Aku Berharap (3)

Posted on

Oleh Achie Tarmizi HS

Akhirnya aku mutusin untuk ngajak dia ketemuan. Untuk menuntaskan segalanya. Kami diam. Dan aku yang memulai pembicaraan. Aku berkata, kalau aku gak mau lagi jadi temannya dan memintanya untuk gak menghubungiku lagi. Dia kaget dan bertanya apa salahnya. Aku hanya diam. Berpikir, mencari alasan apa salahnya. Sebenarnya dia gak salah apa-apa. Aku bingung. Tapi aku tetap mutusin kalau aku gak mau jadi temannya lagi. Dia pergi dan menangis. Sejak itu, kami benar-benar kayak orang yang gak saling kenal. Dia tak pernah memanjat lagi. Dia tak pernah bertemu denganku lagi. Tepatnya menghindar..” Dia menatapku. Dia menghela nafas berat.

Suatu hari, dia meneleponku. Langsung aku angkat, jujur aku kangen dia. Dia langsung berbicara dan memohon, dia ingin aku bicara sama orang tuanya kalau aku ini pacarnya karena dia akan dijodohin dan dia tak mau. Jelas aku menolak. Aku gak mau ikut campur lagi dalam urusannya. Dia menutup telpon dan mengucapkan terima kasih. Dan hari ini—hari   pernikahannya.”

Dia berhenti bicara. Menatap langit yang berarak pelan. Aku menghela nafas dan bersiap-siap mengeluarkan suara.

“Kamu tau gak, lelaki yang disukai dia sebenarnya siapa?” Dia menatapku. “Kamu!!” Aku menjawab sangat yakin. Tau apa aku perasaan perempuan yang diceritakannya itu. Tapi feeling perempuanku mengatakan seperti itu.

Dia menggeleng “Gak mungkin..”

“Pernah nonton film Titanic? Rose mengatakan kalau hati wanita itu adalah samudra yang sangat dalam. Perempuan itu tak akan pernah mau bilang pada siapa pun kalau dia menyukai lelaki. Biasanya gengsi perempuan itu gede. Trus kamu memberi perhatian padanya itu pamrih? Minta hatinya. Minta supaya dia mengerti hatimu, menerima hatimu. Heh.. tolol. Kalau dia suka lelaki lain pun, kamu gak berhak mutusin pertemanan gitu aja. Jadi teman terbaik dia. Suatu saat dia akan mengerti kamu, mengerti kalau kamu selalu ada untuknya. Kamu itu TOLOL..” Sangat semangat aku menjelaskan teoriku padanya. Dia mendelik padaku.

”Oh..aku akan mencari kata-kata yang lebih pantas, sebentar aku akan berpikir..” Aku meletakkan telunjukku di hidung. “Ah ya..gak peka, gak sensitif..hati kamu itu batu..”

“Dia gak mungkin suka sama aku..!!”

“Oke kalau kamu berpikir seperti itu, trus kenapa dia meminta dan memohon untuk kamu jadi pacarnya? heh? Kenapa? Kamu pernah mikir? Trus dia sebenarnya udah tau kalau kamu cuekin dia—menurutku sih.. tapi dia tetap berusaha menghubungi kamu, karena dia sebenarnya gak bisa jauh dari kamu. Di hidupnya itu ada yang kurang kalau kamu gak hubungi dia. Yang ada di otak kamu itu cuma satu, ego. Gak salah kayaknya aku bilang kamu itu tolol.”

Dia diam.

“Dan dia sekarang menikah dengan lelaki lain. Di hati kamu, jujur, kamu sakit gak? Kamu sedih gak?” Dia membuka mulut ingin menyela. “Jangan dijawab, jujur aja dengan hatimu.. pake perasaan kamu, pake hati kamu, jangan pake ego kamu dan kelogikaan kamu yang tak masuk akal itu..” kataku mengebu-gebu.

Dia melihat langit dan mengoyangkan badannya ke depan ke belakang, dia melihatku dan tersenyum jahil.

“Terima kasih sudah menceramahi aku sore ini..” katanya santai.

“Yah..terima kasih juga telah menceritakan bagian hidup kamu yang paling menyedihkan ..”

Aku melihat lagi wall climbing. Loh? Loh? Orangnya pada kemana semua? Tadi rame..Bubar…?? Mereka bubar.. Mereka tak main lagi??? yah…. Aku menggaruk kepalaku frustasi. Aku menatapnya lagi dan menghela nafas berat, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya memunuhi semua ruang di paru-paruku sambil berhitung untuk meredam kekesalanku. Satu dua tiga..Hhhmmmm

“Kamu tau, konsekuensi apa yang aku dapatkan karena telah menceramahi ketololanmu itu?” kataku pelan, menusuk.

Dia menaikkan alisnya sebelah.

“Itu..mereka gak main lagi..!!” Aku menunjuk-nunjuk wall climbing dengan kesal. Dia tertawa.

“Kapan-kapan aku tunjukkin aksiku..ntar kamu yang ngelap keringat aku ya..”

Aku memutar bola mataku malas. Dia mengambil sesuatu dari saku celana jeansnya. Handphone-nya bergetar. Ia mengangkat dan menjawab ah-ya-hmm-hmm-hahah (tertawa)-oke-oke-hmm-ya-ya-waalaikumsalam. Dia memasukkan kembali handphone ke dalam saku celananya lalu mengambil sesuatu dari saku celana jeans yang sebelah kirinya. Aku memperhatikan gerakan lelaki ini. Repot banget keliatannya. Ia mengambil kunci motor dengan gantungan dari tempurung kelapa berbentuk biola.

“Kamu mau pulang kemana? Aku anterin?”

“Kata ibuku, sama sekali tidak boleh sekali pun menerima ajakan orang asing”

Dia tertawa. “Oh..ya udah aku pulang dulu. Semoga kita bertemu dilain waktu..”

Oh, tidak. Terima kasih. Sepertinya aku tak mau bertemu denganmu lagi. Ungkapku dalam hati.

Aku menghela nafas dan dan melihatnya makin menjauh melaju dengan motornya. Mimpi apa aku semalam bertemu lelaki pemanjat wall climbing yang aneh itu. Tanpa sungkan ia bercerita dan tolong garis bawahi, aku dan dia baru pertama kali bertemu di tempat ini. Tapi aku sedikit merasa kasihan dengannya. Kurang bijak menata perasaan.

Yah…Terkadang orang bisa saja—keceplosan—curhat dengan orang yang sama sekali tak dikenalnya. Mungkin dia menemukan kenyamanan disitu atau mungkin otaknya tak sanggup memikirkan itu lagi.  Aku mengangkat bahu. Tak taulah. Aku berdoa, semoga aku tak bertemu dengannya lagi. Aku bangkit dan pulang. Taman itu sudah sepi. Aku menyilangkan tanganku. Angin sore sangat dingin hari ini.

Ah ya..aku lupa menanyakan namanya!! [bersambung..]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s