DAMAI SEPERTI APA INI?

Posted on

sajak-sajak Akmal M Room

[AcehKita, 15 Januari 2012]

I
Kami sudah tak lagi mendengarkan letupan senjata. Sama sekali tidak.
Kami tersenyum. Kami bahagia. Tidak melihat lagi mayat.
Tidak sibuk menguburnya. Tidak sibuk mencari identitasnya.
Tidak lagi risau disergap. Diburu. Terpasung dalam rumah sendiri.
Kami sedang ceria. Menikmati perdamaian yang sudah lama kami inginkan.
Kami ingin ini menjadi damai terakhir untuk dibawa pulang ke kubur, kelak.
Seperti dua merpati yang dilepas oleh tangan tua itu.

Akmal M. Roem

II
Kembali kami hidup dalam cengkraman ketakutan yang dahsyat
Malam hari ketika kami dipenjara oleh ketakutan-ketakutan
Siang hari ketika kami harus membaca pertanda buruk
Inikan perdamaian, lantas mengapa demikian?
Jangan perebutkan kekuasaan bila harus menikam orang lain
Damai seperti apa lagi yang akan kami terima setelah ini?III
Sebenarnya kepada siapa damai ini kau tujukan?
Barangkali masih banyak yang harus kau benahi
untuk bisa kau lukiskan kata damai yang indah.
Atau mungkin damai ini hanya kau khususkan untukmu.
Meraih mimpi yang selama dalam kepungan gundah tak kau nistakan siapapun.
Kini kau benar-benar menikmatinya, bukan?
Meski ada yang masih tersungkur menuggu sisa umur
yang katanya akan ada keajaiban di penghujung

Orang-orang tua, ingin sekali kutulis sajak dan kuperuntukkan hanya bagimu yang berharap bisa bunuh semua keresahan. Sungguh. Mereka benar-benar masih hidup. Dalam rimba. Dalam air. Dalam api. Dalam hati. Dalam setiap nafas yang kita hembus.

Apalah arti damai bagimu?
kita telah benar-benar dipenjara waktu. Bukankah Tuhan selalu menyertai kebenaran? Tapi, mengapa mereka terus mengejar kenistaan. Membunuh dan membungkam kebenaran.

Meski sedih kerap membahana. Kau tak perlu cemaskan air mata itu. Merdekalah dalam setiap senyummu. Sungguh kita akan merasakan keindahan, kelak. Bila takdir benar Tuhan ciptakan untuk hambanya yang tunduk. Percayakan Ia untuk berikan kita nurNya yang indah.

[Banda Aceh, 2011]

APA YANG HARUS AKU TULIS
Aku harus memulainya dari mana?
Sebenarnya, terlalu banyak yang ingin aku ceritakan
Tapi tentulah harus kupilih kata yang tepat
Kata-kata yang mesti kupertimbangkan sebelumnya
Ya, agar apa yang akan kusampaikan bisa dipahami orang
Setidaknya, bahwa puisi itu adalah cerita ini

Berikan satu kata yang bisa kupakai
untuk menjelaskan kebahagian dan tawa seperti saat ini
Akan kujadikan ia sebagai kata yang paling indah dalam hidup ini
Tentu kata itu yang mampu menjawab semua pertanyaan
Tentang apa yang akan aku sampaikan pada orang saat ini

Ini adalah sebuah perjalanan puisi yang panjang
berusaha membuang resah
menenggelamkan segala kepedihan

tentu pada sebuah perjalanan
yang telah terlewatkan begitu saja
Ada malam yang dingin
Kapal dan laut yang tenang
Kembang api dan cerita yang tidak pernah terpikirkan

Ada waktu yang telah terlewatkan
Membelah malam yang dingin
Hendak kupastikan tentang perasaan ini

Ia menancapkan matanya tepat pada hatiku
Apa itu?
Mungkin aku jatuh cinta?
Apakah ada kata yang tepat
Selain puisi ini?

[Banda Aceh, 2011-2012]

AKMAL M ROEM
Lahir di Aceh Besar, 26 Februari 1987. Ia bekerja di Komunitas Tikar Pandan. Sutradara TV Eng Ong, dan saat ini sedang merintis usaha tambak ikan serta menolak munculnya Best Western Hotel and Mall di samping Masjid Raya Baiturrahman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s