MALAM KETUJUH PENANTIAN
karya Nazar Shah Alam
Dan kita membuang mata-mata lelah dengan napas yang
masih putus-putus mendesah
ke arah rumpun perdu di belakang rumah
Rambutku masih basah dengan peluh yang
kautitipkan tujuh hari lalu
Rasa ini demikian merah jambu untuk dihitamkan di atas daun talas yang
patri di pinggir kali samping rumah
seperti maumu
menghitamkan merah dengan dengan darah yang merah atau
menghitamkan putih dengan tepung nasi yang putih
aku acap merindu sajakmu
Balada resah yang kautuang dalam cawan lelah
Dan aku selalu saja begitu menurutmu
termangu dan tak tahu salah
maka lekaslah pulang
hati yang kau titipkan separuh padaku pada tujuh malam lalu tengah gerah
mengapa tak kau bawa jua ia bersamamu yang lanang?
sendiri menyapih sebagian hatimu itu begitu lelah kurasakan
genap. tujuh malam keresahan mendera
hati akan punah sebentar lagi saja. kau kemana?
datanglah ambil hatimu di hatiku yang kau sayat ini
yang kau kata masih sangat merah jambu
ambillah semua
lepasnya jangan lagi kau tiba
menjilat hatiku
menghamili jiwaku dengan segenap sajak basi
aku telah hilang dalam rimbun perdu itu. usah kau cari hingga resah
dan hati merah jambu padaku sedang lanang mencari tuan bersinggah
Aceh, November 2010
Puisi ini diikutsertakan dalam lomba puisi “Jiwa Yang Tersakiti” Fatamorgana Publisher.