Sejengkal Tanah
(Diangkat dari cerpen karya dianing Widya Yudhistra)
Pentas : Suasana di dalam kamar hening, ada ayah dan ibu yang sedang bercakap- cakap
Ayah :”Menantu seperti apa yang kamu inginkan, Bu”. (sambil mondar-mandir)
Ibu :”Aku tak mengharapkan yang macam-macam, Pak”.
Ayah :”Apa yang kurang dari Sabirin. Ia seorang guru, anaknya santun, masa depannya jelas.
Ibu :”Bapak lupa ! (dengan nada keras) Aku tak sudi menantukan cucu perampok. Mereka dengan sewenang-wenang merebut tanah milik ibuku. Tanah yang ibu beli dengan keringat sendiri, Pak.
Sampai kapanpun aku tak kan pernah merstui hubungan mereka, apalagi merestui pernikahan mereka!” (dengan nada makin tinggi)
Tiba-tiba dari luar terdengar ketukan pintu
Tok…tok…tok…
Ibu :”Masuk!
Rasti :”Ibu, maafkan Rasti, bu”. (bertekuk lutut didepan Ibu)
Ibu :”Kalau kedatanganmu hanya untuk memohon restu ibu, kamu salah alamat!” (datar sembari menatap Rasti nanar)
Rasti :”Bagaimana mungkin Rasti menikah tampa restu ibu” (mengoncangkan tubuh ibu, mengharap penuh iba)
Ibu :”Asalkan tidak dengan Sabirin, Rasti!
Rasti :”Ibu membencinya tanpa alasan!” (bangun, dan berkata dengan nada tinggi)
Ibu :”Kau ingin tau alasannya!” (mengepal tangan dengan kuat dan menatap Rasti lekat-lekat)
Ayah :”Tapi Bu…
Ibu :”Mereka telah merampas tanah milik kakek nenekmu, Rasti.(menunjuk- nunjuk tepat di wajah Rasti). Peristiwa menyakitkan itu sudah lama terkubur, kini kamu bangkitkan lagi luka itu, Rasti”.
Rasti :”Tidak mungkin! Dan Sabirin tidak seperti itu, bu” (membela diri)
Ibu :”Siapapun tak akan percaya Rasti”.
(saling diam)
Rasti :”Tidak Bu, aku akan tetap akan menikah denagnSabirin. Sabirin bukan perampok. Itu hanya masa lalu yang terjadi akibat keluarganya bukan dia! Aku tetap menikah dengannya. (berlalu pergi meninggalkan ibu sendiri yang terisak. Membanting pintu dengan keras).
Ibu :”(berteriak) Sampai kapanpun aku tak akan pernah merestui hubungan kalian, Rasti!”
Ayah :”Ibu ego! Tak memikirkan Rasti! Dia anak semata wayang kita bu,
Ibu terlalu dendam hingga menghancurkan cintanya!” (sambil meninggalkan ibu dan mengikuti Rasti)
Ibu : (makin terisak)
Lima tahun kemudian
(Ayah menghampiri Ibu yang sedang tekun menjahit. Ayah tampak buru-buru dan panik)
Ayah :”Ibu, kumohon bu.. tolong ke rumah sakit. Rasti membutuhkanmu. Ia terus memannggil namamu.” (panik nampak tegang)
Ibu :”Apa urusannya denganku” (datar, tak peduli sambil melanjutkan jahitannya)
Ayah :”Bu, walau bagaimanapun, ia tetap darah dagingmu. Kenapa hatimu terlalu keras bu.” (memohon dengan sangat memelas)
Ibu : (berdiri dengan emosi tinggi)
Iya, darah daging yang durja! Tak disangka, orang-orang yang di sekitar yang bertahun-tahun kucintai tapi menyakiti! Termasuk kau, yang telah merestui pernikahan Rasti dengan Sabirin yang tak pernah kuingini. (menangis terisak)
Kini, ketika dia kesakitan. Hari ini kau datang temui aku. Tidak!
Aku terlanjur sakit hati, Pak! (berteriak dengan nada tinggi)
Ayah :”Bu, tapi Rasti sedang kepayahan. Ia sedang melahirkan, bu!
Mungkin dengan kau datang, dia bisa mudah menjalani proses melahirkannya, bu!
Bu, demi calon cucu kita!”
( Ibu mulai lunak hatinya. Dia beranjak dari jahitannya )
Ibu :”Baiklah, demi bayi itu!” (datar, namun lantang)
Tiba-tiba seorang mengetuk pintu. Ia adalah Sabirin, dengan wajah semraut, sangat murung dan tampak kepanikan.
Sabirin :”Assalamua’laikum bu, pak….
Ayah ::Wa’alaikumsalam…bagaimana Sabirin keadaan Rasti…
Ayah berhasil membujuk ibu untuk melihat Rasti di rumah sakit.
Kalau begitu, mari kita pergi bersama.
Sabirin :”Ayah..Rasti sudah menemui ajalnya. Ia pergi bersama bayinya untuk selamanya “ (dengan wajah menunduk dirundung kesedihan)
Ayah :”Apa..? itu tidak mungkin Nak” (ayah pun lunglai)
( Ibu menangis )
Ibu :”Rasti, maafkan ibu, nak. Ibu menyakitkan hatimu, ibu menyadarinya sekarang. Dendam membawa segalanya menjadi hancur. Ibu menyesal….
(tersedu-sedu, diam, hening)
Disusun oleh 1. Ellia Delpita
2. Husnul Khatimah Arif
3. Asnah Manik
4. Rita Zahara
5. Sudarmono