PENGGAMBARAN TOKOH
Pagi itu Ijal dan kawan—kawanya mengikuti mata pelajaran Bahasa Indonesia bersama bapak Amin. Ijal bersama kawan-kawanya yang bernama Ria, Riski lagi di ruang kelas menunggu gurunya.
Ijal : Ria gimana tugas kemaren dah siap blum?
Ria : kalau tugas yaaah, dari kemaren dah siap.
Ijal : kamu Ki, ?.
Riski : udah !
Lagi asyik-syik ngobrol datang bapak Amin.
Pak Amin : Assalamualaikum?
Pak Amin memberi salam kepada muridnya.
Siswa : Waalaikumsalam ! murid-muridnya menjawab salam pak Amin dengan serentak. Pak Amin dengan senyum-senyum langsung duduk di depan kelas.
Pak Amin : Bagaimana kabar hari ini, sanggup belajar ?
Siswa : Sanggup Pak”’’!
Pak Amin : Minggu lalu ada tugas kan, bagimana tugas kemeren dah siap belum ?
siswa : Dah pak”””” !
Pak Amin tidak menyuruh mereka untuk kumpul tugasnya. Tapi dia suruh baca saja pada siswanya.
Pak Amin : Gimana pendapat kalian tentang Drama?
Siswa : Berdasarkan pendapat sediri, kan pak?
Pak Amin : Iya,,,, coba baca punya kamu. pak Amin menunjukkan kepada salah satu siswanya yang benama Ria.
Ria : Drama adalah kejadian yang terjadi sehari-sehari yang digambarkan dalam naskah kemudian dipentaskan..
Pak Amin : Bagus, Ada yang lain?
Ada pak,, jawab salah seorang siswa yang duduk di sudut ruang kelas.
Pak Amin : coba baca punya kamu,,
Riski membacanya di depan kelas dengan mnguraikanya yang telah dia tulis semalam dengan begitu panjang lebar. .
Pak Amin : Kalian memang anak bapak yang cerdas- cerdas,
Pak Amin membangkitkan semangat siswanya. Setelah itu, Pak Amin menyuruh siswanya untuk menggambarkan tokoh dalam suatu cerita.
Pak Amin: Baik setidaknya, kalian sudah tau tentang drama, sekarang kita mencoba untuk menggambarkan seorang tokoh dalam sebuah naskah atau cerita. Pak Amin menjelaskan tetang cara penggambaran tokoh, baik dalam suatu cerita ataupun naskah drama.
Pak Amin : kita dalam menggambarkan tokoh boleh secara langsung dan tak lansung.
Pak Amin menguraikan penggambaran langsung dan tak langsung
Pak Amin : kalian sudah paham kan
Siswa : Sudah pak’’’’’’!.
Pak Amin : Baik untuk pengambaran tokoh, kalian boleh di luar ruang waktu kalian 10 menit.
Ijal : yaaaaaah Pak Cuma 10 menit
Pak Amin : ya kita tidak banyak waktu.
IJal : yaaaah pak
Ijal : Yaudah Ijal enggak keluar di dalam kelas saja.
Siswa yang lain pada keluar ruangan.
Ijal meperhatikan bapak yang ada di dalam ruangan tersebut, lalu ia ambil satu lembar kertas buku dan pulpen sebagai alat tulisnya. Dia menggambarkan tokoh di depannya itu dengan malukis wajah gurunya, sedangkan Pak Amin tidak memperhatikan Ijal, dia hanya melihat buku yang ada di depanyan. Waktu berjalan sekitar lima menit. Pak Amin mecoba menanyakan sama si Ijal.
Pak Amin : sudah siap ijal?
Ijal : Belum pak! Sikit lagi.
Pak Amin : waktunya tinggal lima menit lagi,,
Ijal : ok Pak!
Pak Amir melihat jamnya, waktu yang diberikan pun sudah habis,
Pak Ami : Ijal sudah habis waktu. Tolong panggil kawan-kawannya di luar.
Ijal : Ok pak”””! ijal dengan tersenyum langsung bangkit dari tempat duduknya, memanggil kawan-kawan sekelasnya.
Ijal : Riski tolong panggil kawannya dah habis waktu. Ka höi bagaih bacut.
Riski memanggil Ria dan kawan lainnya suruh masuk ruangan.
Siswa yang di luar ruangan tadi langsung masuk ke dalam ruangan kelas.
Pak Amin : sudah habis masuk semua?
Siswa : Sudah Pak’’’!.
Pak Amin menyuruh Riski untuk membacanya hasil dari yang Riski tulis tadi di luar ruangan. Riski membacanya dengan begitu semangat. Dia membacanya dengan begitu bagus dengan irama dan intonasi yang sedih membuat siswa lain terharu mendengarnya.
Pak Amin : Bagus sekali,, “Kembangkan yang kamu tulis tersebut sampai menjadi sebuah naskah’”.
Pak Amin menunjukan siwa yang lain. Pak Amin menyuruh Ria membacanya.
Ria langsung bangkit dari tempat duduknya maju ke depan untuk membacanya. Dia langsung mebacanya dengan nada semangat yang membuat siswa bergairah dan semangat yang tinggi.
Kali ini Pak Amin menyuruh Si Ijal, yang dari tadi tertawa dengan temannya. Ijal memang anak yang terlihat bandel di ruangan tersebut.
Pak Amir : Ijal coba kamu baca yang kamu tulis tadi,
Ijal : Oma””” Pak”””! sikit lagi ne belum siap.
Pak Amir : Tidak apa-apa,, baca saja yang telah kamu tulis itu.
Ijal dengan wajah yang takut langsung bangkit dari temppat duduknya maju ke depan ruang. Dengan kertas yang bergambar wajah gurunya sehelai dia pegang, dia maju ke depan dengan menunduk kepalanya.
Pak Amir : coba baca,
Ijal tidak membacanya Cuma menamppakkan kepada siswa hasil dari dia lukis yang bergambarkan gurunya.
Siswa : Mirip Jal“’
Seluruh siswa tertawa melihatnya..
Penulis: Janufardi, Amalia, Fariatna, Ida Yani.