Puisi-puisi Nazar Shah Alam
TELAH KITA BUNUH DIRI SENDIRI
Kita menulis kata dengan pohon
atau musim yang tercabik-cabik
oleh tangisan korban yang kelaparan
kita menghapus gerah dengan hujan
yang mengirimkan bandang ke Tangse
yang mengguyur kota hingga tenggelam bermeter-meter
kita membunuh diri dengan keji
dengan ketamakan
dengan hutan
dengan potongan pohon dan longsoran tanah
dengan sampah
Aceh, 14 April 2011
NOMINASI DI LOMBA JELANG HARI BUMI, TRI LEGO INDAH, BANDAR LAMPUNG
(Urutan 58 dari 150 yang terpilih)
MENTAWAI
Telah hinggap gelombang
di jengkal kampung saudaraku
dan di sini, di kampung kami doa gemuruh
seorang anak terbata mengeja nama Tuhan
berkata “Ibuku telah diambil ombak raksasa”
dan ia tertawa sepuasnya
Banda Aceh, 07 November 2010
(sumber Harian Aceh, 5 september 2010)
LAILATUL QADAR
Seorang tua berkisah padaku
Malam hampir pulang ”kau tahu mengapa aku tak tidur, bujang?”
Kugelengkan kepala: tak paham
“Sejak bilangan ke lima belas
Sampai menjelang lebaran
Akan kubiarkan mata ini terbuka pada malam hari
Ingin aku melihat kayu sujud seperti janji Tuhan:
Kau?”
-aku mengangkat pundakku
Kurindukan Tuhan menampakkan keagungan malam itu
Kau?
-Aku mengangguk
Namun siapa yang dipilih Tuhan untuk itu?
-aku mengangkat pundakku
Seorang tua berkisah padaku
Tentang malam tak sembarang itu
“Ia datang dalam waktu sedetik, kau yakin?”
-aku mengangkat pundakku
Dan ia berkisah padaku
“Tuhan memilih orang-orang tertentu
Mungkin kau: tentu mungkin juga aku”
Lalu kutanya pada sang tua itu
“Apakah pendosa sepertiku mungkin menemukannya”
-seorang tua itu mengangkat pundaknya
Kuyakin ia mau mengatakan”Tidak, bujang!”
“Lalu apakah Tuhan akan memilih orang-orang yang beramal di bulan ini saja?”
-ia mengangkat pundaknya
“Mengapa kau berharap menemukannya, apakah kau yakin telah bersih dosa?”
-Ia nganga
Ia tak puasa hari pertama
Tikar Pandan, 03 September 2010
Puisi Nazar Shah Alam
KUN
Kun
Ini bulan Kau cipta hanya untuk kami
Maka jadilah ia seperti kehendak-MU
Kun
Jadilah bulan ini sempurna
Bilang-bilang yang wajar
Atau seperti bulan lainnya
Terkadang kau sembunyikan sebuah hari
Dan kami menikmati
Ricik angin, sujud ilalang, sembah kami
Terbuhul dalam harap kebaikan
Kun
Jadilah ini bulan penuh maghfirah
Dan kami menikmati rahmat-rahmat itu
Seperti angin di kemarau bisu
Mula di mentari jujur memercik di ufuk timur
Bermakam di punah mentari merah saga
Senja penuh indah
Malam-malam ibadah
Siang tergamit dengan penuh ketenangan
Kun
Mawar-mawar indah menguntum
Bersujud
Dan kami menuruti titah-MU
Maka Kau tak pernah mengingkari janji dalam tiap firman-Mu
Kun
Kau katakanlah pada jiwa terbuang kami ini
Agar kami bisa bersujud pada-Mu dengan khusyuk
11 Ramadhan 1432 H/ 21 Agustus 2001
PENDOSA ITU MATI DI MALAM SAKRAL
Katanya”sepanjang hidup aku hampir tak pernah menyembah-Nya:
Kalau pun ada itu hanya dulu dan aku belum pun begitu tahu”
Kemarin malam ia terjebak mencuri ayam
Kemarin malamnya ia ketahuan mencuri mangga
Kemarin malamnya ia melempar rumah kepala desa
Kemarin malamnya ia tertangkap sedang berganja
Kemarin malamnya ia pukul ibu-ibu tak berdosa
Semalam ia mati: di masjid
Saat melindungi seorang yatim-dari amuk warga-yang kedapatan mencuri sandal
Untuk bermain hari lebaran
Sedang warga sedang sibuk mengejar lailatul qadar
02 September 2010
*penulis adalah mahasiswa Gemasastrin FKIP Unsyiah.
salam bang nazar,
luar biasa daya bayang dari puisinya. .
Waduh. .waduh
salam juga, Rul. terimakasih sekali.
puisi yang ini baru kali ni tia baca bang
bagOeZzzz
makasih dek Tya, kapan Tya datang ke ruang ini? Ditunggu ya..