Emansipasi, R. Setiawan
Nek! Kenapa dahulukala nenek cuma bisa mondar-mandir
di dapur, kasur dan sumur?
Apa nenek tidak punya keinginan lain?
Mak! Emak kok tidak ikut nenek?
Apa ayah tidak menyuruh emak mondar-mandir dari dapur ke sumur dan kembali ke kasur?
Terus kenapa sekarang emak kok sudah lebih sering belanja sendiri?
Apa karena tante Tini? Padahal,
dia cuma anak bangsawan yang dipingit adat.
***
Aduh, mama! Kenapa anak-anak dibiarkan mandi dan makan sama bik Inang?
Terus tidur di ayunan dengan popok sampai pagi?
Apa mama mau anak kita jadi anak bik Inang?
***
Joni! Papa kan sudah bilang, “Sama orang tua, apalagi dengan papa-mamamu, kamu harus nurut!”
Ogah ah, papa! Joni mau tidur sama papa kalau bik Inang juga ikut!
Kutaraja, 7 Mei 2007
Kala Mentari tak lagi Berarti
Mentari selama ini dan selamanya akan tetap mentari
yang selalu datang menyinari bumi
menjadi berkah untuk sekalian makhluk di bumi
pembeda siang dengan malam hari
tapi kini…
di negeri ini,
negeri tempatku menafkahi istri,
mentari tak lagi berseri
hanya karena tak memiliki lampu,
sepeda motorku tak lagi kutunggangi,
justru, itu dikala siang hari
saat mentari kabari aku ada lubang galian di jalan.
jalan nafkahku selama ini.
sedang saat malam mengganti hari,
aku memang tidak mencari
Lampineung, 23 Juni 2007
TIBA-TIBA KUTERINGAT PURNAMA
Tiba-tiba ku teringat purnama
yang semalam dilanda gerhana
seketika wajah-wajah seram bermunculan
tumbuhkan kesadaran akan tiada lagi ada yang bisa dipertahankan
dari secuil harapan akan hidup yang tentram
akan sekeping damai yang baru kucium
akan sehelai rupiah yang baru terkumpul
akan selembar sajadah yang baru kupunya
Tiba-tiba ku tak menemukan lagi purnama
walau waktu menunjukkan gerhana telah berlalu
Lelah menunggu, kudapati purnama itu
sedang pulas di ranjang tetangga
Jeulingke, 05032007
R. Setiawan, Mahasiswa PBSID Unsyiah,
Puisinya dibukukan dalam “Kitab Mimpi”
Romi S. berkata
kapan edisi updatenya keluarr?