Habis Sekolah, Terbitlah Apa?

Posted on

Oleh Nazar Shah Alam

BAGI siswa sekolah menengah atas (SMA), tanggal 26 Mei 2012 adalah hari penentuan yang akan selalu dikenang. Ada yang tertawa riang, ada yang menangis pilu, dan bermacam corak ekspresi lainnya setelah menerima hasil usaha mereka dalam kurun tiga tahun. Sebagian besar siswa dan guru acap menganggap “perang” terbesar dalam proses belajar mengajar adalah Ujian Nasional (UN). Hasil UN yang telah diumumkan itu, tentu akan menentukan ‘langkah’ mereka selanjutnya.

Sedikit melirik ulang tentang UN yang dianggap acuan nilai pendidikan. Melihat pada apa yang terjadi di masa sebelumnya, UN sebenarnya tidak layak dijadikan tiang penentu. Sebab kenyataan di lapangan, seberapa pun disebut jujur Ujian Akhir tersebut, tetap ada kecurangan di dalamnya. Barangkali hanya ada satu dua sekolah yang tidak curang, itu pun sulit dipastikan. Sebagaimana pun ketatnya pengawasan, tetap saja jawaban dari hasil bantuan guru bisa disusupkan. Maka dari itu, UN bukanlah patokan nilai pendidikan kita, melainkan lebih layak disebut patokan keberhasilan penyembunyian fakta.

Siswa tidak benar-benar dituntut untuk belajar sebagai persiapan perang. Bercermin dari masa sebelum mereka, guru tetap akan membantu. Mereka hanya perlu berhati-hati dalam mengisi, bukan memikirkan kunci jawaban secara murni. Ini proses pembodohan, sebenarnya. Tapi hal seperti itu sudah lumrah. Guru berdiri di dua sisi serba salah. Membantu siswa dengan arti membodohkannya atau tidak membantu berarti akan buruk namanya di mata khalayak bila kelak banyak yang tidak lulus.

Sudahlah, lupakan tentang kecurangan itu. Hal yang perlu dipikirkan adalah pada setelah mendengar hasil dari perang besar itu. Apa yang telah diberikan sebagai modal mereka menapaki masa depan? Masihkah ada guru yang bertanya pada siswa tentang cita-cita mereka kemudian memotivasi mereka untuk menggapainya? Adakah orang tua yang dengan bersemangat mendukung pilihan anak-anak mereka tanpa memaksa anak-anak tersebut mengikuti kehendaknya? Apalagi setelah sekolah selesai? Mau apa?

 Perencanaan matang
Sejatinya, untuk mencapai kehidupan yang baik di masa depan perlu sebuah perencanaan yang matang. Hal ini bertujuan agar terhindar dari segenap kemungkinan yang akan terjadi kemudian. Sekalipun takdir kelak akan ditentukan oleh Tuhan, namun mempersiapkan bekal sebelum perang adalah sesuatu yang mutlak dilakukan. Perang selalu memberikan dua garis kemungkinan, berhasil atau gagal. Keluar dari sekolah dengan predikat lulus dan mendapatkan nilai memuaskan adalah harapan semua orang. Namun, apa yang akan dilakukan setelahnya?

Beberapa dari siswa yang sudah memiliki cita-cita dari awal sudah pasti akan mengikuti jalan yang sudah disiapkannya, tentu saja bila orang tuanya mendukung. Disayangkan bagi yang belum tahu ke mana melempar jala masa depan. Setelah keluar dari sekolah, mereka tidak tahu hendak melakukan apa. Barangkali sebagian dari mereka akan mengikuti jejak orang tua dengan bekerja serabutan. Tidak salah, memang. Toh hidup memiliki bagian-bagiannya. Tapi kemudian yang disayangkan adalah mereka yang memilih untuk berhenti melanjutkan pendidikannya adalah siswa-siswa berprestasi dan memiliki cita-cita tinggi. Sayang sekali.

Baiklah sebab sekolah dan universitas tertentu memiliki kerjasama dalam program USMU. Bahwa siswa berprestasi akan diberikan undangan dan membebaskan mereka mengikuti tes juga membeli formulir. Namun pada pengalamannya, orang kita terlanjur tahu bahwa ketika tiba di universitas kelak mereka juga mesti membayar ini itu dengan jumlah tak jauh beda dari yang bukan USMU. Maka idiom ‘untuk apa sekolah tinggi, yang jadi guru juga sudah ada orang lain’ kerap muncul di tengah-tengah masyarakat. Sebenarnya idiom ini muncul sebab pesimisme tinggi di tengah mereka.

Ketakutan akan mahalnya biaya kuliah, bila-bila tak ada uang ketika diminta kiriman, bila-bila tak ada uang pada patokan semester. Dalam bayangan masyarakat kuliah itu mahal. Mahal sekali, bahkan. Tak ada yang benar-benar gratis dalam dunia pendidikan sampai saat ini. Dilema itu muncul, ketimpangan pendapatan versus biaya kuliah yang makin mahal. Perkara lain, masyarakat telah melihat bukti betapa banyaknya sarjana pengangguran dan setelah kuliah tidak ada perkembangan yang memadai. Contoh-contoh ini yang mereka maksud ‘jadi guru sudah ada orang lain’ itu. Maka ketakutan pada harga pendidikan dan kenyataan setelah keluar dari perkuliahan adalah sebab utama mengapa sebagian dari orang tua menghentikan pendidikan anak-anaknya hanya di batas usai mendengar pengumuman kelulusan sekolah.

 Pendidikan gratis
Dalam janjinya, pemerintah berencana mewujudkan pendidikan gratis. Satu sinar cerah, memang. Tapi pada hakikatnya, pemerintah setidaknya perlu memikirkan beberapa hal. Dari segi keuntungan, ya masyarakat tidak lagi terbeban untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya. Para generasi akan lebih mudah menggapai cita-citanya. Namun perlu diingat, bila dengan pendidikan mahal dan berat saja masih banyak peserta didik yang lalai dan sembrono dalam pendidikan, konon lagi bila gratis?

Selama ini faktanya sebagian dari mahasiswa ingin cepat-cepat selesai kuliah karena berpikir betapa susahnya orang tua terus menerus membiayai mereka. Hal ini kemudian menjadi motivasi terbesar pada mereka yang sadar. Nah, inilah yang menjadi kerisauan bila pendidikan kemudian digratiskan. Sebab tentu saja beban itu tidak lagi ada dan motivasi menyelesaikan pendidikan sesegera mungkin dan sebaik mungkin akan kecil sekali.

Namun itu, mari ambil kebaikan di dalam banyaknya wacana yang dilemparkan pemerintah pada bidang pendidikan. Betapa pun, tentu saja mereka memiliki formulasi terbaik dan telah pula memikirkan tanggapan atas efek buruknya. Bagi semua yang baru saja mendengar hasil dari perang demi menggapai masa depan cerah, mulailah berpikir. Di depan jalan masih sangat panjang, pikirkan dari sekarang!

* Nazar Shah Alam, Mahasiswa Gemasastrin FKIP Unsyiah dan Pegiat di Komunitas Menulis Jeuneurob. Email: nazararlams@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s