IBU

Posted on

oleh Ani Afrah S.

Berbicara tentang ibu, langsung terbayang pada seseorang yang tidak pernah tergantikan jasa dan pengorbanannya. Pengorbanan ibu sungguh luar biasa, tidak ada yang sanggup membalasnya walaupun kita memberi harta benda dan materi yang berlimpah sekalipun. Mulai dari mengandung, selama sembilan bulan ibu terus membawa kita ke manapun ia pergi. Kemudian saat ia melahirkan, pernahkah kita membayangkan bagaimana rasa sakit yang ia rasakan kala itu, seluruh tenaga dicurahkan agar kita terlahir ke dunia dengan selamat meskipun nyawa menjadi taruhannya.

Ia berkorban darah dan bertaruh nyawa antara hidup dan mati. Bahkan ada ungkapan yang menyatakan, “Andai saat melahirkan, seorang ibu diminta untuk memilih antara nyawa sendiri dengan nyawa anak, pasti ia tetap memilih menyelamatkan nyawa anak ketimbang nyawanya sendiri!” Subhanallah, betapa besar kasih sayang ibu kepada anaknya.

Setelah kita lahir, ia senang dan bangga telah melahirkan seorang bayi mungil ke muka bumi seraya mengucapkan “Alhamdulillah ya Allah, engkau telah memudahkan persalinanku dalam melahirkan buah cintaku ini.” Tidak lama setelah itu, kita yang baru dilahirkan menangis sekuat-kuatnya karena merasa sudah berada di alam yang berbeda. Kita merasa sangat kehausan, ketika itu pula sang ibu mengalirkan air susunya ke dalam tubuh kita. ASI (air susu ibu) bukan saja bagus sebagai nutrisi anak, tetapi juga merupakan tanda kasih sayang ibu kepada anak yang nyaris tak tergantikan.

Saat ibu menyusui, dengan sepenuh hati ia mengelus dengan lembut, memeluk penuh rasa sayang, dan membiarkan kita tertidur lelap dalam buaiannya. Tak terbayangkan betapa tentramnya anak saat itu. Tak mengherankan pula jika anak menangis, ia pasti akan lari ke dada ibunya.

Allah telah mengingatkan betapa besar jasa ibu: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dalam keadaan susah yang bertambah-tambah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)”. (QS. Al ahqaaf: 15)

Menghargai jasa ibu juga ditekankan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah riwayat diceritakan, suatu hari ada seseorang datang kepada Nabi Muhammad seraya bertanya, “Duhai Nabi, siapa orang yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu!”

Orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa?”

“Ibumu!” jawab Nabi.

“Lalu siapa lagi, Baginda Nabi?” tanya orang itu.

Nabi pun menjawab, “Ibumu!”

Selanjutnya orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa?”

Nabi memungkasi, Bapakmu.” (HR Muttafaqun ‘Alaih)

 

Di suatu malam yang hening, ketika semua orang telah lelap dalam tidurnya, yang terdengar hanyalah suara binatang malam yang bersahut-sahutan. Tiba-tiba keheningan itu dipecahkan oleh suara tangis seorang bayi. Sang ibu yang sudah terlelap pun segera bergegas bangun menghampiri buah hatinya. Rasa kantuk yang menggelayuti tidak dihiraukannya.

“Oh… adik pipis ya?” ibu berkata sendiri sambil mengganti pakaian bayinya yang telah basah. Setelah itu ibu mendekap dan meninabobokan anaknya agar berhenti menangis dan tertidur kembali. Tak lama kemudian bayi tertidur kembali. Ibu juga berusaha tidur namun matanya tidak mau dipejamkan hingga fajar tiba. Pengalaman seperti ini seringkali dialami oleh seorang ibu yang mempunyai momongan kecil.

Dari sini coba kita renungkan betapa besar pengorbanan seorang ibu. Betapa beratnya beliau ketika mengandung selama berbulan-bulan! Betapa sakitnya beliau ketika melahirkan! Betapa berat dan susahnya ketika beliau menyusui! Ia jaga dan pelihara kita lebih dari menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri.

Ibu mencurahkan cinta dan kasih sayangnya agar kita tetap gembira dan bahagia. Segala rintangan diterjang dengan jerih payah tanpa pamrih. Itu ia lakukan untuk mengantarkan kita sukses dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Bagi anak, tangan ibu banyak memberi sentuhan dalam tiap lembar kehidupan.

Saat buah hati takut dengan kegelapan malam, ibu membisikkan kalimat indah, “Jangan kau takut anakku, bukan gelap malam yang perlu kau takutkan, tetapi Allah Tuhan sekalian alam. Hilangkan ketakutan itu, Allah melihatmu dan melindungimu.” Bisikan itu yang memberi ketenangan serta keberanian pada anak.

Mari kita renungkan segala tingkah dan sikap kita pada ibu! Tingkah yang kita sadari atau tidak, sering membuat hati ibu sedih. Kita sering mengirim bantahan yang kita anggap biasa, namun begitu menyakitkan hati ibu. Ingatlah, bahwa beliau merawat kita sejak bayi. Memelihara kita hingga dewasa. Semua jerih payahnya telah kita reguk. Kala kita sakit, ibu gelisah lantaran sakit kita. Ibu tak dapat memejamkan mata seakan ia yang mengalaminya. Air matanya mengucur deras, hatinya takut kita dijemput malaikat maut.

Ibu mengasuh dan mendidik kita hingga dewasa, bahkan hingga kita menjadi orang sukses dan duduk di puncak kursi empuk. Kini, setelah kita dewasa, apa yang kita balas atas segala jasa ibu? Kita membalasnya dengan tuba! Kita perlakukan ibu bagai seorang pembantu. Kita bersikap dan berkata kasar padanya. Pantaskah perilaku seperti itu? Pantaskah kita mengabaikan kasih sayangnya? Kita mengabaikan mereka hingga susah akhir hayatnya. Bahkan, sering kita melihat seorang ibu yang dibiarkan mengakhiri sisa-sisa hidupnya bersama orang lain karena anaknya tak mau merawatnya.

Begitu pula pada setiap tanggal 22 Desember, tanggal yang dirayakan oleh semua orang dengan menyebutnya sebagai momentu hari Ibu. Sebenarnya, tidak hanya pada tanggal dan hari itu kita menganggap ibu ialah orang yang sangat spesial, melainkan setiap hari yang terus-menerus dilalui, kita harus menganggap ibu selalu ada untuk kita, anak-anaknya. Setiap hari merupakan hari spesial ibu, maka cobalah selalu menyenangkan hatinya dan tidak membuatnya sedih.

Peringatan tanggal 22 Desember memang sudah dikenal dengan hari Ibu, lantas kapankah hari Bapak atau hari Ayah? Mengapa orang menyebut pusat sebuah negara itu dengan sebutan Ibu Kota, mengapa tidak Ayah atau Bapak Kota? Lalu, jari-jari yang melekat ditubuh kita saja ada yang namanya Ibu Jari, kenapa tidak Ayah atau Bapak jari? Nah, disini dapat kita pikirkan bahwa ibu itu sungguh luar biasa. Sehingga Nabi Muhammad Saw saja lebih mengutamakan berbuat baik pada ibu tiga kali, baru setelah itu pada bapak.

Selain itu, doa ibu juga doa yang sangat dahsyat. Sesungguhnya, doa ibu tidak mungkin meleset. Hanya dalam bentuk ratapan atau harapan, jika dipanjatkan dengan sungguh-sungguh, suara hati ibu berubah menjadi mukjizat. Maka itu, kita sebagai anak harus selalu berusaha membuat hati ibu tentram dan bahagia. Jangan sampai menyakitkan hati ibu apalagi membuatnya menangis karena ulah kita yang tidak baik.

Jika hati ibu tersakiti, maka Allah sungguh murka pada anak yang membuat hati ibunya sedih. Sebuah hadist menyebutkan bahwa ridha Allah tergantung pada ridha orangtua, dan murka Allah juga tergantung pada murka orangtua. Ingatlah bahwa kata-kata ibu merupakan doa yang sangat makbul.

Banyak hal yang dapat dilakukan sebagai bakti kita terhadap ibunda tercinta. Jika ibu kita masih hidup, maka kita dapat berbakti kepada ibu dengan taat kepadanya, kecuali mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah. Selain itu, kita dapat bersikap rendah hati kepadanya, berbicaralah dengan lemah lembut di hadapan ibu, menjaga perasaannya. Bila kita telah memiliki penghasilan jangan segan-segan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, meminta izin sebelum pergi untuk berbagai urusan, dan juga kita harus mendahulukan berbakti pada orangtua daripada kepada pasangan.

Apabila orangtua kita telah tiada atau meninggal, maka kita dapat mendoakan mereka dengan memohon ampun kepada Allah untuk mereka berdua, menunaikan janji, wasiat, dan nazar kedua orangtua yang belum terpenuhi selama hidupnya, memuliakan teman atau sahabat dekat kedua orangtua, menyambung tali silaturahmi dengan kerabat serta para sahabat ibu dan ayah. Sering-seringlah berziarah ke makam orangtua kita.

Keutamaan berbakti kepada ibu. Terutama termasuk amal yang paling dicintai Allah, yang melaksanakannya akan masuk surga, panjang umur dan bertambah rezeki, semua amal saleh akan diterima dan kesalahan diampuni, mendapat ridha Allah, dihilangkan kesusahan, lebih utama daripada hijrah dan jihad, serta juga akan tercapai segala pengharapannya. Subhanallah, betapa banyak kemudahn yang diberikan Allah jika kita berbakti kepada ibu.

Beberapa akibat dunia-akhirat bila kita durhaka pada ibu, misalnya hidup kita dalam kemurkaan Allah, amal kebaikan jadi sia-sia, hidup selalu sulit dan menderita, dipercepat merasakan azab di dunia, tidak diakui sebagai umat Nabi Muhammad SAW. menjadi sumber malapetaka bagi sendiri dan masyarakat, serta meninggal dalm keadaan buruk (su’ul khatimah). Na’udzubillahi min dzalik, semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan ini. Akhirnya, yang penting diingat ialah “Surga itu ada di bawah telapak kaki IBU”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s