Aku Berharap (4)

Posted on

Cerber Achie Tarmizi HS

Tengah merancang pertemuan dengannya lewat tulisan. Berharap dia memberikan tangannya untuk kugenggam. Untuk seseorang yang sangat galak di lapangan…

Aku mempunyai kebisaan, yang menurutku sangat menyenangkan. Membaca. Membaca novel lebih tepatnya. Seperti menjelajah dunia lain. Cerita berbeda diciptakan orang—orang-orang kreatif—dengan dunia mereka yang berbeda juga. Setiap lembar adalah misteri. Setiap membuka lembaran selanjutnya dan selanjutnya, kita akan menemukan jawaban dari misteri yang diungkapkan pada lembaran yang telah lalu. Otak akan berjalan. Bermain-main dengan setiap kemungkinan. Kalau benar menebak atau dugaan kita benar. Apa ya?? Seperti mendapat kesenangan, kepuasan, keberhasilan, teriakan bahagia. Kalau salah menebak dan mendapat jawaban benar pada lembaran itu, aku mendapat kesenangan juga, gemas, menjerit gak karuan atau terkadang aku terhenyak mendapati jawaban “misteri” yang telah terkuak, menutup buku dan merenung. Terkadang “kenyataan” yang diungkapkan dalam cerita tersebut bisa sangat membuat emosiku meraung-raung. Terlalu banyak kesenangan dalam membaca. Kalau aku membaca, aku bisa saja lupa terhadap duniaku sendiri. Aku lupa segalanya, lupa makan, lupa mandi, dan lupa kalau ini sudah pukul berapa.

Yah.. ini sudah pukul dua siang dan otakku berjengit mengingat sesuatu. Aku terbangun dari tempat tidur dan menepuk jidat. Aku lupa, aku ada janji dengan temanku. Dia mau membeli baju untuk pesta pernikahan sepupunya. Pernikahan?? Tiba-tiba pikiranku berkelana, mengingat lelaki aneh-yang-tanpa-basa-basi-langsung-curhat-beberapa-minggu-yang-lalu. Aku bangkit dan langsung meraih handukku, buru-buru masuk kamar mandi.

Saat aku memakai jilbab, suara klakson berbunyi dan aku mengintip di balik tirai jendela depan rumah. Nia, temanku datang.

Sesampainya di sebuah Shoping Center…

Temanku sibuk memilih baju yang sreg di matanya. Aku pun membantu memberikan saran—kalau diminta. Dia termasuk orang yang cerewet dalam berbelanja. Walaupun dia menyukai barang yang ada di tangannya, kalau harganya tak sesuai dengan yang dia minta, dengan rela dia akan meninggalkan barang tersebut. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Terkadang, aku gak tega sama abang jualannya, sedih banget ngeliat mukanya pas temanku membanting harga dan berhasil terkena rayuan mautnya. Sekali lagi, aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Saat tengah memilih baju kemeja dan memegang kainnya, aku merasakan sesosok makhluk Tuhan lewat. Aku mendongak. Aku merasakannya. Bulu kudukku berdiri. Aku seperti merasakan angin sore, anak-anak tertawa, bunyi angin, bunyi desisan gesekan daun-daun Mahoni, bunyi berderak jungkat-jungkit, bunyi berdenyit beradunya besi ayunan, bunyi ibu yang menjeriti anaknya untuk berhati-hati, suara lelaki pemanjat wall climbing, bunyi genggaman tangan pemanjat wall climbing yang tengah mencengkram kuat point-point. Aku mendengarnya lagi, suara lelaki itu, awan berarak, garisan orange di langit dan—aku. Aku merasakannya lagi. Aku terpaku sesaat. Tiba-tiba aku melepaskan kemeja itu dan berlari keluar. Aku melihat ke kiri ke kanan. Tak ada orang. Entah ada kekuatan apa di kakiku, tanpa diperintah dia sudah melangkah dan mencari-cari. Aku mencari lelaki itu. Lelaki aneh-yang-tanpa-basa-basi-langsung-curhat-beberapa-minggu-yang-lalu. Aku sangat yakin dia ada di sini. Dia barusan lewat di sampingku.

Aku berjalan, berbelok ke kiri, mengedarkan pandanganku ke segala arah. Tak ada. Dia ada dimana?? Aku berjalan lagi, sedikit berlari-lari kecil. Berbelok ke kanan. Mengedarkan pandangan, tak ada. Kakiku seperti tak ada kata menyerah. Dia melangkah lagi dan lagi.

“Permisi…permisi..” kataku sambil berusaha membelah manusia yang berjalan melambat. Aku berhenti, celingak celinguk kiri kanan. Tak ada. Dia kemana??? Aku menghela nafas frustasi. Selama aku mencari lelaki aneh-yang-tanpa-basa-basi-langsung-curhat-beberapa- minggu-yang-lalu itu, hatiku membantah dan berkata “Ngapain sih nyari dia…ngapain…??  Untuk apa?? Apa gunanya??” Tapi kakiku yang bersikeras untuk mencarinya, kali ini ia tak mau kompromi dengan hatiku yang tengah menjerit-jerit protes.

Nafasku memburu. Aku tak tau sudah berapa lama aku mencarinya. Aku berhenti dan tiba-tiba seperti ada angin yang mengarahkan pandangan mataku. Mataku membeliak kaget plus senang. Hatiku menjerit gak karuan. Itu dia!!

Aku mendekatinya seperti orang hilang kesadaran. Dia tengah menyampingiku. Aku hanya menatapnya. Tak mau kehilangan dia. Dunia seperti memelan. Aku sudah dekat dengannya dan melihatnya mendongak, seperti merasakan sesuatu. Dia berpaling dan melihatku. Dia sedikit kaget, apalagi aku. Tuhannn…apa yang kulakukan?? Aku celingak celinguk ke kiri dan ke kanan. Ah ya.. aku lari saja dan bersikap seolah tak pernah terjadi apa pun. Aku hendak berbalik tapi ada sebuah suara menahanku.

“Eh.. hay..” sapanya. Aku melihat matanya. Tolong.. beri aku kekuatan. Rasanya kakiku lemas, aku sendiri tak tau kenapa. Aku menggigit bibir bawahku.

“Hay…” kurasakan cengiranku sangat konyol.

“Kenapa? Kamu keliatannya capek banget”

“Oh…aku—sedikit lelah..yah…sedikit lelah..”

“Oh..” Dia tersenyum dan di mataku, entah mengapa, itu-sangat-manis-sekali.

Aku salah tingkah, tak tau berbuat apa, begitu juga dia. Akhirnya dia membuka suara.

“Kamu punya pulpen dan kertas?” Aku menggeleng lemah sembari otakku memikirkan untuk apa dia tanyakan itu.

“Kita lihat aku punya apa..” Dia meronggoh tasnya dan mengeluarkan pulpen. Aku hanya melihatnya saja. Tak tau berbuat apa. Dia merentangkan sedikit tangannya.

“Aku hanya punya pulpen.” Katanya dan sumpah aku tak tau mau jawab apa. Ya Tuhan..aku bersikap sangat bodoh.

Dia menatapku dan seperti mengingat sesuatu. “Ooo…” Dia meronggoh saku celana jeansnya. Dia mengambil uang dua ribu dan menulis.

“Ini..hubungi aku di nomor ini..” Katanya sambil menyerahkan uang itu. Aku menerimanya dengan kedua tanganku. Aku membaca sekilas. Ada nomor dan tanda tangannya disitu. Dia mengangguk dan melambaikan tangannya. Aku balas melambai. Dia berbalik pergi dan aku menatap punggungnya menjauh.

Pernah nonton film animasi Barbie, seperti itulah keadaanku sekarang—tepatnya keadaan dipikiranku. Indah. Semua berubah. Seolah pasar yang berjejeran toko-toko kecil ini berubah menjadi padang rumput luas dan sedikit berbukit. Hijau. Sungai yang paling jernih yang tak pernah kulihat mengalir. Ada bunga liar warna-warni. Aku tak tau jenis bunga apa itu. yah…soalnya ditamam peri. Ah..aku melupakan peri. Makhluk kecil terbang yang cantik dengan serbuk pixie yang bertebaran di tubuhnya dan telinga runcing di balik rambutnya. Kupu-kupu berterbangan, mengelilingiku. Matahari musim semi berdenyar. Cahayanya memberikan kehidupan. Semua peri tengah beraktivitas. Seorang peri cantik dengan rambut panjang hitamnya tengah mengambil embun di tangannya. Seorang  peri bermata warna tembaga tengah mengendalikan cahaya, membaginya ke seluruh taman. Ada juga peri yang bermain dengan burung-burung kecil. Mereka mengajarkan burung-burung itu untuk terbang. Kepik terbang rendah dengan tubuh merah berbintik hitamnya yang pekat. Ini terlalu indah. Ini terlalu sempurna sampai semuanya berdenyar saat aku merasakan sebuah tangan memukulku agak sedikit keras di bahu. Semuanya hilang dan aku tersadar.

“Vettt…Kemana aja??? Aku nyari kamu..kamu lari gitu aja..bikin orang panik..”

“Oh..aku..t-tadi..Hmm kamu dapet bajunya??” Nia, temanku menyilangkan tangannya dan memiringkan kepala meminta jawaban. “Aku merasa seperti ada yang tertinggal atau terjatuh di sini, sebentar aku akan mencari..” lanjutku. Aku melihat ke bawah seolah mencari sesuatu. “Ah..sepertinya tak terjatuh di sini—” kataku lagi. Nia mencengkram tanganku dan menarikku kuat.

“Kupikir, sebaiknya kamu harus mengurangi kebiasaan membacamu. Khayalanmu itu terlalu parah dan akut untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.”

“Terima kasih..” Aku memutar bola mataku. Dia menariku untuk berjalan lebih cepat. Aku melihat ke belakang.. Aku meremas uang dua ribu yang diberikannya. Memastikan kalau aku masih di kehidupan nyata dan memang barusan bertemu dengannya. Aku masih bisa merasakan dia yang berdiri di situ. Mungkin benar apa kata Nia, sepertinya aku harus mengurangi kebiasaan membacaku.[bersambung…]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s