Kesempatan Itu

Posted on Updated on

[Harian Aceh, 29 Oktober 2011]

Cerpen Rismawati

Angin, kaukah yang mengubah jalan hidup ini, menyentak-nyentak hingga menyeretku dalam kehidupan yang berbeda? Hanya dua musim di negeriku, hujan dan kemarau. Akhir-akhir ini angin mulai menyetubuhi kehidupan kami, menyeruak di balik pepohonan cemara. Mereka dipaksa terseok-seok menggugurkan beberapa daun, dahan dan ranting bahkan dipaksa menciumi tanah di sepanjang jalan T. Nyak Arief, di bawah terik, deru kendaraan, angin, dan debu. Seketika panas dan pula dingin. Aku menata hatiku seperti musim yang tak menentu. Seperti aku, kau pun tentu tak berdaya mengubah keadaan ini, meski pagi masih muda. Kupakai jaket dan kututup wajah dengan helm, melawan terik. Desing roda dua menemani perjalananku.

Dari gerbang utama sejumlah mahasiswa S2 dan S3 dari berbagai jurusan terlihat menyibukkan diri.

“Hai..!” Kusapa teman seangkatan. Tidak menunggu jawaban, aku bergegas menuju perpustakaan hendak menemukan buku literatur mengenai tesisku. Duk. Aku tersentak melihat sosok di antara buku-buku. Melihatnya, aku membatalkan niat mencari literatur di ruang pustaka ini. Aku belum siap bertemu sejak perbincangan kemarin. Aku berbalik.

Namun saat itu pula dia mencium gerakanku. Aku tidak bisa mengontrol emosi saat mata kami bertumbukan. Keadaan ini meluruhkan semangatku. Dari sejumpun manusia yang berserak kenapa mata ini harus tertuju padanya. Aku diam. memburu langkah menjauhinya.

“Cut…! Cut..!” Dia memanggil dengan setengah berlari.

Senyum hambar mengikuti saat aku terus berlari kecil dan menjauh. Aku menolehnya sesaat. Agaknya dia tidak menguntitku. Terngiang pesan Ummi sejak beberapa bulan terakhir bahwa aku tak boleh bertemu dengannya.

Di sini, cemara menjadi penyejuk hati yang melingkari Tugu Pendidikan dengan tanda tangan Soekarno. Aku bukan cemara itu, yang kuat dan kokoh menopang dirinya dalam keadaan apapun..

“Aku hanya seorang anak, Bang Saiful,” sanggahku suatu ketika, saat aku menyempatkan diri menjumpai Bang Saiful.

“Ternyata, kamu tidak seperti dugaanku. Seorang aktivis yang memperjuangkan HAM korban konflik dan bencana. Kamu tidak sekuat itu.” Bang Saiful kelihatan meyerah dengan keadaan ini. Kunci dari semuanya adalah aku.

“Terserah, Bang. Jika itu Pandanganmu.”

“Oya, hanya itu. Jadi apa solusinya.”

“Aku tidak tahu.”

“Hanya itu jawabanmu?”

“Jangan paksa aku, Bang. Harus berapa kali kukatakan, Aku mencintai Abang.”

Langkah, rejeki,  jodoh, dan maut, Tuhan yang tentukan. Tetapi mengapa aku tidak diberi kesempatan untuk memilih. Bukankah Tuhan itu maha penyayang. Kufikir sekarang aku lebih suka dilahirkan dari orang miskin, tinggal di bilik bamboo.

Daripada bangsawan bergelar Cut yang perangaiku menjadi tolak ukur masyarakat kami. Aku ingin selincah dan semerdeka pengembara. Tapi namaku Cut Yanti.

“Kita ini, keturunan bangsawan. tanpa kau cari gelar master, dan doktormu itu kita sudah cukup bangga dengan gelar kita sendiri. Jika memang harta yang kau cari, tak habis kau makan harta Abun itu hingga tujuh turunan. Kita ini bangsawan. Pekerjaanmu sebagai aktivis itu pun sudah memusingkan Abun. Mestinya kau kembangkan saja dayah ini.” Abun melarangku melanjutkan pendidikan.

“Dimana sebenarnya letak keunggulanku? Bahkan dari sejarah dan literatur yang kubaca gelar Teuku dan Cut banyak yang menjadi pembelot pada masa perang Inlander. Perampas tanah rakyat, bahkan tak sedikit dari mereka juga menjadi Cuak yang sebagian dari mereka malah diakui sebagai pahlawan. Bahkan kadang kupikir aku merupakan keturunan dari para pembelot itu.  Aku juga tidak lebih cantik daripada gadis biasa.”

Aku memikirkan Bang Saiful. Saat cemara itu menggugurkan satu-satu daunnya. Bang Saiful melamarku tapi ditolak Abun karena dia bukan dari keturunan bangsawan! Abun malah menawarkanku menikah dengan Teuku Furqan ustad andalan Abun di dayahnya. Aku malu pada Bang Saiful tidak  dapat mengambil keputusan ini. Abun murka saat aku menentang perbedaan kasta ini.

“Kamu mau melawan Abunmu? Atau mungkin inilah tujuanmu menyelesaikan gelar mastermu itu. Supaya kamu dapat melawan siapapun, termasuk Abun, Ummi dan suamimu kelak. Kamu ingin merusak keturunan kita!”

“Meuah Abun, sebagai orang yang berilmu, berwibawa lagi kaya bukankah Abun paham dengan tujuan sebuah pendidikan? Allah telah berjanji akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu.” Itu pertama kalinya aku membantah Abun.

“Menuntut ilmu itu bukan mencari gelar master atau doktor, kamu akan menjadi ria karenanya. tetapi kamu bisa belajar di dayah.”

Kuingat pula saat Ummi menebar amarahnya padaku dan memintaku menghentikan pendidikan master ini. Maka semua akan mejadi sia-sia saat aku mulai menyelesaikan tesis demi memilih menikah dengan Teuku Furqan, seorang lulusan dayah. Bukan meragukannya, tetapi aku lebih mengenal Bang Saiful yang bukan keturunan bangsawan itu dan aku percaya kepadanya.

Allah memandang manusia sama, kenapa harus ada batasan antara bangsawan, darah biru dan masyarakat biasa. Bang Saiful tidak kalah hebat. Dia berasal dari daerah dataran tinggi yang tidak mengenal banyak gelar bangsawan seperti di kampung kami. Dia seorang yatim piatu, kuliah dengan memeras keringat hingga menjadi lulusan cumlaude, memiliki karir yang bagus, dan sedang membimbing adik-adiknya pula menjadi sarjana. Melihatnya saja aku bangga. Prestasinya tak sebanding dengan Teuku Furqan, meskipun dia pemilik sebidang tanah di kampung kami, itu hanya tanah turunan dari nenek moyangnya yang juga bangsawan.

Kuhirup udara yang berjatuhan dari celah daun cemara sambil menggenggam erat tanganku. Aku memikirkan Bang Saiful. Aku ingin menikah dengannya, tapi bagaimana dengan Ummi dan Abun, akankah aku dicerca sebagai anak yang durhaka, bagaimana pun sebagai anak yang tumbuh  di lingkungan dayah aku benar paham dengan etika pada orang tua. Demi Allah aku tak bisa menyembunyikan perasaanku ini. Aku ingin menikah dengannya.

Sayup-sayup suara dari kejauhan. Sesaat itu pula suara itu di hempaskan angin. ” Dik Cut…!” Bang Saiful mendekat, melambai ke arahku dengan memegang sebuah buku. Aku resah, tidak punya alasan yang tepat untuk menolaknya. Aku mencintainya. Semua bertumpu pada Abun. Pada kasta dan gelar bangsawan. Bang Saiful berlari kecil menyeberangi jalan menuju bawah cemara, seperti tidak sabar ingin segera menyerahkan buku itu. Aku masih saja ingin menghindar, membalikkan badan dan menjauh. Aku melangkah lebih cepat. Dia masih saja mengejar dan terus memanggil. “Dik Cut, Dik Cut!” Aku berpura tidak mendengar. Sesaat aku tersentak, terdengar desing suara deru mobil dengan kecepatan tinggi, sebuah buku melayang dan Bang Saiful terhempas. Aku menyaksikan tubuhnya terhempas.

“Bang Saiful! Bang Saiful!” Kuberanikan meraba wajah Bang saiful yang memucat, dia begitu dingin. Aku memangkunya. Selaskar Allah datang menjemputnya, menikahkannya dengan bidadari.[]

Rismawati, Guru Bahasa Indonesia Labschool Universitas Syiah Kuala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s