Antara Ar-Raniry dan Fansuri

Posted on

Oleh Medri Osno

Peneliti Balai Bahasa Banda Aceh

Mukadimmah

Sejatinya sebagai orang awam yang daif, saya gamang untuk menulis dan mempersandingkan dua tokoh sufi agung ini. Apalagi sampai mempertentangkan ajaran mereka. Terus terang rasa penasaranlah membuat saya mencoba mendedahkan dua legenda wira sufi ini.

Semula saya ingin memberi tajuk tulisan ini dengan judul “Tragedi Berdarah Para Sufi”—tulisan ini tidak ada kaitannya dengan konteks kekinian, di mana banyak ormas, kelompok (aliran) Islam merusak citra Islam itu sendiri dengan bertindak anarkis dan tidak simpatik. Namun, rasanya tajuk tersebut terlalu bombastis, walaupun dalam catatan sejarah pertentangan dua tokoh agung ini memang berdarah-darah adanya. Setahu saya, inilah tragedi berdarah untuk pertamakalinya terjadi di rantau melayu yang disebabkan oleh masalah agama. Namun, di balik tragedi ini dapat kita lihat perjalanan historis bahwa kerajaan Aceh Darussalam telah menjadi pusat perkembangan Islam di nusantara. Tidak saja ulama pribumi ingin menanamkan ajarannya, tetapi juga ulama-ulama yang berasal dari luar negeri, salah satu di antaranya adalah Nuruddin Ar-Raniri. Mereka saling berebut mempengaruhi Sultan, dengan tujuan agar ajaran mereka leluasa berkembang di pusat rantau Melayu ini.

Sekilas Tentang Nuruddin Ar-Raniri

Ulama, pengarang, dan cendikiawan ini adalah peranakan Hadramaut-India, dilahirkan di Ranir, Gujarat, India dengan nama lengkapnya Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid al-Raniri. Ia terinpirasi merantau ke tanah Melayu ini oleh pamannya Muhammad Jailani ibn Hasanji yang sukses mengajarkan ilmu tassawuf di Aceh (1580-1583). Faktor lainnya adalah karena kegiatan keagamaan di kampung halamannya telah mengalami kemunduran. Kedua faktor inilah yang mendorong semangatnya untuk berpetualang. Tidak tanggung-tanggung ia mempersiapkan dirinya dengan matang selama lebih kurang 50 tahun. Ia belajar ilmu tasawuf pada Abu Hafs ‘Umar bin ‘Abdallah dan masuk tarikat Rifa’iyah mengikut Muhammad al-Aidarus di Surat. Selain itu, ia pun belajar dengan tekun sehingga mampu menguasai bahasa Melayu dengan fasih. Hal ini terbukti ia telah menulis beberapa kitab dalam bahasa Melayu semasa masih belajar di kampung halamannya.

Merasa perbekalannya telah cukup, berangkatlah ulama Gujarat ini menuju pusat kerajaan Melayu yaitu Bandar Aceh Darussalam. Namun, pada saat itu kerajaan Aceh Darussalam sedang berada dalam puncak keemasannya di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Demikian pula dengan kegiatan keagamaaannya dipimpin oleh tokoh tasawwuf wujudiyah Syamsuddin Pasai—seorang pengikut Hamzah Fansuri. Ia ulama istana yang amat disanjung oleh raja. Bahkan, ia mendapat gelar Syaikh al-Islam. Tidaklah mengherankan kalau ia mendapat tempat istimewa dalam istana dan di sisi sultan. Hal ini disebabkan Iskandar Muda selain seorang raja, juga menjadi muridnya, bahkan menjadi pengikutnya dalam ajaran wahdatul wujud. Kiranya hubungan keduanya amat mesra dan timbal-balik. Beberapa karyanya seperti Tariq al-Salikin dan Nur al-Daqa’iq dipersembahkannya untuk sultan. Kalau kita merujuk agak kebelakang yaitu pada kitabnya Mir’at al-Mu’min , maka dapat dilihat Syamsuddin telah mulai memainkan peranannya sejak masa pemerintahan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukamil (1588-1604). Sebab kitab ini dikarang pada tahun 1601 M dan dalam kitab ini pulalah ia menulis sesuai dengan ajaran Hamzah Fansuri menggunakan bahasa Melayu yang ia namai bahasa Pasai.

Dengan kondisi pemerintahan dan keagamaan seperti ini, Aceh menjadi tumpuan para ulama dari Timur Tengah di Asia Tenggara. Juga setelah wafatnya ulama ini (1630) murid-muridnya masih berpengaruh di istana. Ketika Nuruddin menginjakkan kakinya di kerajaan ini, ia langsung ditolak karena ajarannya berseberangan dengan faham wujudiyah yang sedang mekar di kerajaan Aceh. Dengan perasaan kecewa, ia pun “hengkang” dan meneruskan perjalanannya. Besar kemungkinan untuk sementara ia menetap di Semenanjung Tanah Melayu, tepatnya di Pahang (tempat kelahiran Iskandar Thani). Ia tidak patah semangat dan menunggu saat yang tepat untuk kembali lagi ke Aceh. Dan di sini pulalah ia banyak menulis kitab.

Ketika Sultan Iskandar Muda mangkat (1636) dan tidak berapa lama kemudian Sultan Iskandar Thani pun naik tahta. Maka Nuruddin yang telah menaruh “dendam” karena ajarannya pernah tidak diterima kembali lagi ke Aceh pada 31 Mei 1637 dan membuat suasana keagamaan berubah. Mungkin ketika di “pengasingan” ia telah akrab dengan Iskandar Thani, tidak mengherankan kalau ia mendapat dukungan dari sultan dan dengan mudah mengalahkan pengikut Hamzah. Dalam tulisannya Hujjat al-Siddiq li Daf al-Zindiq ia berfatwa bahwa penganut tasawuf aliran Hamzah Fansuri di Aceh adalah zindik (orang yang sesat). Dan dari sinilah awal tragedi berdarah tersebut dimulai. Nuruddin yang telah mendapat dukungan dari sultan memaksa kaum wujudiyah untuk meninggalkan faham wahdatul wujud Hamzah Fansuri. Bagi mereka yang tidak mau meninggalkannya dicap orang kafir dan halal untuk dibunuh. Selain itu, karya-karya Hamzah dan ikutannya dimusnahkan dengan dibakar di depan mesjid Raya Baiturrahman pada tahun 40 an abad ke-17. Peristiwa ini ditulis sendiri oleh Nuruddin dalam dalam Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan; …dan setengah daripada mereka itu memberi fatwa akan kufur dirinya, maka setengahnya taubat dan setengahnya tiada mau taubat. Dan setengah daripada mereka itu yang taubat (murtad pula ia, kembali kepada itikadnya yang dahulu jua….) murtad pula. Yang taubat itu kembali ia kepada itiqadnya yang dahulu jua… maka terbunuhlah segala tentara kaum yang kafir.

Dalam kitabnya Hill al-Zill, Nuruddin membantah dengan keras pendapat kaum wujudiyah yang mengatakan bahwa dunia ini ialah bayangan Allah. Namun, hujatannya kepada Hamzah Fansuri paling lengkap terdapat dalam kitabnya Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan, karena hampir seperenam isi kitab ini adalah tuduhannya atas kesesatan Hamzah. Di sebalik tragedi ini nampaknya Nuruddin tidak hanya ingin mempertahankan ajarannya semata-mata, namun ada maksud terselubung, yaitu ingin merebut dan mempertahankan kedudukan di sisi Sultan Iskandar Thani, seperti sedekat Syamsuddin di sisi Sultan Iskandar Muda. Kebencian Nuruddin berlanjut sehingga dalam karya besar seperti Hikayat Aceh tidak disebutkan nama seorang ahli tawasuf dan tokoh sastra Hamzah Fansuri. Hal ini tentulah menjadi kerugian yang besar bagi Aceh.

Yang agak aneh, ternyata Nuruddin juga penganut paham wujudiyah. Hal ini dapat dilihat dalam kitabnya: Jawahir al-Ulum dan Hujjat al-Siddiq li Daf al-Zindik. Kitab ini merujuk pada pada ajaran Ibn ‘Arabi—sedangkan Ibn ‘Arabi adalah pendiri faham wujudiyah. Dalam kitab ini ia menggolongkan ada dua jenis wujudiyah, yaitu: mulhid dan muwahhid. Ia menganggap dirinya termasuk golongon muwahhid (lurus) sedangkan Hamzah dan pengikutnya dimasukkan ke dalam golongan mulhid (sesat) yaitu golongan yang berpendapat bahwa Allah imanen belaka, tidak transenden, dunia ini kekal, tidak mengakui bahwa Alquran tidak bersifat makhluk yaitu tidak tercipta, telah mendewakan diri sendiri, dengan penegasannya bahwa tidak ada perbedaan antara mereka dan Allah. Banyak kitabnya yang membahas masalah tersebut seperti terdapat dalam kitab Hiil az-Zill (Sifat Bayang-Bayang), Syifat al-Qulub (Pengobatan Hati), Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan (Penjelasan Tentang Kepercayaan), Hujjat as-Siddiq li Daf az-Zindiq (Pembuktian Ulama Dalam Membantah Penyokong Bidah), Asrar al-Insan fi Ma’rifat ar-Ruh wa ar-Rahman (Rahasia Manusia Dalam Pengenalan Ruh dan Yang Maha Pengasih).

Ternyata kejayaan Nuruddin di Aceh tidaklah lama, setelah Sultan Iskandar Thani wafat (1644) dan digantikan oleh permaisuri Sultanah Safiatuddin, anak Iskandar Muda (1641-1675), maka bersamaan dengan itu datanglah dari Mekkah seorang ulama asal Minangkabau bernama Saiful Rijjal ke Aceh. Ia merupakan seorang penganut faham wujudiyah Hamzah Funsuri. Perseteruan Nuruddin dengan wujudiyah bangkit kembali. Kali ini yang menang ulama wujudiyah Saiful-Rijal. Akibatnya, Nuruddin terpaksa meninggalkan Aceh secara tergesa-gesa sehingga tidak sempat menyelesaikan karangannnya yang berjudul Jawahir al-Ulum fi Kasyf al-Ma’lum (Hakikat Diri Dalam Menyingkap Objek Pengetahuan). Ia meninggal di kota kelahirannya, Ranir, dalam tahun 1658.

Sekilas Ajaran Hamzah Fansuri

Lalu benarkah ajaran Hamzah Fansuri sesat seperti tuduhan Nuruddin Ar-Raniri? Sekali lagi, sebagai orang awam saya gamang untuk menjawabnya. Saya rasa hanya karya-karyanyalah yang berhak untuk menjawab dan menjadi hakim atas tuduhan-tuduhan tersebut. Untuk itu, secara ringkas kita akan membahas beberapa karya Hamzah Fansuri karena untuk mendedahkan secara utuh tentu tidak mungkin diruang yang terbatas seperti ini.

Tuduhan Nuruddin yang menganggap Hamzah telah menempuh jalan sesat dan berlebih-lebihan kiranya dapat disangkal Hamzah dalam syairnya; segala muda dan sopan/segala tuan berhuban/uzlatnya berbulan-bulan/mencari Tuhan ke dalam hutan. Pada syair ini Hamzah tidak menolak aktivitas keduniaan, dan ia tidak setuju dengan sufi sesat yang suka bertapa, menyiksa diri, tidak mau bergaul dengan masyarakatnya; Segala menjadi sufi/segala menjadi sawqi/segala menjadi ruhi/gusar dan masam di atas bumi. Agaknya Hamzah ketika menulis syair ini berpedoman pada Qura’an dan hadist; yang intinya: sesungguhnya Allah menyuruh manusia untuk mencari kehidupan dunia dengan tidak meninggalkan kehidupan akhirat. Namun, sebagai seorang hamba yang telah mencapai tingkat kesufian, ia menolak untuk dijajah kebendaan duniawi; Jika engkau bersahabat dengan orang kaya/ akhirnya engkau jadi binasa. Percuma mencari Tuhan dalam hutan yang sepi, kalau tidak memahami hakikat diri yang dalam. Tuhan bisa dicari dalam diri sendiri. Dia lebih dekat dengan kita daripada pembuluh darah kita sendiri; subhani itulah terlalu ajaib/ dari habbil-warid Ia qarib. Barangsiapa mengenal dirinya sendiri, ia akan mengenal tuhannya. Namun, untuk mencapainya tidaklah mudah, butuh kesungguhan dan kerja keras baik secara lahir maupun batin dalam beramal, beribadah, mentaati syariaah, dan mendalami agama. Inilah konsep tasawaf Hamzah.

Pengembaraan Hamzah dalam mencari Tuhan dapat kita lihat pada penggal syairnya berikut; Hamzah Fansuri di dalam Mekkah/ mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah/ dari Barus ke Kudus terlalu payah/ Akhirnya dijumpa di dalam rumah. Jadi, jelaslah betapa beratnya pengorbanan Hamzah mencari Tuhan, baik secara lahir maupun batin. Ia mengembara dari Barus (kampung halamannya) hingga ke Mekkah. Pengembaraan ini dilakukan untuk menemukan hakikat dirinya, karena begitu manusia lahir ke dunia ia merasa asing dan jauh dari hakikat dirinya. Dan ternyata memang ia menemukan Tuhan ada dalam dirinya sendiri. Saya rasa inilah inti pati dari ajaran tasawuf Hamzah “orang yang mengenal hakikat diri sendiri akan mengenal Tuhannya”. Cahaya Ilahi akan mampu ditangkap manusia dari dalam kalbunya yang paling dalam apabila ia bersungguh-sungguh penuh kedisiplinan menjalankan ibadah keagamaan. Pada penggal syair di atas juga menjelaskan bahwa Hamzah tidak menolak melakukan kegiatan keagamaan dengan cara berpetualang asal itu dianggap sebagai latihan kerohanian dan menjalankannya penuh dengan keyakinan.

Lalu bagaimana tuduhan Nuruddin yang menganggap ajaran Hamzah penganut faham hulul? Yaitu faham yang meyakini antara zat makhluk dengan zat Tuhan sejatinya adalah satu jua. Makhluk adalah bayangan Tuhan. Makhluk lebur selebur-leburnya dengan Tuhan sehingga makhluk menyatu dalam zat Tuhan. Untuk menjawabnya saya akan mengutip pendapat Abdul Hadi W.M dengan melihat dua penggal syair Hamzah berikut; cahaya athar-Nya tiadakan padam/ memberikan wujud pada sekalian/ menjadikan makhluk siang dan malam…. aho segala kita umat Rasuli/ tuntut ilmu hakikat al-wusul/ karena ilmu itu pada Allah qabul/ i’tiqadmu jangan ittihad dan hulul.

Dari sini dapat kita lihat pertama ia menulis berdasarkan Qura’an surah Annur yang menjelaskan bahwa tuhan itu kreatif. Hamzah memandang ada perpedaan yang jelas antara Tuhan sebagai pencipta dengan manusia sebagai hamba. Namun pada hakikatnya manusia sebagai ciptaan merupakan fase-fase wujud Ilahi karena memang diciptakan menurut gambaran Tuhan. Dalam ungkapan syairnya yang lain, ”wujud Tuhan dengan wujud dirinya esa jua”. Hal ini hendaknya dapat kita maknai tingkat kesufiannya yang telah menembus makrifat, di mana kehendak Tuhan dengan kehendak manusia telah menyatu. Penyatuan ”wujud” di sini tidak dapat dimaknai secara fisik, tetapi dimaknai secara batin yang berarti dalam dirinya terpancar keberadaan Tuhan di dunia, dan ia mampu mengemban sifat-sifat ilahi yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Sebab kehendaknya dengan kehendak Tuhan telah menyatu, dan ia tidak terpisah dari tuhannya. Lebih lanjut mengenai hal ini kiranya dapat kita simak pada Syair Perahu terutama bait bait 1,2,3,19,21,22,30, dan 33.

Sebagai penulis, saya tidak akan berpihak pada Nuruddin maupun Hamzah Fansuri. Namun, saya kira salah satu penyebab tragedi ini adalah kesalapahaman Nuruddin dalam mengartikan istilah-istilah Arab-Melayu yag dipakai oleh Hamzah Fansuri. Walupun dia sudah belajar dan mengarang dalam bahasa Melayu, namun sebagai pendatang tentulah ia belum dapat memaknai keseluruhan istilah tersebut. Misalnya, ia tidak bisa menjelaskan masalah perbedaan yang mendasar dalam tata peristilahan yang dipakai Hamzah dalam istilah Melayu yaitu ‘ada’ yang menunjukkan pada eksistensi luar (wahmi) dan istilah Arab ‘wujud’ yang sesuai dengan eksistensi dalam (hakiki). Selain itu, Nuruddin masih terpengaruh oleh kebudyaan India yang masih percaya dengan mistik dan perdukunan. Namun walau bagaimanapun Nuruddin tetaplah merupakan seorang pengarang besar Melayu Klasik sepanjang masa, terutama karya yang paling fenomenal Bustan as-Salatin (Taman Raja-Raja) yang dikarang atas titah Sultan Iskandar Thani (1637). Dalam kitab ini nampaknya ia hendak menandingi Taj al-Salatin (1603), Sulalat al- Salatin (1612) dan Hikayat Aceh (1636). Dan memang Bustan as-Salatin merupakan karya Nuruddin terbesar dan karya terbesar pula yang pernah dihasilkan pengarang kesusastraan klasik Melayu. Pembagian bab-babnya mirip dengan Taj al-Salatin.

Namun, hal yang terpenting dari semua hal di atas adalah bagaimana orang Aceh terutama generasi mudanya mengapresiasikan dengan menghargai kekayaan tersebut di atas. Dan saya kira saat ini kita butuh tenaga peneliti-peneliti handal untuk menelaah sehingga dapat mengambil inti patinya demi tercapainya kemajuan dan kesejahteraan generasi yang akan datang.(www.harian-aceh.com)

Iklan

One thought on “Antara Ar-Raniry dan Fansuri

    ilhamegy said:
    Desember 28, 2015 pukul 5:05 am

    saya sangat setuju
    pasti ada kekeliruan dalam kisah atau cerita tentang syekh hamzah al fansuri dan
    ar-raniry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s