DAGING KURBAN UNTUK NEK NYAK

Posted on Updated on

Cerpen Mawardi

Tua, keriput, bungkuk, tapi kuat, itulah yang selalu kulihat setiap hari. Sebuah pemandangan rutin yang hadir di depan mata. Dari ujung jalan terlihat seorang perempuan tua yang datang menghampiri sambil berteriak dan menjajakan dagangannya.

Kue, kue, kue……..

Kuenya, dik?

Ayo dibeli, ini kue buatan Nenek sendiri.

Miris rasanya ketika perempuan tua itu melintas di halaman kampus kami, kami memanggilnya dengan nama Nek Nyak. Nek Nyak adalah salah seorang penjual kuedikampus kami, bisa dibilang beliau adalah penjual tertua di kampus kami. Setiap hari ia menjajakan dagangannya, dari satu tempat ke tempat lain di area kampus. Suatu hari Nek Nyak melintas dihadapan kami

“Dek, kuenya dek?”

“Ayo, silahkan dipilih”

“Iya Nek, kami beli bakwan sama tempe, 5 potong ya!”

“Iya, ini dek, pesanannya.”

“Terimakasih Nek”

Nek Nyak pun berlalu meninggalkan kami dan melanjutkan perjalanannya. Sambil berjalan kaki Nek Nyak lalu lalang mengelilingi seluruh area kampus, sesekali ia beristirahat di bawah pohon asam jawa untuk merenggangkan otot kakinya. Ketika Aku memandang wajah Nek Nyak selalu timbul rasa sedih, ada hasrat untuk membantu. Disatu sisi Aku bangga dengan Nek Nyak meskipun sudah tua ia masih mau mencari nafkah dengan cara yang halal. Jalur yang ditempuh Nek Nyak ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh lansia pada umumnya. Timbul keinginan untuk membantu Nek Nyak, tapi tidak mungkin aku ikut berjualan dengan Nek Nyak, pasti ayah dan Ibu marah. Aku memikirkan cara untuk membantu Nek Nyak, sambil berguling-guling di atas kasur teringat dengan sebuah ucapan Nek Nyak beberapa waktu lalu saat kami membeli kue.

Nek Nyak, lebaran haji ini ada Kurban?

Adek ini lucu, untuk makan sehari-hari saja Nenek susah, dari mana nenek dapat uang untuk beli hewan kurban?” sahut Nek Nyak sambil tertawa ringan.

Dari situlah timbul inisiatif untuk memberikan Nek Nyak daging Kurban di hari lebaran nanti. Aku dan kawan mengumpulkan uang untuk membeli hewan kurban yang nanti dagingnya akan kami berikan untuk Nek Nyak. Hari yang ditunggu kini telah tiba, Idul adha atau lebih dikenal dengan sebutan Lebaran kurban/lebaran haji. Alunan takbir menggema di seluruh wilayah Aceh.

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar

Lailahaillahuallahuakbar

 Allahuakbar wa lillahi ilham

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar

Lailahaillahuallahuakbar

 Allahuakbar wa lillahi ilham

Setelah selesai melaksanakan shalat ‘id di mesjid, kami langsung menyerahkan hewan kurban kepada panitia kurban di mesjid setempat. Setelah mendapat bagian masing-masing, kami langsung menuju ke rumah Nek Nyak dan setibanya kami dirumah Nek Nyak ternyata beliau sedang sakit parah.

Nek ini kami bawakan daging kurban untuk Nenek”

Alhamdulillah, terimakasih ya Dik” sahut Nek Nyak

Nenek sakit apa?

Belum sempat menjawab pertanyaan kami, malaikat Izrail telah lebih dulu mengajak Nenek menghadap sang pencipta. Sebelum Nek Nyak menghembuskan nafas terakhirnya beliau sempat berkata “ Nenek bangga pada adik-adik”.

Cot Meutiwan, 01 November 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s