Suara Azan dalam Lonceng Gereja

Posted on

Novel-novel itu mengandung  doktrin otononi nasional, kesatuan nasional, dan indentitas nasional.

Dua sejoli sedang mabuk asmara. Rasa rindu antara Amiruddin dengan Ramayati seperti prangko. Selalu menempel dan tidak bisa dipisahkan.Usianya masih 15 tahun. Kita menyebutnya cinta monyet. Lalu berpuluh tahun kemudian mereka berpisah. Dan tanpa sengaja, dua remaja itu  bersua lagi dalam usia pemuda. Amiruddin yang Islam sangat mencintai Ramayati yang Katolik. Toleransi yang dibangun menghapus sekat-sekat.

Mereka kembali merajut cinta. Dari hari ke hari hingga pada malam 25-26 Desember, Ramayati terbujur di rumah sakit. Gadis ini tidak bisa bersimbuh ke altar gereja atau bersuka cita bersama keluarganya. Dalam suasana kedukaan, Amiruddin Membezuk Ramayati aktivis gereja. Bagaimana akhir kisah percintaan mereka? Apakah Amiruddin menikahi Ramayati? Atau Ramayati menolak menikah karena beda agama?

Itulah sekelumit novel yang ditulis oleh ulama, birokrat, sastrawan, sejarawan Aceh Prof Ali Hasjmy pada 1940. Ada segudang lebel yang melengkat padanya yang wafat dalam usia 74 tahun. Tidak terbantah kreativitas mantan gubernur Aceh tahun 1960-an dalam memainkan ujung pena. Ada puluhan buku atau novel serta ratusan judul puisi yang dirangkainya  menjadi buku yang tebal atau kecil. Kegiatan yang disukai sejak sekolah hingga ajal menjemputnya pada 18 Januari 1998.

Ternyata sastra-sastra yang ditulis oleh Hasjmy sejak 1938-1976 tidak sekedar lembaran kertas dengan sejuta huruf-huruf. Ada pesan-pesan khusus yang dilontarkan sesuai dengan masa perjuangan, revolusi dan pembangunan.

Dibalik tumpukan novel-novel yang disesar, penulis buku Dr Wildan M.Pd meneliti tujuh novel Hasjmy. Dosen Uninversitas Syiah Kuala Banda Aceh tersebut secara jeli menemukan benang merah dari coretan pena Hasjmy yakni ada doktrin, misi serta teknik penyampaian nasionalisme.

Hasil riset berbula-bulan menelaah novel-novel Hasjmy diramunya  menjadi disertasi di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) pada tahun 2011. Dari disertasi disulap menjadi buku setebal 255 halaman yang dibagi dalam delapan bab serta beberapa lampiran. Lalu diterbitkan pada Juli 2011 yang digawangi oleh dua editor yakni Rajab Bahry dan Herman RN.

Hal yang menarik yang dikupas oleh dosen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Wildan yakni kemampuan peneliti memilah novel-novel yakni lingkungan politik yang menjadi inspirasi bagi pujangga baru ini. Pendiri Museum Yaysan Pendidikan Ali Hasjmy hidup pada era kolonial Belanda, penjajah Jepang, zaman revolusi, masa orde lama dan berakhir pada orde baru.

Demikian juga dari tujuh novel yang dibedah oleh peneliti terungkap bahwa karya fiksi itu mengandung  doktrin otononi nasional, kesatuan nasional, dan indentitas nasional. Akan lebih menawan buku yang diterbitkan oleh Penerbit Geuci dan Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy menampilkan sampul depan novel-novel yang dikuliti oleh peneliti.

Selalu ada misi dalam pergulatan novel yang ditulisnya. Misalnya menyerap misi keagamaan seperti novel Suara Azan dan Lonceng Gereja, kemakmuran, pendidikan dan demokrasi politik. Sedangkan dalan teknik narasi, Hasjmy memaparkan melalui teknik surat-menyurat, pidato, catatan harian, penyisiapan puisi dan catatan kaki. Benarlah sastrawan ini menulis dengan hati yang bening dengan target untuk kemashelatan umat. Sastra atau budaya lintas batas yang gampang dipahami oleh setiap insan manusia.

Penulis produktif Herman dalam bedah buku ini bulan lalu menyebutkan
buku berjudul Nasionalisme dan Sastra merupakan penelitian rasa nasionalisme yang belum banyak dilakukan oleh peneliti lain. Hal senada diuraikan oleh pengamat budaya Hasballah M Saad dalam buku bersampul hitam yang menegaskan Hasjmy adalah bintang di langit zaman. Tidak akan hilang ditelan masa.

Kecintaan kepada dunia sastra terukir di batu nisan dengan sebait deretan 83 huruf,”Di sini bersemanyam Ali Hasjmy Sastrawan Baru yang lahir pada tanggal 28 Maret 1914″.

Penulis: Murizal Hamzah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s