Westernisasi Inöng Aceh

Posted on

[Serambi Indonesia, 5 November 2011]

Oleh Azrul Rizki

Sebagai penduduk dari sebuah negeri yang dijuluki Serambi Mekkah, etnis Aceh patut bersyukur karena telah dinobatkan sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam secara kafah, keistimewaan yang tak diperoleh daerah lainnya di Indonesia.

Namun, implementasi syariat Islam di provinsi ini sekarang, agaknya  terasa masih jauh dari harapan semula tatkala syariat Islam diterapkan kembali di Aceh pada 1 Muharram tahun 2002.

Salah satu hal yang sering mendapat sorotan dalam konteks implementasi syariat di Aceh belakangan ini adalah kesetaraan gender. Hal yang diagungkan oleh sebagian inöng Aceh, terutama para perempuan aktivis.

Karakteristik dari inöng Aceh yang selalu mencirikan syariat, sepertinya sudah luntur dimakan zaman. Sebagian besar inöng Aceh saat ini sedang menuju westernisasi atau ikut gaya ‘kebarat-baratan’.

Pakaian dan cara bergaul inöng Aceh sekarang pun sering menjadi bahan cemoohan dan pembicaraan masyarakat maupun bangsa lain yang berkunjung ke Aceh.

Publik pun makin sering menyorot perilaku inöng Aceh yang dianggap menyalahi aturan syariat yang diterapkan di Aceh sekarang.

Belajar dari pengalaman, Aceh memang entitas yang menerima sesuatu budaya luar dengan sangat baik. Termasuk kenduri peusijuek yang merupakan budaya Budha masih dipakai untuk menjaga kesinambungan budaya yang telah ada sejak dulu.

Untuk bidang itu, Aceh masih sangat gelisah untuk menghilangkannya, karena budaya ini sudah diwariskan secara turun-temurun.

Dalam perkembangannya kemudian, Aceh secara tidak langsung sudah mewariskan budaya yang salah melalui inöng Aceh yang semakin fanatis terhadap budaya baju ketat dan sejenisnya. Hal itu jelas sangat bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan sangat sering kita jumpai para ‘penjaga’ utuhnya syariat di Aceh (wilayatul hisbah) melakukan razia-razia di persimpangan jalan hanya untuk menyosialisasikan larangan pakaian ketat kepada wanita di Aceh. Qanun yang sudah ditetapkan tentang syariat Islam secara tragis telah dicela oleh anak bangsa sendiri.

 Dari segi pakaian
Busana atau pakaian ketat dan menampakkan lekuk tubuh adalah bentuk pelanggaran syariat Islam yang terlihat jelas dilakukan sebagian inöng Aceh sekarang, terutama pemudinya. Dulu ibu kita masih sangat takut melepas jilbab, bahkan mereka menyertakan ‘aksesoris’ tambahan seperti ija patek yang dililit di leher sebagai penutup dada dari pandangan laki-laki. Tapi hal itu sudah hilang sekarang. Sebut saja jika ada seorang gadis di Aceh yang masih memakai ija krong ketika waktu sudah menjelang sore, maka otomatis gadis itu akan dikatakan “kolot” dari segi pergaulan.

Kebiasaan memakai baju yang serbakebarat-baratan membuat inöng Aceh sekarang melupakan kodratnya sebagai anak bangsa yang memiliki marwah yang sangat tinggi. Segala kemajuan zaman dan tren dalam hal berpakaian selalu diikuti tanpa mempertimbangkan dampak bagi dirinya dan syariat yang berlaku di daerahnya.

Anggapan bahwa dengan mengikuti perkembangan zaman seperti itu mereka akan kelihatan maju, sudah meracuni alam pikiran inöng Aceh yang sebagiannya berlatar belakang anak teungku, anak guru, dan anak-anak orang terhormat lainnya dalam komunitas Aceh.

Sesungguhnya, inöng Aceh bertanggung jawab secara langsung dalam hal penyerapan budaya asing yang sangat merugikan bangsa mulia ini. Tentu saja tidak salah jika budaya yang diserap untuk kepentingan bangsa dan agama tanpa harus mengorbankan harkat dan martabat dirinya dan dapat menjerumuskan dirinya ke dalam paham serta ajaran yang salah.

Beberapa gaya baru dalam berjilbab pun kini berkembang pesat di Aceh. Sebagainnya malah dengan jelas menampakkan dada, karena jilbabnya hanya untuk melilit leher, bukan untuk menutupi bagian atas badan dan menjauhkan pemakainya dari godaan lelaki dan fitnah. Seiring perkembangan zaman, inöng Aceh juga telah mempelajari hal-hal baru dalam peran mereka sebagai makhluk individu yang merdeka. Peran wanita sekarang sudah begitu banyak. Jabatan di pemerintahan pun sudah banyak yang diisi oleh perempuan. Perempuan yang menekuni dunia modeling misalnya, cenderung melepaskan jilbab untuk menghasilkan gaya yang dalam penilaian publik, modern.

Perhatikanlah betapa banyak sekarang wanita yang berperan sebagai artis film, bintang iklan di majalah dan koran, serta wanita karier di Aceh yang “menjual dirinya” dengan berpose memakai celana ketat dan pernak-pernik yang merusak moral mereka sebagai wanita Islam.

Dalam segi sikap serta pergaulan, inöng Aceh sangat mudah dilihat secara terang-terangan. Kita contohkan saat mereka kongkow-kongkow di kedai kopi yang bercampur pria dan wanitanya. Tak sedikit pula yang “merangkul” pasangan nonmuhrimnya di depan umum. Seakan ini sudah menjadi hal yang lumrah di Aceh. Budaya seperti itu sudah telanjur diterima oleh masyarakat kita sekarang.

Akhirnya, pemerintah sebagai pemegang kuasa di negara ini serta Dinas Syariat Islam yang bertanggung jawab menjaga kelestarian penerapan syariat Islam di Aceh, harus proaktif dan gigih mengubah “tata pergaulan dan tata busana” inöng Aceh yang menjurus pada perusakan nilai-nilai syariat ini.

Kita amati, beberapa kali konser musik di Aceh, penyelenggara dengan bebas memperbolehkan pria dan wanita menempati tempat yang sama. Ini tidak boleh terus dibiarkan, karena tak mencerminkan penerapan syariat yang kafah di provinsi ini.

Peran orang tua dan masyarakat juga sangat penting untuk menyosialisasikan penerapan syariat Islam. Setiap anak yang mendapat pelajaran agama dari orang tua akan selalu menjadi berkah yang baik bagi Aceh ke depan. Bukan hanya sekadar inöng Aceh yang harus menjaga diri dan agamanya dari pengaruh budaya Barat yang tidak baik serta budaya pergaulan bebas. Hal ini juga membutuhkan peran para aneuk agam (lelaki) untuk selalu menjaga marwah wanita, misalnya, dengan tidak membawa anak-anak gadis untuk “berlibur” ke pantai-pantai atau untuk bersenang-senang di cafe atau hotel-hotel tertentu.

Maka, marilah kita mulai kehidupan yang merasa bangga terhadap Islam serta sedikit demi sedikit menjauhi budaya yang merusak syariat kita. Tentu hal tersebut akan terwujud dengan kolaborasi antara peran orang tua, ulama, masyarakat, dan pemerintah.

Menuju Lebaran Idul Adha kali ini, kita lakukan hijrah spiritual. Kita mulai meninggalkan pengaruh budaya Barat yang “menjajah” dan membonsai Islam melalui budaya Yahudi yang mereka gencarkan. Semoga ke depan Aceh menjadi lebih patut dan pantas disebut sebagai bumi Serambi Mekkah yang para inong-nya benar-benar bisa diandalkan sebagai tiang negara dan pilar rumah tangga sakinah.

* Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s