Maghrib Terakhir

Posted on

Cerpen Cut Atthahirah

[Detak Unsyiah, 17 November 2011]

Menatap langit biru. Sejenak damai. Namun tidak pada jenak berikutnya. Karena datangnya air dari langit. Kuberlari kecil ke arah pendopo mungil yang terpacak di sudut lapangan. Serta-merta tubuh menjadi basah. Lusuh. Rintik-rintik hujan makin bertambah jumlahnya. Setibanya di sepetak teduhan itu, segera kutanggalkan sepatu dan kaus kaki. Jaket pun tak luput menjadi bagian yang harus diasingkan untuk sementara waktu. Setidaknya hingga tubuhku telah mengering.

Meski hawa begitu dingin, namun tubuhku yang lembab tentu akan merasa lebih nyaman jika tidak dibalut oleh apapun. Kecuali pakaian yang wajib menutup tubuhku, tentunya. Angin menerpa-nerpa pepohonan di sekitar. Saking kencangnya membuat batang-batang yang sedikit luntur menjadi terbungkuk.

Kutatap langit begitu gelap. Tak tahu kapan berganti posisi dengan cerah tadi. Burung-burung maupun makhluk berjenis binatang lainnya pun tak tampak sama sekali. Mereka tak ubahnya api yang tiba-tiba padam. Bahkan, kurasa lebih parah, karena mereka tak menyisakan asap. Tak ada suara. Hanya ricik air yang terdengar. Hanya suara daun-daun yang terhempas oleh angin yang tersamar.

Kutatap jam tangan yang menunjukkan waktu Maghrib telah tiba. Baterai ponsel mati. Tidak membawa mukena. Tidak ada siapapun. Yang ada hanyalah lapangan yang berjarak sekitar dua puluh kilometer dari jalan besar. Lapangan yang berada di pinggir laut. Laut yang sepi penduduk. Entahlah.

Sebenarnya, aku tidak terlalu mengacuhkan hal itu jika tidak teringat akan kewajibanku. Langit mulai temaram. Aku merasa gelisah. Resah. Tak terbiasa bergumul dengan suasana seperti ini. Ini begitu mendadak. Aku merasa tak siap. Namun, apakah Tuhan berkenan mengampuni kelalaianku? Sedangkan yang kulalaikan itu adalah kewajibanku pada-Nya? Dengan alasan yang tak seberapa di mata-Nya ini? Ahh… aku mendesah panjang sembari menatap nanar ke arah lautan. Tatapan itu tiba-tiba saja terhenti pada satu titik hitam hingga timbul gairah untuk melihatnya lebih jelas. Tak lama, sebuah titik yang terapung itu bergerak mendekati daratan. Lalu, menepi disana. Entah kekuatan apa yang membawaku ke titik itu akhirnya.

“Astaghfirullahal’adzim!” pekikku antara rintik hujan yang tak kunjung reda. Mataku menatap nanar. Seorang wanita tua terbaring tak berdaya di hamparan pasir di hadapanku. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Sekujur tubuhnya kaku. Begitu lama terpaku di situ, hingga hujan yang tak kunjung reda. Hujan yang kian gairah. Dengan segenap energi, kuseret wanita tua itu menuju pendopo mungil. Tempat kubernaung sejak hujan turun.

Kuusap sekujur wajah, tangan, serta kakinya yang lusuh. Tak banyak yang dapat kulakukan. Jangankan untuknya. Untuk diriku sendiri saja masih samar. Maghrib sepertinya nyaris mencapai pucuk. Kegelisahan itu kembali menghampiri. bukannya aku berniat pamer, namun salah satu alasan adalah karena sudah terbiasa. Hingga tak betah jika melewati hanya sekali. Terasa tak enak hati. Meski dengan alasan yang, ah! Aku pusing! Andai ini bukan maghrib.

Andai ini Dzuhur, Ashar, atau bahkan Isya. Mungkin masih dapat kutangguhkan hingga hujan reda. Melihat kondisi nenek yang sekarat, aku jadi serba salah. Khawatir jika terlalu lama dalam kondisi ini, ia tak dapat bertahan. Sekali lagi, entah kekuatan darimana, akhirnya aku kembali menembus hujan. Meninggalkan sang nenek yang makin membiru. Berlari menuju sebuah tempat. Tempat yang masih berwujud sekilas bayangan.

“Assalamu’alaikum Warahmatullah” tertangkap sayup di labirin telinga suara imam menutup rakaat akhir. Tapi di mana? Tak ada masjid, tak ada surau atau sejenisnya. Hanya ada hamparan pasir. Hanya ada pepohonan yang meliuk-meliuk bak peragawan. Kutatap langit tak lagi berawan. Birunya makin pekat. Bintang-bintang bergelantungan menghiasi nyaris di setiap sisi.

“Nenek?” kejutku. Wanita tua itu telah siuman. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Ia menggunakan mukenah putih yang bersinar-sinar.

“Nenek sudah siuman? Kapan? Kok, sudah segar begini? Rumahnya di mana? Sempat shalat ya? Aku ketinggalan waktu shalat, Nek,” ratapku. Ia kembali tersenyum.
“Tak perlu sedih. Ayo, ikut nenek.”
“Kemana?”
“Tempat yang indah.”


Penulis adalah pegiat di Komunitas Menulis Jeuneurob, mahasiswa FKIP Gemasastrin, dan alumni SMAN 1 Langsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s