naskah drama karya
by Anak Suka Suki
Setting : Warung kopi
Babak I
Hari masih terlalu pagi. Suasana di sebuah warung kopi sunyi. Teh botol, capuccino, nescafe, teh hangat terhidang di atas sebuah meja panjang warung.
Azmi : (bernyanyi: Bunga, lagu dari Ihsan Idol).
Nana : Hai! Dari tadi nyanyi terus. Apa tidak capek mulut kamu. Jangan sampai keluar busa.
Azmi : Ah, kau! Mengganggu saja. Ini buat latihan biar lulus audisi di radio. Macam tidak tahu sajanya kau. Begini-gini aku ini calon idola!
Nisa : Idola apaan? Idola papan seluncur? Yang ada juga bising telinga orang. Mendingan baca buku. Sebentar lagi kita kan final.
Nana : Iya, Mi. Apa kamu mau kalau nilai kamu seperti semester yang lalu? (meledek)
Azmi : Ah, untuk apa dipikir. Yang penting sekarang kekmana caranya aku lulus audisi ke Bandung. Kalau aku terkenal nanti kan kalian juga yang senang. Pokoknya kalian tidak akan kulupakan. Ha…ha…
Nisa : Jangan terlalu bermimpi. Dulu saja kamu bilang serius kuliah, nyatanya nilai kamu anjlok juga kan?
Azmi : Jangan seperti itu lah.
Nana : Iya, Azmi. Ini semua kan demi kebaikan kamu juga. Orangtua kita mengirim kita dari kampung kan untuk kuliah.
Azmi : Ah, sudahlah. Bicara dengan kalian tidak ada bagus-bagusnya. Aku mau latihan di tempat lain saja.
Nisa : Eh, eh, eh, mau kemana? Ini siapa yang bayar?
Azmi : Bilang saja sama yang punya warung, Azmi, calon idola Indonesia yang baru!!! (lalu pergi)
Nana : Huh, dasar! Paling dia tidak punya uang! Gayanya saja ngajak kita ke warung kopi. (membayar lalu keluar dari warung kopi)
Babak II
Azmi : Adek. Doakan abang ya? Mudah-mudahan abang lulus audisi.
Dek Li : Abang jangan kektu lah. Abang kuliah aja dulu. Jangan mengecewakan orangtua.
Azmi : Ini kan juga usaha. Kalau abang lulus audisi kan abang bisa terkenal. Yang bangga siapa? Orangtua abang kan ikut bangga juga. Abang jadi orang terkenal. Idola Indonesia!!!
Dek Li : (meneguk susu hangat). Ya, sudah. Kalau abang punya keyakinan kektu. Oya, bang. Nanti sore kita jadi jalan-jalan kan? Sudah lama, hampir dua minggu kita tidak pernah lagi jalan-jalan.
Azmi : Mmmmmhhh…( berpikir)
Dek Li : Kok diam saja? Mau latihan lagi ya? (kecewa, sedih). Sejak abang ingin ikut audisi, abang selalu menolak untuk jalan-jalan. Abang tidak pernah lagi memperhatikan adek. Apa abang sudah lupa dengan ikrar kita?
Azmi : Bukan begitu sayang. Bukannya abang tidak mau jalan-jalan. Tapi…
Dek Li : Adek tidak memaksa. Kalau memang kektu yang abang mau ya sudah…
Azmi : Ya sudah apa?
Dek Li : (diam)
Azmi : (merayu, menyanyi : Bunga).
Babak III
Nisa : Azmi. Katanya mau ikut audisi? Kok belum berangkat?
Azmi : (diam)
Nana : Kan sudah kubilang.
Azmi : Apa yang kau bilang Butet!
Nana : Kuliah dulu… baru kejar obsesi untuk menjadi penyanyi.
Azmi : Aku bingung. Dek Li sudah dua hari tidak mau bicara lagi.
Nisa : Memangnya ada apa? Sampai-sampai dia tidak mau bicara?
(masuk Ijal dan ikut bergabung)
Ijal : Hoi, Mi!!! Namamu keluar di pengumuman beasiswa. Dua juta tiga ratus enampuluh lima ribu lima ratus rupiah!!!
Azmi : Haa!!! Yang betulnya kau bilang?!
Ijal : (mendekat) Iya! Aku serius. (muncrat-muncrat)
Azmi : (mengelap wajahnya). Wah!
Ijal : Eh, maaf…maaf. ..terbawa emosi! Kalau sudah keluar jangan lupa kita-kita ya?
Azmi : Beres bos!!!
Nisa : Woi! Pertanyaan tadi belum dijawab!
Azmi : Lupakan saja. Nanti dibahas lagi. Aku mau buru-buru ke bagian akademik untuk tandatangan. Ciao ya…
Ijal : Heh, heh, kok buru-buru?
Nana : Ini siapa yang bayar?
Azmi : Tenang. Kalau beasiswaku sudah cair nanti aku yang bayar! (HP berbunyi). Eh, Dek Li ada apa? Masih marah? (mendengarkan suara dari HP). Apa??? Abang…abang. ..
Nana : Kenapa, Mi?
Azmi : Aku rekaman!!! (berlarian lalu keluar)
Nisa : Yah, dia pergi lagi tanpa membayar!!!
(semua keluar)
**SELESAI**