Aku Berharap

Posted on

Oleh Achie Tarmizi HS

maaf kalo begini adanya…

saia sudah mencoba dengan segenap jiwa raga..

mohon kritik dan saran..

selamat membaca…

Aku berharap, aku bertemu—menghabiskan waktu dan membicarakan banyak hal denganmu dengan cara seperti ini.

Untuk seseorang yang sangat galak di lapangan…

Sore panjang dan cerah. Terlihat segurat orange pudar bergaris-garis dan awan  yang bergumpal-gumpal aneh tak terbentuk di langit. Aku menikmati semua ini sambil menaikkan  ranselku ke bahu sebelah kiri. Semilir angin mempermainkan jilbab kremku. Sore ini, aku memutuskan pulang kuliah dengan berjalan kaki. Aku melihat aktivitas kampus yang hampir sepi. Aku suka sekali mencium wangi sore. Kumasukkan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paruku. Hhmmm…Sedikit bercampur polusi debu dan asap knalpot tentunya. Akhir-akhir ini penjualan motor sangat meningkat maksimal.

Abang yang jualan burger di depan kampus MIPA mulai membereskan bangku-bangku kecil plastik. Dia menumpuknya menjadi satu dan meninggi. Dia melihatku dan tersenyum. Aku membalas. Menebarkan pahala di sore hari itu baik.

Tiba di persimpangan, aku belok ke kiri. Aku langsung disambut pohon mahoni yang tumbuh di sepanjang jalan ini. Besar-besar sekali, tanganku tak sampai memelukknya. Dan aku akan disangka orang gila kalau sampai memeluk pohon. Daun-daunnya rontok mengotori jalan. Rumah-rumah di sekitar sini terlihat tua tapi terurus. Seorang perempuan berkulit putih dan sangat langsing menyapu daun mahoni yang berguguran di halaman rumahnya. Kalau aku tak perhatikan kakinya yang menginjak bumi, kupikir dia vampire—kulitnya putih pucat.

Sebelah kanan jalan, aku melihat sebuah taman bermain yang ramai dikunjungi orang-orang. Di taman tersebut banyak sekali permainan anak-anak, ayunan, perosotan, jungkat-jungkit. Tak heran banyak sekali orang tua yang mengajak anaknya bermain di taman ini. Mereka berlarian, bermain, tertawa, menikmati udara, menikmati usianya yang tanpa beban itu.

Anak-anak itu indah.

Selain permainan anak-anak di taman itu juga ada wall climbing-nya. Yang bisa kukatakan hanyalah, “Wow”. Aku selalu terkagum-kagum pada pemanjat. Pemanjat apa saja. Tebing alam, wall climbing, pekerja bangunan bahkan pemanjat kelapa. Beraninya. Tak punya rasa takut akan ketinggian sedikit pun. Aku ini sedikit takut akan ketinggian. Tidak sampai taraf fobia, cuma kalau tangga tiga tingkat yang tak ada pegangannya atau tangga melayang—apalagi tanpa pegangan, bisa kupastikan aku akan berhenti di tengah tangga,  duduk merenung, melihat ke bawah, yakin-yakin gak untuk naik atau turun saja, dan aku memutuskan untuk turun. Aku takut. Sedikit.

bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s