Ole-ole untuk Adik

Posted on

oleh Sarah

 

Angin lembut menyentuh kulit wajahku. Seakan meninabobokanku agar tertidur siang dalam labi-labi Darussalam. Lagu aceh yang diputar sang sopir seolah kisah dongeng sebelum tidur pada saat itu. Butuh beberapa detik saja hingga mata ini akan terpejam dengan tenang. Tiba-tiba labi-labi berhenti. Seorang ibu dan anaknya naik dan duduk tepat didepanku.

“ma, kita mau pulang ya?” Tanya si anak.

“iya”

“ma, tempat pensil ini bagus, Zahra pasti suka.”

“sstt.. ini labi-labi bukan rumah.” Ibu itu menenangkan anaknya. Anak tersebut terdiam. bergitu juga dengan aku. Rasa kantukku hilang tergantikan oleh rasa haru dalam perasaanku.

Aku menekan bel terburu-buru. Oh tuhan. Aku teledor. Tempat kos sudah lewat di belakang sana. Ini gara-gara pikiranku melayang kemana-mana.

 

~ ~ ~

 

Keesokan harinya aku hendak membeli kaos kaki ke Fantasi. Penasaran aku melihat-lihat semua rak, dari mulai jajaran hiasan kamar, sandal, sepatu, boneka, dll. Lalu langkahku terhenti ketika tiba disalah satu rak. Aku terpaku menatap rak tersebut. Air mataku terjatuh tak tertahan. Ketika aku merasa mulai diperhatikan orang, segera kuhapus air mataku dan bergegas pergi.

Sesampainya di rumah, kembali aku terdiam menatap ayam diatas rak buku. Kapan ayam itu penuh? Pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh sang waktu.

Hari-hariku kembali seperti biasa, kuliah dan berjualan adalah atifitasku. Sangat repot harus membiayai kuliah sendiri. Tapi inilah hidup, bagaimanapun dia, harus tetap dijalani, dan yang aku lakukan adalah berusaha serta berdoa setiap hari, berharap semua mimpi-mimpi akan dikabulkan oleh-Nya.

 

~ ~ ~

 

”ayam itu hampir penuh.” batinku berkata saat aku termenung di kamar kos. Kemudian aku menelpon keluarga di kampung. Melepaskan rindu pada ayah, mamah, dan adikku. Betapa aku ingin bertemu dengan mereka. Targetku, ketika libur semester nanti aku akan pulang dan membawa oleh-oleh untuk adikku.

 

~ ~ ~

 

”akhirnya ayamku penuh.”

Aku pegang erat-erat ayamku sebelum aku memotongnya.

”selamat tinggal, aku sedih harus memotongmu kawan”

Ucapan perpisahan dibarengi dengan pisau tajam yang memotongnya. Dan…

”byyaarr”

Seluruh koin dan beberapa uang ribuan keluar. Aku menghitung semua, uang tabunganku selama satu semester hanya 27 ribu. Meskipun rada kecewa karena jumlahnya tidak banyak, tapi aku harus tetap tersenyum. Itu jerih payahku sendiri. Semoga saja cukup untuk membeli oleh-oleh adikku.

Aku berdiri depan rak yang sama ketika aku terpaku pada masa lalu di fantasi. Kembali aku termenung, mengingat adikku. Adikku masih kelas 4 MIN, dia sangat lucu, suatu hari ketika pergi ke pasar denganku. Dia mengajakku ke toko mainan, disana ada sebuah tempat pensil. Dia minta dibelikan tempat pensil itu, tapi sayang, waktu itu aku tak punya uang. Ridwan adikku tak memaksa, dia hanya diam dan tentu saja kecewa. Aku salut padanya, dia mengerti keadaanku. Seandainya anak lain mungkin sudah menangis minta dibelikan sesuatu. Akhirnya  aku pulang bersamanya dengan membawa sebuah janji untuk membelikan ridwan tempat pensil. Semenjak itu, aku berusaha menabuing agar bisa membelikan tempat pensil untuknya. Dan sekarang, di depanku berjajar berbagai macam tempat pensil. Aku pilih salah satu yang paling bagus untuk Ridwan. Akhirnya aku bisa menepati janjiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s