Generasi dan Distorsi Guru

Posted on

[harian aceh, 31 Oktober 2011]

Oleh Nazar Shah Alam 

Poma ngoen ayah, lhe ngon gure, ureung nyan ban lhe tapeumulia (Ibu dan ayah beserta guru, ketiganya wajib dimuliakan)” Pepatah Aceh.

Oleh karena begitu pentingnya pengaruh guru dalam kehidupan, maka indatu mewariskan pepatah itu. Pepatah yang dijadikan landasan bagi kita bagaimana sebenarnya bersikap menghargai dan menghormati guru selaiknya orang tua sendiri. Hal ini karena guru pada satu sisi berpengaruh sama besarnya dengan pengaruh orang tua, yaitu mendidik anak untuk menjadi teladan dan pribadi yang berpendidikan.

Perkembangan sikap pada remaja terdidik negeri ini memang selalu saja menimbulkan sorotan. Apalagi bila sesekali kita menemukan mereka sedang melakukan ritual-ritual yang tidak wajar, semisal ngumpul-ngumpul di cafe, warung kopi, pantai, atau segenap tempat lain pada jam-jam sekolah. Sungguh miris sekali. Niat untuk belajar dan mendapatkan ilmu selayak-layaknya bagi remaja seolah sedang mendekati masa punah. Mereka lebih menikmati pergaulan dalam masa pubertas daripada sekolah yang di sana mereka merasa hanya selalu menjadi budak pelajaran. Lalu, muncullah pelanggaran-pelanggaran etika dan estetika oleh mereka yang semestinya menjaganya yang disebabkan oleh pelbagai hal di sekeliling mereka.

Tanpa disadari rupanya mereka sendiri yang merendahkan nilai pendidikan di negeri kita ini. Siapa yang salah sebenarnya, guru, orang tua, lingkungan, atau memang mereka sendiri? Remaja tidak sekolah dengan alasan bosan, tidak di rumah dengan alasan orangtua terlalu mengekang, dan kemudian timbul asumsi pada orang tua dan lingkungan bahwa anak-anak mereka gagal dididik di sekolahnya. Maka, gurulah yang kemudian akan digugat.

Sejatinya, guru adalah pemikul tanggung jawab untuk memberikan ilmu seperti apa yang semestinya siswa dapatkan, memotivasi siswa agar mau belajar, mendidik siswa menjadi pribadi yang baik dan berpengetahuan demi membantu mereka menggapai segenap cita-citanya. Kelak bila mereka sudah lepas dari dunia sekolah, mereka bisa bebas memilih masa depannya. Tanpa guru tentunya akan tertutup banyak pintu untuk mereka memilih cita-cita mereka masing-masing. Sebab, dalam kondisi zaman “serba wajib ijazah” ini, hampir semua pekerjaan tak bisa lepas dari pengaruh seorang guru sebagai pengantar mereka mendapatkan satu kunci pekerjaannya, ijazah.

Namun itu, kenyataan sekarang menempatkan guru pada posisi yang lain daripada orangtua. Ada semacam perbedaan yang sangat jauh untuk posisi keduanya. Orang tua masih berada di posisinya sendiri, sedangkan guru telah dipindahkan dari tempat yang pantas mereka duduki. Guru sekarang tak lebih dari objek yang dimanfaatkan untuk sekedar mengajar dan kemudian mendapatkan gaji dari pekerjaannya. Jadi, vulgarnya guru sudah dianggap sebagai tukang ngajar, kuli pemberi ilmu, maka mereka tak begitu dihargai sebagai seorang guru.

Ironisnya, tanpa disadari guru memang benar seolah sebuah sumur tua di mana semua sampah wajar dijerumuskan ke dalamnya. Riilnya dapat dilihat ketika anak-anak usia sekolah melakukan kesalahan tertentu, pihak orang tua dan masyarakat dengan marahnya berujar, apakah tak diajarkan di sekolah cara menghargai orang tua atau bersikap baik? Padahal pada faktanya di sekolah lebih banyak waktu terbuang untuk mendidik para siswa daripada mengajarkan mereka bidang ilmu pengetahuan tertentu.

Di banyak sekolah, porsi pendidikan untuk siswa bahkan diberikan sangat besar daripada pembelajaran. Artinya, sekolah jauh lebih peduli pada pembentukan moral siswa daripada penyaluran ilmu pengetahuan. Maka bila kemudian siswa bersikap tak terdidik di lingkungannya, ini tak lebih dari keegoan pribadi siswa tersebut. Jelas dalam hal ini guru tidak boleh serta merta disalahkan.

Hal lain yang sebenarnya perlu disadari oleh para orang tua dan masyarakat, bahwa bukanlah guru saja yang bertanggung jawab atas penyimpangan-penyimpangan moral anak-anak mereka, tapi juga orang tua sendiri, lingkungan pergaulannya, dan lingkungan kehidupannya. Sebab, dengan kondisi pergaulan semakin memperkeruh moral dan perkembangan media informasi yang lebih banyak dicontoh hal buruknya oleh anak-anak sekolah, orang tua dan masyarakatlah yang sedianya perlu lebih bekerja ekstra untuk menjaga anak-anak mereka.

Ada banyak hal yang dipraktekkan sekolah demi membentuk pribadi baik siswa. Salah satunya dengan menetapkan kedisiplinan yang ekstra. Sanksi-sanksi sosial bahkan sampai ke hukuman dikeluarkan pun diberlakukan. Namun itu, siswa masih tetap saja melakukan pelanggaran-pelanggaran.

Bahkan semakin hari kian banyak saja siswa yang melanggar peraturan. Untuk pelanggaran-pelanggaran norma dan etika kependidikan, siswa mencontohnya dari tontonan dan pergaulan. Maka, bukankah terlalu naif bila kita masih saja menyalahkan guru atau sekolahnya bila anak-anak kita melakukan hal-hal yang tidak diinginkan?

Dalam hal guru menjadi pusat perhatian bila siswa bersikap “kurang ajar” sebenarnya tak salah. Karena memang guru memiliki tanggung jawab untuk mendidik. Namun itu, tentu tidak semua keburukan siswa boleh dilimpahkan pada kesalahan mendidik guru. Misal, ketika siswa mencuri, merokok, mesum, tawuran, dan melakukan hal-hal di luar batas kewajaran, ini sepenuhnya karena pergaulan. Untuk ini yang salah tentu bukan guru saja, melainkan orang tua dan lingkungannya. Bagaimana orang tua menjaga pergaulan anak-anak mereka. Maka, sangat tidak wajar bila orang tua menyerukan—bila anaknya melakukan kesalahan—sebuah idiom Aceh lainnya, kon salah ma, kon salah ku, salah guru di sikula (bukan salah ibu dan ayah, tapi salah guru di sekolah). Ini seolah menafikan bahwa orang tua tak begitu bertanggung jawab atas moral anak-anak mereka dan gurulah yang bertanggung jawab penuh di atasnya.

Menyikapi hal ini, tentu kerjasama yang baik antara sekolah dan orang tua sangat diharapkan. Dengan adanya kerjasama ini maka akan semakin sempit pula ruang untuk siswa melakukan pelanggaran demi pelanggaran. Orang tua mendidik anaknya di rumah, sedang guru mendidik di sekolah. Dari itulah kemudian muncul sikap tidak saling menyalahkan antara pendidik. Remaja perlu diperhatikan pergaulan dan lingkungannya, sebab kedua hal ini sangat rentan membentuk pribadi mereka.[]

 

*Penulis adalah guru PPL SMAN 7 Banda Aceh, mahasiswa PBSI FKIP Unsyiah, dan aktif di Komunitas Menulis Jeuneurob.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s