Pemuda dan Bahasa

Posted on Updated on

[Serambi Indonesia, 29 Oktober 2011]

Oleh Nazar Shah Alam

“Kami putra putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”(Petikan: Sumpah Pemuda)

BAHASA adalah sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengindentifikasikan diri. Keraf (1994:1) memberikan pengertian bahasa sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Maka kemudian kita mengenal bahasa sebagai lambang atau identitas suatu bangsa. Karena boleh dikatakan hanya bahasalah yang bisa menandai seseorang berasal dari bangsa mana, negara mana, suku apa, bahkan hingga puak (kaum) apa, dan inilah juga yang menggolong-golongkan mereka dalam bangsa-bangsa tertentu.

Di Indonesia telah ditetapkan bahwa bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia. Sebuah bahasa dari rumpun Melayu yang kemudian mengalami banyak sekali proses sehingga membentuk kebakuan-kebakuan baru. Proses adopsi, transliterasi, dan berbagai proses lainnya telah membentuk bahasa Indonesia sebagai bahasa yang kompleks dan utuh serta memiliki khas tersendiri.

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia-dalam format baik dan benar-kemudian mengalami pergeseran yang lumayan jauh. Semisal dalam pergaulan sehari-hari, bahasa Indonesia pasar lebih banyak digunakan daripada bahasa Indonesia baku. Ini sebenarnya tidak salah, mengingat betapa perkembangan budaya menjadi penting untuk diikuti dengan meletakkan bahasa pada sifatnya yang elastis.

Betawi dan Sunda mengirimkan bahasa mereka ke tonggak tertinggi penggunaannya dalam pergaulan para muda saat ini. Mereka dibantu oleh pesatnya teknologi informatika yang sebagian besarnya dipegang oleh awak mereka. Kita tak asing lagi mendengar seseorang mengucap “gue, loe, gimana, jelasin” atau kata-kata lain yang seolah sudah baku dalam pergaulan. Bahkan kemudian banyak terlihat kita menertawakan orang-orang-para muda-yang menggunakan kata “saya, kamu, bagaimana, jelaskan” yang pada dasarnya memang baku sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu.

Ini juga tak salah, karena bahasa daerah-atau dialeknya-sendiri adalah pendukung bahasa Nasional, bahasa pendukung pembelajaran dan pendidikan di sekolah, dan alat pengembangan serta pendukung kebudayaan daerah yang nantinya akan berfungsi juga mendukung perkembangan budaya Nasional. Namun, bila bahasa daerah ini kemudian lebih digdaya di atas bahasa Nasional, tentu saja ini akan berimbas tak baik dari satu sisi. Sebut saja bahasa Alay (gaul) yang penggunanya dari para muda sudah tak terhitung jumlahnya. Bahasa Alay atau disebut juga bahasa pop ini kemudian masuk dalam dunia tulis menulis, dan sebagian besar para muda lebih menyukai membaca ini lalu mengikutinya. Ini akan berbuntut pada penggunaan kaidah-kaidah bahasa yang rentan salah dan atau amburadul.

Belajar dari Restorasi Meiji.

Dalam Restorasi Meiji, sebagai tonggak bersejarah kebangkitan Jepang, proses yang pertama sekali dilakukan adalah menumbuhkan cinta dan bangga pada tanah air dan bahasa Jepang sendiri. Ini dilakukan atas dasar bahwa cinta tanah air dan bahasa adalah kekuatan yang mampu menyatukan bangsa Jepang yang saat itu masih tradisional, terpecah klan, dan tertinggal. Untuk mengawali kebangkitan mereka mulai dari menerbitkan buku-buku yang dan menerjemahkannya dalam bahasa Jepang. Hal ini membantu melejitkan angka pertumbuhan pengetahuan rakyat Jepang hingga mencapai sepuluh persen.

Kita perlu mencontoh Jepang dalam hal ini. Tanpa bermaksud menjadi polisi bahasa yang memagar kreativitas bangsa dalam mengadopsi, menerjemahkan, menyerap, atau memberikan sentuhan-sentuhan baru terhadap bahasa resmi, kita perlu menjaga polusi lain yang merebak dan mengancam kelestarian bahasa tersebut. Mengikuti perkembangan zaman itu perlu, namun tentu dengan berpatokan pada kaidah-kaidah resmi.

Pemuda adalah penentu perkembangan dan kemunduran bahasa. Sebagai penerus peradaban, maka pemuda berpengaruh penuh pada segenap hal yang menyangkut konsekuensi itu. Menggunakan bahasa dengan baik dan benar-spesifiknya dalam ranah kepenulisan dan juga sebagian dalam percakapan-tentu lebih baik untuk mendukung kelestarian dan perkembangan bahasa persatuan tersebut.

Pemuda bertanggung jawab atas rusak dan berkembangnya bahasa persatuan itu. Dalam perkembangannya, pemuda juga berfungsi menciptakan filter untuk menjaga kaidah dan mengembangkan kebakuan sesuai konteks yang dibutuhkan. Karena bahasa akan selalu mengalami kemajuan dan pembaruan, sesuai dengan sifatnya yang elastis, maka menyaring untuk mendapatkan hasil terbaik adalah hal yang perlu sekali dilakukan oleh para muda sehingga kemudian bahasa Indonesia yang sudah memenuhi sejumlah syarat untuk menjadi bahasa ilmu itu bisa terus lestari dan berkembang dengan baik.

Maka, memulai dengan bangga berbahasa Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, menggunakan bahasa Indonesia untuk menerjemahkan buku-buku asing, memperbanyak padanan kata asing, mengembangkan bidang keilmuan dalam bahasa Indonesia, serta mengangkat bahasa Indonesia ke panggung dunia adalah hal awal yang perlu dilakukan para muda Indonesia sendiri. Tentu hal tersebut dilakukan dengan tanpa merusak bahasa dan dengan mengembangkannya sesuai patokan dan kaidah yang konvensional.

* Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s