Aku Berharap (tamat)

Posted on Updated on

 

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

 

 

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Cerber Achie Tarmizi HS

Aku menungunya lagi di sini. Sama seperti saat aku bertemu dengannya pertama kali. Tengah melihat orang manjat wall climbing. Tengah curhat gak jelas. Dan aku yang tengah memaparkan argumentasiku dengan menggebu-gebu. Suasananya sama seperti saat aku bertemu dengannya pertama kali. Bedanya tak ada orang yang manjat wall climbing. Tapi sore ini sedikit sepi. Atau itu hanya refleksi dari hatiku yang tiba-tiba kesepian. Tak ada orang yang berbicara padaku saat ini. Tak ada dia.

Sudah tiga bulan aku mencarinya. Aku mencari uangnya. Aku selalu duduk di taman ini sama seperti saat aku bertemu dengannya pertama kali. Berharap dia tiba-tiba duduk di sampingku. Memamerkan senyum manisnya dan berbicara apa saja. Aku ingin mendengar lebih banyak. Lebih banyak darinya.

Aku berharap, seseorang yang bisa jelaskan padaku apa yang ada di pikiranku, apa yang tengah aku lakukan saat ini. Menunggu orang yang tak jelas. Aku bahkan baru dua kali bertemu dengannya. Dan sampai sekarang, tak ada yang bisa jelaskan padaku.

Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingku. Awalnya, kupikir itu dia. Ternyata bukan. Perempuan itu tersenyum manis. Aku membalas ragu.

“Lagi nunggu siapa?” tanyanya

Aku mengangkat bahu “Sebenarnya aku tak tau, aku nunggu siapa?”

“Aku lagi nunggu orang yang paling aku tunggu saat ini.. orangnya sangat baik.. temanku tiga bulan terakhir ini.. dan dia yang ngisi kesepian di hati aku..kesepian yang entah siapa yang membuatnya..”

Ini perempuan nyelonong aja langsung bicara. Dia melihatku dan tersenyum. Aku membalas dengan maksa.

“Aku merasa seperti mengenalnya sangat baik, tapi ada waktu aku tak mengenalnya sama sekali”

Tuh kan..tuh kan… tapi sepertinya aku pernah merasakan ini.

“Hmmm… aku langsung ngomong aja…kenalin namaku Wanda…” Dia mengulurkan tangannya dan aku menerimanya.

“Vetria…”

Kami diam sangat lama. Dan tiba-tiba saja ada angin itu lagi. Angin ini mengalir lagi,  meremangkan bulu kudukku. Rasa itu kembali lagi. Aku merasakan angin sore itu lagi, anak-anak tertawa, bunyi angin, bunyi desisan gesekan daun-daun Mahoni, bunyi berderak jungkat-jungkit, bunyi berdenyit beradunya besi ayunan, bunyi ibu yang menjeriti anaknya untuk berhati-hati, suara lelaki pemanjat wall climbing, bunyi genggaman tangan pemanjat wall climbing yang tengah mencengkram kuat point-point. Aku mendengarnya lagi, suara lelaki itu, awan berarak, garisan orange di langit dan—aku. Aku merasakannya lagi.

Aku berbalik melihat ke belakang. Lelaki itu!!! Aku melongo. Dia berjalan sambil memegang handphone dengan sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku jeansnya. Aku tambah melongo. Tiba-tiba aku berdiri, mataku tak lepas dari sosoknya yang punya wangi angin sore itu.  Dia mendongak matanya menatapku sekilas dan dengan cepat matanya menangkap sosok perempuan yang duduk di sampingku tadi dan sekarang perempuan itu sedang berdiri juga. Mata lelaki itu membelalak kaget. Aku melihat perempuan itu. Dia tengah menutup mulutnya dengan kedua  tangannya. Lebih kaget sepertinya.

Lelaki itu berjalan cepat ke arahku dan menarik tanganku dengan sangat kencang. Bisa kupastikan, kalau sendi tulangku tak kuat, tanganku bisa-bisa akan terpisah dari tubuhku. Kami berjalan menjahui wanita itu. Aku melihat mereka berdua dengan bingung. Muka lelaki itu mengeras, sekeras gengagamannya di tanganku.

Tiba-tiba suara handphone lelaki itu berbunyi. Dia berhenti. Aku masih bingung. Ini apa dan kenapa???

“Kamu udah tau kalo itu aku kan…”

Lelaki itu masih diam dan perempuan itu menangis. Genggamannya agak melemah.

“Kamu tau itu aku, Artemis itu aku..selama aku bercerita tentang Mitologi Yunani, kamu tau dewi favorit aku Artemis dan  kamu cuma ingat Zeus karena itu nama kucing kamu…”

Artemis?? Zeus?? Dewa?? Siapa mereka? Peliharaan?? Ahh..aku makin bingung. Seseorang bisa jelaskan padaku ADA APA INI???

“Biarpun kamu udah ganti nomor hape, aku tau itu kamu, karena di uang itu ada tanda tangannya kamu..aku selalu ingat tentang kamu. Sekecil apa pun itu, aku selalu ingat tentang kamu. Dan kalau kamu tau itu aku, kenapa kamu ngajak aku ketemuan, disini? Kenapa…??”

Aku makin bingung, kutatap mereka berdua tambah bingung. Tiba-tiba suara klakson berbunyi. Wanda menoleh ke belakang dan dia berjalan menghampiri lelaki yang klakson tadi sambil mennghapus air matanya cepat-cepat. Genggaman lelaki ini makin mengeras. Aku meringis dan dia sama sekali tidak peduli. Lalu Wanda pergi dengan lelaki yang mengklaksonnya tadi. Kupikir itu pacarnya Wanda. Lelaki yang tengah menggenggam tanganku ini tak menoleh sedikit pun. Wajahnya makin mengeras.

Aku melepaskan genggaman lelaki ini dengan susah payah. Dan tak berhasil. Lalu dia menarikku lagi menuju wall climbing. Aku ngikut saja. Pasrah. Sakit banget ini tangan.

Dia melepaskan genggamannya itu. Ahh..leganya. Lalu dia duduk bersandar di wall climbing dan menyembunyikan kepalanya di antara kedua kakinya yang terlipat. Aku mengikuti duduk di sampingnya meluruskan kakiku. Aku masih memegang tanganku yang kesakitan. Dia diam, aku juga tak berani berkata-kata. Lama dia berposisi seperti itu, tiba-tiba dia mendongak menatapku. Aku kaget. Tak berani aku senyumin dia, apalagi berkata-kata. Lalu dia memandang lurus ke depan. Telingaku menangkap getar dan suara lembut angin.

Aku mengikutinya, menekuk lututku dan memandang lurus ke depan.

“Kita kayak orang marahan ya..”

Dia menatapku.

“Dari tadi kita diem aja..” Aku menatapnya dan dia tertawa.

“Gitu dong…senyum…senyum..” Dia memalingkan mukanya.

“Hey…” Kau menepuk lututnya.

“Apa…?”

Aku melebarkan bibirku membentuk lengkungan dengan kedua jari telunjuk di pipiku.

“senyummm…” Dia memalingkan wajahnya. Aku makin mendekatkan diriku, berusaha agar dia melihat aku.

“Senyummm…” Dia melihatku dan menjentik hidungku.

“Owh…” Aku kaget,  reflek aku memukul lututnya.”Yang penting, kamu udah senyum..”

“Kamu lucu..”

“Makasih..Banyak yang bilang gitu..” Dia geleng-geleng kepala.

“Tadi itu… maksudku, perempuan itu..Wanda..”

Dia melihatku, alisnya bertaut. “Maksudku, perempuan yang kamu ceritain itu..”

Dia mengangguk dan mengusap belakang kepelanya frustasi dan melihat ke langit.

“Yah..” jawabnya lirih.

“Dan itu, yang jemput dia tadi..suaminya..”

“Dan teman seletingku, satu kost, dan sering ngopi bareng..”

Aku kaget. Miris banget.

“Kami maksudku aku dan Wanda SMS-an beberapa bulan…hmmm..sekitar tiga bulan yang lalu, sepertinya uang itu, yang aku berikan ke kemu, lepas dari tangan kamu dan uang itu sampai ke tangan Wanda..”

“Maaf..” kataku lirih. Dia tersenyum. Entah kenapa dimataku itu-sangat-manis-sekali.

“Awalnya, aku pikir itu kamu..ternyata bukan.. setelah dia menyebut namaya Artemis.. aku langsung tau itu dia..”

“Artemis itu siapa?”

“Dewi Mitologi Yunani.. Wanda penggila Mitologi dan Sejarah..” Aku mengangguk saja.

“Dan Dewi Favoritnya itu.. Artemis, Dewi Pemburu, pemegang panah” lanjutnya

“Dia membawa panah? Berarti dia juga Dewi Cinta..”

“Bukan.. Dewi Cinta itu, hmmm… Ap.. Ap apa ya? Aphrodite namanya..kalo gak salah.”

“Bukan..Artemis, si Wanda itu..telah memanah hatimu dengan panah cintanya.. hahahah”

Dia tertawa.

“Biarpun kamu gak megang panah, kamu udah berhasil memanah hatiku kog..” katanya yang buat aku antara pengen muntah dan tersipu-sipu malu gak jelas.

“Jeh.. pipinya merah..” lanjutnya sambil menunjukku.

“Hah… gak ah..” Aku memegang kedua pipiku.

Dia tertawa dan geleng-gelang kepala sambil menatapku jahil. Tatapan yang aku suka. Tuhan…bantu aku menata hatikku yang menjerit-jerit gak karuan ini.

“Apa sih…Hey..kamu ada satu janji sama aku..”

“Apa??”

Aku menepuk-nepuk wall climbing dibelakangku.

“Katanya mau nunjukin aksinya..”

Dia berdiri “Tapi aku gak bawa apa pun, perlengkapan apa pun..”

Aku pun berdiri dan menepuk-nepung punggungku yang sedikit kotor karena tanah.

“Gak peduli..” Aku menyilangkan tanganku dan berjalan pelan.

“Dan kamu janji mau ngelap keringat aku, demi kamu yang mau ngelap keringat aku… apa pun aku lakukan, walau manjat wall climbing gak ada perlengkapan..”

“Hey…aku gak pernah janjiin itu…” aku berbalik dan berkacak pinggang dan menatapnya galak.

Dia mengangkat ke dua tangannya “Gak peduli” Dan dia mulai mencengkram point-point dan memanjat.

“Oke..oke..aku pulang…aku pulang..” Aku berbalik dan berjalan.

“Hey…hey….hey….” dia memanggil. Aku hanya mengangkat tangan untuk menanggapinya.

Kurasakan wangi angin sore menghampiriku dengan sedikit cepat tapi lembut.

“Hey..” panggilnya saat dia menjajariku. “Aku anterin pulang?” tanyanya.

“Tidak. Makasih. Kata ibuku—“

“Kenalin, aku Arif..” selanya sambil menjulurkan tangannya. Aku berhenti berjalan. Dia menatapku. Aku tersenyum dan menerima tangannya.

“Vetria..”

“Oke, dan kita bukan orang asing lagi..aku anterin pulang?”

Aku mengangguk. Dia tiba-tiba menarik tanganku. Sikapnya ini membuat aku sedikit merinding dan kaget. Genggamannya tak sekeras dan sekencang tadi. Genggamannya melembut tapi kuat. Aku membalas genggam. Tak akan ku lepas. []

Darusaalam, November 2011

_______________

Kau selalu membawa wangi angin sore taman itu di tubuhmu, dan hey..itulah nyanyianmmu untukku, setidaknya aku merasa seperti itu….

Untuk seseorang yang sangat galak di lapangan…

 

 

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

 

 

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Oleh Achie Tarmizi HS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s