Bunga Berdarah, Mencari Hakikat Cinta dalam Kemelut Konflik

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} @page Section1 {size:595.45pt 841.7pt; margin:1.5in 85.05pt 85.05pt 1.5in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Oleh : Hendra Kasmi

Judul                          : Percikan Darah di Bunga

Pengarang                : Arafat Nur

Penyunting               : Sakti Wibowo

Desain Kovel            : Dedi Fadillah

Penerbit                    : Lini Zikrul Remaja

Tebal Buku               : 176 hlm ; 11,5×17,5 cm

Cetakan                     : Juni 2005

Sejak konflik melanda Tanah Rencong, cukup banyak kasus kekerasan yang terjadi, mulai dari penyiksaan fisik, perkosaan, penjarahan hingga pembunuhan. Batin siapa yang tak menjerit saat melihat martabat manusia dilecehkan begitu saja tanpa perasaan cinta. Tapi di mana-mana drama konflik memang sudah diskenariokan begitu, tak seru jika pelakon konfontrasi saja yang bermain,  orang-orang sipil termasuk perempuan tak berdaya yang jelas-jelas tak ada sangkut paut dengan masalah pun harus ikut dilibatkan, walau hanya sekedar pemuas ambisi semu.

Hal itulah  yang membuat  Dhira  tergerak untuk bergabung dengan  sebuah organisasi yang    memperjuangan nasib orang-orang tertindas. Namun, kehadiran tokoh Teungku Don yang  membuat Dhira  memendam hasrat cinta adalah warna lain yang mewakili sisi kepribadian dalam cerita ini.

Perasaan senasib  telah membuat Teungku Don lebih banyak berinteraksi dengan Meulu— perempuan korban pelecehan seksual oleh orang-orang bersenjata. Gadis ini lebih beruntung dibandingkan Dhira karena memiliki alasan untuk berhubungan dengan sang Teungku. Sehingga melahirkan konflik pribadi  berupa ungkapan-ungkapan jengkel dan cemburu yang membuncah  terpendam dalam lubuk hati Dhira.

Sisi lain yang dipaparkan dalam cerita ini adalah tentang kehidupan sosial  yang melahirkan perbedaan karakter yang begitu tajam. Walaupun mereka  berjuang dengan misi yang sama, tapi  sulit menyerasikan watak kepribadian mereka  karena  sudah terlanjur dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, sehingga mereka sama-sama sulit  memahami perasaan lawannya.  Teungku Don dan Meulu adalah orang yang dibesarkan dalam kesederhanan lingkungan kampung dan dayah  yang  membuat mereka selalu berpegang teguh pada norma. Sehingga pembawaan mereka cenderung apa adanya. Sedangkan Dhira, gadis peranakan  Aceh dengan jawa,  dibesarkan dalam keluarga ekonomis  yang cenderung tak ingin ikut campur dalam permasalahan yang melanda Aceh. Meski watak Dhira berbeda dari anggota keluarganya, lemah lembut dan perduli kepada sesama tapi tak bisa membuat dia bertahan dari arus modernisasi yang menyeretnya.

Sampai keadaan tragis datang memberikan kesempatan yang luas bagi Teungku Don dan Dhira untuk berkomunikasi. Maka di sinilah puncak cerita yang paling seru ketika benturan kultural terjadi. Dhira ingin melepaskan batasan norma yang mengikat mereka. Ia juga menginginkan sikap Teungku Don yang monoton berubah menjadi lelaki romantis yang bisa mengucapkan cinta lalu mereka akan bermesraan seperti pasangan lainnya.

Tapi garis etika yang membentuk kepribadian Teungku Don bertahun-tahun membuatnya tak menginginkan hal semacam itu. Ia tak mengenal getaran cinta. Yang membuat kita di bawa pada keharuan yang sangat adalah   saat keadaan memaksa mereka kembali berpisah, Dhira  yang  menderita  tak sempat menumpahkan semua isi hatinya yang lama terpendam.

Itulah sedikit gambaran cerita dalam novel “Percikan Darah di Bunga” karangan Arafat Nur. Seperti kebanyakan novel aceh lainnya yang mengisahkan liku-liku cinta dengan latar kelabu, bencana, desiran peluru, darah dan airmata. Tapi Arafat menyuguhkannya dengan nuansa yang berbeda dari novel lainnya. Ia begitu cerdas memadukan unsur cinta, religi, dan kemanusiaan di tengah konflik yang mendera secara menarik dan terarah. Ia menggambarkan tentang cinta yang terpendam dalam gemuruh pergolakan hingga harga diri manusia yang di cabik-cabik. Pada awalnya emosi pembaca akan terenyuh, tapi gelora itu akan kembali luluh bergantikan kedamaian saat pembaca di bawa kembali pada renungan spiritual yang menggugah jiwa.

Di lihat dari beberapa segi cerita ini sudah cukup menarik. Ide cerita yang tidak terlalu mencolok dan terkesan apa adanya, juga bahasa yang ditulis tidak berbelit-belit sehingga pembaca mudah mencerna isi cerita. Hal yang menarik lainnya adalah tentang kronologis cerita yang penuh misteri, mendebarkan saat konflik muncul secara tiba-tiba, plus dengan dialog tokoh yang  tidak monoton sehingga membuat pembaca seolah-olah hanyut dalam suasana tragis dan mencekam saat masa diberlakukannya darurat militer di Aceh.

Ada sedikit ketidaknyamanan di sini, yakni pada penggambaran sudut  pandang yang tak teratur.  Misalnya, penulis  memaparkan lebih dulu kronologis bebasnya  tokoh Tengku Don dari penyiksaan,  padahal biarkan saja   pembaca terbawa oleh perasaan  Dhira yang mengkawatirkan keselamatan lelaki idamannya.

Percikan Darah di Bunga, perpaduan nuansa cinta tanpa romantisme dengan warna konflik Aceh. Sebuah kisah penuh fantastis, betapa tidak, di satu pihak menceritakan tentang kehidupan yang penuh penderitaan, bayang-bayang teror, penyiksaan dan kebutuhan ekonomis yang menghimpit membuat orang lebih mementingkan nasibnya daripada masalah cinta. Sementara di pihak lain, kehidupan tokoh lain justru sedang di bakar gelora asmara yang dahsyat.

Judul novel tersebut diambil dari akhir kisah yang tragis, yang tetap menjadi misteri dalam setiap rangkaian cerita.   Padahal  penulis  telah memberikan gambaran berupa dunia kedamaian para gadis dalam nuansa bunga, tapi kita  tetap akan kesulitan  menemukan hubungan antara kronologis cerita dengan  topik yang diangkat di awal cerita.

Tak ada aroma politik dalam novel ini. Kedua pihak yang bertikai   sama-sama berkesan negatif. Mereka  digambarkan seperti penjahat, orang yang haus kekuasaan, otak pemerasan dan penganiayaan, pelaku teror yang telah menciptakan ketidaknyamanan dalam kehidupan masyarakat.

Arafat Nur, sang penulis dilahirkan di Lubuk Pakam, Medan . Usia  enam tahun ia pindah menetap di Aceh hingga ia merasakan dampak kemelut yang membakar Tanah Rencong yang membuat penulis akrab dengan suasana dan orang-orang yang terlibat dalam pergolakan. Oleh sebab itu, ia begitu lihai merancang ide dari realita yang terjadi kemudian mengolahnya menjadi fiktif cerita, tak heran bila hampir seluruh isi cerita ini menjiwai sisi kehidupan penulis.

Novel  ini adalah peraih juara III  Sayembara Novel  yang diselenggarakan FLP tahun 2005. Sekilas buku ini layak di miliki dan di baca oleh siapa saja khususnya kalangan remaja karena umumnya karya asuhan FLP berusaha membangkitkan minat baca dikalangan remaja. Novel ini juga layak anda koleksi karena sarat hikmah di dalamnya, diantaranya adalah perjuangan persamaan hak kemanusiaan dan keperdulian untuk  melindungi martabat perempuan yang tak hanya dikesampingkan di tengah perseturuan politik tapi juga di libas oleh roda ankara murka untuk mencapai kepentingan sepihak.

Secara tidak langsung, novel ini juga telah mengajak kita untuk merenung tentang pencarian hakikat cinta. Betapa rumit menemukan hakikat cinta yang sebenarnya di tengah zaman yang serba sulit. Perbedaan norma kehidupan membuat orang menafsirkan cinta menurut caranya sendiri.  Pelaku konfontrasi sudah tentu cinta pada pengabdiannya walaupun harus menindas hak-hak kemanusiaan tanpa perasaan cinta. Sedangkan nafsu keduniawian hanyalah cinta semu yang membuat orang  terus tersiksa karena selalu dipermainkan oleh perasaannya. Lalu dimana letak cinta yang hakiki itu?

Banda Aceh, 7 Agustus 2008


One thought on “Bunga Berdarah, Mencari Hakikat Cinta dalam Kemelut Konflik

    lriia said:
    Mei 2, 2010 pukul 12:53 pm

    rekan2 semua, aku mau tanya gmana kalau mAU kirim artikel/karangan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s