Generasi Kertas

Posted on

[Serambi Indonesia, 28 Januari 2012]
Oleh Nazar Shah Alam

Ketika di hampir seluruh bagian dunia sudah menggunakan kemudahan arus globalisasi yang semakin cepat berlari, di sini kita rupanya masih saja diam dan setia pada pendirian yang celaka. Bahwa media-media komunikasi diciptakan demi memudahkan generasi, orang kita sama sekali tidak mau menggubris. Barangkali ini adalah salah satu penyebab semakin tertinggalnya kita dari orang kebanyakan di dunia pada segala aspek kehidupan.

Telah sangat lama kita mendengar wacana tentang penyelamatan hutan. Wacana ini dihembuskan oleh hampir semua kalangan, mulai dari pihak akademisi hingga ke pihak-pihak nonakademisi yang peduli terhadap kelestarian alam kita. Kemudian kita mendengar adanya gerakan penanaman sekian pohon, gerakan perlindungan hutan, dan sebagainya.

Patut diberikan apresiasi untuk hal ini, mengingat semakin lama hutan kita semakin terancam. Penebangan liar adalah salah satu penyebabnya. Maka kemudian pihak-pihak tertentu telah pula mengamankannya, termasuk di beberapa daerah di Aceh memang sudah dilarang mengolah hasil hutan dalam bentuk dan untuk kepentingan apa pun, karena dianggap merusak ekosistem di dalamnya.

Adanya peraturan-peraturan tertentu yang menyangkut perlindungan terhadap hutan memang baik. Namun itu, kita sering lupa bahwa penyebab kerusakan hutan itu datangnya justru dari kita yang tidak langsung turun tangan ke hutan untuk merusaknya. Di antara perusak itu termasuklah di dalamnya para akademisi dan birokrasi.

Sadar atau tidak, selama ini para akademisi dan birokrasi boleh dikata sudah menjadi generasi kertas, kalau tidak disebut sebagai budak kertas. Pada segenap keperluan di dalam kedua lembaga tersebut tidak terlepas dari penggunaan kertas.

Hal ini berimbas dari banyak hal yang dihadapi oleh para pegiatnya. Sebut saja misalnya gagap teknologi yang hinggap pada generasi sebelumnya dan masih atau sedang menduduki tempat penting di dalamnya, faktor formalitas, dan segenap pegangan pada teknik-teknik lama yang dikira ampuh dalam pengembangan generasi.

Hal paling mendasar yang membuat kertas terus menerus digunakan adalah gagap teknologi para atasan pada suatu bidang. Bila saja para tua itu mengikuti perkembangan arus globalisasi dan tidak menutup diri pada pengembangan media komunikasi, tentu penggunaan kertas dapat dikurangi.

Misalnya, dalam membuat laporan tertentu, para bawahan cukup mengetik dan mengirimkan laporan tersebut setidaknya via email kepada atasan, kemudian atasan mengoreksi dan diperbaiki, setelah sempurna barulah laporan tersebut diprint. Hal semacam ini dapat mencegah pemubaziran kertas, sebab hanya dicetak satu kali, dibandingkan dengan para bawahan mesti mencetak laporan dari awal dan dikoreksi, cetak lagi, salah lagi, dan dikoreksi hingga sempurna untuk kemudian dicetak lagi.

Faktor formalitas kemudian juga menjadi kendala. Pihak-pihak tertentu tidak menerima surat elektronik sebagai undangan. Artinya mesti ada surat resmi dalam bentuk lembaran kertas dan berstempel basah tanda keabsahan surat. Jika saja hal kecil semacam ini tidak terlalu dipermasalahkan, semisal pihak tertentu bisa menerima undangan dalam bentuk elektronik, tentu saja kertas tidak lagi diperlukan dalam pada ini, dan hal tersebut setidaknya akan menjadi sebuah cara membantu pelestarian pohon dan hutan.

Memang tidak semua pohon digunakan untuk bahan baku kertas. Namun, perlu diingat bahwa sebatang pohon baru akan siap untuk dipanen ketika berusia hingga 20-100 tahun. Menebang sebatang pohon sama artinya mesti menunggu menumbuhkannya hingga 20 tahun.

Penyebab terbesar kerusakan hutan–dari sisi penggunaan kertas–adalah pihak akademisi. Bagaimana pun juga, kertas dan akademisi hampir tidak dapat dipisahkan sama sekali. Salah satu penyebab tidak lepasnya ini adalah para pengajar atau atasan yang terlalu berpegang pada teknik-teknik lama dalam pembinaan dan pengembangan pendidikan bawahan atau anak didik mereka.

Dalam satu penelitian disebutkan bahwa sebatang pohon pinus dewasa mampu menghasilkan hingga 80.500 lembar kertas atau sama dengan 116 rim, 1 ton sama dengan 440 rim. Sedangkan kebutuhan kertas per tahunnya mencapai 146.500 ton yang artinya sama dengan 644.600.000 rim.

Dalam pada itu diperkirakan sekitar 240.000 ton adalah kertas fotocopy yang notabenenya digunakan oleh kalangan akademisi dan birokrasi. Ini sama halnya, setidaknya, kedua kalangan tersebut menghabiskan kertas sebanyak 105.600.000 rim/tahun untuk segenap kepentingan.

Kita masih mendengar betapa banyaknya tugas-tugas akademik yang bersentuhan dengan kertas. Makalah atau laporan adalah contoh utama. Untuk pengajar tertentu, pemberian tugas dalam bentuk makalah adalah sebuah kemestian, agar peserta ajar mereka bisa belajar sembari membuat tugas.

Hal ini mungkin benar. Tapi kemudian perlu kita cermati ulang, bahwa kertas-kertas yang digunakan untuk laporan atau makalah itu kelak akan dibakar atau dibuang begitu saja. Seberapa lama sebuah makalah atau laporan itu bisa bertahan dan disimpan?

Kita memang–boleh dikata–tidak bisa lepas secara utuh dari kebutuhan terhadap kertas. Namun itu, tentu saja kita bisa meminimalisasi penggunaannya. Salah satu cara yaitu dengan menggunakan media elektronik. Cukup disayangkan, selama ini pihak akademisi dan beberapa pihak yang membela kelestarian pohon dan hutan rupanya terlibat pula dalam perusakan hutan secara tidak langsung atau dari luar.

Maka dari sekarang, marilah berjernih pikiran, gunakan kemudahan media informasi, kurangi arogansi formalitas, mari menjaga pohon, menjaga hutan dari kerusakan.

* Penulis adalah mahasiswa FKIP Unsyiah, bergiat di Komunitas Teater Rumput

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s