Akhir Sebuah Tawa

Posted on

[Harian Aceh, 29 Maret 2011]

cerpen T Muntazar

Gaduh. Suara tawa merebak. Lantang. Suara keruh orang-orang di sudut warung kopi di seberang jalan itu. Mendengar gaduh keramaian seperti itu, beberapa pemuda lain juga berusaha mendekatinya untuk mengetahui perihal apa yang sedang didengungkan.

Petang mulai sirna, setengah cakrawala pun mulai menghitam, hanya sekelumit cahaya merah saga yang tersisa di ufuk barat, pelan-pelan mentari pun menghilang.

Hitam, pekat,  menyelimuti  keberadaan mereka. Alunan tawa nada terbahak-bahak mengepung dan membahana. Kepedulian dan menghargai keheningan telah terbunuh oleh canda tawa mereka. Azan magrib yang berkumandang pun tak sempat dihiraukannya, bahkan tak Satu pun dari mereka yang menyeru untuk berhenti mengeluarkan tawa, menghargai azan yang sedang  berkumandang.

Sejatinya, inilah kekhasan yang dimiliki mereka. Hidup menyimpang dari moral dan etika. Apalagi bicara tentang aqidah, mereka sama sekali tidak akan pernah memahami itu. Sama sekali tidak. Anggapan mereka, itu suatu hanya hal yang tidak terlalu penting. Tak mesti harus setia atau patut menghargai sesama untuk menjalankan titah tuhan. Toh Tuhan tidak pernah melarang mereka tertawa. Ya, mungkin sudah demikian lumrahnya hati mereka telah bercurah noda hitam, bergelayut setan hingga hal yang dianjurkan Agama mereka pun dengan mudah disampingkan.

Sebenarnya, banyak yang telah resah dengan keberadaan mereka itu. Tapi, tak seorangpun berani menegur mereka. Pernah sekali Pak Geuchik mencoba membujuk mereka agar tak membikin keributan saat magrib datang apalagi ketika malam sudah mulai larut. Tapi, bukan malah menurut apa yang Pak Geuchik katakan, mereka malah mengancam akan menghajar Pak Geuchik.

Mereka terlalu kuat untuk dibubarkan. Tak tahu sebab apa kumpulan itu bisa terbentuk. Yang jelas, kebanyakan dari mereka adalah pemuda kampung ini yang malas bekerja, tiap harinya asyik menghitung-hitung nomor buntut dan menagih mimpi pada kawan-kawan serumpunnya untuk disulap menjadi uang; itupun kalau beruntung. Orang-orang tua kampung pusing bukan kepalang mengingat mereka.

Semakin hari perlakuan mereka tak pernah ubah. Malah bertambah masalah. Saat azan berkumandang, saat itu pula hentakan tawa semakin dikeraskan. Tak sanggup mendengar itu semua yang kiranya sudah melampaui batas, Wak Lah, pemilik warung, mengahampiri keberadan mereka dengan memboncengi rasa amarah yang melambung tinggi. Di genggam kedua tangannya erat-erat. Langkah kian mendekat, gumpalan tangan pun telah bulat. “Diam setan!” ujar  Wak Lah lantang. “Kalian pikir ini kandang ayam apa!” Seraya mengucap kata itu, Wak Lah mendaratkan genggaman tangan yang telah dikepalnya  pada sudut dinding dekat salah seorang dari bagian mereka. Suasana berubah hening, tawa dan canda yang tadinya dialunkan tak serentak, kini jadi  hening dan sunyi.

Wak Lah seorang tua pemilik warung kopi itu. Sebenarnya dia tidak pernah keberatan akan keramaian yang saban harinya ada di tempatnya. Dulu, ketika masih muda, Wak Lah juga memiliki kelakuan yang sama. Sekarang, sesekali bila tak sibuk, Wak Lah juga turut ambil bagian bermain batu domino atau sekadar membeli togel. Maka dia tidak pernah menyalahkan bila ada kegaduhan tawa dari belakang warung kopinya.

Kali ini Wak Lah sedikit berbeda. Puluhan orang tua kampung sudah pernah menegurnya. Mulanya Wak Lah menganggap teguran itu hanya sebatas cuap orang tua yang iri terhadap kesenangan dan keramian yang ada di warung kopinya. Namun, setelah beberapa kali orang tua kampung mengancam akan membakar warung kopi Wak Lah, dia sedikit melunak dan mau mendiamkan pemuda-pemuda itu. Selain itu, akhir-akhir ini, kehidupan keluarga Wak Lah mulai dirundung sial. Permasalahan yang dihadapi Wak Lah semakin menjadi-jadi. Istri muda Wak Lah yang baru dikawininya beberapa tahun lalu tiba-tiba kabur membawa harta Wak Lah. Tak hanya itu, beberapa ekor ayam Wak Lah mati seketika. Kabarnya sakit flu. Tapi, setelah diperiksa dokter, tak ada virus mematikan itu.

Lama kelamaan kehidupan Wak Lah berubah. Maka ketika mendengar kegaduhan itu dia menjadi berang. Tak ayal dia berusaha menghantamkan satu tinju yang kuat kepada pemuda-pemuda di kelompok itu.

Sabri, orang yang dipercayai sebagai pimpinan kelompok itu, terhanyak seakan tak percaya dengan yang baru saja terjadi. Ia seketika tercengang. Kawan-kawanya semua terdiam. Namun di balik kekagetannya, Sabri hanya dapat membalas perlakuan Wak Lah melalui kata-kata. Ia tak mau melayani perlakuan Wak Lah dengan kekerasan, karena mengingat hutang yang begitu menumpuk di rekening harian Wak Lah. Sabri hanya meluapkan emosinya dengan melontarkan serapah pada pemilik warung. “Woi, oran tua, apa yang kau lakukan? Apakah kau kurang senang mendengar keceriaan kami? Jika tawa kami di sini mengundang aroma kebisingan pada pengunjung warkopmu, katakan saja! Jangan pakai  kekerasan semacam itu, Karena kami juga mampu untuk melakukan hal yang sama seperti perlakuanmu itu! Bukankah kau pernah seperti ini?”

Wak Lah ternganga mendengar lontaran serapah untuknya. Belasan tahun ia bekerja di warkop ini, tak pernah didengarnya kata-kata itu sebelumnya. Bahkan dulu, dia sangat ditakuti dan disegani oleh kabanyakan orang. Meski dulu Wak Lah berkelakuan seperti mereka, tapi, Wak Lah juga dikenal baik dan sangat menghormati orang-orang. Karena itu pula dia juga tak pernah diganggu oleh orang.

“Dasar warkop busuk, kami sumpahin biar tak ada pengujung yang singgah di sini lagi! ha..ha..ha..” suara Sabri makin menjadi-jadi. Tak menunggu lama, bahkan belum sempat Wak Lah menjawab makian itu, Sabri beserta kawan-kawan pun dengan segera beranjak dari tempat duduknya. Jangankan sempat membayar pesanan kopi yang telah diminum, satu kursi dekat pintu keluar ditendang Sabri ke jalan sambil melepas tawa yang keras.

Tepat pada pintu pagar warkop Wak Lah, Sabri beserta kawannya sempat menghentikan langkah, matanya menatap tajam ke arah Wak Lah yang sedang memungut gelas-galas kopi sisa minuman mereka. Kemudian Sabri mengangkat tangan kanannya dan menunjuk lewat jemari telunjuknya pada Wak Lah. “Kamu tunggu saja balasan dari kami Lah.” Hadiah terakhir berbaur ancaman dengan lantang dilontarkan Sabri. Namun sang pemilik warung hanya menerima ancaman tersebut dengan seulas senyum. Kini, mereka pun berlalu dari Warkop Wak Lah.

Malam semakin larut, kegaduhan para pemuda itu kini telah menghilang, biasanya di tengah-tengah malam begini, mereka tak pernah minggat dari Warkop. Ya, ada pekerjaan rutinitas yang harus di selesaikan: main catur sambil berjudi, batu domino, dan nonton film-film orang dewasa yang miskin. Hampir setiap handphone yang dipakai mereka memiliki fasilitas pemutar film itu.

Tapi, semua kini berubah setelah kejadian malam itu. Hari-hari seterusnya, bahkan untuk bulan-bulan selanjutnya tak satu pun dari mereka menyempatkan diri singgah di warung Wak Lah. Mereka yang dulunya pelanggan Wak Lah, kini hanya meninggalkan benih-benih kenangan, sehelai rambut pun tak terlihat, apalagi untuk melihat raut wajahnya, pasti  tak mungkin. Warkop Waklah mulai sepi, pengunjung lain pun tak kunjung hadir. Hanya satu dua oarng yang tiap harinya mampir ke warkop, lebih dari itu tak ada yang singgah. Kini warkop Waklah mulai sepi, bebas dari gemuruh tawa yang mengusik kenyamanan.

Empat purnama sudah Sabri dan kawanannya mengasingkan diri dari lingkungan. Pudar sudah kegaduhan yang mereka ciptakan. Wak Lah mulai tak bersemangat, dalam hati kecilnya selalu mengusik bisik-bisik tentang keberadaan meraka, dan pikirannya terus bertanya tentang kondisi meraka. Ingin sekali rasanya Waklah bertemu Sabri beserta kawananya itu, walau hanya sekelumit saja. Waklah kini linglung, ia merasa talah berbuat tidak senonoh terhadap tamunya, bertubi-tubi penyesalan datang menghasut pikirannya.

Pagi berganti siang, siang  menjelma petang, petang pun sirna di kaki malam. Lagi-lagi batin Waklah bertanya di manakah mereka. Ingin sekali rasanya ia berjumpa sabri dan kawannya. Berjuta kata maaf selalu ia kirim untuk meraka lewat batinnya yang gundah-gulana. Andai biduk tak berkayuh, Waklah kan tetap berlayar untuk menyemai maaf dari sabri, namun hal tak ada bahkan tak pernah ada.

Pagi-pagi sekali, saat waklah mulai membuka warungnya dan membersihkan meja serta kursi warkop yang agak tak teratur, burung pun menyiulkan suara syahdu, angin bertiup lembut menggerakkan ranting-ranting mangga yang tumbuh di samping warkop waklah. Tiba-tiba seorang tamu singgah untuk minum kopi di warkop Waklah, Pak Baka namanya. Pak Baka seorang tokoh terkemuka di kampung itu, Beliau cerdas, kaya dan murah hati. Paling tidak, dia tak sama dengan orang-oran kaya zaman  sekarang ini. orang kaya yang hanya mementingkan diri dan keluarganya. Sedangkan untuk rakyat miskin sama sekali tak dihiraukan.

Sebelum Pak Baka memesan minuman, dia mengawali kehadirannya itu dengan menyampaikan kabar duka tentang Sabri. Muka Pak Baka seketika berubah. Keberadaan orang-orang yang selama ini menyusahkan kampung mereka dengan tingkah laku yang melahirkan kebencian orang banyak.

“Wak Lah, kini kau  tak akan pernah melihat mereka tertawa lagi di sini. Kau tak akan jumpai mereka di sudut manapun, karena mereka kini telah tiada.” Ujar pak Baka. “Memang ke mana orang itu pergi Pak?” tanya Waklah dengan penuh penasaran. “Kemarin saya dengar kabar dari orangtua Sabri, bahwa anaknya itu beserta lima kawan-kawanya telah meninggal dunia, mereka tertembak dalam sebuah pengepungan di hutan, lantaran mencuri sebuah laptop pada seorang pemuda tetangga kampung kita yang dilakukan oleh pihak kepolisian.” Sahut Pak Baka lagi.

“Hanya karena mencuri laptop mereka di tembak?” tanya Wak Lah, murung.

“Tidak!”

“Lantas,” sahut Wak Lah.

“Sebelum mencuri laptop itu, mereka memang sudah jadi buronan karena mengedar sabu-sabu. Sebelum kejadian penembakan itu, mereka menculik seorang gadis dan memperkosanya di dalam hutan. Pengejaran dilakukan bebarapa jam oleh polisi. Aku mendengar kabar itu langsung dari pak kapolsek. Mereka di tembak karena lari dan tidak mau menyerahkan diri.” Lanjut Pak Baka.

Mendengar kabar itu, Wak Lah terkejut. Bibirnya gemetar. Matanya memerah. Ia menyesali diri karena tak sempat mengajarkan mereka sesuatu yang benar. Padahal, selama ini mereka sering menghabiskan waktunya di warkopnya. Namun, setelah kejadian itu mereka tak pernah lagi ke warkop. Wak Lah pun begitu sedih ketika mengingat kejadian tempo lalu saat hampir berkelahi dengan mereka.

Pupus sudah pengharapan Wak Lah untuk meminta maaf pada Sabri dan kawan-kawanya, kerena keberadaan mereka kini telah tiada. Melihat kondisi Wak Lah penuh dengan kerisauan, Pak Baka merangkul tubuh Wak Lah seraya memberi semangat untuknya, “Ini telah berakhir, semua telah terjadi. Semoga tak ada lagi yang seperti mereka di kampung ini.”[]

T. Muntazar adalah mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat ini aktif berteater di Gemasastrin.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s