada koran itu ada satu, dua, atau tiga, tulisan Anda. Maka, mulai sekarang menulislah! Menulislah untuk ibadah!</p>
<p align="right"><em>Naskah ini disampaikan untuk pelatihan menulis kreatif bagi perempuan di WTC Banda Aceh, 10 Oktober 2009</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gemasastrin.wordpress.com/870/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gemasastrin.wordpress.com/870/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gemasastrin.wordpress.com/870/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gemasastrin.wordpress.com/870/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gemasastrin.wordpress.com/870/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gemasastrin.wordpress.com/870/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gemasastrin.wordpress.com/870/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gemasastrin.wordpress.com/870/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gemasastrin.wordpress.com/870/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gemasastrin.wordpress.com/870/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gemasastrin.wordpress.com&blog=995585&post=870&subd=gemasastrin&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gemasastrin.wordpress.com/2009/10/10/mengapa-kita-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30af9f1f3ea62a634d8ddd687a52eed7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">gemasastrin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gemasastrin.files.wordpress.com/2009/10/rn_jantan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">RN_Jantan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>