Pada Sebuah Taman

Posted on

cerpen Akmal M Roem

Sore itu, aku lihat seorang penyair tua duduk mengasing. Ia tertegun menyaksikan lintas awan berarak. Gelap dan bergemuruh. Angin kencang. Dengan sesksama matanya terus memperhatikan ke atas sana. Sesekali berkedip. Tak lama kemudian penyair tua itu tersenyum. Seperti mengenang sesuatu yang indah.

Hujan pun turun di sini. Dalam sekejap, tempat ini dikepung banyak orang. Mereka berteduh dari basah hujan yang semakin lebat. Lama berselang, penyair di sudut itu menitikkan air mata. Ia terus memandangi langit. Wajahnya tiba-tiba menjadi suram seperti awan pekat di atas sana. Penyair tua itu hanya seorang diri. Dalam diam dan kesedihan yang lain.

Karena mungkin sudah jarang ke  tempat ini, kuputuskan bahwa ada yang tidak wajar dengan keadaan seperti ini. Orang-orang di kantin memang sedang sibuk sekali dengan kelakuannya masing-masing. Tapi tak sepantasnya pula mereka menjadi tak peduli pada orang-orang di sekitar mereka. Apalagi dengan keberadaan penyair tua itu yang kelihatannya sedang galau itu. Semestinya mereka yang sering ke tempat ini, paling tidak, mendekat atau barangkali bisa mengajaknya berbicara.

Hujan semakin deras. Langit gelap. Sesekali, lamat-lamat suara gemuruh membahana. Orang-orang di dalam kantin terkejut bila berpas-pasan manyaksikan langit dihujam kilat yang besar. Lalu mereka tertawa. Keras-keras. Bercerita-cerita. Penuh semangat. Semakin banyak  yang ingin mereka ceritakan.

Di samping tempatku duduk, ada lima orang sedang berbicara tentang satu pertunjukan besar. Bukan menguping, semua yang dibicarakan mereka mudah terdengar olehku karena sangat dekat. Suara lantang dan semangat yang begitu menggebu timbul dari meja itu. Yang berambut gondrong di sebelah kiriku memang terlihat sangat bahagia. Sepertinya, rancana mereka akan berjalan lancar. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Tawa semacam “ha… ha… ha… dan he.. he.. he..” Semua terlihat ceria dan senang. Menggulum asap rokok dan menjadikannya awan di langit-langit kantin. Tertawa dan menghirum secarik kopi di cangkirnya. Lantas kembali bercerita.

Langit mulai tampak terang. Aku beranjak dari tempat duduk. Kupikir hujan segera berhenti. Ternyata gerimis dan angin masih terlalu hebat untuk kulewati. Beberapa orang yang sempat singgah di sini sudah terlanjur menembus hujan. Kulihat mereka membawa motor sambil melengkupkan badan. Ternyata basah juga. Ku putuskan untuk terus berada di sini sampai hujan benar-benar berhenti.

Aku tak kembali duduk di tempat semula. Karena kursi yang kupakai tadi sudah diambil oleh orang. Aku tak melihat siapa yang mengambilnya. Tempat ini sedang ramai dan tak mungkin aku harus berebutan hanya untuk satu tempat duduk. Maka kuputuskan untuk berdiri di dekat pagar depan pintu masuk.

Udara sangat dingin. Angin kencang masih seperti tadi. Daun-daun basah pun masih dengan mudah beterbangan. Orang-orang masih ramai. Mereka terus berbicara agar bisa membunuh hawa yang sejuk seperti ini. Aku tak berkawan. Hanya sendiri melihat keramaian yang hari ini asing bagiku.

Di meja yang lain, tidak terlalu jauh denganku. Kira-kira tepat di halaman depan. Sebelah kananku. Dua orang sedang terlibat pembicaraan yang serius. Kerut wajah salah satu dari mereka menjelaskan kerumitan yang sedang terpikir olehnya. Aku mengenal dua orang itu. Ya, rupa yang taka sing ketika aku masih menjadi penghuni tempat ini. Tapi, aku tak terlalu lancang untuk mengajak mereka bicara.

Sama halnya seperti dulu, aku juga tak pernah berbincang-bincang dengan mereka. Apalagi hari ini yang aku sudah lama tak pernah kembali ke tempat ini. Meski tempat mereka duduk sangat dekat denganku. Aku tak berani sama sekali. Maka seperti tadi,  aku hanya bisa mendengar pembicaraan mereka. Tak begitu jelas. Yang terdengar olehku mereka sedang berbicara tentang bagaimana membuat taman ini menjadi meriah kembali. Yang satu berpikir demikian. Bahkan, dia tidak senang bila pentas yang seharusnya di bikin di taman ini dipindahkan ke tempat lain.

Hal yang sama ketika aku masih sering di sini. Mengatur rencana yang bagus dengan teman-teman diskusi untuk membuat sesuatu yang menarik dan meriah. Tapi tak kunjung bisa terlaksana. Selalu ada kendala yang mesti kami hadapi. Tapi, kali ini berbeda sekali. Kota ini sudah sangat mudah menerima keramaian. Kata kawanku, pada satu waktu, kota ini sedang dilacurkan untuk menggiurkan pemodal dari luar.

Baru-baru ini praktek itu dibikin oleh orang-orang jahat di kota ini. Menghias taman, parit, dan lampu kota serta jualan tanah di gunung sepertinya sudah juga terjadi di sini. Namun, keyakinan orang-orang, begitu juga denganku, sepertinya itu akan jadi sia-sia saja. Tidak ada hasil tepatnya. Karena masih banyak orang yang merasa miskin dan tertindas. Dia seorang aktivis mahasiswa, jadi wajar bahasanya demikian. Jangan terlalu dikenang.

Hujan tiba-tiba saja berhenti. Suasana gaduh semakin tampak. Suara-suara bising keluar entah dari mana saja. Asap rokok berhamburan menggelembung di atas kepala. Secara kebetulan, aku kembali berjumpa dengan kawanku. Aku melihatnya sedang berbicara dengan seorang perempuan sambil menyodorkan secarik kertas. Aku sangat mengenalnya, begitu juga dengan dia.

Temanku adalah seorang penyanyi reggae. Bertopi hitam. Kurus dan lusuh. Dia sedang sibuk berusaha menjual karcis konser amal kelompok bandnya. Dengan harga tidak mahal tentunya. Untuk acara amal kami jual dengan harga tiga puluh ribu. Begitu katanya padaku. Tiga puluh ribu itu akan dibagi lagi menjadi dua bagian. Sepuluh ribu rupiah untuk disumbangkan. Dua puluh rupiah untuk makan dan minum bagi yang beli karcis karena sudah memesan tempat duduk. Aku tidak membelinya.

Aku berkilah dan hanya mengatakan, tidak adil. Harusnya dibagi dua dengan jumlah yang berbeda tentu banyak untuk yang disumbangkan. Kalau tidak bisa begitu, bisa jadi bagian yang sama. Dia tertawa. Tertawa keras. Semacam “ha.. ha.. ha..” Aku hanya bisa tersenyum kecut. Malu. Lantas aku tak lanjutkan bicara denganya. Dia pergi ke tempat lain. Berbicara hal yang sama. Menjual tiketnya.

Kulihat ke arah lain. Di satu sudut yang benar-benar berbeda. Ke arah penyair tua itu kembali. Kupandangi ia dari jauh. Dari tempatku berdiri terlihat jelas rambut panjang, keriting, dan hitam sekali. Tubuhnya kurus. Lusuh. Dia sedang bersedih hati. Biasanya bila ia sedang sendiri seperti itu, dia sedang mencari ilham untuk dia tuliskan. Sering dia lakukan untuk mencari suasana yang baik agar bisa ditulisnya. Tapi kali ini beda sekali.

Aku semakin penasaran dengan keadaannya itu. Lalu kutanyakan tentang penyair itu pada si pembuat kopi di kantin. Ternyata benar seperti kiraku sebelumnya. Penulis syair itu sedang berduka. Beberapa waktu lalu, cerita si pembuat kopi, penyair itu menulis sebuah syair yang hendak diberikan pada kekasihnya. Lantas tulisan itu dia kirim ke koran terlebih dahulu sebagai usaha agar semua orang bisa membacanya. Namun, ternyata apa yang ditulis untuk kekasihnya itu merupakan plagiat atas karya orang. Tak ayal seorang penulis muda yang nakal dengan berani mengkritik tulisannya di koran serupa. Ia semakin terpuruk. Remuk dan tak memiliki semangat hidup.

Hujan telah reda, aku harus segera pergi dari tempat ini. Banyak hal yang ingin aku ceritakan pada semua orang tentang tempat ini, tentang kantin yang sudah ada rak martabak, teh tarek, ketan pulut, kopi, sanger dan lainnya. Sesuatu yang tak kutemukan ketika muda dulu. Memang sudah lumrahnya demikian. Semua akan berubah dengan sendirinya.

Tempat-tempat besar di depan kantin ini hanyalah sebuah bangunan tua. Tempat di mana aku dan mereka pernah bermain teater, bernyanyi, bermusik, dan berpuisi serta berdiskusi sesekali waktu. Kini, semua sudah beda sekali. Kita tidak perlu bicarakan idealisme. Dengan idealisme, seniman tidak bisa makan. Aku ingat betul kata itu. kata yang diucapkan salah seorang tua padaku, dulu.

Segelas kopi panas dan serangkaian cerita sembari menunggu hujan reda di sini akan selalu ada untuk menghangatkan kita. Kita tak akan habis begitu saja membahas cerita itu. Bila ingin tahu, sesekali waktu, singgahlah di sini, taman kita yang besar dan indah ini. Berbudaya kita bila berada di sini, katanya![]

Akmal M Roem, lahir di Aceh Besar. Murid sekolah menulis Dokarim

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s