Aku Berharap (2)

Posted on

cerpen Achie Tarmizi HS

Aku melihat jam tangan dipergelangan tangan kiriku. Masih pukul lima sore. Aku memutuskan untuk menonton mereka. Aku memilih duduk di bangku taman yang agak jauh dari wall climbing tersebut tetapi jarak pandangku tak terhalang apa pun.

Seorang laki-laki kurus dan agak hitam mulai memakai harnes sambil tertawa-tawa dengan temannya. Setelah ia yakin akan keselamatannya, ia mulai memanjat dan memegang point pertama. Tangannya mencengkram kuat point-point tersebut. Kakinya mulai memanjat. Kurasakan adrenalinnya mengucur deras hingga sampai ke aku. Dia yang manjat, kenapa aku yang takut ini. Wall climbing di taman ini berbentuk roof. Ia hampir seperempat perjalanan. Sesekali ia berhenti, memikirkan kakinya akan menginjak point mana.

Tiba-tiba seorang laki-laki duduk di sampingku. Dia tetap menjaga jarak. Aku melihatnya, kami saling memandang. Ia tersenyum dan aku membalas ragu. Semilir angin membuat aku agak merinding.

“Suka liat orang manjat wall climbing?” tanyanya sambil melihatku yang menyampinginya. Aku melihatnya, mataku meraba wajahnya yang lancip, bermata bulat dan tajam, hidungnya agak sedikit mancung, bibirnya tipis dan sejumput jenggot di dagunya. Kata dosenku kalau lelaki mempunyai jenggot, ada banyak malaikat yang bergelantungan di jenggotnya tersebut dan  membuat si lelaki berjenggot mana pun terlihat ganteng dan sabar. Dia juga hitam manis. Dan tolong garis bawahi aku penyuka lelaki hitam manis. Aku tersenyum dan melihat lagi ke depan, melihat perkembangan laki-laki yang tengah memanjat wall climbing. Belayer—kupikir itu temannya—menunggu di bawah sedang menyemangatinya.

“Mereka itu berani,”

“Apa definisi berani bagi kamu?”

“Definisi? Hmmm.. berani itu disaat kamu takluk melakukan hal-hal ekstrem yang orang lain tak bisa lakukan”  jawabku yakin. Dia tertawa kecil.

“Hal-hal ekstrem?”

“Seperti memegang ular mungkin karena memang aku pembenci binatang mengeliat..kalau kamu takut apa?”

“Takut di tolak cewek..”

Aku tertawa sangat keras. “Dan aku, tak berani menembak cowok.. itu.. termasuk hal-hal ekstrem”

Dia tersenyum kecil. Kakinya memainkan rumput-rumput kering. Aku memperhatikan laki-laki yang sudah sangat tinggi memanjat wall climbing tersebut. Perutku ngilu, kakiku geli, aku merasa seperti aku yang diketinggian itu. Lelaki hebat kataku dalam hati

“Aku suka sama perempuan yang tidak cantik, tidak juga jelek tetapi dia sangat energik dan menarik,” Aku melongo, menautkan alisku kebingungan dan dia menatapku dengan tampangku yang seperti itu. Ah, bicara apa dia barusan. Ini curhat ceritanya? Tanpa pengantar apa pun? Dia kan gak kenal aku.

“Aku kenalan dengannya saat temanku kenalin dia sama aku sebagai adik kandungnya..”

Aku mengangkat bahu samar. Kurekam kata-kata magisnya dalam otakkku. Sebenarnya aku tak tau dia sedang membicarakan apa dan siapa. Mulutku gatal ingin bertanya tapi naluriku berkata, jangan menyela. Dia tersenyum. Biar kutebak, dia mengingat lagi perkenalannya dengan perempuan yang dibicarakannya itu.

“Dia pemanjat wall climbing..dan aku kemari untuk mengenangnya, mengenang semua tentangnya,”

Aku turut prihatin, apa perempuanmu itu sudah meninggal? Tak jadi aku katakan pertanyaan itu.

“Enggak, dia gak meninggal…” Dia menatapku. Hah?? Apa dia bisa membaca pikiranku, tubuhku sedikit menegang, seperti kepergok ambil mangga orang. “Dia hanya menikah dengan laki-laki yang gak dicintainya…dijodohin, dan aku bertindak sebagai laki-laki pecundang sejati”

Aku menghela nafas. Masih belum berani berkata-kata.

“Ceritanya panjang,”

Cerita yang panjang? Sepanjang apa pun, kupastikan telingaku tak akan mendengar cerita panjangmu itu. Lagi-lagi kata-kata itu hanya nyangkut di otak saja. Aku menghela nafas lagi.

“Ceritakan aja, aku akan mendengar..” Aku kaget mendengar sendiri kata-kata yang aku lontarkan.

Dia tersenyum masam. Ada sedikit kegaruan yang kubaca dari wajahnya. Tapi dia tetap berkata-kata.

“Pertama kali melihatnya, hatiku memutuskan aku menyukainya. Aku gak tau apa dia menyukaiku juga, yang aku tau aku sangat menyukainya. Kami berkenalan dan langsung akrab.. aku merasa sangat nyaman ngobrol dengannya. Aku berusaha menjadi abang dan teman terbaiknya. Saat dia membutuhkan aku, aku selalu ada. Begitu pun juga saat aku membutuhkan dia, dia selalu ada untuk aku,” Lelaki itu menatapku yang tengah menatapnya. Dia menghela nafas panjang dan menunduk.

“Aku sangat menyayanginya dan perasaan itu aku ungkapkan pada temanku.. abang dari perempuan yang aku sukai itu. Dia mendukungku untuk yah..jadian dengan adiknya. Aku memintanya untuk menyelidiki apa adiknya udah punya pacar atau belum. Aku—takut ditolak. Singkat cerita, temanku bertanya pada adiknya, apa dia udah punya pacar atau belum. Katanya belum tapi dia bilang kalau dia suka sama seseorang yang lebih tua darinya, selalu memperhatikannya, dan berani. Saat temanku menyebut namaku, dia membantah-bantah dan hanya menganggapku sebagai teman, abang, guru—aku yang mengajarkan dia memanjat wall climbing..”

“Oh..” Aku tak sanggup berkata-kata. Ternyata lelaki di sampingku ini pemanjat wall climbing.

“Entah kenapa hati aku sakit. Sekian perhatian yang aku berikan padanya, kenapa dia gak ngerti juga hatiku. Aku perlahan mundur.. Aku biarkan dia bahagia dengan lelaki pilihannya. Aku menjaga jarak dengannya dan dia kuabaikan. Sulit mengabaikannya karena dia selalu mendekatiku, meneleponku, masih mengingatkan aku lewat SMS, memperhatikanku dan ngajak ngopi. Awalnya sangat sulit memberi pengertian padanya kalau, aku ingin mengabaikan dia.

Aku gak ngirimi SMS atau meneleponnya lagi—dan kamu tau, itu sulit. Tapi, dia gak ngerti juga. Dia gak berhenti meneleponku, SMS aku, padahal SMS dan telponnya itu sering gak aku balas.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s