Janganlah Kau Berkata Benci

Posted on Updated on

(Senandung untuk Hasan Basri M. Nur)

(Serambi Indonesia, 8 Desember 2010)

Janganlah kau berkata benci
Bila hatimu tak sudi
Biarkanlah anganku ikut bayang-bayangmu
Kemana saja
Mana pernah ku tahu

PENGGALAN lirik lagu yang dipopulerkan Broery Pesolima di era tahun 80-an di atas kiranya tepat disenandungkan Prof. Dr. Darni M. Daud, MA. sesaat setelah ia membaca artikel Hasan Basri M. Nur (HBMN) berjudul “Spanduk Pak Rektor” (Serambi Indonesia, Kamis, 2 Desember 2010). Ada aroma kebencian yang begitu menyengat dari simpulan-simpulan yang termuat dalam artikel tersebut. Sebagai sesama akademisi, saya perlu memberikan persfektif lain dari apa yang ditafsirkan HBMN dalam artikelnya sehingga pembaca tidak terkooptasi dalam satu dimensi interpretasi.

Saya salut dan mengapresiasi kecerdasan HBMN dalam menghubung-hubungkan sejumlah variabel spanduk, rektor, Darni, dan politik. Formula korelasi yang dibangun begitu apik mengalir sehingga sepintas pembaca akan berkesimpulan vonis putusan bersalah HBMN terhadap Darni merupakan sebuah kebenaran. Jelas sekali Darni menjadi terdakwa sekaligus pencundang yang sedang “dikuliti” oleh seorang hakim agung yang maha benar. Namun, apakah logika-logika yang dipajang HBMN murni karena ia begitu cinta terhadap dunia akademik sehingga perlu mengingatkan Darni? Atau karena rasa antipati yang dasyat sehingga sedikit peluang “kesalahan” yang dilakukan akan menjadi sasaran empuk sumpah serafah? Tendensinya, kebencianlah motifnya.

Benci 1, HBMN memandang ganjil alias aneh ketika Darni yang notabene sebagai akdemisi tergiur merambah kancah politik. Pandangan ini menyesatkan. HBMN lupa, bahwa Ibrahim Hasan, Samsuddin Mahmud (keduanya mantan Rektor Unsyiah dan gubernur), bahkan Irwandi (Dosen Unsyiah) adalah akademisi. Di alam demokrasi, orang bebas mau menjadi apa saja.

Tukang becak, artis, bintang film, guru, mantan tentara, wartawan boleh menjadi bupati, gubernur bahkan presiden. Tidak ada larangan bagi setiap orang mendeklarasikan diri sebagai salah satu kandidat pemimpin negeri. Semakin banyak yang bernafsu menjadi pemimpin semakin baik bagi iklim demokarsi karena pemilih memiliki banyak pilihan. Darni satu dari sedikit putra terbaik yang dimiliki Aceh saat ini. Sebagai Rektor Unsyiah dua periode tentunya secara kapasitas cukup pantas bila ia bercita-cita ingin menjadi gubernur.

Benci 2, HBMN menuding Darni ambisius sembari mengingatkan bahwa Islam cendrung tidak menyukai orang yang terlalu ambisius akan jabatan karena dapat melahirkan rezim diktator. Tudingan ini sangat tidak mendasar, apalagi membawa-bawa Islam. Harus dibedakan ambisius dengan serius. Cita-cita apapun harus digapai dengan keseriusan, kerja keras, dan doa. Begitu juga dengan Darni, saya yakin ia sadar betul menjadi gubernur bukanlah perkerjaan mudah.

Setiap momentum akan dimanfaatkan, dan untuk Aceh hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, Puasa Ramadhan dan Israk Mikraz merupakan momentum terbaik untuk memperkenalkan diri pada masyarakat luas. Saya menilai spanduk-spanduk ucapan selamat Idul Adha Darni dengan maksud memperkenalkan diri kepada masyarakat luas tidaklah bersalah dari sudut apapun. Hal ini justru menunjukkan keseriusannya untuk menjadi pemimpin negeri ini. Dan negeri ini membutuhkan orang-orang serius. Biarlah nanti rakyat yang menilainya.

Benci 3, HBMN menuduh Darni dengan spanduknya telah mencuri start kampanye. Tuduhan ini sangat naif dan kejam, karena dalam aturan KIPP (Komisi Independen Pengawas Pemilu), disebut mencuri start kampanye apabila seorang kandidat telah resmi ditetapkan sebagai calon/kandidat pemimpin dalam Pemilu/Pemilukada, lalu ia berkampanye sebelum masuk pada tahapan kampanye resmi. Darni adalah manusia bebas yang dilindungi undang-undang untuk mengekspresiakan dan mempopulerkan dirinya. Apa bedanya yang dilakukan Surya Paloh dengan Nasional Demokrat (Nasdem)-nya atau Julia Peres dengan berbagai sensasinya. Lagi pula, tahapan pilkada masih terlalu jauh. Boro-boro menjadi calon gubernur secara resmi, partai yang akan mengusung Darni sebagai calon saja belum dapat dipastikan. Di mana letak mencuri startnya?

Benci 4, HBMN merasa gusar dan mengklaim warga bingung akan kehadiran spanduk-spanduk pak rektor. Apa yang perlu digusarkan? Dan warga mana yang bingung? Apakah spanduk-spanduk itu mengandung pelecehan SARA (Suku, Adat, Ras, Agama)? Apakah ada larangan dalam spanduk tertera nama dan menempelkan foto seseorang?

Apakah spanduk Idul Adha hanya boleh direntangkan pada daerah kelahiran pemasang saja? Saya bertanya kepada sejumlah warga yang membaca spanduk tersebut, ternyata mereka tidak gusar dan bingung. Bahwa warga menyadari ada pesan tersirat dibalik spanduk itu, boleh jadi, dan itu wajar-wajar saja di negeri yang demokrasinya mulai merekah ini.  Sungguh mengada-ada ketika HBMN mempersoalkan kalimat-kalimat spanduk yang berbunyi “Meuah desya lon rakan sinaroe, tapeujroh naggroe ngon meusyedara”. Untuk menjustifikasi hal itu HBMN menampilkan kekagetan Ayah Panton, “Memangnya seberapa besar dan seberapa banyak dosa pak Darni kepada rakyat sehingga harus menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui spanduk?” Astagfirullah.

Apakah sebelum memohon maaf kita mesti mengukur terlih dahulu seberapa besar dosa kita? Bukankah banyak pejabat setiap hari besar keagamaan memohon maaf kepada rakyatnya baik melalui media cetak maupun elektornik. Jika demikian, seberapa besar pula dosa para pejabat itu. Harus diingat Darni adalah Rektor Unsyiah yang mahasiswanya berdomisili bukan saja di seantero Aceh tetapi juga Indonesia.

Jadi masih relevan bila ia menebar spanduk ke seluruh pelosok negeri ini untuk memohon maaf karena mungkin saja Darni dan stafnya melakukan kekhilafan dan dosa saat melayani mahasiswa dan masyarakat. Soal biaya spanduk yang menurut kalkulasi HBMN fantastis bukanlah urusan yang relevan dipersoalkan. Itu urusan rumah tangga pak Darni. Tidak ada seorang pun yang bisa mengintervensi. Lagi pula, saya yakin Darni tidak sedang meminjam uang pada HBMN.

Benci 5, HBMN mencoba mengaitkan spanduk Pak Rektor dengan sejumlah pendapat yang mengklaim Unsyiah sedang dalam kemerosotan. Lebih dalam lagi dihubungkan dengan “Karantina” para guru besar saat pemilihan rektor beberapa waktu lalu. Dalam konteks ini, saya menilai tidak fair dan negative thinking. HBMN tidak melakukan check and banlance.

Muslim sejati tidak akan memperbincangkan aib muslim lainnya di depan publik. Aib yang benar saja (ghibah) tidak boleh dibicarakan,  apalagi aib yang penuh dengan prasangka dan belum pasti kebenarannya. Kalau mau jujur, Rektor IAIN dengan permasalahan Yayasan Tarbiyah-nya lebih layak untuk dikritisi HBMN yang juga dosen IAIN. Untuk Pak Darni, teruslah bersenandung. “Janganlah kau berkata benci/Bila hatimu tak sudi/Biarkanlah anganku.

* Penulis adalah Dosen FKIP Unsyiah.

About these ads

2 pemikiran pada “Janganlah Kau Berkata Benci

    lovewatergirl berkata:
    Desember 8, 2010 pukul 10:27 pm

    Assalamualiakum

    Blog yang sangat bagus sekali. Izin ngelink ya..
    Silahkan berkunjung ke blog saya http://lovewatergirl.wordpress.com

    Pelatihan Motivasi berkata:
    Desember 10, 2010 pukul 10:17 am

    terima kasih pak artikelnya, memang harus berhati-hati dalam berkata agar tidak timbul ghibah maupun fitnah…

    Rizal
    Surplus Institute

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s